Artikel:

Komunitas Blogger: Community Power yang Mau dibawa Kemana?

oleh: Rane "jaf" Hafied


Kalau kawan-kawan yang hadir di acara diskusi komunitas blogger atas prakarsa detikINET/detik.com pada hari Sabtu, 28/1/2006 lalu bicara soal People's Power yang dibawa para blogger, maka saya justru tertarik untuk mencoba melihatnya dari sisi lain yakni komunitas blogger dan potensi kekuatan sekaligus juga potensi kelemahan yang lebih besar yang mereka bawa.

Tolong koreksi kalau saya salah, tapi komunitas blogger Indonesia pertama tercatat muncul pada bulan Maret 2001 dengan nama Bloggerians. Sekarang, beragam turunan komunitas lain hadir, mulai dari Blogbugs, Blogger Family (Blogfam), Blog Indosiar, Muslim Blog sampai ke komunitas yang bersifat geografis seperti Bandung Blog Village, Loenpia - Semarang, Angkringan - Yogya, Cangkrukan - Surabaya, Blogstation - Bogor dan masih banyak lagi. Bahkan saat tulisan ini muncul, sangat mungkin sudah hadir lagi komunitas blogger lain.

Blogger di Indonesia sekarang jumlahnya berkembang pesat sampai ada yang memperkirakan jumlahnya sudah melebihi 10 ribu orang. Wajar saja kalau orang mulai bicara soal blogger power yang 'dipelesetkan' dari istilah people's power. Tapi ingatkah anda dengan ungkapan lama? Sebatang lidi akan lebih mudah dipatahkan ketimbang seikat sapu lidi. Nah dengan menggunakan logika lidi itu, sekarang bayangkan sebuah komunitas yang masing-masing anggotanya punya kekuatan individual bernama blog kemudian bersatu di bawah satu komunitas, entah berdasarkan kesamaan jenis blog, kedekatan geografis atau visi dan ideologi. Bayangkan potensi kekuatan yang bisa mereka bawa!

Paling tidak kalau saya orang partai, saya akan mulai dekati komunitas-komunitas blogger ini untuk kepentingan tahun 2009. Bayangkan kalau satu partai misalnya bisa membujuk Blogfam untuk menyuarakan kepentingan mereka. Lebih dari 1500 orang bisa mereka pegang dan punya potensi menyebar ke ribuan orang lainnya yang mengunjungi blog mereka secara individu. Itu baru Blogfam. Bayangkan pula kalau blog Indosiar yang menurut Benny jumlahnya mencapai 5 ribu orang bisa didekati? Bayangkan lagi kalau semua komunitas itu bersatu di bawah satu bendera? Jangankan untuk menyuarakan kepentingan partai tertentu. Bikin partai pun mereka bisa! Bayangkan betapa hebat kekuatan itu! Ya, kalau ada waktu, bayangkan pula lah kalau Angelina Sondakh, anggota parlemen kita yang sudah mulai blogging membaca paragraf tulisan ini. Bisa-bisa beliau langsung lapor ke Partai Demokrat karena merasa dapat ide untuk menantang Golkar di tahun 2009 nanti hehehe..

Maaf ilustrasi politik tadi hanya untuk memberi gambaran betapa besarnya potensi kekuatan yang dibawa komunitas blogger itu. Kalaupun benar ada partai yang mendekati, saya percaya para blogger bukan orang bodoh. Saya bahkan nyaris yakin mereka tidak akan bisa dengan mudah dipengaruhi oleh partai atau politisi manapun.

Pertemuan di detik menurut saya adalah momen bagus yang mempertemukan bukan hanya para pentolan blogger tapi juga komunitas blogger untuk bersama melakukan sesuatu. Lebih dari sekedar People's Power seperti yang di istilahkan Mas Benny, dunia blogging Indonesia kini punya kekuatan yang lebih hebat yakni Community Power. Apa yang dibicarakan di detik bisa jadi adalah bibit tumbuhnya kekuatan itu. Tinggal dipikirkan mau dibawa kemana kekuatan ini.

Di sisi lain, mungkin tak ada salahnya untuk juga mulai mewaspadai kelemahan yang ada di balik sisi kekuatan yang tengah dibicarakan ini. Bagi saya, ada satu hal yang membuat saya suka berinteraksi di alam saiber yakni adanya nilai kebebasan yang terkandung di dalamnya. Alam saiber membuat manusia bisa berinteraksi dengan bebas dan bahkan terbebas dari segala tetek bengek kerumitan yang tanpa sadar sering kita ciptakan sendiri di dunia nyata. Ada sebuah nilai ketulusan yang saya rasakan ketika berinteraksi di sebuah komunitas di alam saiber yang tidak saya rasakan ketika kita melakukan hal yang sama di alam nyata. Apa mungkin karena absennya unsur tatap muka yang membuat kita lebih merasa nyaman berinteraksi? Bisa jadi. Yang jelas, kenyataan Inilah yang agaknya harus disadari oleh komunitas-komunitas blogger yang dibentuk di alam saiber sebelum sempat tertular 'penyakit' yang kerap menghinggapi komunitas di dunia nyata.

Penyakit apa itu? Tak lain adalah penyakit yang muncul dari sikap 'nasionalisme' kelompok. Penyakit yang membuat sebuah kelompok merasa lebih hebat dan lebih besar dari kelompok lain, entah karena latar belakang pendidikan, profesi, lokasi geografis, ideologi ataupun hal lain. Inilah penyakit dunia nyata yang -amit-amit jabang bayi- jangan sampai tertular ke dunia saiber dan mengubah kekuatan komunitas itu menjadi kelemahan. Bukan berarti sikap itu salah. Sikap 'nasionalisme' yang lahir dari kebanggaan terhadap sebuah kelompok adalah sesuatu yang positif dan berperan dalam memajukan kelompok tersebut. Tapi ketika kita harus bersentuhan dengan kelompok lain, maka saatnya kita harus berpikir tentang 'nasionalisme' yang lebih luas lagi. Sikap 'nasionalisme' yang berangkat dari kesadaran untuk menonjolkan kekuatan masing-masing dan pada saat yang sama saling menutupi kelemahan masing-masing untuk tujuan bersama.

Oke, sebelum otak anda terpelintir lebih jauh karena mungkin berusaha mencari tahu apakah saya sedang menyindir atau mengacu kepada komunitas tertentu, sebaiknya saya katakan dari sekarang: Insya Allah, tidak ada niat itu ketika saya menulis artikel opini ini!

Tulisan ini hanya mencoba menyadarkan betapa besarnya kekuatan yang dibawa komunitas-komunitas blogger dan betapa akan lebih besar lagi kekuatan yang muncul ketika masing-masing komunitas mau bekerjasama dengan saling mengisi berdasarkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing komunitas tanpa harus terbawa penyakit dari alam nyata yang saya ceritakan di atas. Konon istilah modernnya adalah SINERGI! Siapkah komunitas para blogger untuk bersinergi? Rasanya jawaban itu ada pada diri kita masing-masing dan yang dilakukan oleh para 'tokoh blogger' ketika saling bertukar pikiran di markas DetikCom itu adalah sebuah permulaan yang sayang kalau tidak ditindaklanjuti.

Redaksi menerima artikel untuk rubrik opini ini. Kirim kepada kami melalui email: redaksi@blogfam.com

Posted on February 6, 2006 4:00 PM |
 Lainnya: