Artikel:

Langit Hitam di Atas Padang Bulan

oleh riesna


"Ehm.. engkau akan berangkat juga?"

"Yup," Indri mengangguk, tertawa kecil ketika melihat wajah Doni yang cemberut. Besok ia akan berangkat ke Medan untuk menghadiri "Temu Alumni".

"Begitu berartikah acara itu, Ndri?" tanya Doni. "Mama ingin kita hadir di acara pernikahan putri Tante Winda. Aku khawatir, Mama akan kecewa kalau kita tidak bisa hadir."

"Don..." Indri tersenyum jenaka. Mengelus tangan Doni dengan sayang. "Aku sudah menelepon Mama dan Mama bisa mengerti kalau aku tidak bisa hadir di acara itu. Tante Winda juga sudah kutelepon dan idem ditto dengan Mama. Mereka sangat mengerti dengan keberangkatanku kali ini. Kecuali kamu!"

"Ndri..." Doni kehilangan kata-kata. Sulit menjelaskan apa yang dia maksud pada gadisnya ini.

"Jangan katakan kalau kamu kehilangan aku. Cuma tiga hari kok. Senin aku sudah ada di Jakarta!"

"Itu bukan berarti kau kembali padaku," Doni menyahut masgul. "Kau boleh pergi setelah kau jawab permohonanku."

"Permohonan?"

"Lamaranku."

Indri tertawa. "Kau seperti anak kecil, Don."

"Indri... menikahlah denganku. Kau mau? Kita akan arungi hidup, berkayuh dalam suka dan duka, bersama sampai maut memisahkan."

Indri tertawa. "Adakah yang mengatakan padamu kalau kamu sangat romantis, Don?"

"Akan kubangunkan istana putih buatmu, taman yang indah. Anak-anak yang sehat bermain di sana. Ada kolam ikan dan senandung burung menyambut pagi."

Indri kembali tertawa. Ia mengelus wajah Doni. "Tidak kusangka kau juga Arsitek yang sangat puitis."

"Jawablah, Indri. Menikahlah denganku."

"Akan kujawab dari Medan," Indri tersenyum.

"Kenapa harus dari sana?"

"Aku perlu waktu."

"Waktu? Setelah kita bersama selama tiga tahun? Tak cukupkah waktu itu?"

"Aku perlu kepastian."

"Kepastian?"

"Bahwa teman-teman alumniku yang ganteng tidak tersisa lagi." Indri menahan tawanya.

"Kamu keterlaluan!"

"Atau... paribanku.. memang sudah tidak menarik lagi. Ingat, aku masih punya dua pariban yang belum menikah lho."

"Kejam!"

Indri tetap tertawa.

Dan sekarang, ia masih tertawa, ingat percakapan dengan Doni, lelaki terkasihnya, Jumat lalu.

"Kenapa tertawa?" tanya Mama yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Ada yang lucu?"

"Saya teringat Doni, Ma," sahut Indri.

"Oh..ya? Bagaimana kabar hela (menantu laki-laki-bahasa Batak) Mama yang ganteng itu?" wajah Mama tersenyum menggoda.

"Mama..."

"Mungkin masih calon hela ya? Tapi Mama suka dengan anak itu, Ndri. Walaupun baru dua kali bertemu, Mama tahu ia anak baik. Ia sangat sopan pada orangtua. Sangat beradat!"

"Makasih , Ma," Indri tersenyum. "Doni melamarku sebelum kemari, Ma."

"Lalu?"

"Aku belum menjawabnya."

"Kenapa?"

"Kukatakan padanya kalau aku masih harus menyeleseksinya bersama pariban-paribanku."

"Hah?" Mama tergelak lebar. "Kamu bisa saja , Boruku (anak perempuan-bahasa Batak).Tentu Doni penasaran."

"Pasti, Ma," Indri tertawa. "Dia bilang aku kejam."

"Menurut Mama, kau harus menjawabnya segera, Ndri. Kau dengar apa kata Papamu kemarin, dia sudah ingin menggendong pahompung (cucu-bahasa Batak)."

"Ah... Mama..." wajah Indri bersemu dadu. "Apa Papa setuju dengan Doni, Ma? Dia kan bukan orang Batak."

"Kau tidak ingat kalau Papamu sangat memuji Doni. Ia bilang, Doni itu rajin, bertanggung-jawab, sopan dan yang penting..."

"Pintar main catur," Indri tergelak menyambung ucapan sang Mama. "Aku bahagia, karena Mama dan Papa menyetujui hubunganku dengan Doni. Keluarganya juga mendukung hubungan kami, Ma."

"Lalu apa yang kau tunggu? Kau akan menerima lamarannya 'kan, Ndri?"

"Aku bilang aku akan menjawabnya dari Medan, Ma."

"Engkau sudah di Medan, Boru. Telepon dia sekarang, Mama ingin mendengar kau menerima lamaran itu."

"Besok saja, Ma," Indri menjawab sambil tersenyum. "Aku juga bilang ke Doni, aku ingin kepastian apakah teman-teman alumniku yang ganteng sudah menikah semuanya."

"Boru..." Mama menggeleng sambil tergelak. "Jangan buat Doni penasaranlah."

"Tidak, Ma," Indri menggeleng. "Tanpa menjawab pun dia mestinya tahu aku menerimanya." Mata Indri terpejam . Batinnya berbisik kalau ia sangat mencintai Doni. Lelaki itu tidak akan tergantikan oleh siapapun, walau pariban makin menggoda, atau mungkin malam nanti, pas temu kangen para alumni Ekonomi USU digelar, salah seorang teman kuliahnya dulu yang tergila-gila padanya datang melamarnya lengkap dengan pesona jabatan dan kekayaan, ia yakin, Doni tak tergantikan.

Aku menerimamu, Don, bisiknya yakin. Kita kan arungi hidup bersama sampai maut memisahkan. Istana putih? Taman indah, kolam ikan, senandung burung. Dan anak-anak kita?

Bahagianya.


*****


Hampir lima tahun dia meninggalkan kampusnya di kawasan Padang Bulan. Perubahan nampak nyata.. Bukan hanya simpang kampus, di perempatan Djamin Ginting's dan DR. Mansur yang makin ramai, makin padat oleh hunian. Kafe-kafe ramai berdiri, Pohon bunga Tanjung di sepanjang jalan Almamater menuju kampus Fakultas Ekonomi sudah tinggi. Harum kembangnya menyerbak ke hidung. Angin sepoi membuat Indri rindu saat-saat kuliah dulu. Saat ia masih mahasiswi Fakultas Ekonomi USU.

Malam tadi, di Tiara, mereka menggelar "Temu Alumni". Menyenangkan bisa bertemu lagi dengan teman-temannya. Mita yang centil. Sekarang perempuan itu nampak hebat. Ia meneruskan bisnis travel milik keluarganya. Ia banyak bepergian ke luar negeri. Masih centil dan kian cantik. Mereka berpelukan hangat. Dulu waktu kuliah mereka sangat dekat.

Ada juga Joana. Ehm, kini dia sudah jadi Mama. Dua anaknya membuat tubuhnya yang dulu seksi nampak gembrot. Tapi yang pasti dia bahagia.

"Aku lupa bagaimana seksinya aku sebelum menikah dulu," Joana berbisik di telinga Indri. "Tapi aku tak lupa bilang, kalau aku sangat bahagia kini." Joana tertawa. "Anak-anakku membuatku sibuk, mereka nakal, tapi aku bahagia, Ndri... .Anak-anak itu membuatku lebih berarti dan sempurna."

Indri tersenyum. Ia juga akan segera jadi Mama. Anaknya dan Doni.. uh.. bahagianya. Dia tak sabar menunggu dan memberi kabar pada Doni. Ia menerima laki-laki itu. Tidak ada yang lain.

Memang betul, ia juga bertemu dengan Evan, teman kuliahnya (dulu mereka pacaran). Sekarang Evan bekerja di sebuah Bank Swasta terkemuka. Ia belum menikah. Nampak matang, dewasa dan sangat memadai dari segi finansial.

"Apakah ini namanya jodoh?" Evan menggodanya ketika mereka menikamti makanan penutup. "Kau belum menikah, dan aku masih sendiri."

"Aku tidak tahu," Indri tergelak. "Aku hanya lupa membawa undangan buatmu, Van."

"Oya?" mata Evan meredup, nampak memikat. "Kau akan menikah?"

"Ya," Indri mengangguk. "Segera."

"Siapakah pangeran yang telah merenggutmu dariku, Putriku?"

"Seseorang yang sangat istimewa, Van. Suatu hari dia akan berkunjung ke sini."

"Seseorang yang sangat beruntung," Evan menghela napas. Ada kekecewaan di wajahnya. Tapi bagi Indri, semua itu hanya nostalgia belaka.

Ya, nostalgia. Dan karena ingin bernostalgia maka ia pagi ini datang ke kampus. Hari Minggu yang cerah. Ia telah keliling kampus. Ia merasa, besok-besok, mungkin tidak bsia melihat bekas kampusnya lagi.Mungkin kesibukan di Jakarta membuatnya akan jarang pulang ke Medan. Bukan hanya sibuk sebagai pegawai bank, tapi juga sebagai... istri dan Mama!

Indri tak sabar untuk segera menelepon Doni.


*****


"Hai.. Sayang.. aku tak sabar menunggu kabar darimu," suara Doni terdengar sarat kerinduan.

"Ya, Don, besok aku akan pulang. Kau senang mendengarnya 'kan?"

"Senang.. ya, tentu saja, Aku kangen kamu, Ndri. Tapi aku ingin mendengar berita yang lain?"

"Berita lain? O.. ya.. Mama dan Papa sehat kok. Mereka titip salam buatmu."

"Salamkan kembali.. " Doni menggantung suaranya. "Ndri.."

"Bisa jemput aku di bandara besok, Don? Penerbanganku dari Medan sekitar jam sepuluh pagi. Pastikan kamu ada di bandara menjemputku sebelum jam dua belas ya."

"Pasti, Ndri... tapi..."

"Dan..." Indri menahan senyumnya. "Bisakah dari bandara kita langsung mencetak kartu undangan pernikahan kita?"

"Ndri..ap.pa..Ndri.. ya.. apakah kau.. ya.. bisa..." suara Doni seolah tenggelam oleh deru jantungnya. "Itu berarti kau menerimaku?"

"Ya." Indri tak ingin bercanda lagi. "Menikahlah denganku, Don. Kita akan arungi hidup, berkayuh dalam suka dan duka, bersama sampai maut memisahkan!"

"Gadisku.. tenyata engkau juga romantis."

"Bangunkan istana putih buatku, di mana taman indah , kolam ikan dan kicau burung menghiasinya. Anak-anak kita bermain di sana."

"Puitis.. puitis... engkau sangat puitis, Manis."

"I love you, Doni."

"I love you too,Sweetheart!"


*****


Istana putih, taman, kolam ikan...

Doni tersenyum memandang cetak biru yang terbentang di hadapannya. Rumahnya dan Indri, oh..ya.. dengan anak-anak tentunya. Ia bahagia sekali di hari Senin ini. Tak seperti bisanya, ia menyambut Senin kali ini dengan suplemen energi yang lebih hebat. Suplemen itu tak lain tak bukan adalah Indri. Kekasih tercinta, calon istrinya yang sebentar lagi akan tiba.

Setengah jam lagi Doni akan menghadiri rapat dengan klien perusahaan. Sebagai Arsitek Senior di perusahaan ini, ia wajib hadir di sana. Tapi Doni juga memastikan bahwa rapat itu akan segera berakhir sebelum pukul dua belas. Itu waktu saat dia akan menjemput Indri di bandara. Satu jam yang lalu Indri masih mengirim SMS, memberi tahukan ia sedang chek-in di Polonia. Ia juga menyebut nama maskapai penerbangannya.

Setelah bertemu nanti, Doni akan menunjukkan cetak biru rumah mereka. Ya rumah mereka.
Istana putih itu.

Doni melangkah meninggalkan ruang kerjanya menuju ruang rapat. Diliriknya jam tangan. Jam sepuluh lima belas menit. Masih ada waktu seperempat jam lagi untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum rapat dimulai. Ia melangkah melewati lobby. TV sedang menyala...

Sebuah pesawat milik maskapai penerbangan Mandala Airline tujuan Medan-Jakarta, pagi ini jatuh di kawasan pemukiman Padang Bulan , Medan. Pesawat yang belum diketahui nomor penerbangannya itu diduga gagal take off. Belum diketahui sebab-sebab pasti kecelakaan tersebut namun diperkirakan seluruh penumpangnya tewas dan..

Mata Doni nanar menatap layar TV. Sesuatu berkelebat di matanya. Bayangan seseorang, senyum manisnya dan..

Doni tak bisa melihat layar TV, ia juga tidak tahu bagaimana hitamnya langit di atas Padang Bulan pagi itu. Ia hanya ingat istana putih mereka.. kolam ikan, taman indah, kicau burung dan anak-anak yang sehat.. Indri..

Dan ia tak mampu menopang badannya. Terkulai di lantai kantor.


--- Sekian ---


in memoriam Indri, damailah di sana, engkau yang telah terpilih menghadapNya.
besok mungkin aku. umur milik siapa, sobat?

Posted on February 6, 2006 2:00 AM |
 Lainnya: