Artikel:

Roy Suryo: Yang Penting Masyarakat Mendapatkan Hikmah.

pesan cinta Kurang lebih setahun yang lalu sejumlah blogger Indonesia mengirimkan 'ungkapan kasih sayang' buat seorang Roy Suryo dengan cara ramai-ramai memasang banner di blog mereka. Ini adalah salah satu dari sekian banyak reaksi yang muncul di kalangan blogger Indonesia terhadap pernyataan Roy Suryo mengenai fenomena blog yang disebutnya sebagai trend sesaat.

Berangkat dari semangat kasih sayang itu pula, dalam edisi perdana bz! kali ini, redaksi sepakat menampilkan Roy Suryo di rubrik tamu. Meskipun bukan blogger dan tegas-tegas ia mengatakan tidak mau punya blog, namun adalah sebuah kenyataan bahwa Roy sudah kadung masuk dalam sejarah dunia blog di Indonesia dengan pernyataannya yang dianggap kontroversial itu. Para blogger rasanya pernah mengikuti kasus ini dan sudah tahu bagaimana sikap sesama blogger lainnya, mulai dari yang memaki hingga yang memancing diskusi. Tapi apa sebenarnya maksud "Blog hanya trend sesaat" itu? Ini yang ingin kami gali lebih jauh dari seorang KRMT Roy Suryo yang dihubungi via telpon pada hari Rabu, 1 Februari 2006. Berikut laporannya, semoga bermanfaat.


"Hahaha..!" suara tawanya terdengar lepas di ujung telepon sana ketika bz! mengingatkannya akan peristiwa setahun lalu sewaktu sejumlah blogger ramai-ramai memasang banner "Valentine" yang dipersembahkan untuk dirinya. Di kalangan wartawan, Roy Suryo adalah sosok yang tidak sulit diwawancarai. Ia bisa bicara panjang lebar untuk satu pertanyaan saja. Maka perbincangan pun langsung mengalir begitu saja, tentu diawali dengan meminta penjelasan mengenai pernyataan kontroversialnya itu:


Pernyataan Anda bahwa blog adalah "trend sesaat" itu menjadi sangat 'populer' di kalangan blogger. Apa sih sebenarnya maksud Anda?

Sebenarnya kalau kita lihat apa yang awalnya adalah bentuk dari blog sekarang sudah berbeda. Jadi saya lihat ini memang benar-benar sebuah trend. Artinya begini, suatu mode yang mungkin akan berkembang dan mungkin akan ditinggalkan, tetapi juga mungkin ada orang yang terus akan memanfaatkannya dari satu periode ke periode lain dan mengalami perubahan. Jadi persis seperti model komunikasi yang lain. Kalau dulu kita berkirim surat lalu beberapa waktu kemudian trendnya sms, itu sama saja dengan orang mengatakan bahwa kalau dulu modenya orang senang berkirim surat, kemudian sempat suka melakukan telepon sampai berlama-lama, kemudian sempat berkembang ada kantor yang memanfaatkan faksimili, kemudian ada yang sempat berkembang memiliki homepage dan alamat email, akhirnya moda komunikasi ini akan terus berkembang seperti halnya dengan friendster. Ini artinya akan diikuti oleh orang pada satu masa tertentu dan saya haqqul yakin pada masa-masa yang berikutnya itu akan muncul tipe-tipe baru, meskipun mungkin masih ada kesamaannya dengan bentuk blog atau dengan berkirim surat. Intinya kan berkirim surat atau seperti orang menampilkan majalah dinding. Jadi artinya blog ini semacam diary. Yang ingin saya katakan adalah kalau orang membuat blog itu sebenarnya tujuannya baik. Saya lihat banyak blog bagus di luar negeri. Di Indonesia saya lihat banyak temen-temen wartawan, teman-teman dosen yang bikin blog dengan bagus. Artinya mereka memiliki satu pengalaman atau satu penemuan mereka tulis di situ. Kalau teman-teman wartawan biasanya mereka mau menuliskan sesuatu atau mengangkat topik, itu ditulis dulu lalu lihat komentarnya dulu.

Tapi ada juga yang salah dalam arti kata saya memang menyatakan salah karena mereka menganggap blog ini adalah sesuatu yang 100 persen sifatnya adalah absolut pribadi mereka sehingga mereka berhak menuliskan apa saja tentang diri mereka. Itu boleh apa saja. Tapi kemudian yang salah, mereka juga menuliskan apa saja tentang diri orang lain di blog itu.

Roy kemudian mencontohkan tentang kasus friendster dimana banyak orang membuat account friendster dengan menggunakan nama orang lain tanpa izin dari orang itu sendiri dan ini juga terjadi pada dirinya sendiri dan sosok-sosok lain termasuk sosok seorang menteri. Roy sempat mengirim surat komplen ke pengelola friendster dan mereka menjawab bahwa friendster berprinsip first come first serve. Namun ketika ditanyakan apa jaminan bahwa pendaftar itu adalah pemilik identitas yang benar, friendster kata Roy tidak bisa menjawab. Fenomena ini menurut Roy juga muncul di blog. "Ada kecenderungan bahwa kalau tidak membuat blog yang menjelek-jelekkan orang lain, maka itu bukan blog," katanya.


Jadi maksud trend sesaat itu dikaitkan dengan akan munculnya fenomena baru?

Persis. Akan muncul fenomena baru dimana nanti mode-mode komunikasi ini akan terus berkembang. Seperti halnya dengan blog. Dulu sebelum kenal blog, orang mengenal personal website yang belum menggunakan RSS atau belum mengenal teknologi dimana orang bisa melacak informasi asalnya. Sekarang itu sudah digunakan. Tapi mungkin akan berkembang lagi menjadi bentuk lain, dan itu pasti.

Tapi ide dasarnya perkembangan itu masih mirip blog, kan?

Bisa mirip blog atau beda sama sekali. Blog ini kan sama saja dengan personal website, tapi kemudian bentuknya berkembang dan dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Menurut saya tidak! Itu yang saya sebut dengan sesaat. Jadi artinya satu trend itu akan berkembang dari satu saat ke saat lain dan dia akan terus termodifikasi, akan terus berubah. Sama seperti orang dulu bangga memiliki pager. Kemudian berkembang. Orang jadi suka menggunakan sms yang melekat pada handphone. Sekarang di handphone juga berkembang teknologi push to talk yang mirip dengan komunikasi radio dua arah kayak orang pakai handy talkie dulu. Jadi kalau ada yang mengatakan push to talk adalah hal yang sama sekali baru, sayapun akan mengatakan itu hal yang tidak baru. Itu cuma perkembangan teknologi komunikasi. Sama seperti orang bersurat. Mode itu mungkin akan ditinggalkan atau masih dianut sebagian orang. Orang sekarang berkomunikasi dengan surat masih boleh-boleh saja dan saya tidak pernah melarang orang nge blog. Itu hak pribadi orang. Yang saya sesalkan adalah kalau orang kemudian membuat blog atas nama orang lain, atau membuat friendster atas nama orang lain yang dinyatakan sebagai resmi milik orang ini. Ini terjadi di Indonesia.

Sepanjang wawancara, Roy berulangkali menyinggung tentang kebiasaan orang yang membuat blog atas nama orang lain dan itu memang diakuinya sangat mungkin terjadi dalam teknologi layanan blog dewasa ini. Bisa jadi karena memang ada yang pernah membuat account friendster dan blog atas nama Roy Suryo atau karena ia memang prihatin dengan kecenderungan ini. Untuk menjawabnya, perbincangan pun kami arahkan ke pada masalah ini termasuk juga unsur anonimitas dalam blogging serta juga dalam teknologi informasi lainnya yang menurutnya sangat dimungkinkan dalam perkembangan teknologi saat ini.


Oke, tapi apakah kemudian perlu ada peraturan tidak tertulis bahwa pemilik blog harus menyertakan identitas atau kontak yang bisa dihubungi?

Ini yang namanya konvensi. Tapi konvensi tak perlu sejauh itu, meski perlu dijaga agar pemahamannya jangan sampai salah. Contohnya begini. Dulu ketika awal-awalnya internet mulai marak di Indonesia di tahun 1996 atau satu dua tahun sebelumnya, itu saat saya kirim email kepada beberapa orang di luar, kalau saya pakai alamat email misalnya roy@indo.net.id atau pakai nama asli roy pun, itu kadang-kadang ada yang tanya kenapa alamat email anda sangat singkat. Kenapa tidak pakai, misalnya rsuryo atau roy.suryo? Dan itu saya anggap suatu konvensi yang berlaku di dunia maya saat itu yang menurut saya cocok karena orang bisa mengirim email dengan nama sendiri dan menggunakan domain tempat kerjanya. Kadang-kadang kalau kita pakai nama domain bukan dari tempat kita kerja, email kita ditolak.

Nah, sekarang konvensi itu tampaknya bergeser, karena orang bisa menggunakan alamat email seenaknya sendiri bahkan kadang-kadang panjang sekali. Coba masuk ke IDGMAIL. Itu di sana ada alamat yang panjang sekali. Misalnya priaberkupluk@gmail, ada priayangbersahaja atau akutidakinginhidupsusah@gmail dan lain sebagainya sehingga satu orang punya dua, tiga, empat, lima alamat email yang berbeda dan orang tidak menganggap identitas pribadi itu sebagai hal yang penting. Ini yang sekarang berjalan dan terjadi di Indonesia.

Itu yang menyebabkan kami -artinya tidak hanya saya ya, karena ada teman-teman dari ICT Watch seperti Mas Doni Budi Utoyo, Mas Heru Nugroho dan beberapa kawan lain yang tidak ingin generasi muda kita kemudian ikut dengan hal semacam ini. Jadi makanya sekarang saya tidak perlu menanggapi secara langsung tapi lebih baik saya kerjakan hal yang lain seperti ceramah atau seminar ke anak-anak SMP dan SD tentang pemahaman internet dan sebagainya.


Tapi masalahnya sekarang orang sudah mulai banyak bicara tentang blog sebagai sarana komunikasi yang baru. Kalau dikaitkan tentang masalah anonimitas seperti yang anda singgung tadi, bagaimana?

Makanya inti saya adalah pertanggungan jawab terhadap apa yang dia tulis. Jadi selama dia memiliki blog kemudian menulis pesan dan ide pribadi untuk masyarakat bahkan penemuan dia untuk masyarakat, saya sangat mendukung, dan itu pun banyak yang melakukan. Itu adalah blog yang positif. Artinya kalau itu yang terjadi, tidak ada soal. Makanya saya juga sesekali melakukan blogwalking dan memberi komentar untuk beberapa teman yang punya blog dan menulis soal hal yang positif. Tetapi saya tidak mau komentar pada blog yang menurut saya mungkin ada hal lebih baik yang bisa dia lakukan.

Roy juga mencontohkan sebuah proyek yang sebentar lagi akan di launch dimana dia terlibat, yang disebut sebagai Sistem Informasi Kepresidenan. Dalam sistem itu presiden akan memiliki layanan website yang resmi dimana orang juga bisa memberi komentar, mirip dengan blog meskipun menurutnya batasan antara blog dan website sangat tipis. Baginya di blog, komentar orang lain dapat muncul seenaknya, bahkan misalnya dengan one liner seperti "Horee, aku yang pertama". Tapi hal seperti itu menurutnya tidak perlu dan akan lucu kalau muncul di blog kepresidenan. (Mungkin Roy lupa bahwa komentar di blog pun sekarang bisa disaring dulu oleh pemiliknya - RED).


Katakanlah blog ini memang sering dan bisa memunculkan masalah yang personal seperti yang mungkin anda alami. Tapi buktinya blog bisa menimbulkan dampak besar di masyarakat. Di Amerika, misalnya tulisan di blog bisa menimbulkan dampak politik pada kepemimpinan Presiden Bush? (Dalam skala kecil, di Indonesia misalnya juga sudah terjadi, ketika blog milik Angelina Sondakh dikunjungi banyak orang karena mereka ingin tahu kebenaran gosip Angelina dengan Aji Masaid - Red )

Ya memang akhirnya kita harus mendidik masyarakat bahwa apakah itu ditulis oleh orang sebetulnya atau tidak. Misalnya, kalau Angelina Sondakh membuat blog, itu adalah hak dia. Sama seperti seorang Agnes Monica yang membuat account friendster untuk dirinya sendiri. Tapi kalau kemudian ada friendster atas nama Susilo Bambang Yudhoyono atau Gus Dur dan orang lain percaya kepada itu, itu kan berbahaya. Jadi artinya orang harus terbiasa untuk tahu bahwa layanan ini adalah layanan dimana orang bisa dengan mudah membuat dan dengan mudah melakukan pengingkaran terhadap apa yang dia tulis. Jadi masyarakat harus di educate bahwa apa yang ditulis di blog itu tidak semua benar. Itu kan yang ingin ditunjukkan oleh kelompok pendukung blog bahwa apa yang ditulis itu memang 100 persen benar, padahal belum tentu orang yang menulis adalah dia sendiri. Itu yang sebenarnya agak rawan dan berbahaya.


Anda sendiri mengakui tidak semua blog itu jelek dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan?

Betul! Banyak kok blog yang bagus..


Jadi bagaimana mendidik masyarakat bahwa ini blog yang bagus dan ditulis oleh orang yang sebenarnya yang bisa dipertanggung jawabkan oleh si pemilik blog sendiri?

Saya kira memang harus dipertanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan. Misalnya, ada berita "Pak SBY berkata di depan nelayanan bahwa listrik harus naik". Benarkah ini terjadi? Itu kita bisa cek nanti kalau beliau sudah ada website. Ini memang tidak bisa dibuat seragam. Dalam demokrasi orang boleh saja berkomentar, tapi yang kemudian sulit mengajarkan kepada masyarakat adalah agar mereka mengerti bahwa ternyata dalam layanan itu ada kepalsuan-kepalsuan yang dibuat oleh dunia itu. Ini yang ingin saya katakan. Jadi jangan sampai kemudian bahwa orang menganggap itu 100 persen dibuat oleh orang yang sama. Karena ini tampaknya yang ingin dibuat oleh mereka.


Coba saya simpulkan. Anda mengatakan kita tidak bisa mengatur orang apakah ingin pasang identitas atau tidak di blog, tetapi masyarakat juga harus tahu mana yang bermanfaat untuk mereka atau tidak. Bagaimana ini?

Betul. Memang itu sulit. Kalau idealnya sih memang orang tidak boleh membuat orang lain mengaku bukan dirinya, kan? Tapi kan kadang suatu tata norma ideal itu agak sulit diterapkan di masyarakat. Misalnya idealnya menteri itu membuka handphonenya. Tapi kita juga menyerahkan kepada menteri yang bersangkutan. Kalau menteri tidak mau komunikasi langsung dengan masyarakatnya, itu adalah hak dia karena mungkin dia memiliki cara lain.

Yang harus dipertimbangkan adalah ketika kemudian seseorang merasa pendapatnya harus diikuti oleh orang lain dan kalau orang tidak mengikuti maka itu menjadi lawan dia. Ini yang menjadi hal yang mengkhawatirkan.

Yang saya lihat, fenomena blog di Indonesia, kalau mereka meng-quote pendapat dan tidak seragam, itu kemudian menyebabkan dia di asingkan. Itu saya lihat di beberapa blog. Misalnya, sebut saja tokoh-tokoh blog di Indonesia, apakah itu Enda, Priyadi, Jay atau yang lainnya, itu kalau ada suatu pendapat tidak di quote dengan pendapat dia dan tidak mengquote juga pendapat yang lain dia kemudian dikatakan basbang atau basi banget lah atau istilahnya akan di basbang kan atau diasingkan, maka yang terjadi adalah orang jadi takut ke situ. Akhirnya orang mau nggak mau masuk ke situ harus menghujat. Padahal lucunya mereka tidak mau menutupi kebohongan yang sempat terjadi.

Roy kemudian mencontohkan beberapa kasus untuk membuktikan kekhawatirannya. Salah satunya adalah kasus blog milik Natasha Anya atau Sha. Saat kabar meninggalnya Sha tersebar hampir semua blogger mengucapkan duka cita. Semua percaya dia meninggal. Ternyata menurut Roy itu bohong besar. Itu, katanya adalah tokoh fiktif yang dibuat oleh siapapun dan tidak ada yang mau mengaku. "Ini jeleknya. Begitu sudah ketahuan nggak ada yang mau mengaku," tuturnya. Lantas bz! pun mengingatkannya akan kasus lain dimana ketika seorang pemilik blog terang-terangan menggunakan identitasnya dan ia justru mendapat masalah..


Tapi bagaimana dengan kasus Herman Saksono di mana nama Anda juga sempat disebut-sebut terlibat? Bukankah Herman jelas-jelas mencantumkan identitas aslinya?

Pada kasus Herman, saya masih sedikit appreciate bahwa dia mau menulis nama dia yang sebenarnya. Dia bagus. Tapi akhirnya setelah dia merasa apa yang dilakukan itu mungkin salah dan dia sempat dipanggil, di interogasi dan akhirnya mencabut apa yang dia tulis, saya kira itu hal yang bagus. Dan kita tidak akan meneruskan lagi kan? Menurut saya anaknya sudah baik dan sudah benar. Memang maksud saya dengan mengatakan bahwa dia di 'bina' oleh aparat kepolisian di Jogja itu maksudnya dia dibina dan dinasehati baik-baik, dan syukur alhamdulillah dia mau, meskipun awalnya dia sempat membangkang dan sempat ada dukungan pembangkangan itu dari kawan-kawannya. Ini yang agak saya sesalkan. Dia sempat agak terprovokasi, tapi untungnya juga beberapa teman-teman wartawan dari Jogja -ada wartawan Detik, ada wartawan SCTV yang saya tahu persis - yang justru menasehati Herman. 'Sudahlah, Man, susahnya apa sih mencabut itu. Mencabut itu, selesai. Kamu tidak akan diperpanjang lagi". Begitu dia nyabut, selesailah. Jadi selama dia masih menuliskan isi-isi pikiran dia, ya terserah saja, mas.


Tapi ini kan masalah kebebasan berbicara dan berpendapat?

Nah gini. Kebebasan berbicara sepanjang dia tidak menabrak privacy.. Begini.. Hak privacy itu kan ada juga batasnya, mas. Ini yang kemudian agak rawan. Orang menganggap bahwa blog itu 100 persen sama dengan diary. Padahal di diary itu orang menulis untuk diketahui diri dia sendiri atau mungkin sahabat terdekatnya. Tapi kalau blog, dia adalah sebuah publikasi, dia adalah maklumat. Blog itu tidak bisa disamakan dengan personal diary, karena dia adalah personal publication atas diri dia dan atas pendapat dia, dan dia bertanggung jawab atas apa yang ditulis.. Jadi kalau sekedar mengkritik, sepanjang itu tidak menabrak koridor yang ada, mungkin kembali kepada orang itu, apakah akan membiarkan atau ada orang yang menuntut atau ada undang-undang yang mengatur. Yang jelas, sekali lagi blog itu bukan personal diary. Itu adalah maklumat. Apa yang dia tulis, dia harus bertanggung jawab terhadap apa yang dia tuliskan.

Contohnya lagi di blognya Jay. Di postingnya terakhir dia menulis awal tahun ini dia pakai Sony Erickson P900. Mungkin bagi sebagian orang itu dianggap kuno karena itu sudah dua tahun lalu. Tapi itu kan hak dia untuk menulis dan tidak mengenai orang lain. Kecuali misalnya dia menjelekkan Sony Erickson atau lainnya, itu pertanggung jawaban pribadi dia karena sudah menyentuh hal di luar diri dia pribadi.


Pada akhirnya kita bicara soal tanggung jawab, toh?

Betul! Intinya disitu.


Jadi apa jalan keluarnya cukup dengan misalnya memasang identitas atau menjelaskan tentang diri pemilik blog ketimbang bersikap anonym. Apakah ini bisa jadi jalan keluar?

Ya. Tapi saya tidak menyalahkan orang yang mengusung anonimitas. Bahkan kadang-kadang ada yang berpendapat bahwa yang penting adalah pendapat dan tidak melihat siapa yang berbicara. Padahal itu juga penting. Sama halnya dengan begini. Di satu lapangan orang berpidato. Kemudian misalnya ada satu suara dari sisi sebelah kanan, tapi tidak ada yang mengaku. Itu hak orang itu untuk menjawab atau untuk tidak menjawab.

Jadi anonym atau tidak itu menurut saya juga tergantung kepada apa inti yang dia kemukakan. Kalau inti yang dia kemukakan itu sesuatu yang sifatnya positif, saya kira orang bisa berlindung di balik anonimitas.Atau dia misalnya tidak ingin informasi itu kemudian menjerat diri dia pribadi, itu boleh. Orang kan boleh saja kirim surat kaleng, kan? Perkara itu isinya apapun boleh. Tapi apakah surat kaleng itu mau ditindaklanjuti apa tidak, ini tergantung dari orang yang menerima. Tapi ketika misalnya blog itu anonym atau tidak mencantumkan identitas atau terlebih mengatasnamakan orang lain, ini yang perlu dipertanyakan. Kalau blog itu atas nama pribadi dan dia tuliskan pendapat dia atau pengalaman dia, itu bagus. Atau dia ingin mengungkapkan pendapat atas sesuatu hal dan ini banyak dilakukan oleh wartawan misalnya dengan bikin blog sebelum menulis beritanya, itu bagus. Tapi kalau isinya hanya menyerang orang terus, kalau saya sih tidak terlalu saya anggap. Karena menurut saya ya biarkan saja. Energinya juga akan habis disitu. Tapi kalau dia memaksa kita untuk juga bertarung di situ, itu kan hak kita sendiri.


Selain curhat atau cerita pengalaman pribadi, ada yang ingin mengungkapkan ide atau gagasan melalui blog dan itu juga harus diakui ada. Anda pun mengakuinya kan? Bagaimana dengan seorang Roy Suryo? Apa tidak tertarik untuk menyalurkan ide dan gagasan anda melalui blog?

Nggak!


Kenapa?

Dulu saya juga punya personal website. Tapi sekarang saya pikir untuk Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa dan pengakses internet sampai sekarang menurut data dari APJII hanya mencapai 11,5 juta, saya mungkin memilih menggunakan media yang lain. Itu cara saya mengedukasi - maaf kalau kesannya terlalu tinggi - atau cara saya cerita suatu teknologi kepada masyarakat, misalnya melalui media massa. Cara saya seperti itu.

Jadi setiap orang boleh memiliki suatu cara yang berbeda antara yang satu dan yang lain dan itu sah-sah saja. Jadi kalau ada yang mengatakan 'Mas, saya pokoknya hanya blog saja, saya tak mau tampil di sini atau di sini' ya itu terserah. Hak dia!


Bagaimana Anda melihat perbedaan pendapat yang terjadi?

Sah saja. Masalahnya begini. Saya ditanya tentang sesuatu, katakanlah soal blog, yang memang saya tidak tertarik dengan blog. Makanya saya mengatakan bahwa di blog itu kan memang akan berkembang dan akan berubah lagi. Kalau kita lihat, sekarang sudah berubah. Sudah ada modifikasi yang tidak sama persis. Website pun begitu. Email pun begitu. Dulu orang email pakai nama asli, tapi sekarang orang pakai nama seenaknya. Tapi adalah hak seseorang juga kalau tidak mau menjawab.

Dalam kasus ini sih, saya biarin aja orang-orang teriak-teriak. Justru kita bisa belajar banyak. Yang penting masyarakat justru akan mendapatkan hikmah dari situ.

Kata-kata Roy Suryo yang terakhir tadi agaknya terbukti benar. Ketika pro dan kontra pernyataan Roy terus berlanjut, secara tidak langsung iapun telah 'memberikan hikmah' dengan mempertemukan banyak blogger dari berbagai kalangan lewat diskusi, komentar atau sekedar celetukan usil di comsys atau shoutbox. Pada saat yang sama masalah inipun sempat terekspose keluar dari ranah dunia saiber melalui media cetak atau elektronik dan lagi-lagi kata 'blog' pun masuk ke benak banyak orang. Bukan tidak mungkin banyak diantara mereka yang juga tertarik memiliki blog, baik untuk sekedar curhat atau untuk hal lain. Sementara bagi mereka yang tak mau ngeblog, lagi-lagi kita kutip saja pernyataan Roy Suryo: Itu hak mereka!! Bagaimana menurut anda? Silahkan sampaikan komentar anda kepada kami.

* Catatan: Roy Suryo -atas persetujuannya- dapat dihubungi melalui email di roy@indo.net.id

Posted on February 6, 2006 2:00 PM |
 Lainnya: