Artikel:

Andrea Hirata: Jangan Mudah Menyerah

Oleh: Primadonna 'tenshi' Angela

bz!Tamu Bagi pecinta buku di Indonesia mungkin sudah pernah mendengar nama Andrea Hirata. Andrea yang mengaku bukan penulis ternyata mampu menulis Laskar Pelangi (500-an halaman) dalam waktu 3,5 minggu. Sebuah prestasi yang luar biasa sekali.

Buku yang berkisah tentang masa kecil Andrea ini seakan punya daya magis untuk menyeret pembaca dalam kepingan memori seorang Ikal (nama panggilan Andrea di masa kanak-kanak), membuat pembaca tertawa kemudian menangis haru.

Sebuah buku yang sarat dengan pesan mengenai kehidupan, dengan local color Melayu Belitong kental, begitu menyentuh dan memesona. Sosok Ikal bisa tampak begitu romantis dan terkadang melankolis, 'nakal' sekaligus piawai dalam mengolah kata, membuat para pembaca jatuh cinta padanya.

Kalau tertarik ingin mengetahui lebih banyak tentang karya Andrean Hirata Seman Said ("Nama biasa orang Melayu saja," menurutnya), kunjungilah blog-nya di andreahirata.multiply.com. Komentar, events, dan segala macam yang berkaitan dengan Laskar Pelangi dapat ditemui di sana. Andrea Hirata yang masih single ("I'm very much available!" mengutip kata-katanya) berbagi cerita mengenai masa kecilnya kepada pembaca bz!.

Apa yang Mas Andrea paling ingat dari masa anak-anak?

Seperti cerita dalam Laskar Pelangi (LP), yang paling diingat adalah ketika kecil diajar oleh Ibu Muslimah dan Pak Harfan. Mengapa demikian? (dikutip dari LP) Karena Pak Harfan mengajarkan kebenaran hidup yang sederhana melalui kata-katanya yang ringan namun bertenaga seumpama titik-titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami untuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita.

Apa cita-cita Mas sewaktu kecil dulu? Mengapa sampai punya cita-cita seperti itu?

Ingin jadi penulis dan pemain bulu tangkis. Ingin jadi penulis karena terpengaruh pada buku If Only They Could Talk karya Herriot dan menjadi pemain bulu tangkis mungkin cita-cita setiap anak melayu di kampung kami karena bulu tangkis adalah olah raga kegemaran kampung.

Siapa sahabat terdekat Mas waktu masih anak- anak? Kenangan apa tentang dia yang paling Mas ingat sampai sekarang?

Lintang, karena kecerdasan dan integritasnya dan Mahar karena sangat imajinatif, nggak logis, tapi amat menarik. Mahar memiliki kepribadian magnetik. Kenangan yang nggak akan pernah hilang adalah ketika Perlombaan cerdas tangkas bersama Lintang dan ketika Mahar memimpin kami dalam festival 17 Agustus. Kedua orang itu adalah para jenius dalam bidangnya masing-masing.

Apa yang membuat Mas tergerak untuk menulis Laskar Pelangi?

Karena persahabatan yang sangat bernilai dengan seluruh anggota Laskar Pelangi dan karena ingin berterima kasih pada para guru yang berjuang tanpa pamrih di sekolah miskin kami dulu. Sejak kelas 3 SD saya sudah berjanji pada para anggota Laskar Pelangi dan saya sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan menulis buku tentang persahabatan kami, tentang guru-guru kami. Setiap lembar LP sudah ada di kepala saya selama belasan tahun. Saya tuangkan jadi buku dalam tiga minggu. Dan tadinya sama sekali bukan untuk diterbitkan kepada publik tapi dikopi sendiri 12 buah dan dibagikan dalam lingkungan Laskar Pelangi sendiri. LP dikirim oleh teman saya ke penerbit yang nggak sengaja menemukan naskah itu.

Dengar-dengar Mas sudah menulis sekuel dari LP. Apakah kedua buku berikut ini juga merupakan pengalaman pribadi?

bz!Tamu Ya, saya nih penulis anak bawang yang ngelunjak. Saya ingin menulis trilogi berlatar budaya melayu. Laskar Pelangi, novel pertama saya itu, adalah bagian dari trilogi ini. Setelah menulis trilogi ini saya berencana berhenti menulis. Ketiga karya ini akan berhubungan dengan caranya sendiri dan dalam salah satu karya itu saya ingin sekali mengangkat isu patriarki dalam budaya orang Melayu (sebagai penghargaan saya setinggi-tingginya pada kaum perempuan).

Buku kedua berjudul Edensor, sebenarnya sudah selesai saya tulis tapi belum saya kirimkan ke penerbit. Edensor adalah nama sebuah desa di Inggris. Edensor bercerita tentang perspektif orang dalam melihat hidupnya dan bagaimana hal itu berhubungan secara ajaib dengan jalinan nasibnya. Edensor adalah cerita tentang konfrontasi dari intensitas karakter tokoh-tokohnya. Seperti film yang sepi tapi, harapannya, memiliki kisah yang kuat. Saya kira ini topik yang rumit, seharusnya ditulis oleh penulis yang lebih
berpengalaman, bukan saya.

Saat membaca LP, saya merasa terhanyut, bagaikan saya berada di Belitong bersama anggota Laskar Pelangi. Saya merasa takjub dengan kemampuan Mas mengingat masa lalu dengan begitu mendetil. Apa Mas punya teknik atau cara tertentu yang memungkinkan untuk mengingat semua kenangan di masa lalu? Bagaimana cara me-recall semua ingatan itu dengan begitu sempurna?

Saya kira inilah salah satu keuntungan menulis memoar. Situasi emosionalnya lebih tampak. Jika kita menjadi pribadi yang cukup sensitif semua kenangan berkesan takkan hilang. Jadi nggak perlu ada mekanisme dan teknik mengingat-ngingat kembali. Seseorang yang sensitif dapat berada dalam situasi time changes, people stay, we are the same person with the same memories attached, all the time.

Apa perbuatan ternakal/terjail yang Mas lakukan waktu anak-anak?

Menyembunyikan sandal pak Fahimi di mesjid, guru kelas 4 yang galak itu, mengucapkan amin dengan cara melanggar aturan ketika jamaah di langgar, menyangkutkan sepeda Pak Fahimi di dahan pohon.

Kalau ada yang bisa Mas ubah dari masa kecil, apakah itu?

Tidak ada.

Mengapa Mas tidak menceritakan masa SMA di LP?

Tunggu aja ya di novel berikutnya: Edensor.

Apakah orangtua/saudara Mas Andrea mendukung untuk menjadi penulis?

Saya dari keluarga Islam yang kolot. Menulis novel agak sedikit kurang disarankan dalam keluarga, takut jadi ikut-ikutan sekuler. Tapi jika menulis buku agama akan didukung habis-habisan.

Apa yang ingin Mas Andrea sampaikan dalam LP?

Don't give up, don't ever give up, jangan mudah menyerah, itu saja

Selama ini, secara umum, bagaimana sambutan pembaca terhadap LP? Adakah komentar dari pembaca yang begitu membekas di hati Mas Andrea?

bz!Tamu Saya kira LP adalah buku yang sama sekali melawan arus trend buku sekarang. Kemarin saya dikasih tahu penerbit bahwa kami mulai siap-siap untuk cetak ketiga. Kalau ini Insya Allah jadi kemungkinan besar kami akan naik tiga kali cetak dalam waktu kurang dari enam bulan. Untuk buku yang sama sekali tidak mengusung isu populer, itu saja gambaran sambutan umum pada LP.

Saya banyak mendapat tanggapan yang sangat menyentuh dari pembaca LP, misalnya yang ingin putus cinta nggak jadi, yang ingin berhenti sekolah jadi semangat lagi, dan salah satu yang paling berkesan adalah ini (dikutip dari sebuah weblog):

"Laskar Pelangi bercerita tentang semangat 11 anak dalam asuhan sebuah lembaga pendidikan amat sangat sederhana di sebuah daerah kepulauan Belitung, dengan hanya diasuh oleh 2 orang guru, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya pintar secara intelegensi tapi juga secara moral. Saya sangat suka cara penulis mendesripsikan karakter-karakter yang kuat dalam diri 11 laskar tersebut. Buku ini kental akan semangat mengenyam pendidikan yang berkobar-kobar, saya bisa merasakan semangat tersebut dari adegan demi adegan yang diceritakan. Cerita ini membawa saya kepada masa lalu jaman SD di sebuah kepulauan Bangka, mengingatkan kembali akan karakter-karakter teman2 saya kala itu."

Seberapa jauh peran blog Mas Andrea di multiply dalam proses menulis buku?

Ternyata mengusung sebuah tulisan ke publik, apalagi yang menyangkut kebijakan publik seperti dalam LP yaitu tema pendidikan dan corporate responsibility, mengandung implikasi bagaimana penulisnya dapat mempertanggungjawabkan ide-ide yang ditulis. Motif menyediakan weblog itu sebenarnya sebagai media untuk mendiskusikan isu-isu kebijakan publik tersebut. Sedangkan dalam proses menulis buku dari weblog saya dapat mengetahui the way people think and preceive my work, important poins of view, untuk perbaikan menulis lain waktu

Sebenarnya weblog itu didesain dan dibantu updating-nya oleh sahabat, Kiagus Arizal dan Dewi Mustikarini di Indosat, tapi selalu saya lihat dan setiap pertanyaan selalu saya jawab sendiri.

Menurut Mas Andrea, apa kegunaan/fungsi dari sebuah blog?

Sebagai media untuk berkomunikasi, bagi penulis, akan berguna untuk mengakomodasi berbagai diskusi tentang tulisannya.

Bagaimana kabar para anggota Laskar Pelangi sekarang?

Flo menikah dan punya empat anak, ibu rumah tangga. Harun masih seperti Harun yang rajin mengunjungi Trapani setiap minggu. Trapani tinggal dengan ibunya di Belitong. A Kiong dan Sahara membuka warung kopi, Samson jadi kuli bangunan, Lintang sopir alat berat. Syahdan masih menjadi manager di sebuah perusahaan asing di Tangerang. Mahar tetap di kampung, kuli serabutan, Kucai anggota DPRD, Ikal masih jadi pemimpi. ***

Posted on March 5, 2006 2:49 AM |
 Lainnya: