Blog Anak dan Refleksi Virtual Kehidupan
Oleh: Amril Taufik Gobel
"Jadi laki-laki memang tidak mudah, nak," kata ayah sembari mengoleskan minyak gosok ke keningku yang benjol setelah ditonjok pakai gembok besi oleh Faiz tetangga rumah yang seumur denganku. Sore tadi, setelah rebutan mainan, Faiz memukul keningku dengan gembok rumahnya. Keningku memang agak memar namun setelah ayah mengoleskan minyak gosok, sakitnya jadi sedikit berkurang. Sebenarnya tidak terlalu parah, tapi ibu dengan cemas begitu memperhatikan keadaanku.
"Nggak apa-apa koq,"kata ayah menghibur ibu. "Anak laki-laki memang biasa kalau berantem, kayak bapaknya dulu waktu kecil."
Ayah kemudian mengusap kepalaku pelan sambil menatapku tajam,"Tapi jangan mau kalah dong!"
Ibu melotot ke arah ayah.
***
MENULIS blog memang mengasyikkan. Apalagi blog anak. Sejak pertama kali menulis blog untuk anak pertama saya Muhammad Rizky Aulia Gobel, awal tahun 2003 silam, saya tidak semata-mata menemukan sebuah sarana curhat yang gratis, bebas sensor dan bebas biaya distribusi tetapi lebih dari itu, saya bisa menampilkan refleksi kehidupan keluarga saya secara virtual lewat media internet. Hadirnya blog Rizky --buah hati kami yang lahir 3 tahun sejak saya dan istri menikah tahun 1999-- pada awalnya memang diniatkan menjadi catatan perjalanan kehidupannya mulai lahir dan (mudah-mudahan) hingga dewasa kelak. Namun dalam setahun belakangan ini, saya menyadari, blog telah menjelma menjadi sebuah kekuatan media baru yang tangguh dan layak diperhitungkan dalam membentuk opini publik bahkan menjadi struktur yang berlawanan dengan media konvensional. Pendapat ini juga disitir oleh John Katz dalam tulisannya "Here Come the Weblogs" May 1999, "Blog merupakan struktur terbalik dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan". Sementara itu, Rebecca Blood, penulis buku "The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining your blog" berpendapat, "Weblogs are the mavericks of the online world. Two of their greatest strengths are their ability to filter and disseminate information to a widely dispersed audience, and their position outside the mainstream of mass media."
Salah satu bukti "kedashyatan" blog dapat dilihat dari skandal yang terjadi pada National Kidney Foundation (NKF) Singapore tahun silam. Skandal penyelewangan dana LSM sosial di negeri tetangga itu mendapat sorotan tajam dari masyarakat setelah publikasi si Direktur Utama yang bergaji 600 ribu Dollar Singapore per tahun dan bepergian naik pesawat dengan kelas bisnis, padahal dana yang digunakan adalah uang hasil sumbangan masyarakat. Tak ayal lagi, protes, demo, yel-yel dan caci maki dari masyarakat Singapore yang konon merupakan dua pertiga dari pendonor NKF deras mengalir. Uniknya, sebagian besar "demo" tersebut memakai sarana blog via internet sebagai medianya. Saya belum dapat membayangkan apakah gerakan seperti ini kelak dapat terjadi di negeri kita yang masyarakatnya belum terlalu banyak mengenal teknologi internet, apalagi blog. Publik dari berbagai kalangan menyuarakan opini dan pendapat mereka melalui media alternatif ini sekaligus salah satu bentuk baru "gerakan bawah tanah" era digital. Dan sukses. Sang Direktur Utama serta wakilnya mengundurkan diri dari jabatan dan langsung diadili oleh pengadilan setempat.
Harus diakui, blog sebagai salah satu bagian budaya digital memberi pengaruh besar bagi perkembangan dunia informasi dewasa ini. Merebaknya layanan blog gratis yang ditawarkan seperti dari blogger.com, blogdrive.com, blogsome.com, dan lain-lain, memberi peluang tumbuh kembang blog secara spektakuler. Ditambah lagi semakin melaju pesatnya teknologi digital terbaru serta kemudahan dan kecepatan akses internet misal melalui area hot-spot memungkinkan seseorang dapat seketika melakukan update terbaru di blog masing-masing.
Mengikuti kecenderungan yang terjadi, saya menulis blog anak sesungguhnya lebih didasari keinginan untuk berbagi informasi, ekspresi dan juga keceriaan dari aktivitas Rizky. Seperti sebuah rumah singgah maya yang nyaman di belantara virtual yang terus berkembang. Adapun perkembangan blog yang mengaqmbil posisi di luar dari mainstream media massa seperti yang sudah diungkap oleh Rebecca Blood menjadi stimulir berharga bagi saya untuk menampilkan blog yang saya tulis menjadi lebih menarik.
Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku "Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities" , seperti dikutip dari blog Enda Nasution, bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada "keterusterangan". Saya memberi aksentuasi khusus pada kalimat terakhir Amy, karena dengan menulis blog anak saya--mau tidak mau--memberi peluang bagi pembaca untuk secara "telanjang"mengetahui lika-liku dan latar belakang kehidupan keluarga saya. Tentu saya mesti siap menempuh resiko "keterus-terangan"itu. Blog sebagai refleksi personal pembuatnya pada gilirannya--secara langsung maupun tidak--menjadi "jendela" yang membingkai ide, aktivitas keseharian, emosi, kreativitas,harapan bahkan mimpi-mimpi sang penulis blog.
Melalui blog Rizky, saya berusaha mengartikulasikan "ketelanjangan" itu lewat untaian kalimat yang (moga-moga) tidak hanya sebagai representasi aktifitas keseharian Rizky juga menjadi bahan renungan bagi semua publik pembacanya. Seperti cuplikan kisah dari blog Rizky diawal tulisan ini, selain sebagai dokumentasi aktifitasnya, saya juga "menitip"pesan tersirat pada Rizky bahwa mental pecundang mesti disingkirkan jauh-jauh dalam dirinya, sebagai lelaki. Dan itu, tidak mudah.
Sejujurnya, saya merasa lebih sreg bertutur lewat Rizky semata-mata karena dua hal. Pertama, saya bisa menggali dan meng-eksplore lebih luas dan bebas segala kejadian yang terjadi di sekitar Rizky misalnya ekspresi, tindakan dan reaksi dari kedua orang tuanya, juga suasana disekelilingnya. Kedua, saya tidak bisa setiap hari berada dan mengamati perkembangan kegiatan Rizky dirumah. Melalui cerita dari istri saya--momen dimana Rizky juga terlibat dalam peristiwa itu--setelah kembali dari kantor, saya dapat meramu dan menuturkan kembali kejadian tadi lewat sudut pandang Rizky di blognya. Ini tantangan yang sangat mengasyikkan, meski pada akhirnya saya harus mengakui tidak dapat melakukan pengisian blog secara periodik karena keterbatasan waktu dan kesibukan dikantor.
Dari sejumlah blog anak yang sempat saya kunjungi memang masih lebih banyak berisi tentang jurnal kegiatan harian sang anak. Di sela-sela peristiwa kekerasan terhadap anak yang belakangan ini kerap terjadi, blog anak yang ditulis oleh ayah/bundanya menebar kesejukan dan memantulkan cemerlang cinta orangtua pada buah hatinya. Saya memendam harap kiranya ini akan menjadi energi positif dan wadah kontemplasi bagi sang anak kelak jika ia beranjak dewasa dan meneruskan penulisan blog itu sendiri. Baik anak maupun orang tua akan membaca arsip "jejak-jejak cinta" yang telah ditorehkan lewat blog untuk kemudian menumbuh-suburkan kasih sayang antar mereka. Saya yakin kekuatan blog anak terletak disini: sebuah monumen cinta yang tak akan luluh digerus zaman. Dan ungkapan "From Blog, with Love", jadi kian nyata adanya.
Posted on March 5, 2006 4:45 AM | Permalink
