Menyikat Gigi Bagi Anak
Membersihkan gigi minimal dua kali sehari adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh anak-anak. Masalah utama yang sering dihadapi oleh orang tua adalah mengajak si kecil, terutama di usia batita, untuk menyikat gigi.
Tak jarang orang tua harus berusaha keras dan terus-menerus supaya anak tidak menutup rapat mulutnya setiap kali akan menyikat gigi. Namun jangan khawatir, selalu ada cara yang menyenangkan untuk mengarahkan anak agar menyukai kegiatan ini.
Gunakan Contoh
Orang tua dapat menerapkan kebiasaan membersihkan gigi untuk seluruh keluarga. Caranya:
1. Mulai dari diri sendiri.
2. Buatlah kegiatan menyikat gigi sebagai salah satu kebutuhan yang harus dilakukan minimal dua kali sehari.
3. Ajak si kecil melihat ayah, ibu, atau kakaknya menyikat gigi.
4. Selagi mencoba kebiasaan ini, ceritakan kepada anak mengenai manfaat menyikat gigi.
5. Jangan cepat menyerah saat si batita terlihat tak bisa menangkap apa yang kita sampaikan. Terlebih karena batita awal masih sulit mengerti. Penjelasan mengenai kerusakan gigi semisal gigi bolong, ada kuman atau jadi bengkak, bagi anak adalah sesuatu yang abstrak dan sukar untuk dipahaminya. Gunakan penjelasan yang lebih sederhana.
Jika hal-hal kecil seperti ini dilakukan dengan konsisten, anak akan meniru apa yang dicontohkan. Apalagi jika contoh itu dilihat anak sebagai sesuatu yang menyenangkan, asyik, dan sama sekali tidak membosankan.
Apa bentuk pastinya? Tentu saja orang tua sendiri yang tahu apa yang dapat membuat anaknya tertarik. Menyikat gigi tidak perlu dilakukan secara formal di kamar mandi. Bisa saja dilakukan sambil menari-nari kecil, bercermin, dan bernyanyi gembira usai berkumur.
Menyikat Gigi Yang Benar
Menyikat gigi anak batita yang sedang aktif bergerak ke sana ke mari memang sulit. Cobalah tips-tips berikut ini:
1. Mengenalkan dan membiasakan anak menggunakan sikat gigi dapat dimulai saat gigi atas dan bawah masing-masing berjumlah empat atau enam. Masa uji coba kira-kira 2-3 minggu.
2. Di depan sebuah cermin, pangkulah anak dengan posisi membelakangi kita. Dengan begitu anak akan melihat sendiri bagaimana kegiatan menyikat gigi ini.
3. Sekalipun anak baru punya 4 gigi di bagian depan atas dan bawah, teknik penyikatannya tetap sama seperti teknik saat menyikat gigi orang dewasa, yaitu:
- Lakukan secara perlahan dari bagian gusi ke arah permukaan gigi (vertikal).
- Untuk bagian permukaan kunyah, baik gigi atas maupun bawah, teknik menyikatnya adalah menarik sikat ke arah luar mulut (horisontal).
- Menyikat gigi tidak boleh dua arah atau bolak balik. Jadi, cukup searah saja. Kalau teknik ini dilakukan dengan benar, hasilnya bisa lebih maksimal sementara kesehatan gusi pun tetap terjaga.
4. Pilihlah sikat gigi khusus untuk anak. Atau, jika gigi anak kurang dari 4 gunakan kasa steril yang telah dibasahi air matang. Dengan melilitkannya di jari telunjuk, "sikat gigi" ini terbukti efektif karena bisa menjangkau tempat-tempat sisa makanan yang susah dibersihkan. Bila anak sudah bisa menerima sikat gigi, teruskan kebiasaan membersihkan giginya dengan sikat gigi.
5. Pembersihan serupa juga harus dilakukan pada langit-langit, dinding mulut, permukaan lidah dan gusi.
6. Untuk tahap pengenalan lebih baik tidak memakai pasta gigi. Gunakan air hangat matang saja.
7. Setelah berjalan beberapa minggu dan anak sudah tidak melakukan penolakan lagi, tak ada salahnya memperkenalkan sedikit demi sedikit pasta gigi khusus untuk anak. Ada beragam rasa yang dapat dipilihnya.
8. Oleh karena anak belum bisa berkumur, jangan lupa menyediakan lap basah atau tisu. Tentu saja hal ini tidak boleh dilakukan terus-menerus karena anak tetaplah harus diajarkan cara berkumur sekaligus membuang kumurannya itu.
Memilih Sikat Gigi
Beberapa saran dalam pemilihan sikat gigi yg tepat untuk si kecil:
1. Bentuknya harus kecil, baik kepala sikat maupun tangkainya sehingga mudah dipegang anak usia batita.
2. Ujung kepala sikat menyempit hingga mudah menjangkau seluruh bagian mulutnya yang relatif mungil.
3. Bulu sikatnya harus lembut tapi cukup kuat untuk melepas kotoran di gigi.
Jumlah Gigi Ideal
Di usia satu tahun, anak umumnya sudah memiliki paling tidak empat gigi, dua di bawah dan dua di atas. Ada juga yang delapan, meski jarang. Di usia dua tahun, rahang atas dan bawah masing-masing sudah ditempati oleh 4-6 gigi. Hingga usia 24 bulan, total jumlah gigi anak mencapai 20 buah. Pencapaian jumlah ini bisa ditolerir hingga usia 36 bulan. Sementara pada akhirnya, jumlah gigi tetap idealnya mencapai 32 buah, termasuk gigi bungsu atas dan bawah yang munculnya tidak bisa diprediksikan. Ada yang muncul di usia 17 tahun, tapi ada juga yang baru tumbuh setelah usia 20 tahun.
Jaga Kondisi Asam dalam Mulut
Satu sampai tiga menit sesudah makan atau minum susu, di dalam mulut terjadi penurunan pH (keasaman). Kondisi asam dalam mulut inilah sangat disenangi kuman. Tugas orang tualah yang membantu supaya keasaman mulut si kecil bisa cepat kembali ke kondisi netral dengan cara menyikat gigi. Memang air liur berfungsi mengembalikan keasaman ke netral. Akan tetapi kalau pengembalian secara alamiah ini sampai terlambat, lebih dari 30 menit, kuman sudah keburu datang menyerang.
Gigi Renggang Pertanda Bagus?
Kebiasaan baik untuk menggosok gigi di usia batita setiap kali selesai makan, tidak memberikan jaminan susunan giginya akan rapi. Bagus tidaknya susunan gigi anak tergantung pada awal pertumbuhan gigi susunya. Idealnya, gigi-gigi pertama yang tumbuh haruslah memiliki kerenggangan pada gigi-gigi antara gigi taring dengan gigi geraham. Dikatakan ideal karena kerenggangan ini justru menyediakan ruang bagi gigi anak yang akan semakin bertambah besar sejalan dengan pertambahan usianya. Ingat, gigi tetap yang akan tumbuh pasti ukurannya lebih besar dari gigi susu yang akan tanggal dengan sendirinya kemudian tergantikan oleh gigi tetap di usia 6-12 tahun. Sebaliknya, gigi susu yang rapat justru akan menyulitkan gigi tetap mendapat tempat yang cukup. Masing-masing gigi akan saling menggeser gigi di sebelahnya hingga susunan gigi jadi tak beraturan.
Selain itu, orang tua harus memperhatikan pola makan anak. Batasi pemberian makanan yang manis dan lengket, karena makanan jenis ini mudah tertinggal dan melekat pada gigi dan bila terlalu sering dan lama akan berakibat tidak baik. Makanan manis dan lengket tersebut akan bereaksi di mulut dan membentuk asam yang merusak email gigi. Hal inilah yang akan mengakibatkan timbulnya gangguan, misalnya gigi berlubang, gigi tanggal sebelum waktunya, gangguan pada ukuran, bentuk maupun jumlah gigi. Untuk mencegah hal itu, berikanlah makanan yang berserat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, yang membutuhkan proses pengunyahan berulang-ulang.*** (rara79)
Posted on March 5, 2006 2:40 AM | Permalink
