Artikel:

Surat dari Pengamen

(non-fiksi)

Jika ingin melihat Indonesia dalam skala kecil, naiklah kereta api. Maksud saya adalah kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi Jabodetabek, dengan tiket Rp 1.500,- sekali jalan. Terutama ketika pagi. Ketika orang berjubel dengan tujuan masing-masing. Nah, potret orang Indonesia dari berbagai kelas akan ada di sana. Mulai dari mereka yang necis dan berkantor di kawasan elit Sudirman, hingga pengemis dan penyapu lantai yang sibuk menggamit kita meminta recehan.

Pengamen adalah juga orang-orang yang rutin ada di KRL itu. Misalnya, KRL yang saya tumpangi setiap pagi, KRL Serpong-Tanah Abang, menurut saya adalah surga bagi pengamen. Mulai dari pengamen dengan grup musik akustik lengkap, pengamen buta yang bernyanyi ala karaoke, hingga pengamen cilik bermodalkan suara dan tepuk tangan belaka, tumpah ruah di situ.

Tapi malam tadi, ketika pulang kantor dengan KRL paling terakhir, saya punya pengalaman baru. KRL yang kosong itu, ketika berhenti di stasiun Kebayoran, kedatangan serombongan anak kecil pengamen. Dua di antaranya berdiri dan bernyanyi di depan saya. Satunya seorang gadis remaja, kira-kira 15 tahun. Satunya lagi, seorang bocah seumur putri saya yang masih kelas 1 SD.

Si gadis remaja menyandang kerincing, dengan kemahiran yang lumayan. Mereka menyanyikan lagu grup Slank, yang di bait reffnya berbunyi... Ku tak bisa, jauh, jauh, darimu... Sambil menyanyikan itu dengan iringan kerincing yang cukup merdu, si gadis bocah membagi-bagikan amplop lusuh. Satu diantaranya menclok di pangkuan saya. Dan, itulah yang mengejutkan saya. Sebab, tidak seperti biasanya amplop semacam itu yang dihiasai tulisan cakar ayam dari anak-anak yang putus sekolah, amplop itu kali ini ditempeli sebuah surat diketik rapih dengan komputer.

Bunyinya begini:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Dengan segala hormat,
Mohon maaf bila kedatangan saya sangat membosankan Anda, karena segalanya saya lakukan demi masa depan saya. Saya harus tetap sekolah tetapi orang tua saya tidak mampu. Saya harus berusaha agar cita-cita saya tidak kandas ditengah jalan, untuk itu saya mohon bantuan anda untuk biaya sekolah dan membantu ibu. Besar harapan saya atas keikhlasan dan ketulusan hati anda semua.

Wassalam,
Pengamen

Cukup lama saya memelototi surat itu. Dan ketika si gadis bocah menghampiri saya untuk memetik Rp 1.000,- dari tangan saya, saya membisikkan kepadanya apakah saya boleh menyimpan amplop itu. Ia tersenyum dan mengangguk. Saya sempat mengeluarkan handphone saya dengan maksud memotretnya, tapi ia sudah cepat berlalu dengan si gadis remaja. Mereka pergi ke gerbong lain. Sayup-sayup, saya masih mendengar mereka menyanyikan lagu lama yang dinyanyikan kembali oleh Peter Pan, Kupu-kupu Malam.

Amplop lusuh ditempel surat dengan ketikan komputer itu cukup menguras perhatian saya. Di rumah, saya mencoba mengecek tipe hurufnya, dan ketika saya cocokkan dengan tipe huruf di PC saya, itu adalah tipe huruf Book Antiqua italic, berukuran 12.

Saya mencoba berpikir, siapakah yang mengetikkan surat itu? Pasti bukan kedua bocah itu. Surat itu tampaknya adalah fotokopian. Lalu, darimana kedua anak itu mendapatkannya? Mungkinkah seseorang telah memperbanyaknya, dan membagi-bagikan kepada banyak pengamen cilik, sehingga ia menjadi semacam proposal massal?

Jika begitu, siapakah master dari proyek berskala besar itu? Dan adakah ia akan mendapat bagian dari hasilnya? Kata saya dalam hati, pastilah isi surat ini tidak benar samasekali. Anak-anak ini, dalam pikiran saya, pasti bukan anak sekolah lagi. Mereka tak mengamen untuk melanjutkan sekolahnya. Sangat mungkin mereka mengamen demi menyambung hidupnya sendiri. Menyambung hidup adik dan mungkin pula untuk membantu ayah-ibunya. Apakah pekerjaan kedua orang tuanya? Saya menduga-duga. Mungkin pengamen juga. Atau pengasong rokok, air mineral atau...

***

Menyambung hidup dengan mengharap belas kasihan orang memang aneka ragamnya. Yang paling saya ingat dari masa kecil adalah bila sore-sore, ketika kami sedang bermain-main di halaman rumah, dari kejauhan kami melihat ada sepasang suami-istri yang mengetok-ngetok pintu rumah. Rumah-rumah di kampung kami, Sarimatondang, berbaris tanpa pagar dan tiap orang yang hendak bertamu biasanya langsung menuju pintu.

Satu dari antara pasangan suami-istri itu biasanya cacat. Buta, misalnya. Dan mereka dari satu pintu ke pintu meminta belas kasihan. Kami anak-anak, bila melihat kedatangan mereka, biasanya langsung berlari ke dalam rumah. Saya dan adik-adik biasanya berebut lari ke dapur. Menuju tempat beras. Pemberian kami biasanya sudah standar, yakni satu takar (seukuran kaleng susu kental manis, 1/5 liter) beras. Walau suami-istri itu biasanya masih jauh dari rumah, kami sudah bersiap-siap di pintu. Dan ketika mereka tiba di pintu rumah, salah seorang dari kami akan menuangkan beras itu ke dalam karung tanggung kepunyaan mereka. Sambil menerima beras itu, (biasanya si pria yang buta) akan mengucapkan kata terimakasih, lalu sepenggal harapan yang mengatakan semoga pengisi rumah kami semakin dipermudah dan diperbanyak rezekinya.

Dulu kami juga sudah mulai bertanya-tanya darimanakah datangnya para pengemis itu. Mengapa mereka datang ke kampung kami yang diisi oleh orang-orang yang ekonominya pun sebenarnya pas-pasan. Ada berbagai spekulasi. Ada yang mengatakan mereka datang dari panti-panti yang diurus oleh yayasan sosial. Ada pula yang berpendapat mereka justru orang yang tidak betah di panti itu dan mencoba mencari jalan hidup sendiri dengan mengemis.

Kadang kala, para pengemis itu tidak datang dengan tangan hampa. Mereka membawakan kerajinan mereka, seperti sapu ijuk dan keset kaki yang dianyam dari sabuk kelapa. Mereka, dengan gaya pengemis dan bukan gaya pedagang, meminta kami membeli hasil kerajinan mereka. Luluh juga lah biasanya hati orang tua kami.

***

Anak kecil, seperti anak saya, kerap kali tak mengerti apa arti hidup mengemis dan hidup tergantung pada belas kasihan orang. Sering kali ia melihat anak-anak jalanan datang menghampiri kami ketika kami di jalan, dengan menggoyang-goyangkan kecrek-kecreknya yang terbuat dari sepotong kayu bertempelkan tutup botol logam dan kemudian menengadahkan tangannya meminta recehan. Kadang kala kami melayaninya, tapi sering juga tidak. Anak saya kerap menempatkannya sebagai sebuah hiburan.

Di rumah, suatu kali, anak saya mengganggu ketekunan istri dan saya menonton televisi. Ia mendekati kami dengan membunyikan tamborin mininya, seraya menengadahkan tangannya kepada kami. "Minta uang Pak, minta uang Pak," kata dia, sambil menirukan mimik pengemis cilik yang pernah dilihatnya entah dimana.

Duh, dalam hati saya berpikir. Saya mungkin harus lebih banyak lagi mengajarkan kepada anak kami. Bahwa mengemis itu bukan pekerjaan. Ia bahkan bukan sebuah pilihan. Mengemis adalah jalan terakhir bagi orang-orang itu untuk menyambung hidup. Dalam hati saya berjanji mengajar anak saya untuk bersyukur bahwa ia bukan salah satu dari mereka. Tapi pada saat yang sama, saya juga harus mengajari dia untuk berpikir agar negerinya yang kaya-raya ini, menyediakan semakin banyak pilihan bagi orang-orang agar tak terjerat menjadi pengemis.

Caranya?

Hmmm. Saya sering frustrasi kalau memikirkan caranya. Tapi mungkin dengan mulai membiasakan diri membayar tiket kalau naik KRL. Tidak dengan menitipkan Rp 1.000-an ke tangan kondekturnya sambil menepuk punggungnya berhaha-hihi. Seolah-olah KRL itu milik kondektur dan si penitip uang adalah majikannya.

Di komunitas maya kami orang Simalungun, ada sementara kami yang sibuk memikirkan bagaimana cara mengumpulkan dana sebagai beasiswa bagi anak-anak Simalungun yang kurang mampu namun cerdas. Saya senang dan antusias dengan ide itu.

Masih banyak memang yang harus dikerjakan. Tapi bila ingat banyak kawan-kawan yang mau memikirkan ini, saya jadi optimistis. Kita mungkin bisa membuat proposal yang jauh lebih menyentuh hati dari amplop lusuh si pengamen di atas kereta. Dan saya juga yakin masih banyak orang-orang jujur diantara kita yang bisa mengelola beasiswa itu sehingga ia bisa sampai pada orang yang ditujunya.

Jakarta, 13 Januari 2006
© Eben Ezer Siadari

Posted on March 5, 2006 2:38 AM |
 Lainnya: