Berbagi Suami
Dari judulnya saja sudah memberi tanda tanya besar. Berbagi suami? Siapa yang mau berbagi suami? Sangat menarik dan mempunyai 2 makna yang tersirat dalam judul film Indonesia trimester pertama tahun 2006 ini.
Pertama, terkesan seperti sebuah sindiran yang menusuk untuk para perempuan yang pro poligami. Berbagi suami seperti menyamakan barang yang bisa dipakai secara bergilir, atau malah mungkin seperti menyamakan dengan piala bergilir. Tentu saja dalam hal ini, si suami yang jadi pialanya.
Kedua, ada makna seperti himbauan kemanusiaan yang sangat bijaksana untuk kaum perempuan. Dan makna yang satu ini pasti sangat digarisbawahi oleh lelaki. Kalau perlu menaruh unsur-unsur agama untuk berdalih, dan lahirlah semilyar pendapat demi pembenaran. Tapi herannya, mengapa cuma perempuan yang disuruh untuk "berbagi"? Kok tidak ada himbauan kepada para suami untuk "berbagi istri"?
Film karya anak bangsa yang disutradarai Nia Dinata ini, menggaet artis-artis kawakan pentolan FFI pada masanya, misalnya Jajang C. Noer, El Manik, Tio Pakusadewo, Nungki Kusumastuti, Ria Irawan, Ira Maya Sopha. Serta mengajak artis-artis baru seperti Shanty, Dominique Agisca Diyose, Lukman Sardi, Winky Wirawan, Rieke Dyah Pitaloka, Reuben Elishama dan Atiqah. Film ini diproduksi Kalyana Shira Film yang berkolaborasi dengan rumah produksi asal Perancis, WallWorks.
Bercerita tentang tiga perempuan, yaitu Salma (Jajang C. Noer), Sity (Shanty), dan Ming (Dominique) yang berasal dari kelas sosial, ekonomi, dan suku yang berbeda, namun sama-sama mempunyai suami yang melakukan poligami.
Salma, seorang dokter ahli kandungan. Di tengah kehidupannya yang berkecukupan, ia harus berjuang dan dan belajar untuk bisa tulus membuka pintu hati dan pintu rumah untuk istri-istri muda suaminya, demi mempertahankan keutuhan rumah tangga karena Pak Haji (El Manik), suaminya, memiliki kecenderungan untuk poligami.
Siti, seorang gadis Jawa yang polos. Bertemu dengan Pak Lik (Lukman Sardi) karena iming-iming akan diberi biaya kursus untuk cita-citanya. Siti kemudian terpaksa melupakan cita-citanya karena Pak Lik dan kedua istrinya, Sri (Ria Irawan) dan Dwi (Rieke Dyah Pitaloka) memaksanya untuk menjadi istri ketiga bagi Pak Lik yang ternyata seorang supir di sebuah rumah produksi dengan hidup serba pas-pasan. Dan Siti mengenal cinta yang lain, yang berbeda dari biasanya.
Ming, seorang perempuan keturunan Tionghoa, mencari kenyamanan pada Koh Abun (Tio Pakusadewo), yang pantas menjadi bapaknya. Koh Abun ini sudah punya istri, Cik Linda (Ira Maya Sopha). Tetapi masih juga meminang Ming untuk menjadi istri keduanya, dengan alasan, Koh Abun tidak bisa meninggalkan Cik Linda, dengan alasan bahwa istri pertamanya itu merupakan hoki untuk bisnisnya.
Walau ketiga tokoh ini memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi masing-masing punya tujuan hidup yang sama, yaitu mencari kebahagiaan hidup di kota besar seperti Jakarta. Dan proses pencarian ini harus dilewati dengan menjalani kehidupan poligami yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Kemudian cara yang ditempuh oleh ketiga tokoh ini untuk tetap teguh meraih kebahagiaan yang dicarinya sangat berbeda satu sama lain. Namun justru pada perbedaan cara untuk menuju puncak inilah, memperlihatkan bahwa sesungguhnya seorang perempuan dapat melihat lebih jauh ke dalam diri masing-masing dan menyadari bahwa mereka dapat memilih di antara sekian banyak pilihan yang ada. Dan pesan inilah yang ingin disampaikan oleh Nia Dinata melalui Berbagi Suami.
Yang menarik dari film ini, Nia Dinata membuatnya lain daripada yang lain. Ketiga tokoh (Salma, Siti dan Ming) dan cerita yang ada di antara mereka sangat berbeda, tetapi mereka mempunyai hubungan satu sama lain yang tidak disangka. Akhir dan pertengahan cerita, merupakan bagian dari cerita lainnya yang saling berhubungan. Untuk itu, penonton harus jeli melihat adegan-adegan yang berlangsung. Baik pada pemeran utamanya, maupun suasana di sekitarnya. Ruang kehidupan mereka begitu berbeda, tetapi terkadang bertemu di sela hiruk pikuknya Jakarta tanpa menyadari bahwa masalah mereka hampir sama.
Salut buat Nia Dinata! Ketika semua orang menawarkan film bertema horor atau percintaan, Nia Dinata malah ngobrolin fenomena yang aktual di masyarakat, dan cukup kontroversial. Tetapi tetap dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, baik remaja maupun dewasa. Dan, film ini ditekankan lebih mengarah tentang problem keluarga, yaitu poligami dengan segala permasalahan dan efeknya, yang dapat saja terjadi di berbagai lapisan masyarakat. *** rara
Posted on April 5, 2006 6:56 PM | Permalink
