Blog dan Perempuan
oleh: Ang Tek Khun
Pernahkah Anda membayangkan dunia blogger tanpa perempuan? Tidaaakkkk.... Amit-amit deh. Kayak laut tanpa ikan, langit tanpa bintang, internet tanpa virus, HP tanpa sms, 30 hari tanpa email. Perempuan dan Blog adalah pertemuan dua kutub yang asoi banget. Ibarat mawar ketemu tangkainya, bagaikan Dora dan petanya, seperti Sponsbob dan air.
“Blog adalah anugerah luar biasa buat perempuan.” Barangkali kalimat ini tidaklah berlebihan.
Karena menurut dugaan yang kuat, tradisi menulis diari (tradisional) didominasi oleh para gadis. Setidaknya ada dua hal yang diakomodasi oleh Blog. Pertama, sarana menulis diari dengan kemudahan yang amat sangat—instan dan keren gitu loh. Kedua, bersosialisasi yang tanpa batas—ngerumpi tanpa perlu bikin arisan dan ga harus se-RT.
Memproduksi Kata
Kedua hal ini, bolehlah kita sebut sebagai kebutuhan psikologis perempuan. Hal pertama terkait dengan kemampuan berbahasa dan kebutuhan untuk curhat. Konon penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa perempuan ada di atas laki-laki. Kaum Hawa jauh lebih banyak memproduksi kata-kata dibandingkan kaum Adam. Ini masih didukung oleh kondisi hati kaum hawa yang bukan tergolong jenis “danau”, melainkan “sungai”—yang tak henti-hentinya mengalir.
Deskripsi lain yang lebih gamblang adalah, perempuan jauh lebih ceriwis. Bisa “on” 24 jam tanpa henti. Dan tak akan kekurangan bahan—percaya deh ngomong soal bawang, tomat, dan jengkol pun bisa asyik. Kodratnya sebagai makhluk yang penuh perhatian membuat semua hal, sedetil apa pun, bisa menjadi bahan cerita ngalor-ngidul bila di taruh di bibir wanita. Hati wanita bagai kafe yang open 24 jam, tak henti-hentinya mengolah rasa untuk kemudian disajikan lagi. Bener ga sih?
Sarana Sosialisasi
Aspek kedua, perempuan adalah makhluk yang punya kebutuhan curhat tinggi. “Pabrik kata-kata” yang dimilikinya bukanlah untuk dikonsumsi sendiri, melainkan dibagikan. Bagaikan Maknya si Oneng bikin kue khusus buat dibawain ke Mpok Hindun (ga mungkin kan?), padahal tujuan si Ibu nonggo cuman mau ngasih tahu bahwa hasil ulangan anaknya bagus atau mau pengumuman bahwa dia baru beli kalung baru.
Pada level materi tertentu, memang curhatnya terbatas pada sebagian kecil orang lain. Namun pada level materi yang dianggap aman, perempuan ingin meneriakkan ke tetangganya—dan definisi tetangga di kamus sudah terkoreksi dalam konteks dunia maya. Dengan Blog, perempuan bisa berteriak ke seluruh dunia. “Oiiiiii... gw baru beli tas merek nih!”
Data Lain
Ada juga dukungan data yang menarik. Majalah Femina (edisi 2 Maret 2006) mengutip hasil penelitian Nita Yuanita (2004) bahwa persentase antara blogger laki-laki dan perempuan berimbang. Tapi perhatikan ucapan Nita: “Menurut pengamatan saya, ibu-ibu blogger yang berdomisili di Indonesia kebanyakan wanita bekerja, sedangkan yang berdomisili di luar negeri kebanyakan ibu-ibu rumah tangga.” Nah lo!!! Data ini berbicara, kalau saja akses internet di Indonesia sama mudah dan murahnya seperti di luar negeri, maka akan tiba gelombang tsunami blogger wanita, yaitu ibu-ibu rumah tangga yang selama ini tidak punya kemewahan berinternet.
Fakta kedua, berdasarkan pengamatan saya, Blog yang menarik dan punya banyak pengunjung adalah Blog-blog yang isinya hasil olah hati dan ekspresi dejaimisasi (anti-jaim gitu loh). Nah, dua urusan ini memang miliknya perempuan kan? [Laik-laki lebih suka mengungkapkan hasil olah pikiran dan ekspresi yang membentuk citra diri. Jadi, Blog cowok biasanya garing banget deh].
Akhir kata, berbahagialah wahai kaum hawa dengan tersedianya teknologi Blog. Jikalau ada “musim gugur”, di mana para blogger berontokan, patut diduga kuat perempuan adalah penyanggah utama kejayaan dunia Blog.
Horeee!
