Cerai
*** Perceraian itu pahit. Ketika perpisahan menjadi sebuah keniscayaan dalam suatu ikatan perkawinan maka tak ayal akan menyisakan kepedihan yang menyesak dada, setidaknya pada salah satu pihak. Freshy dalam cerpen ini mencoba menggambarkan kegetiran yang terjadi akibat perceraian sekaligus memotret sekeping cinta yang terabaikan.-- red***
”Sudah?” tanya Nat.
Lastri pengacara itu hanya menjawab dengan anggukan singkat. Wanita usia 50-an tahun yang hampir separuh hidupnya menangani kasus perceraian. Dan ia sudah biasa melihat wanita seperti Nat harus menyandang status janda pada usia muda. Walaupun begitu, tetap saja ia merasa sedih melihatnya.
"Anak muda jaman sekarang," pikir Lastri. "Selalu menganggap enteng semua persoalan. Apakah ini karena jumlah populasi pria lebih banyak dari jumlah populasi wanita?" Lastri tersenyum diam. Mungkin saja.
“Begitu saja? Aku tidak perlu menandatangani apapun?” tanya Nat kembali.
Lastri menghentikan kesibukannya merapikan berkas-berkas yang hampir menutupi meja kecil itu.
“Iya Nat,” kata Lastri seperti kepada anak sendiri. ”Perceraianmu sudah selesai. Tidak ada yang perlu ditanda tangani. Kamu sudah melakukannya kemarin. Sekarang pulanglah,” pinta Lastri seraya menggosok punggung Nat lembut.
Semuanya sudah usai. Rumah ini akan dijual secepatnya. Ibu Lastri bilang pembagian harta gono gini belum selesai. Tapi Nat tidak ingin apa-apa lagi. Pria itu membunuh semua keinginan yang pernah ia miliki. Ia mati rasa. Ia tidak ingin harta apapun. Ia hanya ingin sendiri. Dan mati!
”Semuanya sudah berakhir, sayang. Kamu harus mulai hidup baru. Kembali kerja, cari suami baru lagi,” kata Lastri berusaha menghibur.
Berakhir? Ia belum ingin semuanya berakhir. Nat menjerit dalam hati. Ia ingin pulang ke rumah dan berharap semua hanya mimpi. Ia tidak ingin suami baru. Ia hanya ingin...Mario.
*****
Nat melangkah gontai memasuki rumah yang lengang. Ia berjalan lurus ke arah kamar dan berdiam diri di sana. Meringkuk di balik selimut. Menangisi nasibnya. Meraung bak bayi kelaparan. Membiarkan diri dehidrasi karena menangis dan berkeringat. Tubuhnya gemetar hebat. Ia bahkan tidak berani keluar kamar karena semuanya mengingatkan dirinya pada Mario. Rasa pedih di hati terasa sakit luar biasa.
Semuanya telah usai. Ia harus menerima semua. Pernikahan yang dirintis selama 6 tahun, kandas seperti tertelan bumi. Hilang tanpa bekas. Bukti berakhirnya keindahan selama ini ditandai sebuah ketukan hakim yang menyatakan bahwa ia dan Mario bukan lagi suami istri. Siapa dia berani melakukan itu? Nat meraung lagi.
Awalnya Nat mengira, setelah semua usai, setidaknya beban akan berkurang. Ternyata salah. Beban itu malah lebih berat dari sebelumnya. Dadanya sesak. Bayangan saat Mario mengucapkan kalimat itu masih terus terngiang-ngiang di kupingnya. Terus begitu dari pagi hingga malam. Malam hingga pagi lagi. Berhari-hari seperti cuci otak yang tiada henti.
”Aku mencintai wanita lain,” kata Mario suatu pagi sebelum kami berangkat ke kantor.
”Apa?”
Mario menarik napas. Wajahnya gelisah dan berkeringat. ”Hmmm... aku jatuh cinta lagi,” kata Mario akhirnya tanpa berani menatap Nat.
Saat itu waktu terasa berhenti berdetak bagi Nat. Semua terasa membeku dan melayang ringan. Apakah ini mimpi? Apakah suaminya mabuk? ”Maksudmu?”
Mario tidak menjawab. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya gelisah. Napasnya terputus-putus. ”Aku ingin cerai,” jawabnya dengan cepat.
Dunia pun runtuh saat itu juga.
Angin berhenti bertiup.
Waktu berhenti berdetak.
Pandangannya berputar.
Ia tidak ingat apa-apa lagi setelah hari itu. Semua berjalan cepat. Dan semua berubah drastis. Mario bahkan tidak memberi kesempatan padanya untuk bernapas walau sesaat. Hari itu juga, Mario memutuskan untuk keluar dari rumah. Membawa sebagian barang-barang pribadinya. Dan hari itulah ia terakhir melihat Mario tanpa seorang pengacara yang selalu ikut mengatur pertemuan mereka.
Mario jatuh cinta pada wanita lain. Vivian, itulah namanya. Pramugari dan juga model terkenal yang dikenal Mario saat berpergian ke Australia. Hubungan Nat dengan Mario memang sedang tidak baik. Semua ini mungkin diakibatkan oleh kesibukan mereka berdua. Nat yang bekerja sebagai editor majalah dan Mario sebagai Manajer IT di Bank swasta. Ditambah dengan belum hadirnya seorang anak setelah 6 tahun menikah. Tapi, bagi Nat, itu bukan alasan untuk tidak saling mencintai. Atau memang... cinta itu tidak pernah ada?
Berita pernikahan Mario dan Vivian banyak disorot media. Tidak aneh, karena Vivian adalan mantan model terkenal yang memilih karir menjadi pramugari. Tiap kali ia melihat Mario menggandeng Vivian di TV, tiap kali juga ia merasa kehabisan oksigen untuk bernapas. Akhirnya, ia tidak pernah menonton TV lagi.
Hari ini..seminggu setelah ketukan terkutuk dari hakim di pengadilan. Mario akan datang ke rumah untuk mengambil barang-barang pribadi yang masih tertinggal. Ia tidak ingin Mario melihat keadaan dirinya yang hancur seperti ini. Ia ingin dilihat seperti wanita tegar. Tapi ia enggan beranjak dari tempat tidur, ia kembali lagi meringkuk. Rasa malas dan sakit membekukan dirinya. Ia tidak ingin melakukan apa-apa. Atau ia tidak tahu harus melakukan apa. Rasa rindu, sedih, sakit terasa terus menerus menyelesak ke ulu hatinya. Ia sering merasa ingin muntah karenanya. Rasa mual yang aneh ini kerap kali menyerang sejak...ya sejak Mario mengatakan bahwa ia mencintai wanita lain.
Setengah jam lagi Mario datang. Ia menarik kakinya dengan paksa ke depan cermin. Dan melihat pantulan dirinya yang sangat menyedihkan. Rambut yang tidak tersisir rapi. Baju belel sama yang dikenakannya sejak 2 hari yang lalu. Sorot matanya yang layu seperti bunga mati. Tubuhnya suram seperti rumah tua dengan lampu redup yang menerangi. Begitulah tubuhnya. Hanya cahaya suram yang terpancar dari setiap inci kulitnya.
Ternyata Mario datang lebih cepat dari dugaannya. Ia bahkan belum bersiap diri. Dalam hati, ia terus berdoa agar Mario tidak datang bersama Vivian. Tetapi ia salah. Doanya tidak terkabul. Mario berdiri di depan pintu bersama Vivian yang sempurna. Dan ia masih mengenakan pakaian belel itu. Bodohnya!
Vivian berdiri tegak penuh kemenangan dan percaya diri dengan pakaian Prada model terbaru. Senyumnya terlihat terpaksa, hanya berusaha bersikap ramah. Untungnya Mario melihat keadaan yang canggung diantara mereka bertiga. Mario meminta Vivian untuk menunggu di mobil. Dan ia mengutuk Mario karena mengajak wanita itu datang ke rumahnya.
Untuk sesaat, hatinya berharap bahwa pria ini masih mencintainya. Ia ingin dipeluk olehnya, batinnya dalam hati. Ia ingin dicinta. Ia ingin dimiliki kembali. Tapi Mario seperti berjarak. Untuk pertama kalinya mereka saling pandang tanpa ada pengacara di kiri kanan mereka.
Ia sadar bahwa tidak ada lagi cinta dalam pandangan Mario. Tidak ada tatapan memuja pada dirinya. Semuanya sudah terkuras habis untuk Vivian. Tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan jika ia harus menangis memohon, cinta itu sudah tidak ada lagi. Cinta itu sudah bukan miliknya lagi. Cinta itu sudah mati.
”Semua barangmu sudah kurapihkan dalam tas itu,” katanya sambil menunjuk koper besar di dekat pintu. Nat tetap berdiri di pinggir pintu dan tidak mempersilahkan mereka masuk sama sekali. Bukan lupa tapi memang tidak ingin mereka masuk dan duduk lebih lama lagi di dalam.
Mario hanya mengangguk tanpa melepas tatapan, ”Terima kasih Nat, supirku akan mengambilnya.”
Nat tersenyum kecut. Mereka berdua berdiri seperti dua orang yang baru saling berkenalan. Canggung dan kaku.
”Ia cantik,” pujinya spontan
”Iya,” Mario tersipu seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang jatuh cinta pada teman sekelasnya. Apakah wajah Mario pernah seperti itu saat menikah dengannya?
”Aku harap kamu bahagia.”
Mario menatap Nat iba.
”Jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja.”
”Aku tahu.” Tangan Mario berusaha menggapai kepalanya tapi dengan halus Nat menghindar.
”Mmm...aku harus pergi. Jadi sebaiknya...”
”Oh iya tentu, aku tahu kamu sibuk,” ujar Mario lalu memanggil supirnya untuk mengangkat koper besar itu.
Seorang pria muda dengan tubuh tegap datang tergopoh-gopoh dan dengan cekatan ia mengangkat koper itu kemudian berlalu cepat.
”Aku...akan menikah minggu depan,” kata Mario.
”Ya, aku lihat di TV. Liputannya besar juga ya?”
”Aku tidak mau tapi Vivian...”
”Aku mengerti.”
”Mungkin kamu mau datang?”
”Aku mungkin sedang ke luar kota saat itu tapi lihat nanti mungkin juga batal.”
Mario mengangguk lagi.
”Maafkan aku,” kata Mario sambil berbalik menjauh.
Ia menatap punggung Mario. Tubuh itu dulu miliknya.
Sama dengan janin yang dikandungnya saat ini. Miliknya.. milik mereka..
