Artikel:

EMANSIPASI: Kesetaraan atau Kesamaan?

Topik emansipasi sepertinya selalu menjadi topik yang ramai dibicarakan, khususnya mengenai pro dan kontra seputar kesetaraan derajat dan kesempatan di bidang pekerjaan. Bukan suatu hal yang aneh apabila dewasa ini sosok perempuan menjadi sosok yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

bz!Forumania Sosok-sosok perempuan "tangguh" hadir dan muncul sebagai tokoh sentral di berbagai bidang yang sebelumnya dikuasai laki-laki.

Meskipun tokoh-tokoh perempuan ini masih menjadi kalangan minoritas tetapi kehadirannya tidak hanya sekedar pelengkap atau hanya penggembira saja. Banyak contoh yang dapat disebutkan. Siapa yang tidak kenal Megawati Sukarnoputri? Kebangetan sekali kalau Anda tidak menyadari sosok ini, plus, Anda tinggal dimana selama ini? Sosok ini menarik perhatian setelah mencatatkan diri sebagai presiden perempuan pertama di tanah air di masa kepemimpinan Indonesia periode 2001-2004. Di negara tetangga Philipina pun saat ini tokoh perempuan yang bertampuk di kursi presiden: Gloria Macapagal Arroyo. Bahkan sebuah negara raksasa, Amerika Serikat pun memiliki Condoleezza Rice sebagai menteri luar negeri nya. Kurang hebat apa coba?

Meskipun demikian, ternyata tidak sedikit laki-laki yang tetap menginginkan perempuan duduk manis di rumah, masak di dapur dan mengurus anak beserta keluarga. Bagaimana tanggapan anggota Blogfam terhadap topik emansipasi ini? Kita coba simak topik yang pernah dibuka oleh Vi3 di forum Bebas Blogfam: "hayooo mumpung hari kartini... gimana neh opini tentang emansipasi?"

Jawaban singkat dan lebih berupa penjelasan dari arti emansipasi itu sendiri terlontar dari ijoli : "Menurut gw emansipasi = persamaan hak dan kesetaraan gender pokoke cewek bisa dapat apa yg cowok dapat, pendidikan, pekerjaan de el el."

Jawaban yang standar? Coba simak yang disampaikan debt collector : "Emansipasi wanita, menurut gw, adalah mengingatkan kita kembali bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria yang artinya sejajar. Tapi, inget lho, kita para wanita ini tidak sama dengan pria melainkan sejajar. Pria mempunyai kelebihan-kelebihan yang wanita ngak punya dan wanita mempunyai kehebatan-kehebatan yang tidak dimiliki pria. Gw percaya bahwa imam keluarga masih tetep pria tapi sebagai imam maka dia membutuhkan penolong, ya kami ini, wanita, adalah penolong. *penolong ya... jangan dijadiin babu!!* So, emansipasi wanita memberi wanita kesempatan bekerja, belajar, dan berkarya seperti halnya para pria *seimbang dengan kemampuannya* dan boleh mengerjakan apa saja yang halal dimata Tuhan; wanita jangan di kekang, dosa lho karena artinya itu menghina Tuhan yang sudah menciptakan wanita dari tulang rusukmu, yang sejajar kedudukannya dengan mu, para pria."

Suara yang muncul dari salah seorang lelaki Blogfam, Wasugi: "Wanita dan laki-laki diciptakan sama. sama mempunyai hak untuk apapun.. bekerja, berbuat, bergerak, beramal, dan apapun yg lo mau. Tapi yangg terpenting adalah meletakannya sesuai dengan proporsi wanita.. batasannya adalah nurani.. siapapun boleh mengangkat emansipasi sebagai landasan berfikir, tapi tidak menjadikannya lupa daratan. Wanita dan laki-laki sudah mempunyai porporsinya masing-masing.. jadi berbuatlah sesuai dengan proporsi itu."

"Inti emansipasi adalah KESETARAAN, BUKAN KESAMAAN." Itu yang disampaikan Bunda Naila. "Memang laki-laki dan perempuan itu berbeda, jadi jangan dituntut sama. Tapi berilah kedudukan dan kesempatan yang setara. Biarkan seorang perempuan memilih sendiri apa yang dirasanya terbaik, dan berikan kesempatan baginya untuk menjalankan pilihannya itu. Jangan batasi seorang perempuan karena dia terlahir sebagai perempuan. Sebagai manusia dewasa, aku rasa semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, pasti mempertimbangkan kemaslahatan diri, keluarga dan lingkungannya sebelum memilih. Jadi jangan ragu-ragu membiarkan seorang perempuan memilih sendiri. Karena dia pasti akan sama bijaknya dengan seorang laki-laki."

Dari komentar-komentar yang masuk, kesetaraan hak memang menjadi tuntutan dari setiap komentar. Tapi apakah hak itu akan selalu sebanding dengan kewajibannya? Pembicaraan ini semakin ramai setalah Wasugi kembali menyampaikan pendapatnya: "Menuntut hak itu harus ... tapi tuntutan hak selalu diikuti kewajibaan.. saat hak kita tuntut maka kewajiban harus dipenuhi dong.. saat menuntut kesamaan jender. tinggal kita pikirin.. pantes gak kita setara dengan laki-laki.. tidak ada yg menghalangi emansipasi, semua berhak mendapat perlakuaan yang sama... cuman kembali kita pertanyakan... perempuan indonesia sanggup gak untuk emansipasi? kalau sudah sanggup buktikan!"

LizaMolly bereaksi keras! : "Sebenernya kalau dipertanyakan perempuan sanggup gak emansipasi... kembali lagi ke pertanyaan, laki-laki bisa "legawa" gak sama-sama emansipasi dengan perempuan? Siap gak laki-laki membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh anak ketika si istri juga kerepotan membagi waktu antara suami, anak dan pekerjaan di luar? Kebanyakan laki-laki bilang "Itu kan kewajiban ibu rumah tangga."
LizaMolly juga mempermasalahkan kecenderungan masyarakat yang lebih mengutamakan laki-laki dalam pendidikan: "Lalu masalah pendidikan, ketika orang tua tidak mampu membiayai anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi mereka bisa mati-matian menyekolahkan anak-anak laki-lakinya sedang yang perempuan.. Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tingi kalau balik-baliknya jadi ibu rumah tangga?"

Tanggapan dari Wasugi lagi atas komentar di atas: "Laki-laki tidak pernah ada yang menghalangi emansipasi, siapapun dia.. serendah apapun pendidikannya. Emansipasi bukan berarti seorang istri harus menjadi wanita karir, atau si cowo harus jadi pemasak.. itu bukan emansipasi.. lihat dong laki-laki sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan.. saat wanita karir melupakan keluarga.. tanggung jawab seorang ibu dimana? memang suami kadang ada yg pendidikannya lebih rendah sehingga mendapat pekerjaan yg sedikit kurang layak.. tapi itu sudah kesepakatan cinta mereka bukan? jadi pandanglah emansipasi bukan berarti memutarbalikan pekerjaan, atau mengganti posisi dalam keluarga ... hak dan kewajiban."

Perdebatan seperti itu menyeret obrolan menjadi semakin seru (panas?) dengan kembali saling melemparkan argumen dan contoh-contoh yang ada di keseharian. Seperti Isasi: "Pada intinya, emansipasi itu tidak perlu ada jika semua orang memperlakukan orang lain dengan setara... masalahnya secara kolektif, seringnya perempuan tidak diperlakukan dengan setara...contoh gampangnya, alat kontrasepsi, berapa banyak sih alat kontrasepsi untuk pria? Mengapa target KB hampir selalu diarahkan kepada perempuan?"

Apakah topik pembicaraan di forum ini mulai ngelantur? "Perang Gender" ini memang tidak akan pernah berhenti apabila tidak ditengahi dengan bijak. Sebagai perwakilan sesepuh Blogfam, komentar Maknyak dan Jaf yang masing-masing mewakili gender-nya, mudah-mudahan dapat mewakili sebagai opini penutup.

Maknyak: "Sekedar meluruskan ya, arti dari emansipasi wanita yang tepat adalah memperjuangkan agar wanita bisa memilih dan menentukan nasib sendiri. Dan untuk tahap selanjutnya pembekalan agar wanita mampu untuk menentukan nasib dan membuat keputusan ini sering disebut dengan pemberdayaan wanita. Harus diakui sampai saat ini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di rural area, terutama di sektor informal seperti di rumah tangga, belum sadar bahwa mereka sebenernya memiliki hak memilih menentukan nasib sendiri yang merupakan hak asasi manusia. makanya, pembagian tugas dalam rumah tangga juga merupakan bagian dari masalah emansipasi juga karena wanita cenderung menerima apa yang sudah digariskan oleh norma-norma budaya, etika sehingga dia tak sanggup berkata TIDAK ketika merasa beban hidup yang diberikan terlalu berat. karena wanita ditekan oleh norma-nroma yang ada untuk selalu bisa kompromi. kalau dia menikmati perannya sbg ibu rumah tangga saja ya gak papa. namanya dia sudah memilih apa yang terbaik hidupnya. asal pilihan itu bukan karena keterpaksaan karena norma-norma yang saya sebutkan tadi. Nah belenggu budaya dan moral serta sosio kultural yang keliru dan cenderung menyudutkan wanita ini lah yang perlu didobrak dengan pemberdayaan wanita agar wanita memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri. sehingga wanita bisa beraktualisasi dengan peran gandanya; sebagai ibu juga sebagai individu."

Jaf: "Harus diakui bahwa salah persepsi ini telah membuat wanita seringkali tak bisa menentukan nasibnya sendiri, karena merasa itu sudah merupakan takdir atau kewajiban. Akibatnya tak bisa membuat keputusan sendiri.. Namun pada sisi ekstrim, ada juga yang kemudian menafsirkan konsep memilih dan menentukan nasib ini sebagai bentuk persaingan pada lelaki (bener gak tuh istilahnya?) Bahkan ada yang juga mengatakan bahwa wanita juga punya hak untuk memilih tidak hamil atau melahirkan anak. Gimane tuh kalo udah begituh? Saya bahkan tak percaya pada kata emansipasi yang menurut saya lahir dari pemahaman yang salah.. Saya sih selalu percaya wanita dan pria punya kehendak bebas untuk menentukan apa yang mereka mau lakukan. Tidak ada yang dominan. Semua komplementer.. Saling melengkapi.. Ini bukan soal takdir. Bagi saya ini soal KEMAUAN dan KEIKHLASAN kedua belah pihak untuk menyadari bahwa Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi. Bukan saling menyaingi apalagi saling menindas."

Lelaki dan perempuan ada untuk saling melengkapi dan bukan saling menyaingi. Gerakan emansipasi ini hanya untuk memberi kesadaran bahwa perempuan berhak menentukan nasibnya sendiri seperti halnya laki-laki, dan melepaskan kontrol dari peran laki-laki yang selama ini dianggap cukup dominan. Pada akhirnya diharapkan untuk disadari bahwa setiap individu memiliki hak asasi, tidak perduli itu laki-laki atau perempuan!. *** (iwok & hirta)

Posted on April 6, 2006 4:42 AM |
 Lainnya: