Artikel:

Kumpulan Cerpen Addicted to Weblog - Kisah Perempuan dalam Dua Dunia

Judulnya menggugah, membuat penasaran. Apalagi ditulis oleh pendiri komunitas Blogfam, Labibah "Maknyak" Zain. Saya jadi bersemangat melahap cerita demi cerita yang disajikan. Tema yang diusung juga bisa dikatakan unik untuk ukuran Indonesia. Dengan tema sentral tetap tentang perempuan, tapi kadang bersinggungan dengan weblog dan internet, juga dengan tradisi. Beberapa hal yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh pembaca, dijelajahi Labibah dengan sederhana dan tidak memaksa, sehingga terasa sebagai aliran yang halus, lembut, sekaligus mencekam.

bz!Bincang Kumpulan Cerpen Addicted to Weblog - Kisah Perempuan dalam Dua Dunia
Labibah Zain
Yayasan Obor Indonesia
xvi+192 halaman





Obsesi seorang perempuan pada blog dapat dilihat di Addicted to Weblog-Kisah Perempuan dalam Dunia Dunia, yang sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen ini. Mungkin para perempuan yang membaca kumcer ini dapat merasakan empati mendalam pada tokoh utama. Dalam "Perempuan dan Lelaki Maya", pembaca dapat melihat keputusasaan tokoh utama dalam rumah tangganya, juga penyesalannya terhadap masa lalu yang tak dapat ia ulang lagi.

Sementara, "Perempuan dalam Kegelapan" bertutur tentang perempuan yang merasa jenuh dengan rumah tangganya sehingga memilih jalan keluar yang ternyata tidak sesuai dengan yang ia harapkan. "Perempuan Itu Bernama Sinta" berkisah tentang seorang Sinta yang menunjukkan identitas berbeda di dunia maya. "Perempuan dalam Dua Etalase" menceritakan kisah cinta yang mungkin terdengar klise, tapi toh sering terjadi. "Labibah dalam Perempuan", 17 Tahun mendongengkan kisah cinta remaja yang manis sekaligus tragis. "Perempuan di Sudut Taman" berkisah tentang ego seorang perempuan, yang dapat merasuk menusuk, bisa juga merupakan simbolisme dari energi negatif yang kita miliki. Cerita yang paling berkesan bagi saya adalah "Perempuan Pengusung Tradisi". Dengan lancar Labibah bertutur mengenai perempuan keturunan Arab juga pola pikir serta tradisinya. Saya merasa ada potensi bagi cerita ini untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah novel tersendiri.

Hal yang saya rasa cukup mengganggu dari buku ini adalah cukup banyaknya salah cetak yang terjadi. Misalnya saja yang terjadi pada halaman 41:

"Ding", messengger Sinta berbunyi.

Secara keseluruhan memang tidak mengubah makna cerita, tapi cukup membuat saya kesal karena membuat saya tersendat-sendat menikmati alur cerita. Saya juga sempat meringis melihat covernya. Anatomi perempuan yang digambarkan di cover ini juga terasa aneh-walaupun mungkin saja ada unsur kesengajaan, untuk memberikan nuansa "maya". Terlepas dari semua itu, saya dapat melihat potensi Labibah dalam merenda berbagai cerita. Terus berkarya, Labibah Zain! ***(Primadonna "tenshi" Angela)

Posted on April 5, 2006 6:52 PM |
 Lainnya: