Riau dan Istana Siak Sri Indrapura
Riau pada umumnya menyimpan banyak khazanah dan potensi pariwisata yang menarik untuk dinikmati. Namun karena kurangnya keseriusan untuk menggarapnya maka semua itu menjadi potensi yang tak pernah atau jarang terpublikasi. Ibarat mutiara di dalam lumpur, menunggu dibersihkan agar sinarnya terpancar.
Ibukota propinsi Riau bernama Pekanbaru, kota dengan berbagai etnis bergabung dan hidup bersama dengan damai. Pekanbaru dapat dikunjungi melalui penerbangan ataupun perjalanan darat. Dengan Bandara Sultan Syarif Qasim II sebagai pelabuhan udaranya, Pekanbaru siap menerima kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia. Begitu juga dengan Terminal Mayang Terurainya, terminal yang konon merupakan Terminal termegah dan terbesar di Sumatra ini siap menyambut anda untuk datang ke Pekanbaru.
Tak jauh dari Pekanbaru, terdapat sebuah kota kecil yang bernama Siak Sri Indrapura. Kota yang dahulu merupakan pusat kerajaan Siak Sri Indapura ini masih menyisakan cerita dan sisa kejayaannya tempo dulu. Inilah salah satu bukti yang patut untuk anda kunjungi.
Istana Siak Sri Indrapura (Istana Asserayah Al Hasyimiah)
Sejak Sultan Syarif Hasyim dinobatkan menjadi raja pada tahun 1889, beliau mulai membangun istana kerajaan dan istana peraduan yang selesai pada tahun 1893. Istana dibangun untuk kepentingan jalannya pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Istana Asserayyah Al Hasyimiah, singkatnya disebut Istana Sultan Siak, dalam kepariwisataan disebut Istana Matahari Timur. Istana Sultan Siak berbentuk arsitektur gaya Eropa, Spanyol, dan Arab dengan perpaduan Melayu tradisional. Dinding istana dihiasi dengan keramik dari Eropa.
Bangunan istana terdiri dari dua lantai, pada lantai dasar terdapat 5 ruangan besar utama yang dipergunakan untuk :
1. Ruangan depan istana,
merupakan ruang tunggu para tamu, di dalmanya terdpat 2 bagian ruang, untuk para tamu terhormat disebut ruangan Kursi Gading, berkain gordin warna hijau lumut khusus untuk tamu kaum laki-laki; dan satu ruang terhormat berikutnya untuk kaum perempuan.
2. Ruangan di sisi kanan,
adalah Ruang Sidang kerajaan dan sekaligus digunakan sebagai ruang pesta.
3. Ruangan di sisi kiri,
adalah upacara adat kerajaan melayu dipergunakan untuk pelantikan, perwakilan, upacara menjunjung duli dan upacara hari-hari besar keagamaan.
4. Ruangan belakang,
adalah sebuah ruang keperluan persiapan perjamuan makan untuk santapan para tamu dan raja-raja serta pembesar kerajaan. Pada ruangan ini terdapat tangga besi spiral indah buatan Jerman untuk tangga naik ke lantai atas. Pada ruang belakang ini terdapat pelantar (koridor) sepanjang 500 meter berbentuk huruf T, dipergunakan untuk jamuan makan bagi rakyat umum.
Di lantai atas istana Sultan Siak ini terdapat 4 ruangan berbentuk kamar/bilik dan 2 ruangan berbentuk aula selasar yang dipergunakan untuk tempat istirahat para tamu, serta bagian depan terdapat pelantaran atau tempat peranginan yang menghadap ke taman bunga Panca Wisada dan Sungai Siak. Pada pintu gerbang istana terdapat patung burung elang menyambar dari perunggu, pada 4 buah pilar istana di ujung puncaknya terdapat patung burung elang menyambar. Burung elang merupakan tanda kebesaran dan keberanian serta kemegahan Kerajaan Siak.
Didalam istana tersimpan barang koleksi sisa peninggalan Sultan Syarif Hasim dan barang-barang persembahan semasa Sultan Syarif Kasim II antara lain :
1. Komet,
Sejenis gramafon raksasa terbuat dari tembaga dengan piring garis tengah 1 meter dari bahan kuningan (pelat kuningan) dapat mengeluarkan bunyi-bunyian musik klasik karya Beethoven dan Mozart, buatan Jerman
2. Singgasana,
Berupa kursi keemasan yang penuh dengan ukiran yang indah dari bahan kuningan berbalut dengan emas (yang pernah hilang dan dikonservasi kembali oleh Museum Nasional Jakarta).
3. Payung kerajaan,
Berlambang naga berjuang dan kalimat Allah serta tulisan Muhammad bertangkup dari kain sutera kuning keemasan.
4. Senjata Kerajaan Melayu ,
Tombak, keris, meriam, serta alat nobat, cermin mustika, kursi-kursi, lampu-lampu kristal beratnya 1 ton, barang-barang keramik dari Cina dan Eropa, diorama, patung perunggu Ratu Belanda Helmina dan patung pualam Sultan bermata berlian, benda-benda upacara lain, serta piring-piring, cangkir, gelas, sendok bermerk lambang kerajaan.
5. Bendera Kerajaan Siak,
Berwarna kuning keemasan, di tengah terdapat lambang kerajaan bermoptif kapala naga berjuang dan di atasnya terdapat kalimat Allah serta kaligrafi Muhammad bertangkup.
6. Replika Mahkota Kerajaan Siak,
Dibuat semasa pemerintahan Sultan Siak X, Assyaidis Syarif Kasim Syaifuddin (Syarif Kasim I). Replika mahkota ini berbalut emas dan bertaburkan permata, sedangkan yang asli terdapat di Museum Nasional Jakarta.
7. Tempat Pembakar (Setanggi),
Merupakan wewangian yang berasal dari ramuan tumbuh-tumbuhan, dengan membakar setanggi akan keluar aroma yang wangi dan ketika itu berfungsi sebagai pengharum ruangan istana.
8. Canang,
Berbentuk guci terletak di ujung ruangan jamuan istana, bila dipukul canang ini mengeluarkan bunyi gaung, digunakan oleh Sultan untuk memanggil pelayan istana.
*** (Jefri)
Posted on April 5, 2006 4:00 PM | Permalink
