Sofia Kartika: Curhat adalah Satu Bentuk Manajemen Diri
Sofia Kartika. Nama ini sempat muncul di kalangan sejumlah blogger khususnya komunitas Blogfam ketika tulisannya tentang fenomena blogging dan perempuan muncul di harian Kompas ("Blog", Bukan Sekadar Pergaulan).
Tulisan tersebut adalah tanggapan dari tulisan dengan tema sama yang ditulis oleh Labibah 'Maknyak' Zain, yang mengulas lebih lanjut tentang fenomena blogging dan bagaimana ia bisa digunakan oleh mereka yang tertarik dengan isu-isu perempuan untuk menyalurkan pendapat.
Di situ ia juga mengulas soal beragam manfaat yang didapat dari blogging di girlthink.blogthing.com.
Sehubungan dengan edisi bz! bulan April yang mengambil tema perempuan, kami menghubungi Sofia untuk diajak berbincang lebih banyak tentang blog dan perempuan, serta pengalamannya sendiri dalam blogging. Dia yang sehari-hari bekerja di LSM yang dekat dengan lingkup isu perempuan dan kesetaraan gender ini pun bercerita tentang berbagai macam hal..
Sudah beberapa lama Anda blogging? Darimana pertama kenal blogging dan apa yang mendorong Anda untuk blogging.
Kegiatan nge-blog saya dimulai belum lama, sejak tahun 2004. Tapi saya mengenal kata blog dan semacamnya itu sekitar tahun 2002, meski saya tidak berkegiatan langsung. Hanya melihat-lihat proses teman-teman saja yang aktif nge-blog, saat itu kebetulan juga sedang membangun sebuah website komunitas anak muda dengan isu lingkungan perkotaan, jadi saya banyak belajar dari situ. Ketika tahun 2004 saya kemudian aktif nge-blog itu didasarkan pada karena saya ingin punya media untuk menampung suara, pengalaman dan pikiran saya tentang apapun yang terjadi di lingkungan sekitar saya. Dan sebenarnya karena belum berpengetahuan cukup untuk membuat desain, atau konsep tentang web tapi di sisi lain pikiran dan pengalaman mengenai isu perempuan dan hak-hak perempuan di Indonesia terus saja berjalan, jadi yang gratis dulu lah….gak ada salahnya gratis kan? Sebagai sebuah awal untuk eksistensi pikiran dan pengalaman saya dan mungkin juga teman-teman yang lain.
Perkenalan saya dengan blog ini juga terinspirasi dari buku mengenai perempuan muda, judulnya Blue Jean, What Young Women are Thinking Saying and Doing. Dimana dalam buku tersebut ada riwayat mengenai sebuah bulletin dimana anak muda terutama perempuan muda bisa ber-ekpresi tentang keseharian mereka, mulai dari soal tubuh, pelecehan seksual, rasa percaya diri, pandangan tentang feminisme dan lain sebagainya, tapi karena satu dan lain hal kemudian dibuat versi online-nya dan itu berhasil, sustain. Saya rasa di sini ada semacam pergeseran paradigma juga, bahwa kemudian majalah versi online ini semakin menarik perhatian dan menyebarkan isu-isu penting dalam kehidupan perempuan muda (konteks Amerika). Jadi, dengan adanya blog, kenapa tidak dicoba? (di Indonesia), sehingga isu perempuan, hak perempuan, apa itu feminis, kesetaraan kemudian menjadi konsumsi milik bersama (publik), tidak eksklusif.
Sofia saat ini memiliki dua blog. Satu yang lebih mengarah kepada beragam hal khususnya yang membahas tentang isu perempuan (girlthink) dan satu lagi blog yang lebih bersifat personal (sofieworld). Seorang aktivis juga punya kehidupan pribadi, bukan? Nah, seluruh hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya ini dituangkan di blog yang kedua yang mirip dengan kebanyakan blog yang kita lihat, yang sarat dengan cerita-cerita pribadi mulai dari jatuh cinta, marahan dan lain sebagainya. Namun menarik untuk dicatat bahwa bagi Sofia, blog yang semacam ini (yang 'narsis-narsis itu' dalam istilahnya) adalah sebuah awal bagi setiap individu untuk membuka ruang berpikir dan berwacana. Dalam kasus Sofia, mungkin wujudnya bisa dilihat di 'blog seriusnya', girlthink.blogspot.com.
Sekilas baca, girlthink adalah blog yang sarat dengan berbagai pemikirannya yang terkesan berat. Tapi blog yang terkesan sangat serius ini justru dibuatnya untuk target pembaca yang ingin lebih memahami isu perempuan dengan lebih mudah. Ia pun menjelaskan lebih lanjut..
Girlthink, ini adalah sebuah mimpi bahwa isu perempuan bisa dimaknai, diwacanakan dan dipahami dengan lebih mudah (bahasanya) oleh semua orang, tidak dalam jurnal yang memiliki kesan berat dan lain sebagainya. Ini sebenarnya dilatarbelakangi dengan situasi di lingkungan sekitar saya bahwa kalau yang berhubungan dengan isu perempuan pasti ketemu dengan para feminis yang bahasanya 'tinggi-tinggi', padahal kan tidak begitu. Kemudian tingkat ekslusifitas dari isu itu sendiri, padahal isu perempuan itu kan keseharian kita, setiap hari ada ibu hamil, melahirkan dan punya anak itu adalah bagian dari isu kesehatan reproduksi misalnya. Maka dari itu mimpi saya adalah mencoba sesuatu yang membumikan isu-isu perempuan itu dengan versi yang murah meriah, tapi bernilai tinggi (setidaknya bagi saya :p). Dengan blog, saya mendapatkan yang murah meriah itu tapi berkualitas dan yang pasti punya tujuan, hehehe..
Sebenarnya pasar saya di girlthink itu adalah anak muda, lebih spesifik perempuan muda. Karena menurut saya kunci persebaran tentang isu perempuan, keberlanjutan gerakan perempuan dan juga kesetaraan itu juga ada pada mereka (perempuan muda). Di blog yang sekarang ini vakum, saya menuliskan berbagai isu perempuan di dalamnya, mulai dari seksualitas, traficking, ekonomi sampai yang paling ramai komentarnya adalah poligami.
"Blogging is a girl thing". Blogging itu kerjaan perempuan. Tanggapan ini sering muncul. Mungkin karena perempuan cenderung lebih terbuka, lebih mudah mengungkapkan emosi mereka melalui curhat-curhat yang ditulis di blog. Namun bagi Sofia ini tidak ada salahnya. Curhat baginya adalah bentuk manajemen diri, yang lebih dari sekedar gosip, tapi juga soal kondisi riil yang ada di sekitar kita. "Misalnya, itu kan kondisi riil yang kita liat di media, kekerasan terhadap anak, yang kemudian membuat kita prihatin, terus curhat (nulis blog), abis kita nulis , ditanggapin, abis ditanggapin terus muncul suatu gerakan, misalnya seperti itu. Misalnya sampai muncul petisi menolak RUU APP (isu terkini), kemudian waktu itu ada yang berkaitan dengan bisnisnya anne ahira, sampai pesan cinta untuk roy suryo," tulisnya dalam jawaban wawancara email dari bz!. Lebih lanjut ia pun bercerita..
Seperti Anda sebutkan di atas "Blogging is a girl thing", hal ini mengarah pada tendensi soal curhat, gosip, memasak dan lain sebagainya. Pendapat Anda?
Memangnya ada persoalan apa ketika 'girlthink' isinya curhat, gosip, memasak dan lain sebagainya? Apakah ini suatu kesalahan? Saya kira itu tadi, curhat adalah sifat manusiawi, manusia ingin curhat, laki-laki maupun perempuan. Mungkin kita melihatnya dari bahasanya saja, misalnya di blog-nya pak Priyadi (maaf ya pak Pri, saya mencontohkan anda, karena ke-konsisten-an bapak untuk tidak emosi dari berbagai macam kasus,saya salut) dimana 'curhat'nya ilmiah, dengan penalaran khas, pertimbangan, disertai fakta riil, berbeda dengan curhat saya di blog yang sofieworld, yang bahasanya, "Duh, gw benci banget deh sama orang yang bilang kalo nge-blog itu cuma alat pamer diri aja." Murni personal dan subyektif kan? Tidak ada persoalan dengan curhat, seperti yang tadi saya bilang, bahkan dari curhat itu bisa memunculkan suatu gerakan sosial misalnya di dunia maya, bisa saja terjadi kan? Tapi jangan kemudian dikelompokkan bahwa perempuan lebih subyektif dan laki-laki lebih rasional ya...itu tadi cuma contoh.
Mengenai tendensi kalo perempuan, curhatnya isinya gosip dan memasak, memangnya ada yang salah? Kalau selama ini ada 'pengelompokan curhat', itu karena pandangan kita yang' terbiasa' dengan kalo laki-laki ngomongnya kerja…kerja dan kerja (ruang publik), kalau perempuan bicara hal-hal yang gosip atau masak, yang sifatnya domestik, lalu yang domestik kemudian diidentikkan dengan yang remeh-temeh dan tidak dihargai, padahal kan apapun itu baik yang publik maupun domestik itu kan pilihan, tidak ada yang melebihi satu sama lain, sama semuanya. Cuma karena persoalan publik kemudian dianggap dan terbiasa dihargai, jadi pamornya lebih tinggi padahal ya sama aja, sama-sama punya tantangan, punya nilai dan lain sebagainya.Dan itu berkaitan dengan pengalaman masing-masing. Karena saya juga melihatnya pada penciptaan ruang-ruang alternatif itu, terutama untuk perempuan ber-ekspresi dan punya medianya sendiri.
Dalam tulisan Anda di Kompas, Anda pernah mengatakan media itu seperti blog bisa dibilang efektif untuk menyebarkan isu yang berkaitan dengan penguatan hak perempuan di Indonesia, penyadaran gender, serta ruang diskusi-diskusi untuk mencari format bagi tumbuhnya civil society, bisa dijelaskan seperti apa isu-isu yang disebutkan diatas bisa disebutkan tadi bisa disebarkan melalui blog?
Media, apapun itu bentuknya memang memiliki fungsi sebagai alat sosialisasi, televisi, radio, majalah, dan tentu saja juga blog, fungsi dan manfaatnya sama, bisa digunakan untuk lebih menyebarluaskan isu (disini kita bicara tentang isu perempuan misalnya), coba saja dilihat dari blog-blog yang dimiliki oleh perempuan-perempuan yang pernah saya singgahi, menarik sekali, mulai yang tadinya nol soal tekhnologi, 'ngoprek' desain, sampai kemudian ganti desain lay out, dan segala macamnya. itu kan proses yang menarik.
Mendapatkan informasi dari pihak lain, bertukar informasi dan lain sebagainya, sebenarnya tidak hanya itu, di dalam blog yang pernah saya singgahi misalnya, seorang ibu dari Indonesia tinggal di Eropa, dia menceritakan tentang keseharian anaknya yang muslim tinggal di komunitas yang sekuler, apa yang dapat kita ambil? pelajaran tentang multikulturalisme misalnya. Ini juga berkaitan dengan pertanyaan selanjutnya bahwa blog bisa menjadi sebuah media alternatif bagi mereka yang kesehariaanya bergulat di tengah penguatan hak perempuan, kalo tidak salah ingat, tulisan saya mengenai blog itu adalah berawal dari bincang-bincang dengan teman aktivis perempuan, yang memiliki segudang informasi bagaimana dia mendampingi kelompok perempuan, bagaimana perempuan-perempuan di desa maupun kota diinformasikan mengenai pendidikan politik, bagaimana kelompok perempuan yang tadinya dalam keluarga tidak memiliki suara, kemudian dalam prosesnya dia bisa menentukan pilihan, bagaimana kah proses penyadaran itu kemudian ditumbuhkan bahwa hak dasar antara perempuan dan laki-laki sama, teman yang aktivis tersebut ingin sekali membagi informasi mengenai hal tersebut, sekaligus juga menyebarluaskan pandangan ibu-ibu di kampung misalnya mengenai isu-isu perempuan, misalnya pendidikan politik, bagaimana mereka bersuara dalam musrembang, yang intinya adalah menyuarakan pengalaman perempuan. Sementara itu di sisi lainnya, kita selalu berkejaran dengan konsep-konsep, padahal perumusan konsep dan isu perempuannya sendiri saling berkejaran dengan waktu, jadi saya rasa blog menjadi media alternatif yang bisa digunakan dan dimanfaatkan terlebih dulu untuk membuka ruang-ruang tersebut, sehingga suara,pengalaman dan pikiran perempuan bisa terakomodasi dulu (dan tentu saja ada arsipnya), perkara nanti mau dibikin dengan.com . or. id atau apapun pasti akan berjalan sesuai prosesnya masing-masing.
Berbicara mengenai ideal target blog, tentu saja tidak dibatasi kalau berbicara tentang sasaran idealnya, karena pengetahuan kan sifatnya universal, semua orang berhak atas informasi. Kalau saya sendiri, sebenarnya sih, ingin meluaskan isu-isu perempuan, kesetaraan gender dan semacamnya itu, jadi menjadi isu publik, bukan milik kelompok-kelompok tertentu, misalnya kelompok dengan label feminis. Dan seperti yang sudah saya katakan di awal bahwa, awalnya saya ingin belajar , bahwa perempuan muda dengan penulisan pengalamannya sebagai perempuan muda, itu penting. Mulai dari persoalan make-up sampai pubertas, dan mereka bersuara karena mereka ada dan merasakan. Namun, juga tidak dipungkiri, kita juga akan berbicara soal kelas sosial ya, kelas sosial mana sih yang bisa mengakses intenet misalnya, siapa yang baca blog misalnya dan lain sebagainya, berapa waktu orang menyimpan uangnya untuk mengakses dunia maya dan juga menyediakan waktunya. Tapi, kalau nanti pada proses-nya blog yang bertema isu perempuan itu dibaca banyak orang, itu suatu hal menyenangkan, makin banyak orang yang tahu.
Anda tentu sering mengunjungi blog lain, khususnya yang juga ditulis oleh perempuan, apa komentar Anda? Apa yang menurut Anda bisa mereka tulis di sana yang dikaitkan dengan perjuangan hak perempuan?
Tentu saja, tapi akhir-akhir ini aktivitas itu terbatas, alasan klasik karena pekerjaan (tapi itu wajar kan? hueueueu), sejauh ini semuanya sangat berharga, karena ketika berbicara mengenai perempuan dan media (blog), kita tidak lepas dari penciptaan ruang-ruang perempuan tadi, bagaimana pengalamannya, pikirannya kemudian dituangkan dalam bentuk gambar, tulisan dan lain sebagainya, untuk kemudian bisa dibaca orang lain. Saya pernah baca ada blog yang isinya tentang 'curhat' perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dimana dia berada dalam kondisi antara kangen anaknya dan diperlakukan buruk oleh suaminya, komennya pun banyak ada yang bilang harus bersabar, ada yang menganjurkan cerai dan lain sebagainya.
Sebenarnya blog juga menjadi salah satu media penguatan bagi kelompok perempuan (media komunitas) misalnya tadi bagi kelompok survivor KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), misalnya karena tidak mau bertatap muka tapi kita bisa melakukan konseling atau berbagi bersama mereka. Kemudian yang terbaru mengenai kontroversi RUU APP, banyak sekali saya membaca opini para perempuan, dari yang mulai pro sampai kontra, kemudian isu poligami dan masih banyak lagi, dan itu tadi ruang ber-ekspresi itu kemudian terbuka dengan keberadaan blog, salah satunya.
Selain blogger, Sofia Kartika juga dikenal sebagai seorang aktivis. Perempuan kelahiran Malang ini dulu pernah bekerja di yayasan Jurnal Perempuan yang giat memperjuangkan isu-isu perempuan. Iapun kemudian mencoba 'promosi' pada kawan-kawannya. Beberapa akhirnya ikut 'tertular' dan membuat blog mulai dari blog tentang anak sampai juga blog yang menampung tulisan-tulisan rekan-rekannya.. Dunia blogging ini pun meninggalkan berbagai kesan yang cukup menarik baginya..
Pengalaman menarik dari blogging? Baik secara pribadi maupun dalam kapasitas sebagai aktivis perempuan?
Pengalaman menarik banyak, terutama ketika saya pernah menulis mengenai poligami, dan tentang counter legal draft KHI (kompilasi hukum Islam) yang dulu sempat ramai. Komennya macam-macam. Ada yang memberi label aneh-aneh kepada saya, ngajakin 'berantem' lewat email, hehehehhe tapi tak apa lah. Yang penting saya melihatnya, makin banyak orang tahu tentang berbagai isu perempuan. Dan tentu saja perspektif dalam dunia maya kan berbeda-beda kalau dari proses, saya belajar menghargai lebih banyak, kemudian saya bergaul dengan orang-orang dengan perspektif netral gender misalnya, yang menganggap jangan dipersoalkan lah perempuan dan laki-laki itu kan sama saja, atau yang mengatakan, bahwa ya tinggal perempuannya mau gimana donk, itu menarik dan 'menantang' lho, terutama untuk tidak mudah emosi dengan keberagaman pandangan. Blog, salah satunya mengajarkan persoalan itu, bahwa satu hal tidak bisa mutlak hitam putih. Dan tentu saja, ketika bertemu dengan Bu Labibah (Pendiri Blogfam.com:RED) walau dari tulisan..
Blogging memang merupakan sebuah fenomena yang semakin meng-global. Makin banyak saja yang kemudian memutuskan untuk ikut blogging dengan berbagai tujuan dan manfaat, dan Sofia Kartika sudah menunjukkan salah satu sisi menarik dari logging ini, khususnya bagi kaum perempuan. Semoga bermanfaat.. *** JaF
