Artikel:

BLOGGING, Sharpen You Up!

oleh: Mariskova

Entah karena kesuksesan kurikulum pendidikan dalam bidang hapal menghapal atau karena trauma masa lalu, saya selalu ingat bahwa tanggal 2 di Bulan Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Buat saya, hari itu identik dengan pidato. Pada setiap Hari Pendidikan Nasional, pidato kepala-kepala sekolah saya akan lebih lama dari biasanya. Padahal, pidato kepala sekolah pada beribu-ribu hari Senin dan hari-hari besar lainnya pun selalu panjang dan lebar.

Sementara, kalau saya ditanya sekarang, apa ada satu pidato, satu saja, yang nyangkut di otak ini, saya akan dengan sedih jawab: Tidak. Sia-sia bukan ribuan pidato itu dibuat dan diucapkan? Setelah tidak jadi pelajar pun, saya masih sering harus mendengarkan orang berpidato panjang lebar kesana kemari tanpa isi selama berjam-jam. Bagaimana rasanya? Kebanyakan saya merasa bosan, dan seringkali membuat mood saya jelek, ingin marah-marah, lalu naik ke panggung dan merampas microphone. Untung saya belum pernah se-nekat itu. Selain membuat malu diri sendiri, saya pikir cara itu juga tidak efektif. Saya sempat berpikir bagaimana kalau si pembicara punya lebih dari satu microphone?

Kenapa sih orang tidak bisa membuat pidato yang menarik dengan bahasa yang ringan tanpa bunga-bunga dan dibawakan dengan santai? Hmm... topik menarik dengan bahasa ringan? Saya jadi membayangkan blog. Banyak blog yang membahas topik-topik berat namun dipresentasikan dengan menarik, ringan, dan mengena. Lamunan saya pun semakin jauh. Bagaimana kalau seorang blogger berpidato? Bisakah si blogger ini mengubah paradigma pidato yang bukan kepalang membosankan menjadi suatu pidato menarik? Bisakah seorang blogger berpidato menyambut Hari ini atau Hari itu tapi dengan analisa yang lebih dalam, tajam tanpa slogan-slogan kosong, dan yang terpenting dibawakan dengan menarik?

Tentu saja bisa! Blogger, gitu loh! Bukankah blogging memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada pemiliknya untuk berlatih menjadi komunikator yang baik? Bukankah blogging juga mampu membuat cara berpikir kita lebih kritis, analitis, dan runtut? Tidak percaya? Begini lah penjelasannya...

Seperti definisinya, blogging berarti kegiatan menulis blog (authoring), mengelola blog, atau menambahkan artikel ke dalam blog (wikipedia). Dari definisi itu terlihat bahwa kegiatan utama dalam blogging adalah menulis. Nah, disinilah kuncinya: Menulis adalah satu kemampuan yang sungguh-sangat-teramat-benar-benar penting dalam hidup ini. “Writing teaches us complex skills of synthesis, analysis, and problem solving. Writing forces us to struggle with the details, wrestle with the facts, and rework raw information, and dimly understood concepts into language they can communicate to someone else." (www.writingcomission.org)

Kemudian, coba cek hal berikut:

1) Bila blogging sama dengan menulis maka pada saat ngeblog kita sedang melatih kemampuan berpikir, menganalisa, mengambil kesimpulan dan berkomunikasi. Berkomunikasi disini berarti kita mampu membuat pembaca kita mengerti isi tulisan kita dengan menggunakan bahasa yang bisa dicerna oleh pembaca blog kita. Bukan lah menjadi masalah bila tulisan kita panjang atau pendek. Bukan masalah pula bila topik tulisan kita berat seperti ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’, atau ringan-ringan saja seperti ‘Memotong Rambut yang Aman’. Yang penting, kita menulis.

2) Blogging juga membuat kita terbiasa membuat konsep tulisan. Walaupun ide tulisan bisa datang kapan saja dan dimana saja, hal yang sama tidak berlaku untuk koneksi internet, komputer, dan urusan duniawi kita. Seringkali ide tulisan datang pada waktu yang tidak tepat: saat kesal menunggu bis, saat terkantuk-kantuk mendengarkan dosen, saat menyuapi anak, atau saat diomelin boss. Pada saat-saat itu ide tulisan kita beserta judulnya, kata-katanya, kalimat-kalimatnya, tersimpan di kepala. Dan ketika akhirnya kita bisa duduk di depan komputer, kata-kata yang sudah terkonsep di kepala tadi secara otomatis mengalir ke jari-jari. Kita mungkin tidak menyadari kegiatan pre-writing ini, tapi hampir pasti kita selalu melakukannya dalam blogging. Kebiasaan membuat konsep tulisan ini menghindarkan kita dari bicara panjang lebar tanpa isi, seperti pribahasa yang mengatakan, ‘pikir dulu sebelum bicara’.

3) Blogging jauh berbeda dari menulis diary. Sebuah blog pun jauh lebih unggul dari diary, bukan hanya dari segi teknologi, tapi justru karena blog memberikan input untuk penulisnya (kecuali tentu saja bila anda terbiasa memperlihatkan isi diary pribadi kemana-mana). Input atau komentar dari pembaca blog kita membuat kita tahu seberapa berhasil kita mengkomunikasikan ide-ide kita. Input ini juga membuat kita tahu bagaimana cara kita menulis, bagaimana kualitas tulisan kita dan bagaimana kualitas kemampuan menganalisa kita. Apakah ide kita dituliskan dengan jelas, teratur dan lancar mengalir? Apakah tulisan kita menarik/membosankan? Apakah tulisan kita terlalu panjang/pendek? Apakah tulisan kita ada intinya? Apakah kita selalu mengecek data-data sebelum menulis?
Kadang-kadang input itu juga mengenai hal-hal yang kecil seperti banyaknya pengulangan (100 kali kalimat I hate you dalam tulisan sepanjang 300 kata), terlalu ‘funky’ (terlalu banyak slang yang tidak dimengerti oleh orang-orang mulai batas umur tertentu, terlalu banyak kreativitas penggunaan huruf besar dan kecil, terlalu banyak singkatan), membingungkan (kalimat pertama berbunyi ‘Hari ini menyebalkan’ tapi kalimat kedua berbunyi ‘Pesta di kantor tadi rame banget’). Walaupun begitu, tentu saja tidak semua komentar yang diterima bisa berguna, terutama komentar-komentar yang cenderung menggunakan bahasa-bahasa tak berbudaya. Namun bila kita cukup berlapang dada dan membuka pikiran lebar-lebar, bahkan komentar yang paling tidak mengenakkan pun dapat bermanfaat. Semua proses ini sungguh berguna untuk melatih critical thinking kita.

4) Blogging memaksa kita bercermin dan melakukan refleksi atas tulisan dan cara berpikir kita. Suatu ide atau cara berpikir yang sebelumnya terlihat benar dari sudut pandang kita, bisa berbeda dari sudut pandang pembaca. Ketika kita membaca kembali tulisan kita, dan ketika kita mendapat input dari pembaca blog kita, kita dipaksa untuk memikirkan kembali ide atau pendapat awal kita. Apakah pendapat kita selalu negatif (semua hal jelek, semua orang jahat), atau malah selalu positif? Apakah tulisan kita terlalu dangkal dalam memberikan alasan atau terlalu berlebihan? Apakah reaksi kita terlalu berlebihan pada suatu masalah?

5) Dan terakhir, diatas segalanya, blogging is fun! Kita dapat menulis apapun yang kita mau di blog. Topiknya, bahasanya, panjangnya, gayanya, kategorinya, semua bisa seenak jidat kita. Bisa pakai foto dan ilustrasi pula! Blogging is an up-to-you kind of writing with huge real-life benefits.

Blogging bukan lagi sekedar online diary, Blogging bukan sekedar pekerjaan iseng, dan Blogger pun bukan seorang narsis (oke, mungkin sedikit). Blog adalah sarana untuk mengasah kemampuan berkomunikasi kita, dan blogging mampu membuat otak kita lebih tajam. Dengan mengambil manfaat yang nyata-nyata didapat dari blogging, seorang blogger akan menjelma menjadi seorang komunikator handal. Kalau hanya berpidato menyambut Hari ini itu sih... kecil!!!

Posted on May 6, 2006 2:15 PM |
 Lainnya: