Gergaji Besi Yang Patah
Cerita Anak Favorit Kategori Cerita Realita dan Pemenang Pertama penulisan Cerita Realita
Lomba Menulis Cerita Anak Blogfam 2006
"... Jujur cerita ini terinspirasi dengan masa kanak-kanak saya yang bergelut dengan buku-buku Enyd Blyton, yang tokoh-tokohnya berusia 8-12 tahun ternyata sudah bisa membongkar kasus-kasus kriminal... hehehe... " demikian tutur Penulis cerita ini. *** red
---
Arif memandang kandang kambingnya dengan sedih. Kandang kayu itu masih baru, baru dibuat bapak beberapa hari yang lalu karena kandang yang lama tidak akan muat dengan tambahan dua ekor anak si putih yang baru lahir. Dengan tambahan 2 anak kambing itu berarti kambing bapak ada 6 ekor, sebuah bilangan yang cukup bikin Bapak kadang tersenyum-senyum sendiri.
Tapi tadi pagi senyum Bapak hilang seketika, ketika selepas solat subuh Bapak mendapati kandang kambing sudah terbuka lebar. Tak ada satu kambing pun yang tersisa, semua dibawa maling.
“Salah satu dari anak kambing itu boleh kamu miliki Rif,” kata Bapak tersenyum, menunjuk ke arah anak kambing yang sedang berlari-lari di dalam kandang mengikuti induknya.
Mata Arif berbinar. “Beneran pak?” tanyanya tak percaya.
Bapak mengangguk. “Dengan satu syarat. Kamu bantu bapak membuat kandang baru buat mereka. Dan jangan lupa, kamu juga tidak boleh lupa untuk bantu Bapak nyabit rumput buat makanan mereka.”
Arif mengangguk senang. Berarti Bapak tidak bohong ketika berjanji akan memberinya anak kambing kalau si putih beranak.
“Tahun depan anak kambing ini sudah cukup besar untuk dipotong pada saat kamu disunat,” lanjut Bapak.
Arif berjingkrak riang. Ternyata Bapak tahu persis keinginannya. Pada saat disunat nanti ia ingin potong kambing seperti saat Dika sahabatnya disunat tiga bulan yang lalu.
Arif merengut teringat itu kembali. Tahun depan pas sunatan mungkin tidak akan ada potong kambing. Dan bahkan mungkin sunatannya tidak jadi dilaksanakan tahun depan, karena Bapak mungkin berharap dari menjual salah satu kambing itu untuk biaya sunatannya. Seharian penuh Arif membantu Bapak membuat kandang baru. Dia juga dengan senang hati mengayuh sepedanya ke toko besi terdekat untuk membeli cat putih. Ditemani Dika di boncengan sepedanya, Arif tak henti-hentinya bercerita tentang kambing yang sekarang jadi miliknya. Bercerita tentang rencana sunatannya tahun depan.
“Hey, melamun saja kamu, Rif!” tepukan di pundaknya menghapus lamunannya.
Dika sudah berdiri disampingnya. Senyumnya seakan ingin menghilangkan kesedihan di wajah sahabatnya itu. Arif tersenyum samar. Senyum sahabatnya yang tulus belum bisa menghilangkan kesedihannya. Impiannya memiliki kambing sendiri musnah gara-gara pencuri itu. Terlebih saat ia menyadari rencana sunatannya tahun depan pun bisa gagal terlaksana gara-gara Bapak kehilangan semua kambingnya.
Dika menghampiri pintu kandang yang terbuka, berjongkok di depannya, kemudian memungut sesuatu. Di tangannya tergeletak kunci gembok yang patah. “Gembok ini bekas digergaji Rif,” cetusnya.
Arif melihat sekilas gembok di tangan Dika, kemudian mengangguk. “Ya, Bapak juga bilang begitu tadi pagi,” jawabnya.
“Mestinya butuh waktu lama untuk menggergaji gembok ini,” gumam Dika sambil mengamat-amati gembok itu, “kamu tidak mendengar sesuatu tadi malam? Kamarmu paling dekat dengan kandang ini?” tanya Dika kemudian.
Arif menggeleng. “Angin tadi malam kencang sekali dan ribut. Aku kira mau hujan, tapi ternyata tidak. Sepertinya aku malah tertidur pulas, jadi tidak mendengar suara apapun.”
Dika berjongkok lagi. “Apa ini Rif?” katanya sambil memungut sesuatu di dekat bambu penyangga kandang. “Gergaji besi yang patah! Bekas menggergaji gembok ini kayaknya!” teriaknya sambil mengacungkan gergaji besi yang patah itu di depan wajah Arif. “Ini petunjuk, Rif!” teriaknya lagi dengan penuh semangat.
Arif mengernyit, “Lalu?”
“Ayo kita cari pencurinya!” Mata Dika berbinar-binar seperti menemukan sesuatu yang menyenangkan.
“Kemana mencarinya? Terus, siapa pencurinya?”
Dika menjentikkan jarinya. “Ini hanya perkiraanku saja, tapi mudah-mudahan tebakanku betul karena tiba-tiba saja ini terlintas di pikiranku begitu saja,” jawab Dika cepat. “Kamu ingat bang Joni yang kita temui di toko besi beberapa hari yang lalu pada saat kita membeli cat untuk kandang kambingmu?”
Arif mengangguk.
“Nah, dia bilang apa waktu kita tanya dia sedang beli apa disana?”
Arif terlonjak. “Membeli gergaji besi!!”
“Itu dia!” tukas Dika. “Ambil sepedamu, dan kita perhatikan gerak-gerik bang Joni. Ayo sekarang!”
Arif mengayuh sepedanya kuat-kuat. Sedapat mungkin dia tidak boleh jauh tertinggal dari Dika yang sudah melesat jauh dengan sepedanya. Sahabatnya itu seperti yakin dengan apa yang menjadi pemikirannya. Bang Joni pencuri kambingnya? Ah apa iya? Pikiran Arif berkecamuk sendiri.
Bang Joni. Arif dan Dika sering melihatnya berjalan sempoyongan di siang hari bolong. Kata orang-orang sih mabuk minuman keras. Sepertinya belum bekerja juga karena mereka sering melihatnya duduk-duduk main kartu bersama teman-temannya di gardu ronda perempatan jalan menuju ke SD Taman jaya dimana Arif dan Dika bersekolah. Tapi sekali lagi, apakah benar bang Joni pencuri kambingnya?
Hampir 300 meter Arif dan Dika mengayuh sepedanya ke arah rumah bang Joni. Nafas Arif tersenggal-senggal, dan dia yakin Dika juga begitu.
“Kita tunggu disini saja Rif,” kata Dika disela nafasnya yang terengah-engah. “Dari sini kita bisa melihat kearah rumah bang Joni dengan jelas,” lanjutnya.
“Sekalian sambil istirahat!” cengir Arif sambil membaringkan sepedanya begitu saja. Sementara dia sendiri duduk bersandar dibawah pohon pinggir jalan. Dika melakukan hal yang sama.
Belum lima menit mereka berisitirahat, tiba-tiba Arif menunjuk seseorang yang keluar dari rumah yang sedang mereka perhatikan. “Bang Joni, Dik!” desisnya.
“Ayo kita buntuti dia. Tidak usah terlalu dekat, dan jangan sampai dia tahu kita mengikutinya!” Dika balas berbisik sambil segera menaiki sepedanya. “Kita pura-pura sedang bermain sepeda seperti biasanya.”
Arif mengangguk setuju.
Mengikuti Bang Joni berjalan cukup melelahkan juga. Di gardu ronda perempatan jalan, bang Atep ikut bergabung dengan bang Joni, dan mereka tampak seperti tergesa-gesa berjalan cukup jauh ke arah pinggiran desa, memasuki daerah hutan bambu yang sudah semakin jarang penduduknya.
“Mereka belok ke arah hutan bambu Dik,” bisik Arif. “kita tidak mungkin mengendarai sepeda kesana! Jalannya penuh belukar, dan Lagipula kita sudah jauh dari rumah. Ini sudah masuk ke kampung sebelah!”
“Kita simpan sepeda dibalik rerumpunan itu tuh! Ayo, keburu jauh mereka perginya!” Dika seperti tidak memperdulikan kekhawatiran Arif.
Hutan bambu itu sangat rapat pepohonannya, dan juga tanahnya berbukit-bukit. Dari jalan desa yang mereka lalui tadi tidak terlihat apa saja yang ada didalam hutan selain kegelapan, meski mereka tahu hari belum terlalu sore. Lebatnya daun bambu dan juga pohon-pohon yang ada menghalangi sinar matahari masuk.
Arif mencengkeram lengan Dika. “Kita sudah terlalu jauh masuk kedalam hutan bambu ini!” desisnya.
Dika hanya menempelkan telunjuk dibibirnya, kemudian menunjuk bang Joni dan bang Atep yang sedang menuruni lereng, kemudian menghilang dibalik bukit.“Ayo,” seret Dika, “Mereka ada dibalik bukit itu!”
Bukit itu cukup terjal. Bisa dibayangkan pada saat hujan orang akan mudah tergelincir apabila menuruninya. Dengan mengendap-endap Arif dan Dika melebarkan pandangan dari atas bukit itu kebawah. Sangat mengejutkan! Ternyata di balik bukit itu terhampar sebuah padang rumput hijau yang tidak terlalu luas tapi sangat landai. Di tengah-tengah padang rumput itu berdiri sebuah dangau kecil dari bambu. Bang Joni, bang Atep serta seorang pemuda lainnya yang entah siapa berada disana!
“Itu!” Arif terpekik sambil menunjuk segerombolan kambing yang sedang merumput di sebelah kiri, tapi agak jauh dari dangau. Ada sekitar sepuluh ekor kambing disana. “Itu kambingk…” pekikan Arif tersumbat oleh bekapan erat tangan Dika.
“Ssssttttt!!!” Dika melotot.
“Tapi itu kambingku!” desis Arif hampir tanpa suara. “Aku yakin itu kambingku. Lihat dua anak kambing kecil itu? Itu milikku!”
“Sudah cukup bukti untuk melaporkan mereka ke pak RT. Ayo kita pergi sebelum mereka menemukan kita!” bisik Dika gembira. Mereka menemukan pencuri kambing yang sering meresahkan warga kampung mereka!
Beringsut-ingsut dan mengendap-endap mereka mencoba keluar dari hutan bambu yang berbukit-bukit itu. Jalan pulang terasa sangat jauh meski Arif dan Dika sudah berlari dan kemudian mengayuh sepeda mereka sekuat tenaga. Mereka sudah tidak sabar mengabarkan penemuan hebat mereka itu.
Ditemani Bapak, Arif dan Dika dengan semangat melaporkan semuanya di hadapan pak RT dan beberapa warga kampung lainnya. Dan tanpa buang waktu lagi, menjelang Maghrib, komplotan pencuri kambing, bang Joni dan teman-temannya, sudah berhasil diringkus dan digiring ke balai desa oleh seluruh warga. Arif dan Dika melihatnya dengan bangga.
“Sudah, bilang bapakmu kalau disunatnya besok saja! Daripada kambingnya hilang lagi?” sikut Dika sambil tertawa.
Arif cuma bisa nyengir, dan kemudian tergelak berdua. (***Iwok)
Posted on May 6, 2006 2:03 PM | Permalink
