Artikel:

Profesi Guru: Impian atau Mimpi Buruk?

"Oemar Bakri.. Oemar Bakri..
40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti
Memang makan hati

Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri, profesor, doktor, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri"

bz!forumania Mendengar penggalan syair 'Oemar Bakri' dari Iwan Fals yang fenomenal ini kadang membuat hati miris. Betapa profesi guru melalui figur 'Oemar Bakri' begitu menyedihkan. Sosok guru yang mengantarkan para petinggi dan pejabat menduduki jabatan-jabatan empuknya sekarang, atau para ilmuwan dan cendekia yang berburu menemukan teknologi terbaru, masih dipandang sebelah mata.

Bagaimana profesi guru itu sekarang? Apakah masih dipandang sebelah mata? Apakah profesi ini menjadi panutan, impian, atau mimpi buruk? Fay melontarkan topik ini di Forum Blogfam Ruang Dunia Kerja, Pendidikan dan Pengajaran.

"Sering saya ketemu orang-orang yang udah umur 60 atau 70 taon dan mendengar cerita-cerita tempoe doloe. Satu diantaranya adalah cerita betapa mulianya dan terhormatnya profesi guru di jaman dahulu. Misalnya apabila guru datang murid menyambut dengan hormat dan gembira. Tasnya disambut berebut untuk dibawakan. Sepedanya dilap dengan gembira. Dan tidak hanya murid yang hormat, orangtua dan masyarakat secara umum merasa hormat dan menghargai guru sebagai orang yang telah sangat berjasa mendidik dan mengajarkan kebaikan kepada anak-anak mereka. Tetapi jaman ini sangat berbeda. Guru hanya dianggap profesi biasa. Bahkan ada yang menganggap hanya "alat" untuk mencapai tujuan. Kalo sudah tercapai dilupakan dan dicampakkan. Habis manis sepah dibuang. Saya sangat heran dengan sebuah radio swasta di Solo yang secara tidak langsung mengajarkan pendengar-pendengarnya untuk tidak hormat dengan guru. Kalimatnya begini: Kalo kalian disuruh ngambil kapur ato menghapus papan tulis jangan mau ya...itu sudah kerjaannya guru. Mereka dibayar memang untuk itu.... Masya Allah, jaman telah berubah. Semua dinilai dari segi materi. Untuk itulah saya mempertanyakan tentang profesi guru di jaman ini, impian atau mimpi buruk?"

Sebuah topik obrolan yang mengejutkan apabila merujuk ke akhir postingannya! Sedemikian parah kah penghargaan dan apresiasi terhadap seorang Guru? Apakah anggota Blogfam menyetujui dengan ungkapan si penyiar radio tersebut? Apakah masih ada orang yang mempertahankan mimpinya menjadi guru melihat realita menyusutnya rasa hormat terhadap guru?

"Menjadi guru bahasa Inggris adalah mimpi yang menjadi kenyataan, mbak. Karena sejak SMA pun pas ditanya pengen jadi apa, aku jawabnya pengen jd guru bahasa Inggris. Itupun aku belum tau lho harus masuk ke kuliah apa kalo pengen jadi guru. Despite bayaran guru yg emang belum sepadan dengan apa yang dilakukan para guru, menurutku itu bukanlah yang paling penting. Kepuasannya itu lho kalo udah sukses ngajarin ke murid, " jawab Yaya dengan mantap.

Nana tidak menyebutkan impiannya menjadi Guru, tapi merasa sangat yakin bahwa peran Guru sangat lah penting dalam membentuk dirinya hingga bisa jadi seperti sekarang. "Sepanjang umurku sampe sekarang, sebagian besar yang kata-katanya membekas adalah beberapa orang yang kebetulan jadi guruku. Novel keduaku berisi puisi Elizabeth Browning, karena dosenku cerita riwayat hidup si Elizabeth yang bener-bener romantis. Guru SMA ku, yang kebanyakan killer, yang sampe sekarang yang diajarkannya masih membekas. Dosen finance yang ngebela-belain ngangkat hp jam 9 malam untuk ngasi diskusi gratis seputar immigration issue. Kesimpulannya?! ntah jadi apa hidupku kalo gak ada mereka-mereka ini yang killer, disiplin, etc..etc."

Ebenezersiadari tahu persis kehidupan seorang Guru, melihat sosok Ibu yang menjadi Guru: "Waktu SD dulu, Ibuku adalah guruku. Ada enaknya, ada nggak enaknya. Soalnya Ibuku agak galak. Tapi, gak tau kenapa, banyak yang sayang sama dia. Kalau Lebaran, banyak skali kue-kue mampir ke rumah kami dari murid-muridnya. Ibuku galak di skolah, tapi lebih galak lagi di rumah. Kalau aku gak bisa jawab pertanyaannya, di rumah bakal kena semprot deh. Kok tadi pertanyaan gitu aja, gak bisa kamu jawab? Malu."

Apakah gara-gara killer seorang guru menjadi dibenci siswa-siswanya? Melihat catatan dan komentar Nana dan Ebenezersiadari di atas, sepertinya tidak. Nana merasakan manfaat yang dalam dibalik 'kekejaman' guru dan dosennya, dan Eben melihat betapa Ibunya yang galak ternyata sangat disayangi siswanya. Mungkin perlu disadari, dibalik kedisiplinan dan kekerasan yang diterapkan di sekolah, ada proses pembelajaran tersendiri bagi siswa. Dan itu yang sering tidak kita mengerti.

Sosok Guru menimbulkan kekaguman tersendiri bagi Donna 'Tenshi' : "Aku sejak dulu kagum pada sosok guru. Apalagi guru kursus bahasa inggrisku yang berhasil membuatku cukup menguasai bahasa ini (juga menimbulkan ketertarikan mendalam pada bahasa Inggris). Sempat ingin jadi guru bahasa Inggris. Sempat tercapai. Sempat merasakan perasaan bahagia menjadi guru, interaksinya, wow, it's so amazing. Tapi akhirnya memutuskan untuk berhenti karena sekarang sudah punya anak dan suami, sebisa mungkin ingin menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Jadi, impian atau mimpi buruk? Tergantung individu. Aku yakin masih banyak orang idealis di dunia ini, yang memang senang berbagi, senang mengajar."

Kepuasan berbagi dan sukses mengajarkan sesuatu bagi siswa sangat dirasakan oleh Yaya dan Donna. Kalau sudah begini, siapa bilang materi menjadi hal yang utama? Tapi apabila Guru mendapatkan materi yang cukup dan kesempatan yang baik untuk berwisata (ke luar negeri!), apakah harus dijadikan sesuatu yang patut di sirik-i? Seperti yang diungkapkan oleh Dhonathnet: "Menurut saya, profesi guru jaman sekarang memang sudah berbeda dengan profesi guru jaman saya masih sekolah. Jaman sekarang ini contohnya di beberapa sekolah swasta, kehidupan seorang guru bisa dibilang amat sangat berkecukupan. Buktinya tiap akhir tahun, sekolah menyediakan dana untuk guru-gurunya pergi berlibur keluar negri seperti Singapore-Malaysia-Thailand. Dana darimana lagi kalo bukan dari murid-murid yang uang sekolahnya selangit. Intinya... yah, balik ke individual masing-masing, bisa jadi impian indah, bisa juga jadi impian buruk..."

Guru mungkin bukan jadi impian sebagian besar orang. Tapi kalau kemudian nasib menggiringnya menjadi guru? "Dulu kalo ditanya pengen jadi apa, pengennya jadi apa saja yang positif asal jangan jadi guru. Ngga tau kenapa, mungkin pengen profesi yang lain. Nah, sekarang apa pekerjaan saya? Jadi dosen Bahasa Inggris di sebuah Univ swasta di Solo. Akhirnya jadi "guru" juga di tingkat Universitas. Seneng seh rasanya jadi dosen cuman statusnya masih belum tetep," cetus Fay.

Bukankah ungkapannya tersebut bisa membukakan mata kita? Profesi bukan impian pun menjanjikan kesenangan selama kita bisa menimatinya. Dan semua itu tidak hanya diukur dari segi materi! Seperti kata Djatinangor: "Sebetulnya jadi guru itu bisa jadi impian, asal hasil pekerjaan si guru betul-betul diapresiasi. Ga hanya dari segi materi. Dulu saya juga pernah jadi guru "singkat" sewaktu KKN (kuliah kerja nyata). Melihat anak-anak SD itu duduk manis dan antusias mendengarkan, saya merasa itu sudah jadi apresiasi yang lebih buat saya."

Nana menegaskan: "Terlepas dari segala kisah mengenai perilaku guru, benar bahwa kualitas guru perlu ditingkatkan. Juga benar bahwa mereka harus LEBIH dihargai secara finansial dan respek, karena mereka memainkan peran sentral!"

Menurut Mataharitimoer, sejahat dan sebenci apapun kita terhadap salah seorang guru kita saat kita sekolah/kuliah dulu, pasti banyak yang saat ini berani bilang: "Ternyata kalo guru saya tidak bersikap kejam, mungkin saya tak bisa berhasil dalam meniti hidup sekarang ini."

Sebuah ending yang manis terlontar dari YNa : "Menurut saya, profesi apapun, apalagi guru, tetap mesti dihormati dan dihargai. Ke opis-boy kantor sekalipun kita hormati pekerjaannya." Gimana klo kita ngomong begini, "Biar aja berantakan nih ruangan, kan ada opis-boy yg beresin, udah kerjaan dia!" *fiuh!*. Dan suara di radio itu memang ga bagus, kesannya provokasi tanpa ada alasannya. Sama seperti profesi lainnya, mungkin ada guru yg menjadi guru karena impian pengabdian (suka mengajar, berbagi ilmu dan ada kepuasan saat melihat muridnya berhasil, tanpa pamrih dsb). Ada juga yang karena status pekerjaan dan berpenghasilan. Saya rasa refleksinya juga bakal beda. Murid-murid juga akan tahu trus yang membedakan antara dulu dan sekaran, mungkin respon murid-murid yang sudah lebih bebas mengekspresikan diri tehardap apapun. Klo dulu adanya takut, meski ngedumel di belakang misalnya. Klo sekarang lebih duar! bikin jantung serasa copot hehe.. Buat saya, klo memang jiwa seseorang terpanggil untuk mengajar dan menyebarkan ilmu, tetaplah profesi guru menjadi impian seperti yang temen-temen bilang di sini dan juga saya ga akan pernah lupa sama jasa-jasa guru sampai kapanpun."

So, Follow your call! Profesi impian atau mimpi buruk memang kita yang menentukan. Tinggal kita mau memilih yang mana!*** Iwok

Posted on May 6, 2006 2:13 PM |
 Lainnya: