Menanamkan Jiwa Sportivitas pada Remaja
Ada yang sedikit mengganggu pikiran saya ketika menyaksikan partai perempat final Piala Dunia 2006 antara Inggris dan Portugal beberapa hari yang lalu. Dalam partai yang akhirnya dimenangkan oleh Portugal dengan skor 3-1 melalui adu tendangan penalti tersebut, pemain muda harapan Inggris, Wayne Rooney, mendapatkan kartu merah setelah menginjak pemain belakang Portugal, Ricardo Carvalho.

Bukan semata karena kartu merah tersebut dijatuhkan kepada Wayne Rooney, yang notabene adalah pemain muda penuh potensi yang diharapkan bisa membawa Inggris meraih kesuksesan pada event akbar empat tahunan ini, tapi secara keseluruhan jumlah kartu merah dan kartu kuning yang dikeluarkan dari saku wasit pada Piala Dunia 2006 ini memang meningkat cukup tajam bila dibandingkan dengan penyelenggaraan Piala Dunia tahun-tahun sebelumnya.
Apakah wasit patut disalahkan? Saya pikir tidak juga.
Saya termasuk orang yang berpendapat bahwa wasit hanya akan mengeluarkan kartu kuning dan kartu merah bila pelanggaran (foul) atau kesalahan (violation) yang dilakukan para pemain di lapangan memang sudah dinilai 'keterlaluan' oleh wasit.
Kita memang tidak bisa segera menyimpulkan bahwa para pemain sepakbola profesional ini melakukannya dengan sengaja. Tapi alangkah indahnya bila kita bisa menyaksikan pertandingan sepakbola Piala Dunia yang bersih dan penuh sportivitas.
Tidak ada lagi pemain yang menghalalkan melakukan tackling keras (atau malah menyikut) hanya untuk mencegah pemain lawan melewatinya, tidak ada lagi pemain yang gemar memprotes wasit, tidak ada lagi pemain yang melakukan diving di kotak penalti lawan semata-mata untuk mendapatkan hadiah penalti, dan yang paling penting adalah tidak ada lagi pemain yang melakukan provokasi dengan maksud memancing emosi lawannya.
Bagaimana bisa mewujudkan hal itu? Banyak faktor yang berperan, tapi menanamkan jiwa sportivitas sejak usia remaja adalah salah satu jawabannya. Lalu kenapa jiwa sportivitas sudah harus ditanamkan sejak usia remaja, atau malah usia yang lebih dini?
Ada tiga alasan yang saya pikir cukup relevan:
1. Penanaman nilai-nilai pada usia dini lebih mudah dibandingkan pada usia dewasa, sehingga diharapkan di kemudian hari jiwa sportivitas telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari karakter seorang remaja (khususnya remaja Indonesia).
2. Penanaman jiwa sportivitas merupakan bagian dari pengembangan karakter positif seorang remaja itu sendiri. Remaja dengan jiwa sportivitas tinggi lebih mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa yang akan datang, lebih mandiri, lebih disiplin, lebih dewasa, serta mampu berpikir terbuka dan obyektif terhadap segala permasalahan yang dihadapinya.
3. Boleh diyakini atau tidak, tapi jiwa sportivitas yang memasyarakat akan semakin meningkatkan kualitas dari masyarakat itu sendiri. Efek positifnya tidak hanya akan dirasakan oleh individu, tapi juga oleh lingkungan yang lebih luas.
Bila menggali sedikit lebih dalam, saya sependapat dengan opini yang mengatakan bahwa sportivitas dalam olahraga itu merupakan satu kesatuan dari enam unsur berikut:
1. Mematuhi aturan main yang berlaku
2. Berkompetisi dengan penuh rasa tanggung jawab
3. Menjunjung tinggi kejujuran
4. Menghormati wasit dan ofisial lainnya
5. Memperlakukan lawan dengan hormat
6. Menerima apapun hasil pertandingan dengan lapang dada
Enam unsur sportivitas itulah yang menurut saya harus ditanamkan sejak remaja, atau usia yang lebih dini, dengan harapan sportivitas itu sendiri akan menjadi bagian dari karakter positif seorang remaja.
Pada akhirnya, pertandingan atau kompetisi olahraga bukanlah sekedar mengejar kemenangan dengan segala cara demi sebuah penghargaan atau piala semata. Tidak ada artinya bila meraih kemenangan dengan mengesampingkan nilai-nilai sportivitas, karena yang lebih penting adalah proses pencapaian prestasi itu sendiri.
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah belajar mengembangkan jiwa sportivitas pada remaja tidak selalu terkait dengan aktifitas di dalam lapangan olahraga saja, tapi juga terkait dengan berbagai aspek kehidupan nyata yang dilalui sehari-hari.
Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua untuk menanamkan jiwa sportivitas. Bahkan mungkin tidak hanya kita fokuskan pada remaja, tapi akan lebih baik bila kita pun mulai mengintrospeksi diri sendiri...
Apakah kita sudah memiliki jiwa sportivitas dalam diri kita masing-masing?
Bila sudah, mari kita tingkatkan! Bila belum, tidak ada kata terlambat untuk berubah demi sebuah perbaikan yang menguntungkan diri kita dan juga orang lain di masa yang akan datang.
Posted on July 6, 2006 10:56 AM | Permalink
