Artikel:

Yogya: Masihkah menjadi Never Ending Asia?

Bencana gempa bumi yang meluluh lantakkan Yogyakarta, 27 Mei 2006 silam menyisakan banyak cerita. Juga kepedihan. Sam salah seorang blogger yang kebetulan berada di Yogya tepat ketika gempa tektonik mengguncang ketika fajar pagi baru saja menyapa, membagi kisahnya pada kita melalui bz!plesir. Pada edisi ini kami sengaja menampilkan "tradisi" yang berbeda dengan tayangan sebelumnya. Kami harapkan dengan mengangkat topik ini selain untuk menggugah serta menggalang solidaritas kolektif kita semua pada musibah yang terjadi pada saudara-saudara kita di Yogya juga memberikan gambaran betapa banyak situs-situs sejarah dan parawisata yang turut jadi korban bencana ini. Semoga artikel ini membawa hikmah bagi kita semua. [Redaksi]

Gempa Itu Di Luar Duga dan Kuasa

“Weruh sak durunge winarah” (Mengetahui sebelum terjadi) itulah kata yang setidaknya kami sebagian masyarakat Yogya percayai atas segala yang berlaku di Yogyakarta - Bumi Kesultanan Jawa ini. Sehingga wajar bila apapun keadaannya kami selalu percaya bahwa Yogya akan selalu aman, selalu terlindung. Ini bukan kata yang muluk karena bukti fisik jelas tak bisa dipungkiri dan nampak secara kasat seperti geliat Gunung Merapi belakangan ini yang 'bisa’ dikendalikan atau topan tornado yang membelok di laut Selatan tahun lalu tanpa bisa mencapai Yogya seperti prediksi dan beberapa kejadian lain diluar nalar pada umumnya. Semua bisa diketahui semua bisa diprediksikan oleh kalangan kraton maupun Sultan sendiri sehingga rakyat bisa bersiap sedari dini untuk antisipasi. Tapi tidak dengan gempa Sabtu 27 Mei 2006. Gusti punya rencana lain. Rencana maha dahsyat yang meninggalkan duka dan air mata dalam catatan hidup kami.

Tak ada yang beda dengan kepulanganku bersama kakak-kakak setiap kali libur panjang di Yogya. Menengok Ibu, berkumpul dengan saudara di rumah Ibu, bercanda dengan keponakan, dan menyusuri kota budaya karena teman memerlukan pendamping wisata adalah kerutinan acara kepulangan kami.
Hari Jum’at tanggal 26 Mei 2006 aku masih meladeni keponakan-keponakan untuk renang, bahkan Ibu masih sempat menyiapkan nasi kuning untuk ulang tahunku meski telah lewat dan kamipun seperti biasa masih menghabiskan malam dengan berkumpul dan berkelakar. Di ujung malam aku dan keluarga kakakku meninggalkan rumah Ibu di Yogya kota untuk menginap di rumah mereka yang berjarak 15 kilo ke arah timur. Tepatnya di Piyungan Bantul. Semua berjalan wajar dan tanpa firasat. Tanpa pernah menduga bahwa kerutinan ini ada jedanya.

“Keluar … keluar! Allahu Akbaaar!”

bz!plesir Teriakku berulang kali tanpa sadar sembari meloncat dari ranjang, dari lelapku. Dan secara refleks berlari sekencangnya meninggalkan kamar di lantai dua. Saat itu suara gemuruh keras terdengar di sekeliling rumah dibarengi dengan bergetarnya dinding dan lantai. Tak hanya itu plafon-plafon menjatuhkan serpihan bagai hujan gerimis. Meski suara begitu menakutkan namun tak ada teriakan lain di dalam rumah kecuali suaraku yang makin parau menuruni tangga. Dalam panik aku tak bisa berfikir lain untuk tahu apa yang terjadi kecuali memperingatkan yang lain dan berusaha mencapai tanah lapang di depan rumah. Suara gemuruh makin keras dan rumah seakan di kocok sehebat-hebatnya. Aku hanya berharap bisa mencapai tanah lapang sebelum semua ini runtuh. Kudapati kakak dan adik telah lebihh dahulu mencapai depan pintu rumah dengan pucat dan pandangan kosong menyusul kakak ipar dalam wajah ketakutan di belakang. Kami tak bisa mencapai lapangan karena terkunci dalam pagar. Beruntung goncangan hebat itu mereda setelah 57 detik dan perlahan menghilang. Kami tak bisa berkata apa-apa selain saling memandang dalam kecemasan dan perasaan yang bercampur aduk. Kami benar-benar lemas.

Saat bisa keluar pagar kami dapati para tetangga sudah berkumpul di lapangan dengan ketakutan yang sama. Perumahan Griya Taman Sari Piyungan ini memang belum banyak dihuni warga, wajar bila hanya terlihat beberapa keluarga yang berkelompok. Kami sama-sama tak berani masuk rumah. Takut terjadi gempa susulan. Terlihat beberapa rumah retak dan beberapa roboh, bersyukur rumah kami masih utuh meski beberapa barang dirumah pecah dan genting berjatuhan menimpa mobil. Kami sadari ini gempa besar. Namun kami tak bisa berbuat apa-apa, listrik dan telepon seluler mati. Kami terisolir. Aku tak tahu bagaimana keadaan Ibu dan kakak-adikku di kota. Kami hanya bisa berkumpul dan mencari berita di radio mobil kami yang bagian atasnya telah peyok kejatuhan genting. Sesekali kami rasakan gempa susulan yang membuat kami kembali berhamburan. Dari radio Sonora Yogya kami dapati berita bahwa kejadian ini adalah gempa yang berpusat di laut selatan dengan kedalaman 33 km di dasar laut terjadi pukul 05.54 di 5,9 SR. Ini adalah gempa tektonik bukan karena aktivitas Merapi. Beberapa penelepon di radio mengabarkan kerusakan dan kepanikan yang tiada putusnya. Pukul 08.07 WIB kembali gempa susulan dengan kekuatan 5.2 SR. Kami panik, terlebih informasi mengenai kondisi Ibu dan saudara belum kami dapatkan. Sesaat seluler mendapatkan sinyal, aku sempat menelpon beberapa sahabat di Jakarta yang meminta informasi terbaru karena kami terisolir dari berita. Setelah itu seluler hanya bisa mererima SMS namun tak bisa untuk membalas apalagi menelpon.

Issue Tsunami Menciutkan Nyali

Sebelum pukul sepuluh aku, adik, kakak serta iparku meninggalkan rumah di Piyungan untuk menengok keadaan Ibu di Jogja. Tak terpikir bagaimana keadaan kami yang penting kebutuhan vital bisa kami bawa. Astagfirullah! Rasanya kakiku lemas dan kecemasanku begitu memuncak beraduk dengan ketakutan yang sangat. Saat kami keluar dari perumahan melewati rumah-rumah penduduk di desa Petir untuk mencapai jalan utama, kondisi begitu mengenaskan karena tak ada rumah yang berdiri kokoh, semua rata tanah. Orang-orang tumpah ke jalan dan beberapa terluka bahkan ada yang meninggal. Jembatanpun bergeser dari tempat semula. Aku tak bisa lagi mengangkat kamera untuk sekedar memotret mereka. Aku tak tega dan lumpuh. Pikiranku terfokus pada kondisi keluargaku yang belum pasti. Tak bisa kubayangkan bahwa di luar perumahan ini kondisinya begitu parah, ini sama sekali tak kami duga. Tanda tanya makin besar apakah rumah Ibu akan sedemikian parahnya. Ya Allah tolonglah.

bz!plesir Kami memutuskan kembali ke Yogya melewati jalan Piyungan-Wonosari, tak terlihat lagi kondisi normal di sepanjang jalan. Hampir semua rumah rata tanah dan hanya menyisakan puing, orang-orang yang meninggal, terluka dan panik. Debu dari bangunan-bangunan yang runtuh berterbangan hingga lampu-lampu mobil dan motor menyala acak, belum lagi arus balik makin riuh dengan teriakan air dan tsunami. Orang-orang berhamburan tak tentu arah. Kami berempat di dalam mobil makin ketakutan dan shock. Terlebih aku yang sempat melihat bagaimana dahsyatnya tsunami di Aceh saat berkunjung kesana. Kami memutar balik mobil dan mengambil jalan ke utara ke arah Prambanan. Kami tak mau ke timur menuju puncak Gunung Kidul meski tempat itu tinggi tapi kondisi keluarga di Yogya yang belum jelas jadi pertimbangan kami bila kembali. Kekacauan ini mengaduk emosi kami. Doa dan mohon ampun serta air mata rasanya mengalir begitu saja. Semua serba gelap di mata kami. Kami bingung. Kami putus asa. Terlebih premium di mobil telah berada di garis merah!

Beruntung di ujung lokasi Candi Prambanan terdapat SPBU. Setelah mengisi kami cepat-cepat ke Yogya melewati jalan Yogya-Solo. Tapi sekali lagi kami tak bisa masuk kota. Serta merta dari arah Yogya arus lalu lintas seperti tumpah. Semua meneriakkan isyu air dan Tsunami. Kami pasrah dan mau tak mau mesti putar balik. Meskipun logika kami mengatakan tak mungkin tapi keberingasan pengungsi membuat kami ciut nyali. Siaran Sonora jadi pedoman kami yang panik. Perlahan kami tahu tak ada tsunami dan kalaupun ada tak mungkin mencapai Yogya. Kami keluar dari arus. Menunggu di sisi komplek Candi Prambanan yang terlihat telah mengalami kerusakan berat. Ada pos polisi di sana. Merekapun kehilangan informasi dan kontak. Satu-satunya siaran radio dari mobil kami mereka jadikan acuan untuk menenangkan massa. Kami menunggu dalam ketidakpastian. Sementara data korban makin meningkat dari puluhan, ratusan hingga ribuan. Ini mengecilkan hati kami. Meski sulit, kamipun akhirnya memperoleh kabar keluarga di Yogya selamat. Ya Allah. Hari ini kami lalui dengan begitu beratnya dan waktu yang berjalan demikian panjang.

Fisik Dan Mental Diuji di Pengungsian

Tengah hari saat lalu lintas telah normal kami berusaha lagi mencapai Yogya, sambil mengumpulkan makanan dan persediaan lain yang kami pikir akan sulit diperoleh nantinya. Perjalanan ini mengantarkan kami pada pemandangan yang beda. Hampir sebagian besar fasilitas umum Yogya hancur, retak dan rusak. Hotel, pertokoan, mall, bahkan peninggalan budaya dan sekolah-sekolah serta universitas. Syukurnya gempa di dalam kota tak sehebat di Kabupaten Bantul. Tak banyak rumah yang rusak di kota Yogya termasuk di pemukiman kami di daerah Klitren. Kami dapati keluarga dalam keadaan selamat. Namun trauma gempa ini demikian dalam hingga kami tak berani kembali ke rumah terlebih gempa susulan berulang kami rasakan. Saat tengah hari kami mencari tanah lapang di sekitar komplek pramuka Pengok-Langensari untuk mengungsi. Tak ada tenda yang tersedia hingga banyak di antara kami yang berteduh di bawah pohon. Ini satu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kami tak ada pilihan. Kami berada pada penantian panjang yang tak pasti. Sementara kami seakan terpisah dari berita ataupun informasi yang menenangkan dan jelas mengenai apa yang telah terjadi. Aparat, pemerintah … entah kemana. Kami menjadi pengungsi. Itu realitanya. Tak ada listrik dan tak ada perbekalan lain kecuali pakaian yang melekat dan beberapa barang yang kami pandang berharga. Kami tinggalkan rumah dan menggelar tikar bersama keluarga yang lain. Kami syukuri. Keadaan kami jauh lebih baik daripada keluarga-keluarga lain yang ternyata banyak yang lebih tragis. Terutama mereka yang di Bantul dan Klaten. Bukan hanya harta benda yang rata tanah tapi juga banyak jiwa yang tak bisa terselamatkan. Secara geografis Bantul berada 6 km dari pusat gempa wajar jika mengalami kedahsyatan terparah. Sementara Klaten yang terpisah 75 km, namun berada di jalur sekunder gempa hingga keadaannya tak jauh beda. Tak terhitung lagi mereka yang menyesaki rumah sakit dan belum tertolong serta mereka-mereka yang masih tertimbun dan belum terevakuasi. Yogya benar-benar berduka. Belum usai masalah Merapi kini gempa mendatangi.

bz!plesir Larut malam kami tidur di tanah lapang dengan atap terpal seadanya. Hawa dingin menusuk dan terlihat di langit awan perlahan mulai gelap sesekali kilat menerangi. Ya Allah cukupkan cobaan ini. Jangan beri hujan! Namun Allah kembali menguji kami. Tengah malam buta kami harus pindah tempat lagi karena hujan deras mengguyur. Kami ramai-ramai pindah ke Pendopo Balai Pramuka. Meski keadaan di sini tak lebih aman daripada kami berada di luar tapi kami tak ada pilihan. Berulang kali di tengah tidur kami berhamburan keluar pendopo karena kembali kami rasakan gempa. Melelahkan, baik fisik maupun mental. Kami bergiliran jaga pada akhirnya. Hingga di ujung subuh kami tak kuat lagi menahan dingin. Beberapa dari kami kembali ke rumah meski kami membatasi dengan aktivitas di teras dan ruang depan. Was-was dan rasa ngeri masih menyelimuti. Dari BMG tercatat 600-an kali gempa susulan bergetar dalam waktu dua hari. Namun hanya beberapa getaran yang mencapai 3 SR. Perlahan kami mulai membereskan rumah dan mulai keluar untuk melihat keadaan sekitar. Yogya mati. Tak ada aktivitas dan denyut nadi. Aku sendiri baru bisa kembali ke Jakarta hari Selasa, 4 hari setelah gempa, mengingat pelabuhan udara juga mengalami kerusakan hebat.

Dunia Pariwisata Ikut Lantak

Tak dapat dipungkiri Yogya hidup dari napas pariwisata. Bencana ini telah menurunkan 60% arus wisatawan ke Yogya. Sarana dan prasarana wisata banyak yang turut lantak. Terhitung beberapa hotel seperti Hotel Melia Purosani, Novotel, Ibis Malioboro, Jayakarta juga Sahid ditutup karena kerusakan bangunan yang sungguh hebat dan lainnya karena alasan keamanan. Andalan pariwisata Yogya yang berupa situs budaya dan bangunan lama mengalami kerusakan parah dan perlu pembenahan total untuk kembali seperti semula.
Diantaranya:

1. Candi Prambanan:

Situs peninggalan Hindu di abad 856 Masehi ini mengalami kerusakan yang diperkirakan memakan 1 tahun untuk renovasi. Baik Candi induk maupun tunggangan berserak bebatuannya, beberapa tangga dan relief retak bahkan beberapa mahkota candi runtuh dan tergeser beberapa centi meter ke arah barat daya. Kondisi ini yang membuat pengelola wilayah menutup zona satu yang paling dekat dengan candi. Sementara beberapa pelataran kompleks candi masih digunakan beberapa penduduk untuk mengungsi.

2. Keraton

Bangsal Trajumas merupakan bangunan tempat menyimpan beragam pusaka kraton dan juga gamelan sakral Kyai Guntur Laut dan Mahesa Ganggang. Bangunan yang jauhnya hanya 30 meter dari Kraton Kilen tempat berdiam Sultan runtuh seluruhnya rata dengan tanah. Hanya tersisa beberapa pondasi tempat soko guru tiang utama penyangga bangunan berdiri.

3. Gedung Agung

Sayap kiri dan kanan gedung yang merupakan salah satu Istana Kepresidenan ini terlihat retak meski bangunan sebelumnya terlihat sangat megah dan kekar. Gedung yang dulunya bernama Rustenberg ini, tahun 1867 telah mengalami nasib serupa saat terjadi gempa yang melanda Yogya hingga mengalami renovasi total dengan mengadopsi gaya arsitektur eropa dan tropis.

4. Imogiri

Daerah yang terkenal dengan situs makam raja-raja Mataram dan Surakarta ini amat elok dengan mitos “menghitung anak tangga” dan kesakralannya. Didirikan oleh Sultan Agung yang merupakan raja ke tiga Mataram di tahun 1632 obyek wisata ini seringkali masuk dalam wisata ritual. Gempa telah merobohkan pagar-pagar kompleks makam beserta beberapa gapura. Untungnya 24 buah persemayaman raja-raja Jawa tak terusik dan masih utuh.

5. Malioboro & Jalan Solo

Kedua jalan ini merupakan nadi Yogya. Mal Malioboro yang berada berada satu komplek dengan hotel Ibis mengalami keretakan pada strukturnya. Demikian pula mal-mal yang tersebar di Jalan Solo seperti Galeria, Shapir Square dan Mal Ambarukmo.

6. Lain-lain

Kasongan sebagai sentra keramik dan tembikar, pasar Bringharjo sebagai pasar tradisional dan beberapa sentra unik lainnya di Yogya amat terpuruk dengan kejadian gempa ini. Bukan saja karena tempat usaha mereka ikut mengalami kerusakan tapi juga banyak di antara pelaku wisata dan bisnis yang ada menjadi korban. Bukan itu saja banyak juga sarana pendidikan yang mengalami nasib serupa.

Masih banyak sarana dan prasarana lain yang tak luput dari amukan gempa. Dan entah berapa lama lagi untuk bisa segera bangkit. Siaran terus tertayang berita Yogya Duka dalam gambar yang mengenaskan. Gambar Yogya yang tak lagi utuh dan gambar fenomena Yogya yang ditanggapi dengan beribu pendapat dan pandangan yang berbeda. Pandangan yang mempertanyakan icon Yogya sebagai “never ending asia” kapankah akan sembuh.

“Never Ending Destination”

Kepulanganku ke Yogya di saat bencana dan mengalami ini semua tak aku sesali. Sama sekali! Aku bersyukur dikumpulkan dengan keluargaku untuk melalui cobaan besar ini. Aku bersyukur kami masih diberi kesempatan dan waktu untuk lebih menunjukkan kewajiban dan tanggung jawab kami pada Dia. Untuk lebih baik dan baik lagi. Terima kasih buat sahabat-sahabat yang peduli dengan sapa, kabar dan bantuannya. Sungguh mengharukan. Sangat berarti bagi kami, bagi diriku. Terima kasih.

Mohon uluran dan gandengan tangan erat untuk sejenak menaikkan doa tulus bagi kami di Yogya. Semoga cobaan ini segera berakhir. Semoga tak ada cobaan lebih besar lagi menanti dari Gunung Merapi atau ujian lain lagi. Dan yang lebih penting semoga kesadaran kami dipulihkan untuk segera bangkit, tidak saja untuk mampu memperbaiki kehidupan kami tapi juga memperbaiki jiwa-jiwa kami yang terlupa. Jiwa kita bersama. Hingga kami bisa selalu merindu dan bisa kembali pulang ke Yogya. Merasakan bahwa Yogya tetap merupakan “Never Ending Destination” untuk kami dan Anda. Amin!

*** (Sam)
Referensi tambahan: internet, femina.

Posted on July 6, 2006 10:00 AM |
 Lainnya: