Artikel:

Beijing: Kota Modern yang Masih Menyimpan Budaya

Bila kita berkunjung ke Beijing sekarang, maka kita akan melihat Beijing bagaikan satu konstruksi besar. Ya, Beijing sedang bersiap menyambut tamu-tamu yang akan berkunjung dalam rangka Olympiade 2008. Setiap sudut kota tak lepas dari perhatian pemerintah setempat untuk dibenahi. Pembangunan sarana dan pra-sarana sepertinya terus berlangsung selama 24 jam setiap hari. Tak lupa mereka pun mulai melengkapi setiap city sign (papan petunjuk jalan atau rambu-rambu lainnya) dengan bahasa Inggris, karena selama ini semua city sign di kota Beijing memakai bahasa danplesir_shui aksara China. Terlebih lagi rata-rata penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Lumayan bikin panik turis.

Jangan heran seandainya semua nama asing di China akan di-“bahasa China”-kan. Seperti halnya World Cup Germany kemarin, nama-nama seperti Gerrard, Ballack, dan Beckham akan kita dengar sebagai Geradeu, Balakeu dan Bekhamo. Sama halnya dengan nama orang Indonesia, kalau memang orang China sulit mengucapkannya maka kita akan dibuatkan nama China lengkap dengan huruf kanjinya.

Seiring perkembangan China yang membuka diri pada dunia, anak-anak mudanya sekarang rata-rata sudah bisa berbahasa Inggris. Orang asing pun sudah banyak membuka jaringan usaha di sana. Jadi sekarang tidak perlu takut untuk merencanakan plesir ke China, terutama ke Beijing. Yuk.

Beijing mempunyai tata kota yang rapi, hal ini amat memudahkan kita untuk jalan-jalan keliling kota. Daerah pusat kota adalah pusat pemerintahan, termasuk Forbidden City dan Lapangan Tian’anmen. Ke arah timur adalah daerah Central Business District. Ke arah barat adalah financial area, tempat semua Bank ‘BUMN’ China bermarkas. Lay out kota pun didukung oleh 5 jaringan ring road (ring road #2 sampai #6, tidak ada ring road #1) dan 5 jaringan subway. Sekedar informasi, Beijing mulai membangun jaringan subway sejak tahun 1960an. Bagaimana dengan Jakarta?

Wisata bangunan
OK, saya sudah sempat menyebut Forbidden City dan Lapangan Tian’anmen. Sebenarnya lokasi wisata apa yang menjadi nomor satu di Beijing?

Great Wall
bz!plesirPasti ini yang bakalan jadi tujuan paling favorit. Ada beberapa spot menarik bagi turis. Lokasi paling dekat dengan Beijing adalah ‘Great Wall Badaling’, sekitar 70 km ke arah barat laut. Karena jaraknya yang paling dekat maka mayoritas turis akan datang ke tempat ini. Tempat ini bisa penuh sesak pada saat musim panas karena merupakan Peak season.

Seandainya beberapa dari kita ingin mengunjungi spot Great Wall yang tidak terlalu ramai, lokasi yang paling nyaman adalah ‘Great Wall Simatai’ sekitar 130 km timur laut Beijing. UNESCO menyatakan Great Wall sebagai World Heritage setelah melakukan kunjungan ke Simatai ini. Jadi spot Simatai sepertinya harus jadi bagian dari jadwal wisata kita. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Great Wall adalah pada saat musim gugur dan musim dingin karena cuaca relatif lebih bersih dan pemandangannya lebih “berwarna” walaupun pastinya dingin.

Great Wall dibangun sepanjang 6700 km dari Teluk Bohai di timur Beijing sampai Jiayuguan Pass di Propinsi Gansu, China bagian tengah mulai tahun 700 SM pada jaman Dinasti Zhou. Jarak dari Teluk Bohai ke Jiayuguan Pass sendiri ‘hanya’ 3000 km tapi Great Wall punya panjang lebih dari dua kalinya jarak tersebut karena dia dibangun tidak dalam garis lurus. Tujuan awal pembangunan dinding ini adalah sebagai penghalang bagi kuda-kuda. Maksudnya ketika orang-orang semi-nomadic dari utara China mencuri kuda-kuda dari daerah Beijing, kuda-kuda tersebut tidak akan bisa melewati dinding ini. Jadi pencuri tersebut akan meninggalkan kuda-kuda dan barang-barang curian lainnya, begitu bertemu dinding ini. Selain itu dinding ini pun mempunyai banyak menara untuk gudang makanan dan gudang senjata.

Sebuah kejutan terjadi di tahun 2003 ketika astronot pertama China menyatakan bahwa dia tidak bisa melihat Great Wall dari angkasa, tidak seperti pernyataan yang sebelumnya beredar di dunia.

Forbidden City
Peninggalan Emperor yang sampai sekarang masih kokoh berdiri di pusat kota Beijing. Forbidden City, atau Gugong Bowuguan dalam bahasa China, merupakan jantung kota Beijing dan sejak jaman Dinasti Mid-Ming tahun 1422 memang sudah dijadikan pusat pemerintahan dan pusat tata kota Beijing tempo dulu. Lebih dari 500 tahun, 24 Emperor dan keluarganya tinggal di sini termasuk The Last Emperor Pu Yi yang dikudeta pada tahun 1924 setelah 12 tahun berada dalam ‘tahanan rumah’.

Untuk masuk ke dalam Forbidden City kita akan melewati 5 gerbang, atau men dalam bahasa China. Dua gerbang pertama tidak dipungut bayaran, tapi mulai gerbang ketiga kita harus membeli tiket seharga 60 RMB. Khusus dari gerbang pertama kita bisa naik ke bagian atas dengan membeli tiket seharga 15 RMB dan ke arah selatan kita bisa melihat Lapangan Tian’anmen.

Selanjutnya silakan berkeliling ke seluruh area Forbidden City, tidak cukup satu hari untuk melihat semua bagian di tempat ini. Bagian depan diperuntukan bagi pemerintahan; bagian belakang, termasuk taman yang luas, khusus untuk Emperor dan keluarga besarnya.

Lapangan Tian’anmen>
Lapangan seluas 880x500m ini terletak di selatan Forbidden City, tepat di seberang jalan. Dipercaya dapat memuat sekitar satu juta orang di dalamnya dan masuk buku rekor dunia sebagai “the world’s biggest public square”. Bendera China secara resmi dinaikkan dan diturunkan setiap harinya di lapangan ini. Masih ingat peristiwa Tian’anmen tahun 1989?

Temple of Heaven
Berlokasi sekitar 2 km selatan Lapangan Tian’anmen, temple ini berada dalam sebuah taman seluas 267 ha. Pada saat dibangun dulu, namanya adalah “Temple of Heaven & Earth”. Digunakan untuk memberikan pengorbanan untuk surga (heaven) pada musim dingin dan untuk bumi (earth) pada musim panas. Tempat ini diyakini sebagai lokasi pertemuan surga dan bumi. Orang-orang dulu mempercayai bahwa surga berbentuk bundar dan bumi berbentuk kotak. Inilah mengapa bagian utara taman ini berbentuk setengah bundar dan bagian selatan berbentuk kotak.

Sekarang ini area Temple of Heaven lebih banyak digunakan untuk tempat orang bermain kartu, tempat orang bermain musik, tempat orang berlatih Opera Beijing atau hanya sekedar untuk duduk-duduk sambil merokok dan membaca buku. Taman ini merupakan tempat yang bagus untuk melihat bagaimana orang-orang tua China menyibukkan diri.

Summer Palace
Dikenal sebagai “The mother of imperial retreats & China’s largest and best-preserved royal garden”. Terletak sekitar 15 km barat laut Beijing. Ini adalah istana tempat Emperor dan keluarganya berlibur di musim panas. Area seluas 290 ha ini, dua pertiganya adalah danau.

Kompleks plesir ini diperkirakan berumur 800 tahun, yaitu sejak jaman Dinasti Jin. Pada 1750, Emperor Qian Long dari Dinasti Qing menghabiskan 4.48 juta uang perak tael untuk merenovasi tempat ini selama 15 tahun. Dia memberi nama istana ini “Garden of Clear Ripples”, dipersembahkan untuk ibunya sebagai hadiah ulang tahun.

Area Summer Palace dipercaya sebagai jiwa dari ‘taman-taman’ di utara dan selatan China.

Beijing Zoo
Apa kabar Panda?
Tidak seperti binatang-binatang lain di kebun binatang, kandang Panda di Beijing Zoo dipisahkan sendiri dan kita harus membeli tiket terpisah dari area utama. Alasannya? Karena Panda dianggap sebagai National Treasure bagi rakyat China, jadi orang-orang China berusaha semaksimal mungkin untuk melindunginya. Pusat pemeliharaan Panda sebenarnya ada di Cheng Du (bagian tengah China) yang terkenal dengan Giant Panda. Di Beijing Zoo sendiri (di antara ring road #2 dan #3, barat laut Beijing) terdapat satu aquarium yang terkenal sebagai yang terbesar di dunia. Isinya? Tidak jauh beda dengan binatang-binatang di Ancol, termasuk pertunjukan pesut ataupun lumba-lumba.


Wisata belanja

bz!plesirWang Fujing
Bagi yang suka belanja ataupun window shopping, bisa datang ke tempat ini. Wang Fujing adalah nama satu jalan di Beijing, sekitar 1 km timur Forbidden City. Tiga tempat terkenal di daerah ini adalah Oriental Plaza, Beijing Hotel dan Grand Hyatt Hotel. Satu teman di Beijing dengan bangganya bercerita bahwa pemain-pemain Real Madrid pada saat berkunjung ke Beijing tahun 2005 menginap di Beijing Hotel ini. Wah, kapan lagi ya kita bisa cerita pemain-pemain top dunia berkunjung ke Jakarta?

Seandainya mau mencari barang-barang yang original, Wang Fujing inilah tempat yang tepat. Kalau di Jakarta ya seperti Pasaraya atau Plaza Senayan, jadi harganya pun bukan harga murah. Tapi di sini pun ada satu komplek kecil tempat jualan barang-barang dengan harga miring. Tempatnya berdekatan dengan komplek tempat makan pinggir jalan.

Orang belum bisa disebut ke Beijing kalau belum berkunjung ke Wang Fujing.

Silk Market
Ini adalah Mangga Dua-nya Beijing terletak di sebelah timur, di antara ring road #2 dan #3. Namanya “Silk Market” tapi barang-barang yang dijual di sini tidak hanya sutra, bisa dibilang semua souvenir khas China ada di sini tinggal kita pintar-pintar memilih dan menawar. Kita bisa hunting oleh-oleh di tempat ini dengan harga yang jauh di bawah harga untuk barang yang sama di Wang Fujing. Banyak blog yang bercerita bagaimana teknik menawar barang di tempat ini. Beberapa malah memberikan tips untuk menawar 1/5 dari harga yang tertera. Artinya untuk tawaran pertama, kita harus menawar lebih rendah lagi dari 1/5-nya. Menarik bukan?

Ternyata para turis asing pun terlihat lebih banyak di tempat ini daripada di Wang Fujing. Mungkin karena Wang Fujing sudah ditata bergaya western, jadi mereka tidak terlalu tertarik. Seperti halnya saya, turis-turis asing itu lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat oriental, khas China.

bz!plesirMakanan
Masakan khas China yang tidak boleh terlewatkan adalah Shui Zhu Yu, a special kind of spicy boiled fish. Menu ikan yang direndam dalam minyak, sangat tasty dan rasanya tidak bisa lepas dari lidah. “My lips got a bit tingling from the fish, but not numb”, mungkin ini komentar yang paling mendekati untuk menggambarkan bagaimana rasanya jenis masakan ini. Ikan ini adalah menu favorit saya dan teman-teman saya selama di China. Sejak pertama kali mencoba, kita sepertinya menuntut untuk punya menu ikan ini setiap minggunya. Coba, deh.

Restoran muslim pun banyak bertebaran di Beijing, jadi tidak perlu khawatir. Menu utama biasanya daging kambing dan ikan. Tapi terus terang saja saya masih bingung. Katanya restoran muslim tapi kok mereka masih jual bir juga ya? Mungkin karena memang sudah jadi kebiasaan.

Mc’D pun sudah menjamur di Beijing, jadi tidak perlu bingung cari menu junk food. Mc’D pertama kali membuka francais-nya di China pada tahun 1987, mengambil lokasi di Wang Fujing dekat Beijing Hotel.

Atau mau mencoba The Famous Peking Duck Roast? Silakan datang ke Quanjude di utara Wang Fujing. Tempat ini sudah menjadi legenda bagi orang-orang yang ingin mencicipi daging bebek terkenal dari Beijing.

Kangen dengan masakan Indonesia? Ada satu restoran yang menyedikan masakan Indonesia di Beijing mengambil lokasi dekat dengan kompleks kedutaan, namanya “Java & Yangon Restaurant, Indonesian & Myanmar Cuisine”. Harap maklum, kokinya bukan orang Indonesia dan ini bukanlah spesial restoran Indonesia karena dia juga menyediakan masakan Myanmar. Cukuplah mengobati rasa kangen dengan gado-gado, gorengan, rendang, kerupuk dan makanan khas kita lainnya.

Kebiasaan Setempat
Posisi tempat duduk pada saat makan
Meja makan orang-orang China berbentuk bundar, di tengah meja itu masih ada lagi satu kaca bundar dengan ukuran yang lebih kecil dan bisa diputar. Semua makanan pesanan kita ditaruh di atas kaca tadi. Kita bisa dengan mudah mengambil makanan yang kita suka dengan cara memutar kaca tersebut.

Jangan sampai salah ambil tempat duduk, lho. Karena ternyata setiap posisi tempat duduk di sekeliling meja bundar itu ada fungsinya masing-masing. Tuan rumah mengambil posisi duduk yang menghadap ke pintu. Orang-orang penting yang berhubungan dengan host, duduk di samping kiri dan kanannya. Orang yang akan berhubungan dengan restoran (misalnya orang yang mengurus menu atau tagihan, biasanya sekretaris) duduk menghadap tuan rumah (membelakangi pintu). Tamu-tamu yang lain duduk di kursi selain disebutkan tadi, berarti di sisi kiri dan kanan meja.

Posisi orang/bangunan
Bangunan-bangunan penting di China semuanya menghadap ke selatan. Jadi seandainya kita bingung mencari arah kiblat, tinggal perhatikan saja posisi gedung-gedung itu tadi. Mudah bukan.

Kenapa ke selatan? Pertama karena China berada di utara khatulistiwa maka matahari adanya di selatan. Diharapkan dengan menghadap ke selatan, bangunan-bangunan tersebut terkena cahaya matahari secara maksimal. Kedua karena Feng sui. Seandainya bangunan ataupun posisi kerja orang yang duduk di belakang meja menghadap ke selatan, dipercaya akan mendapatkan nasib yang baik. Mmhhh… posisi duduk teman-teman di kantor menghadap ke mana?

TV Subtitle
Satu hal yang sempat membuat saya dan teman-teman di sini bingung adalah ketika menonton TV lokal China. Di Indonesia, seandainya sedang ditayangkan film luar negeri maka di bagian bawah monitor TV akan muncul subtitle dalam Bahasa Indonesia. Di China, semua acara TV lokal (dalam Bahasa China), dipastikan akan ada subtitle juga. In English? No, it’s still in Chinese! Aneh, tapi ya memang begitu. Ternyata bahasa China mempunyai sekian ratus jenis dialek tapi mempunyai satu bentuk tulisan yang sama. Bisa dimaklumi mengingat wilayah daratan China yang cukup luas. Jadi agar pemirsa TV China tidak bingung mengikuti acara TV, maka dibuatkannyalah subtitle Bahasa China tadi. Yang bingung adalah orang-orang seperti saya ini.

Wisata lainnya
Ada banyak pilihan tujuan wisata di Beijing selain yang disebut di atas. Ada Lama Temple, Confucius Temple, White Cloud Temple, Ming Tomb, Lufthansa Area dan yang lainnya. Ada juga pertunjukan Opera Beijing, Acrobatics dan Wu Shu.

Tujuan wisata lainnya di China selain Beijing? Ada Shanghai, Shenzhen, Macau dan HK di pantai timur. Pegunungan Cheng de di utara Beijing atau patung 1000 prajurit Terra-cotta di Propinsi Shaanxi, China bagian tengah.

Atau mau mencoba kereta api baru Beijing-Lhasa? Perjalanan 48 jam ke Tibet melewati sisi Gurun Gobi dan Plateau China dengan ketinggian di atas 3000m. Akses ke “Roof of The World” sekarang sudah jauh lebih mudah dengan kereta api ini. Yuk.

Zaijian!

(edwin)

Catatan: 1 RMB ~ Rp 1.161,9 per 18 Juli 2006
Sumber : pengalaman pribadi bersama 3 orang teman, internet dan buku panduan wisata Beijing.

Posted on August 6, 2006 12:00 AM |
 Lainnya: