Artikel:

Blog, Kemerdekaan Berekspresi dan Etika Ruang Publik

Harian KOMPAS, Jum'at 14 Juli 2006 di rubrik Kilas Luar Negeri Halaman 8, memuat sebuah kisah menarik tentang ditangkapnya wartawan harian China, The Bijie Daily, Li Yuanlong gara-gara menulis esei yang mengkritik Partai Komunis di situs internet asing. Li dipenjarakan dua tahun atas tuduhan subversif. Kamis (13/7), Pusat Informasi HAM dan Demokrasi Hongkong, menyebutkan Li telah ditahan September dan dijatuhi hukuman Februari lalu.

Esei Li--yang memakai nama pena "Night Wolf", "Wolf Howling in the night" dan Yen Lang--yang berjudul Becoming an American in Spirit" dan The Banal Nature of Life and Lamentable Natural of Death" itu dimuat di situs yang telah dilarang pemerintah China yakni "Boxun News", Epoch Times, ChinaEWeekly, dan New Century Net. Esei tersebut membahas isu sensitif di China seperti kemiskinan dan pengangguran. Yang Xiumin, istri Li, memprotes,"Ini sangat tidak adil. Hukuman seberat itu hanya karena beberapa artikel seperti itu tidak adil".

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Menyongsong peringatan 61 tahun Indonesia merdeka kami mencoba mengangkat topik utama blog dan kemerdekaan berekspresi dengan melakukan wawancara dengan sejumlah blogger. Kasus Li diatas, hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus-kasus yang terkait dengan kebebasan mengeluarkan pendapat khususnya melalui media internet. Berkembang pesatnya teknologi internet dan blog yang saat ini semakin menjamur menjadi sebuah fenomena menarik, bahwa betapa seseorang hanya dengan berbekal komputer dan sambungan internet dapat mengungkapkan apa yang ada di fikirannya ketika itu menanggapi sebuah isyu aktual yang berkembang lewat blog. Bebas, tanpa sensor dan bisa diakses lalu dibaca oleh siapapun sepanjang tahu alamat website yang bersangkutan.

Masih segar dalam ingatan kita kasus yang menimpa salah seorang blogger Yogyakarta akhir tahun silam, Herman Saksono yang secara bersendau gurau memodifikasi wajah foto intim Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo dengan wajah tokoh-tokoh terkenal, termasuk Presiden SBY dan dimuat di blognya. Meski Presiden SBY tidak menanggapi kasus ini secara serius bahkan sempat tertawa ketika ditanya saat pertemuan di Kedubes RI di Thailand, tak urung Herman sempat dijadikan tersangka oleh Kepolisian dengan dakwaan penghinaan kepada kepala negara atas dasar pasal 134, 136 dan 137 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.


Merdeka dan Bertanggung Jawab

Nur Muhammad Wahyu Kuncoro SH, seorang blogger yang berprofesi sebagai Pengacara/Penasihat hukum menyatakan,"Bagi saya pribadi kemerdekaan berekspresi melalui Blog masih dalam taraf wajar dan umum. Wajar dalam arti para pemilik blog banyak mengekspresikan catatan-catatan apa yang dialami dan dirasakan oleh si pemilik dalam kehidupannya. Umum, karena blog-blog di Indonesia (yang sering saya lihat) tidak banyak melakukan krtisi-kritisi terhadap suatu keadaan dengan "berbobot", mungkin ini karena si penulis hanya menulis sekedarnya saja, seperti yang selama ini saya lakukan di blog saya". Wahyu kemudian menjelaskan,"Internet, dalam hal ini Blog, tergolong dalam ruang publik layaknya seperti Televisi atau Radio. Yang artinya, walaupun si pemilik blog bisa mengekspresikan diri sebebas-bebasnya namun karena blog-nya tersebut bisa dibaca oleh publik maka sudah sepatutnya pemilik blog perlu menghormati privasi orang. Kebebasan ekspresi pemilik blog untuk menuangkan catatannya dibatasi oleh kepentingan publik itu.
Karena dibatasi oleh kepentingan publik terutama dituntut untuk menghormati privasi orang lain maka sudah sepatutnya sang penulis blog seyogyanya memiliki batasan atau etika tertentu. Sudah seharusnya sang penulis blog mempunyai prinsip bahwa kebebasan berekspresi tidak pernah berarti pengakuan untuk menulis apa pun dengan sebebas-bebasnya".

Pada kesempatan lain, seorang blogger yang bermukim di Jepang, Davina Mariskova berpendapat, "Saya pikir blogger Indonesia saat ini mempunyai kemerdekaan berekspresi yang seluas-luasnya. Para blogger bisa menulis apa saja yang mereka mau, bagaimana mereka mau menuliskannya. Dan memang tidak ada aturan-aturan mengenai bagaimana seorang blogger harus menulis kan?" Wanita kelahiran Jakarta 8 Maret 1975 ini kemudian melanjutkan,"Saya justru lebih tertarik pada cara pembaca blog memberi reaksi atau komentar sebagai satu hal yang membatasi kemerdekaan seorang blogger. Seringkali komentar-komentar itu tidak pada tempatnya, tidak mencerminkan etika (seringkali juga pendidikan) yang baik bahkan terkadang picik dan seringkali mematikan kreatifitas dan ide seorang penulis blog. Sebagai contoh: 'komentator' pada blognya Angelina Sondakh yang menyebut tulisan Angelina itu panjang tak fokus dan membosankan. Kalau membosankan, ya sudah, tinggalkan saja. Tidak perlu disambangi lagi. Meski panjang, tak fokus, membosankannya sebuah blog, itu sudah merupakan hak berkreasi pemilik blog. Tapi toh para komentator itu balik lagi dan kembali mengomentari tulisan yang lain dengan celaan dan hinaan, tidak perduli isi tulisannya. Lalu ketika Pak Juwono Sudarsono menulis blog menggunakan bahasa Inggris, para komentator sibuk mengomentari penggunaan bahasa Inggris Pak JS di blognya, yang menurut saya hal ini juga sudah urusan pemilik blog mau menggunakan bahasa apapun yang ia inginkan. Kalau
seorang blogger boleh menggunakan bahasa daerah, mengapa seorang blogger yang lain tidak boleh menggunakan bahasa asing? Kira-kira begitulah saya melihat kemerdekaan seorang blogger dalam berekspresi. Walaupun tidak ada atau belum ada aturan hukum yang melarang atau menyensor tulisan jenis tertentu, seringkali batasan kemerdekaan itu datang dari pembacanya sendiri. Dalam hal tertentu, batasan kemerdekaan ini bisa dimaklumi karena ketika sebuah tulisan dipublish di blog, maka tulisan itu menjadi milik umum. Semua orang bisa lihat dan baca. Semua orang bisa merasa tak seide, tersinggung karenanya.Dalam hal ini blogging sama seperti berbicara langsung dengan orang lain: diperlukan etika untuk menyampaikan sesuatu tanpa menyinggung pihak yang diajak bicara. Saya pikir, disisi ini lah tanggung jawab dan sekaligus juga tantangan seorang blogger. Bagaimana seorang blogger bisa dengan jujur dan tajam menuliskan pikirannya, namun pada saat yang sama tetap menempatkan etika penuturan."

"Menurut saya Indonesia sangat membebaskan masalah kegiatan berekpresi ini. Entah membebaskan atau memang tidak peduli, tapi kenyataanya belum ada peraturan yang membatasi kegiatan blogging," demikian ungkap Heri Susanto seorang blogger yang berprofesi sebagai R & D Engineer di PT.Daun Biru Engineering. "Kasus Herman," tambah pria kelahiran Yogyakarta 4 Oktober 1980 ini, "menjadi penting karena menjadikan kita tersadar mengenai adanya isu kebebasan berekpresi. Saya sendiri merasa bersyukur Herman dipanggil ke kepolisian untuk mepertanggungjawabkan postingannya. Ini berarti bahwa blog sudah 'dilirik' oleh aparat."

Senada dengan Heri, Oktavianus Ken Manungkarjono seorang blogger yang berprofesi sebagai web developer berpendapat,"Menurut saya kemerdekaan berekspresi melalui blog di Indonesia sudah sangat baik bila dibandingkan dengan negara lain seperti Cina di mana pemerintahnya sangat ketat dalam melakukan sensor terhadap materi-materi yang dipublikasikan di Internet. Belajar dari kasus Herman Saksono, sebenarnya hanyalah suatu kesalahpahaman persepsi. Herman, sambung lelaki kelahiran Cirebon, 25 Oktober 1979 dan akrab dipanggil Kenz ini, "hanya mengekspresikan kreativitas dengan niatan untuk menghibur dan sebagian penerima pesan juga berpersepsi demikian. Sayangnya ada satu-dua pihak yang menyalahartikan ekspresi tersebut sebagai suatu penghinaan kepada suatu lembaga pemerintahan yaitu Presiden RI. Herman memiliki hak untuk berekspresi secara merdeka, dan pemerintah juga punya hak untuk merdeka dari pelecehan. Kedua hak ini pada akhirnya berbenturan sehingga menimbulkan konflik diantara kedua belah pihak. Kasus ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak ada kebebasan/kemerdekaan mutlak dalam suatu sistem sosial masyarakat karena selalu ada batasan-batasan agar tidak terjadi benturan antar hak yang dimiliki setiap orang."

Sementara itu, Linda Astuti yang saat ini bekerja sebagai staff Personnel & General Affair disebuah perusahaan swasta berkomentar, "Kemerdekaan berekspresi melalui blog khususnya di Indonesia atau di belahan dunia manapun harus tetap bertanggung jawab. Sudah semestinya apa pun yang kita ekspresikan dalam blog tidak boleh menyinggung ataupun menghina perasaan siapapun. Memang blog sebagai media seseorang untuk mengekspresikan apa yang diinginkan sang pemilik. Karena siapapun bebas mengakses masuk dan membaca sebuah blog, untuk itu perlu dipikirkan kembali oleh para pemilik blog untuk tetap bertanggung jawab atas postingan atau apapun bentuknya yang ia ekspresikan melalui blognya."

"Blog sebagai tempat kita menaruh catatan, cerita, keluh kesah, serta berbagi informasi sudahlah sewajarnya menjadi hak penuh sang pemilik informasi atau pemilik blog," tegas Rendy Maulana seorang blogger yang tercatat sebagai mahasiswa SBM-ITB. Rendy menambahkan, "ibaratnya kita ada di rumah sendiri, jadi bisa untuk menentukan apa saja yang hendak kita tuliskan disana. Semakin bebas ekspresinya semakin baik, jadi orang lain bisa tahu karakter kita itu seperti apa. dan juga lebih mudah untuk orang lain mengenali diri kita selanjutnya ya terserah."

Pada kesempatan lain, Johan Octario Menajang seorang blogger yang berprofesi sebagai peneliti dan akrab dipanggil Rio ini menyatakan, "Kebebasan berekspresi (lewat blog ataupun secara umum dengan media lainnya) haruslah diakui sangat jauh di banding sebelum jamannya reformasi. Dalam berbagai diskusi tentang proses demokratisasi, imbuh lelaki kelahiran Jakarta 22 Oktober 1960 dan akrab dipanggil Rio ini, "suatu hal yang tidak terbantah adalah bahwa Reformasi telah memberi kebebasan mengemukan pendapat yang sangat luar biasa. Bahkan ada yang menyebut bahwa cuma itu saja capaiannya."


Blog dan Etika Ruang Publik

Berbicara mengenai apakah ada batasan tersendiri dalam kemerdekaan berekspresi lewat blog, Linda yang tahun silam dinobatkan sebagai Blogfam Girl menandaskan, "Setiap orang bebas mengekspresikan dirinya melalui blog tapi tetap bertanggung jawab. Bahasa yang digunakan tidak harus baku, tapi tetap harus menjunjung tinggi etika tanpa harus menyinggung ataupun menghina perasaan orang lain. Batasan tersebut tidak akan mengusik kemerdekaan berekspresi sang blogger. Dalam dunia ini, ungkap Linda yang menggemari warna hijau ini, "sudah pasti ada pro dan kontra apapun masalahnya. Untuk itu saya berusaha untuk selalu memegang prinsip bahwa apa yang saya ekspresikan dalam blog tidak akan pernah menyinggung ataupun menghina orang lain. Karena blog merupakan media pembelajaran bagi saya pribadi. Sejauh ini tidak ada kendala yang saya temui bila menulis di blog."

Secara bijak, Rendy berkomentar,"Kita hidup tidak sendiri, internet besar karena adanya partisipasi dari
orang-orang yang ingin berkontribusi dan ingin mengambil keuntungan dari orang-orang yang berada di internet. Begitupula blog, batasannya ya hak orang lain, jangan sampai kita memerkosa hak orang lain di blog kita, jika
kita merasa diperkosa haknya, kita boleh membalasnya, sebaiknya membalas hal semacam itu ya di blog miliknya sendiri, jangan malah jadi debat kusir di comment system. Kalau saya pribadi," tambah Rendy yang menekuni hobi bisnis, blog dan IT ini, "saya berusaha untuk tetap obyektif dan menyerahkan hasil tulisan saya kepada pembaca, entah itu mau dijegal atau tidak ya silakan saja. Dari sana saya bisa tahu batasan atau etika yang seharusnya saya pakai dalam menulis blog. Jika kita telaah lebih jauh, kita pun tidak ingin diusik kemerdekaannya jikalau orang lain menjelek-jelekkan diri kita. tentunya kemerdekaan kita dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. tetapi salah satu musuh yang paling besar dalam mengusik kemerdekaan ngeblog adalah Anda sendiri. Apakah Anda punya waktu untuk menulis blog? Apakah Anda orangnya mut mut an (mood -red)" dalam menulis blog? Apakah Anda ingin punya blog untuk sekedar gaya? Hal-hal seperti itu yang paling menjadi kendala dalam menulis blog.
Kalau saya sendiri, mencoba mengatasi itu dengan blog walking, banyak banyak membaca berita dan jalan-jalan, Insya Allah akan ada ide baru dalam menulis blog."

Sementara itu, Davina bertutur,"Tulisan yg dipublish di blog menurut saya sudah menjadi milik umum. Semua orang bisa membaca tulisan tersebut. Walaupun seorang blogger punya hak dan bebas merdeka menulis apapun yang ia mau, sejujur apapun yang ia mau, ia tidak berhak menyakiti perasaan orang lain. Apalagi kalau dalam tulisan itu blogger tersebut menyebutkan nama/pihak lain. Dalam hal ini blogging sama seperti berbicara langsung dengan orang lain: diperlukan etika untuk menyampaikan sesuatu tanpa menyinggung pihak yang diajak bicara. Saya pikir, di sisi ini lah tanggung jawab dan sekaligus juga tantangan seorang blogger. Bagaimana seorang blogger bisa dengan jujur dan tajam menuliskan pikirannya, namun pada saat yang sama tetap menempatkan etika penuturan. Definisi kemerdekaan menulis blog buat saya," tambah Davina yang berprofesi sebagai Freelance Writer dan Stay at Home Mom ini, "berarti bisa menulis topik apapun dari sudut pandang manapun yang dimiliki oleh seorang blogger dengan satu batasan saja. Batasannya? Kemerdekaan saya itu tidak menyinggung perasaan pihak lain. Ah, saya juga tidak senang disinggung orang lain di satu 'media' yang bisa dibaca jutaan orang. Apakah batasan ini mengganggu kemerdekaan berekspresi? Tidak juga. Seperti seorang Will Smith pernah berkata, (kira-kira) walaupun dia menyanyi rap dengan bebasnya, sampai saat ini dia tidak perlu menggunakan makian apapun dalam lagunya. Dan dia tetap bernyanyi, lagunya tetap enak didengar, penggemarnya pun tetap membludak. Saya sendiri sampai sejauh ini tidak pernah menuliskan nama jelas orang/teman pada tulisan-tulisan saya yang menceritakan kembali kejadian/pengalaman tertentu. Hal ini saya lakukan karena saya tidak tahu apakah teman/orang tersebut berkenan melihat namanya tercantum jelas di tulisan saya. Saya tidak tahu apakah mereka akan merasa malu atau cuek saja bila nama mereka ada disitu. Untuk itu saya menghindari menuliskan nama mereka. Memang, pengalaman itu milik saya. Tapi disitu juga ada hidup teman saya. Setiap kali saya menulis di blog, saya berusaha sejujur mungkin dalam menuangkan ide. Tapi selain itu saya juga selalu berusaha memakai empati. Bila saya pikir satu kalimat saya akan membuat saya sakit hati, mungkin hal itu juga membuat orang lain sakit hati. Saya percaya ada banyak cara untuk menuliskan suatu kalimat seperti juga ada banyak jalan ke Roma. Yang diperlukan hanya latihan, latihan, dan latihan menulis."

"Saya rasa semua hak memiliki kewajiban, dan semua kebebasan mengandung tanggung jawab," ujar Kenz. "Jadi sebagai seorang pemegang hak," tambah lelaki penggemar olahraga hiking, naik gunung dan traveling ini, "kita juga harus berkewajiban untuk menghargai hak-hak orang lain. Bagi penulis blog yang menulis tentang dirinya sendiri, saya kira tidak ada masalah, namun bagi blog yang cenderung menulis tentang hal-hal yang di luar dirinya terkadang memiliki potensi melanggar hak-hak orang lain seperti misalnya menjelek-jelekkan orang lain, menghina suatu pendapat pribadi, memfitnah, dan menyebarkan kabar bohong. Nah, etika yang perlu dimiliki oleh penulis blog yang pertama adalah niatan baik yang jujur, yang kedua adalah menghargai hak-hak orang lain, dan yang ketiga adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Meski begitu, batasan-batasan itu mesti ada, dan tentunya akan sedikit membatasi kemerdekaan berekspresi bagi sang blogger. Saya sendiri belajar dari pengalaman-pengalaman lalu untuk menentukan sejauh mana batas pagar saya dirikan, terutama jika saya menulis tentang orang lain. Saya selalu memperhatikan efek pesan yang saya tuliskan di blog saya, apakah ada pembaca yang komplain karena terlanggar hak-haknya ataukah tidak? Jika tidak ada yang komplain berarti saya masih berada dalam batas-batas aman, sedangkan jika ada komplain maka saya akan melihat apakah ada hak-haknya yang terlanggar. Jika saya merasa tidak ada hak-haknya terlanggar maka saya akan tetap mempublikasikannya, namun jika memang benar ada, saya akan meminta maaf dan melakukan editing seperlunya."

"Batasan ekspresi di blog tidak akan berbeda dengan batasan kepatutan umum yang berlaku dalam masyarakat. Kalau kita merasa bahwa adalah tidak patut untuk menjelekan atau menghina seseorang dimuka umum (terlepas dari kedudukan publiknya) maka begitu juga di blog batasan yang sama berlaku," tutur Rio. Lebih lanjut pria yang menyandang gelar Master of Business and Finance Development ini menambahkan, "Blog tidak lebih dari cerminan masyarakatnya, mungkin cerminan ini agak mengalami distorsi karena mereka yang menggunakannya memiliki akses terhadap fasilitas yang relatif canggih untuk bangsa ini. Sehingga sifat 'global' dengan kebebasan sebagai nilai utamanya akanterasa lebih kuat. Jadi akan menarik untuk diamati tarik menarik antara kekuatan etika liberal barat berhadapan dengan etika puritan yang juga sangat aktif menggunakan media ini. Interaksi ini yang akan mempengaruhi etika umum yang diterima oleh para blogger, dan selanjutnya hal ini bisa saja mempengaruhi masyarakat lebih luas yang tidak tersambung dengan blog dan internet."

Secara lugas Heri mengungkapkan ilustrasi singkat mengenai batasan berekspresi di blog. "Kita adalah bangsa yang berbudaya," ujar pria yang mengaku hobi foto-foto, main gitar walaupun gak mahir, naik gunung dan pacaran ini, "meski sudah banyak terkikis tapi masih ada. Kalau di jalan kita nggak bisa teriak-teriak ANJING LO! tanpa dilirik sinis oleh orang-orang. Itulah sanksi budaya yang harus diterima. Walaupun sebenarnya ingin memberitahu bahwa anjing teman kita hilang, kita bisa bicara pelan dan lengkap: "Hei teman, anjingmu hilang!" Demikian juga dalam ngeblog. Blog akan tetap online dan bisa dilihat orang banyak."

Dari kacamata hukum, Wahyu mengungkapkan tidak perlu "payung hukum" untuk Blog. "Karena sepengetahuan saya," kata lelaki yang juga membuka praktek konsultasi hukum di Jl. Mandar Utama DC XI No. 19 Sektor 3 A Perumahan Bintaro Jaya - Jakarta Selatan ini, "blog adalah journal hidup si penulis yang bisa dibaca oleh orang umum. Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya, karena blog masuk dalam ruang publik maka sudah sepatutnya penulis blog menghormati norma-norma tentang hak-hak orang lain. Di Indonesia sudah banyak peraturan-peraturan yang mengakomordir kemerdekaan berekspresi. Manfaatkan yang sudah ada. Jangan lagi menciptakan hukum yang nanti malah akan bertentangan dengan hukum yang lain."

Blog dan Peran Pemerintah

Mengenai posisi pemerintah--khususnya Departemen Menkominfo--dalam mengakomodir perkembangan blog di Indonesia, Ken berkomentar, "Pemerintah tidak perlu menjadi paranoid dengan keberadaan blog, tidak perlu UUB (undang-undang khusus per-blogan) karena hanya akan menghabiskan anggaran uang milik rakyat. Saya rasa undang-undang hukum saat ini sudah bisa melindungi hak-hak orang, baik melalui pasal pencemaran nama baik ataupun melakukan hal perbuatan yang tidak menyenangkan."

"Anda pasti paham bahwa DEPKOMINFO merupakan badan yang merumus kebijakan nasional baik dalam pelaksanaan maupun teknis di bidang komunikasi dan informatika yang meliputi pos, telekomunikasi, penyiaran, teknologi informasi dan komunikasi, layanan multimedia dan diseminasi informasi. Sebagai badan yang merumus kebijakan sudah barang tentu DEPKOMINFO patut dan sewajarnya megakomodir fenomena blog di Indonesia selama tidak mengekang kemerdekaan ekspresi tersebut. Posisi yang tepat mungkin menjadi penjamin bagi sang penulis blog. Misal dalam kasus Herman Saksono vs SBY. Dalam kasus ini seharus DEPKOMINFO banyak turut bermain menjadi juru penerang, bagaimana dan apa itu blog kepada penyidik sehingga tidak ada lagi "herman-herman" yang lain yang mengalami hal sama," demikian tutur Wahyu panjang lebar.

"Menterinya mesti lebih minat dengan teknologinya, tidak pada kebebasan dan ekspresinya," tegas Rio. Ia lalu menambahkan, "Bahwa internet bisa menjadi tulang punggung untuk memerdekakan masyarakat dengan cara yang relatif murah rasanya tidak pernah terpikirkan. Untung saja menteri belum sampai berfikir ingin seperti RRC yang bisa secara efektif mensensor internet (termasuk blog) sampai Yahoo dan Google harus kerepotan (menghadapi tekanan di RRC dan public AS untuk sikap berbeda tentang ini)."

Pada kesempatan lain, Heri yang juga adalah alumni Teknik Elektro ITB, dengan gaya komentarnya yang khas menandaskan, "Saya kurang tahu bagaimana kebijakan Menkominfo. Tapi menurut saya, pembatasan itu tetap perlu ada. Apalah artinya kebebasan satu orang kalau menginjak kebebasan orang lain. Seperti halnya demo di bunderan HI sampai memenuhi jalan, berkoar-koar tentang kebebasan berpendapat, sambil membuat 'kebebasan' pengguna jalan jadi terhalang? Kalau orang jawa bilang, ngono yo ngono tur ojo ngono artinya : Begitu ya begitu, tapi mbok jangan begitu, atau kalau di stiker tahun 90-an Bebas tapi Sopan. Terus kalau pendapatnya tidak disetujui orang lain dan diprotes, ya jangan marah-marah. Alasannya aku mo ngapain di rumah gue ya terserah gue dong. Ini kan jadi ironis, karena walaupun blog itu adalah rumah, tapi tetap tidak mirip dengan rumah, terutama dalam hal transparansi tembok."

"Wah, jujur saja, saya tidak tahu banyak tentang departemen (Depkominfo,red) ini (dan tidak mengerti alasan kenapa sebuah blog harus diatur perkembangannya). Tapi kalau saya bisa menyederhanakan logika, saya lebih memilih tindakan hukum yang sudah ada bila ada orang yang keberatan dengan isi suatu blog. Misalnya dengan menggugat penulis blog dan membawanya ke pengadilan," tukas Davina yang kerap mengunjungi blog http://negeri-neri.blogspot.com dan http://ndobros.blogdrive.com ini.


Blog dan Mainstream Media

Blog telah menjadi salah satu media alternatif untuk menyuarakan ekspresi dan aspirasi diluar "main-stream" media-media konvensional yang lebih dulu ada. Premis ini sangat diyakini kebenarannya oleh Rio. Menurutnya, "Walau memang model perkembangannya di Indonesia tidak akan serupa dengan yang telah terjadi di negara maju seperti AS dan Eropa Barat. Justru kekuatan curhat ini yang dahsyat, berbeda dengan media konvensional (MSM/MainStream Media) yang terasa semakin impersonal. Wajah personal dan hati yang tercermin dalam sebuah blog justru lebih mampu menyentuh dan merubah persepsi dan opini."

Lebih lanjut lelaki yang mengaku memiliki hobi banyak dan tak jelas ini menambahkan,"Persepsi dan opini yang dimiliki oleh orang banyak ini yang membentuk opini publik.Perkembangan di negara maju justru formatnya tidak dikotomis antara MSM vs blog, tetapi justru arahnya adalah konvergensi (pertemuan) antara keduanya. Perhatikan gerakan Rupert Murdock untuk terjun menguasai berbagai media internet, sisi lain juga perhatikan Microsoft yang menggaji seseorang blogger. Opini publik penting untuk setidaknya dua persoalan, politik dan pasar. Peran Blogger misalnya sangat besar saat pemilihan presiden AS terakhir, misalnya keberhasilan Howard Dean menjadi calon serius hampir 100 % dialamatkan pada kekuatan warga internet mendukungnya.Hal ini memang belum akan terasa di Indonesia saat ini, mungkin karena angka penetrasi internet yang masih sangat rendah."

Hampir senada dengan Rio, Kenz berkomentar,"Bisa saja blog menjadi kekuatan yang dasyat dalam mempengaruhi opini publik, contohnya adalah blog milik Pak Priyadi. Semangat solidaritas dan motivasi afiliasi yang tinggi bisa jadi merupakan kekuatan dasyat untuk mempengaruhi opini publik, namun terkadang kedua hal itu "membutakan orang" sehingga malas berpikir kritis sama halnya seperti orang yang berlari ketakutan karena isu tsunami, orang-orang yang melihat orang berlari itu kemudian ikut-ikutan lari tanpa tahu apakah itu adalah suatu kebenaran atau kebohongan. Hal ini cukup membahayakan, apalagi jika para pembaca blog adalah orang-orang berpendidikan rendah yang ikut kemana arus mengalir. Oleh karena itu, saran Ken, blogger dan pembaca blog sebaiknya mulai 'mawas diri'. Blogger penulis blog harus memegang prinsip kejujuran meskipun membawa kebenaran subyektifitas, begitu pula dengan pembaca blog harus semakin kritis untuk melihat apakah kebenaran yang disampaikan blogger memang dapat dipercaya atau tidak. Pembaca blog yang bijak tentunya akan membanding-bandingkan informasi yang didapatkan dalam suatu blog dengan informasi-informasi lainnya untuk dijadikan referensi dalam bersikap."

"Blog adalah media baru, meski baru sebagian kecil dari masyarakat indonesia yang memiliki blog, sudah banyak orang yang membuktikan kekuatan blognya dalam menuntut haknya sebagai konsumen, disini, konsumen (blogger) dapat berbicara lebih banyak," tutur Rendy. "Beberapa blogger kondang seperti Priyadi juga bisa mempengaruhi opini publik. Sudah saatnya kepada media konvensional, pengusaha, dan pemerintah untuk aware terhadap blogger, suara-suara kecil tapi lantang bisa membuat keadaan ekonomi dan politik berubah," tambahnya bersemangat.

"Menurut saya, blog bisa memiliki kekuatan yang cukup dashyat dalam mempengaruhi opini publik," kata Linda. "Contoh seperti kasus yang dialami Tiara Lestari. Melalui blognya ia bercerita tentang pengalamannya dan seperti biasa selalu ada yang pro dan kontra. Namun saya salut pada Tiara Lestari bisa tetap positive thinking pada mereka yang berkata kasar dan kotor dalam berkomentar di blognya. Justru malah mereka yang merasa dekat dengan Tiara Lestari yang jadi risih membaca komentar-komentar yang kasar dan kotor tersebut."

Untuk topik yang sama, Heri memaparkan sebuah analogi, "Coba kita umpamakan media sebagai sebuah hutan yang luas, dimana media mainstream adalah pohon kulit keras, dan blog adalah tumbuhan bunga dan semak belukar. Maka pertanyaan Anda akan menjadi seperti bertanya : apakah bunga di hutan ini akan mempengaruhi kondisi, iklim, dan popularitas sebuah hutan? Ya kita lihat saja bagaimana kekuatan bunga-bunga ini. Kalau banyak bunga-bunga indah dan menarik, ya tentu saja hutan menjadi menarik dan membuat orang tertarik datang. Sebaliknya, kalau bunganya hanya semak-semak generik yang biasa-biasa saja ya hanya jadi pengisi di sela-sela pohon saja." "Maka," kata Heri yang menjuluki blognya Kodok Ngerock ini, "kalau bisa jadi bunga yang menarik kenapa harus jadi semak-semak? Bunga yang berkumpul juga lebih menarik perhatian dibanding bunga yang tersebar-sebar. Makanya perlu banyak komunitas blog, aggregator-aggregator bertopik, agar orang bisa melihat taman-taman bunga dan menikmati keindahannya."


Ragam Komentar di Blog

Berbicara soal pengalaman berblog-ria, baik Rio, Kenz, Wahyu, Linda, Heri dan Rendy nyaris punya kisah serupa. "Pernah suatu kali saya posting yang disertai sebuah gambar yang mengilustrasikan mengenai postingan tersebut," tutur Linda. "Tapi saya," lanjutnya lagi," mendapat komentar bahwa gambar yang saya tampilkan itu tidak layak untuk ditampilkan dan sudah selayaknya gambar tersebut dihapus. Sempat shock juga waktu pertama kali membaca tapi saya berusaha untuk berbesar hati dan sebagai masukan untuk saya di posting berikutnya lebih selektif memilih gambar untuk mengilustrasikan isi cerita."

"Komentar-komentar di blog saya sangat beragam, ada celaan dan ada dukungan, dan dari situlah saya berproses terus. Namun ada juga pengalaman yang tidak enak yaitu ketika saya menulis tentang sHa," kisah Kenz. "Banyak komentar yang mencela pendapat saya. Saya heran, bukankah saya bebas menyatakan pendapat pribadi karena saya mengalami dan merasakannya sendiri tentang sosok sHa. Saya bukan tipe orang yang ikut-ikutan dengan pemberitaan yang tidak jelas, dan saya akhirnya menentukan pendapat saya tentang sHa. Anehnya saya malah dicela dengan makian tak jelas karena berbeda dengan mereka, dari sinilah saya berpikir bahwa kebebasan berekpresi terkadang ditekan oleh orang-orang tidak bisa menghargai pendapat orang lain. Hal ini terjadi juga ketika saya menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan saya pribadi. Ada saja orang yang merasa hanya ada satu kebenaran absolut di dunia ini. Dari pengalaman-pengalaman itu saya belajar bahwa banyak orang belum siap dengan perbedaan cara pandang sehingga bersikap arogan dan tak mau saling menghargai pendapat orang lain."

"Blog-ku isinya agak-agak abstrak, jadi mungkin, sedikit yang tercerahkan," ungkap Heri membagi pengalamannya ngeblog. "Apalagi," katanya,"saya sering menulis dengan metode 'Reverse psychology", mendorong kebelakang agar orang berpikir kedepan. Seperti karena sudah sebel dengan tulisan amburadul, saya bikin sekalian "Simple ABG text generator", dan setelah postingan itu ternyata jumlah text model itu jadi berkurang cukup drastis :). Alhamdulillah. Yang lain adalah belajar membuat hoax sendiri, yang tulis cara membuat hoax dan ternyata banyak orang yang jadi mengerti dan tercerahkan dan membuat hoax yang terkirim di milis-milis agak berkurang. Tapi ya tidak ada data pasti mengenai korelasi postingan saya dengan jumlah hoax beredar :).

"Ada yang merasa tercerahkan, ada yang mencela,kadang ada yang menteror. Untuk yang terakhir ini saya abaikan saja," ujar Rendy menanggapi posting di blognya. Ia lalu menambahkan,"jika saya ingin bebas berekspresi di blog saya, mengapa orang lain tidak, ya saya berikan ruang untuk komentar dan shoutbox, silakan di isi. Tentunya dengan hal yang bijak. Saya tidak butuh pandangan sepihak baik, yang saya minta hanyalah pandangan dari banyak sisi dari orang-orang, tentunya itu untuk koreksi diri saya sendiri, ataupun isi dari postingan yang saya tuliskan."

"Saya belum pernah mengalami ada orang yang merasa dirugikan oleh blog saya, tapi ada juga beberapa komentar yang menyakitkan hati, tapi saya menanggap itu sebagai suatu proses menuju perbaikan diri. Maksudnya, saya tidak bisa mengharapkan semua pembaca blog saya seide dengan saya. Lalu, ada juga pembaca blog yang menangkap pesan yang berbeda sama sekali dari pesan asli tulisan saya dan kadang mereka bereaksi keras terhadap tulisan saya. Ya, hal itu saya anggap sebagai input. Berarti tulisan saya masih ada biasnya dalam bertutur," ucap Davina. Wanita yang mengaku memiliki hobi sleeping, reading dan writing ini menambahkan," Ada satu hal yang paling berkesan dari pengalaman blogging ini. Saat ini saya tinggal di satu kota kecil di Jepang. Kota ini begitu kecil (dan kurang terkenal) sehingga kalau kita mencari informasi lewat search engine, hasilnya ya kurang maksimal. Tapi di kota kecil ini pula berdiri sebuah fakultas dari salah satu universitas terkenal di Jepang. Beberapa waktu lalu, ada beberapa orang mahasiswa asing yang akan menjadi mahasiswa baru di universitas/fakultas ini. Ketika kami berkesempatan untuk bertemu mereka, beberapa mahasiswa asing ini tiba-tiba menyapa saya. Mereka bilang mereka mengenali saya dari blog saya! Memang sering kali saya menceritakan tentang kota ini di blog saya. Mereka bahkan mengenal nama suami dan anak saya sebelum datang ke kota ini. Mereka mengaku mengenal lebih jauh tentang kota ini dari blog saya. Lucunya, mendengar itu saya malah jadi nervous. Bangga sih, tapi lebih banyak gamangnya. Malah saya sempat tidak bisa menulis apa-apa di blog. Mau pakai bahasa Indonesia juga tidak bisa karena ada mahasiswa Malaysia yang mengerti benar bahasa kita. Kalau ingat kejadian itu lucu juga. Sampai sekarang saya masih belum terbiasa kalau bertemu langsung dengan pembaca blog saya. Saya akan merasa ada butterflies in my stomach kalau ada orang yang 'mendiskusikan' blog saya di depan saya. Rupanya saya belum siap untuk dikenal sebagai blogger."

Sementara itu Wahyu bercerita,"Banyak postingan blog saya yang dianggap 'buruk' oleh visitor tapi ada juga yg merasa tercerahkan. Kesemuanya itu saya kembalikan lagi kepada si pembaca itu sendiri karena toh itu kan' blog saya. Saya mau nulis apa terserah dong, selama tidak nyinggung perasaan or kehormatan si pembaca. Kalaupun si pembaca merasa tersinggung tinggal beritahukan ke saya dan nanti akan dimuat dalam blog saya."

"Sebagai blogger aku ini tidak sukses atau belum sukes lah," aku Rio merendah."Setidaknya aku gak pernah di caci-maki orang, terlebih lagi gak pernah dipuji orang. Komentar yang masuk standar-standar aja tuh. Makanya ikutan BlogFam inginnya menimba ilmu," tambahnya menutup perbincangan. *** (amril)

Posted on August 6, 2006 12:54 AM |
 Lainnya: