Artikel:

Lily Yulianti Farid: Ketika Ketakutan Berekspresi Itu Tidak Ada Lagi ...

Dalam rubrik bz! Tamu edisi Hari Kemerdekaan ini kami menghadirkan seorang tamu yang belakangan hari dikenal cukup aktif dengan kegiatan Citizen Journalism, sebuah aktifitas yang amat lekat dengan urusan berekspresi dan berpendapat di internet. Lily Yulianti Farid, tamu kita ini sehari-hari bekerja sebagai language specialist di markas Radio NHK di Tokyo, Jepang.

Lily juga aktif sebagai kontributor di ohmynews.com, sebuah portal citizen journalism asal Korea Selatan yang kini memiliki lebih dari 34 ribu kontributor di Korea Selatan dan lebih dari seribu kontributor di 61 negara. Sebuah pencapaian luar biasa untuk portal Citizen Journalism, sekaligus menunjukkan bahwa dewasa ini telah muncul sebuah fenomena menarik dalam dunia jurnalistik mainstream. Pengalaman di ohmynews inilah yang memicu mantan wartawan Kompas itu untuk juga merintis portal serupa di kampung halamannya, Makassar. Bersama dengan kawan-kawan asal Makassar yang tengah sekolah atau bekerja di luar negeri, Lily mendidik sejumlah anak muda Makassar secara online dan hasilnya mewujud pada situs Panyingkul.com yang mengusung prinsip Jurnalisme Orang Biasa.

Pemegang gelar Master of Gender Studies dari University of Melbourne ini kami ajak berbincang tentang berbagai macam hal. Dimulai dari pandangannya tentang kebebasan berekspresi di blog dan juga internet pada umumnnya, pembicaraan kemudian berkembang kepada tentang citizen journalism yang kini menjadi sebuah fenomena baru di internet dan bagaimana orang biasa sebenarnya punya potensi untuk memunculkan sesuatu yang baru dan belum tentu bisa dilakukan oleh media mainstream, dan bagaimana para blogger sebenarnya menyimpan potensi untuk juga terjun ke bidang ini. Lily juga berbagai sebuah pengalaman berharga ketika ia dan kawan-kawannya merintis citizen journalism di Makassar dan juga tentang blognya yang beralamat di myfawwaz.multiply.com. Selamat membaca..


:: Kalau bicara soal kemerdekaan berekspresi, orang di Indonesia sudah bebas melakukannya. Tapi masih ditemui ada beberapa kasus. Kasus Herman Saksono, misalnya sering dijadikan acuan jika sudah dikaitkan dengan kemerdekaan berekspresi di blog. Bagaimana anda memandang kemerdekaan berekspresi melalui blog ini?

Saya lebih melihat kepada isi itu sendiri. Kita tidak bisa melarang orang untuk dengan bebas mengartikan kebebasan itu sendiri. Kalau lihat di internet, misalnya, bagaimana orang dengan bebas melakukan editing terhadap pidato-pidato Bush kemudian memuatnya kembali, tentu ini rekayasa. Salah satu contohnya adalah film pendek Endless Love versi Bush sama Blair yang beredar di YouTube. Itu luar biasa penghinaannya terhadap kedua kepala negara itu. Saya belum pernah dengar ada keberatan dari George Bush sendiri dan si pembuatnya sampai berurusan dengan yang berwajib. Itu saya kira mirip dengan kasus foto Bambang dan Mayangsari di mana gambar Bambang di crop dan diganti dengan gambar SBY. Itu kebebasan yang diterjemahkan oleh si pelakunya sebagai "apapun yang akan saya lakukan, ya suka-suka saya dong. Lha ini blog saya sendiri kok, nggak ada yang ngelarang."

Nah saya lebih melihatnya pada kebebasan dengan membandingkan bahwa kita dulu itu nggak boleh mengkritik pemerintah. Sekarang orang merasa lebih bebas dan tidak ada beban. Kalau sedikit aja tindakan pemerintah membuat kita marah sebagai rakyat, orang menulis di blognya dan itu sudah umum sekarang. Saya pribadi dalam percakapan dengan para penulis yang rutin memajang pendapat-pendapat mereka, mereka merasa bahwa inilah yang dimaksud dengan kebebasan itu, dimana tidak ada lagi ketakutan untuk menyatakan pendapat. Ini mesti dipisahkan dengan kebebasan yang kemudian diartikan sebebas-bebasnya. Artinya bisa berekspresi sedemikian rupa, tapi bisa berujung pada pencemaran nama baik misalnya, atau tersangkut pada undang-undang dan peraturan yang berlaku. Itu beda lagi konteksnya.


:: Ini menarik karena pada akhirnya kita bicara kebebasan yang pada konteksnya. Ini mengingatkan pada masa lalu dengan istilah kebebasan yang bertanggung jawab nya. Suatu istilah yang orang tidak tahu hanya karena konteks pada masa lalu.

Ya itu dulu karena kita tidak diberi peluang untuk berbeda. Ketika pemerintah bilang kebijakan ini bagus, maka semua media mengatakan kami mendukung pemerintah. Opini publik yang terbentuk pun mengatakan itu. Para ahli, peneliti dan akademisi ikut juga mendukung. Banyak sekali contoh dimana ketika pemerintah Orba mengatakan ini bagus untuk pembangunan kita, semua orang di segala sektor mengatakan itu yang bagus, karena memang tidak ada tempat untuk berbeda. Nah saya kira konteks kebebasan sekarang adalah orang tidak punya beban dan ketakutan apapun ketika pendapat mereka berbeda.


:: Tapi etika harus tetap ada kan?

Ya harus tetap ada. Misalnya kita gerah dengan kondisi bahwa Indonesia adalah salah satu negara terkorup, berarti kalau kita mau menuding orang sebagai koruptor atau terkait dengan kasus korupsi besar, kita juga harus tetap ikut prosedur yang berlaku bahwa kita punya bukti cukup, data pendukung sehingga bisa tunjuk hidung bahwa si ini koruptor misalnya.


:: Jadi suka atau tidak suka, tetap saja kebebasan memerlukan tanggung jawab tersendiri. Tapi masalahnya, ketika kini semua orang bisa memiliki media seperti blog, di mana unsur tanggung jawab itu harus diletakkan? Bayangkan semua lapisan masyarakat bisa melakukannya dan belum tentu mereka memahami prinsip keseimbangan dalam menuliskan laporan dan sebagainya? Jadi tanggung jawab paling dasar seperti apa yang harus dimiliki seorang blogger yang mengaku ingin berekspresi secara bebas?

Saya kira ada nilai-nilai yang berlaku secara universal dalam kita bertindak. Membuat blog dan kemudian aktif sebagai blogger hanyalah salah satu dari bentuk tindakan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi dan kemudahan revolusi teknologi informasi itu sendiri. Tapi nilai universal itu harus tetap menjadi pegangan. Nilai universal yang saya maksud ini adalah bahwa orang tetap harus menjunjung respek terhadap orang lain. Itu yang paling penting. Jadi kalau kita punya sikap menghargai orang lain, maka sikap kritis yang dimunculkannya akan berbeda outputnya.
Ini akan berbeda dengan kalau misalnya kita sekedar ingin menjelek-jelekkan orang. Kadang penuh asumsi, kadang berdasarkan kabar yang belum tentu benar dan itu jadi lebih bersifat sepeti rumor daripada informasi yang kemudian bisa menjadi rujukan.


:: Tapi bisakah dibuat pembenaran bahwa tidak semua orang bisa menerapkan prinsip itu. Bukankah itu blog mereka dan itu adalah ekspresi mereka?

Menurut saya kita tidak berada dalam posisi untuk menghakimi bahwa itu bisa dibenarkan atau tidak. Karena tidak ada lagi orang yang bisa dilarang untuk melakukan apapun dengan blog mereka sendiri. Tapi kalau anda lihat, misalnya di You Tube. Ketika mulai launching mereka memasang sejumlah etika. Tidak ada produk yang bisa di upload jika itu melanggar hak cipta. Dia tidak bisa memasang sistem blocking karena itu sulit. Tapi ketika ada komplain, maka karya yang melanggar hak cipta itu langsung di cabut dan orang yang melakukan itu langsung di blacklist. Ini terjadi ketika kasus video-video American Idol beredar di YouTube. Akhirnya umur video-video itu cuma sehari karena pengelola dan pemegang hak cipta itu komplain. Saat itu ada minimal 70 ribu blog yang di blok. Minimal. Siapa yang bisa menyeleksi sebanyak itu.


:: Oke. Ketika kita orang yang ingin mencoba serius dengan apa yang ingin mereka tulis di blog, ada channel lain yang disebut dengan Citizen Journalism. Anda orang aktif terlibat di sana, misalnya dengan aktif di ohmynews.com dan sekarang bahkan menciptakan situs citizen journalism sendiri di panyingkul.com. Nah, bagaimana masyarakat bisa menerapkan pola citizen journalism ini?

Citizen Journalism intinya ingin mencoba beberapa model jurnalisme yang melibatkan masyarakat atau konsumen media itu sendiri sebagai pelaku. Dulu apa yang disebut berita itu ditentukan oleh industri media itu. Sekarang tidak lagi. Dengan adanya blog, semua orang punya tombol publish di rumah masing-masing selama mereka punya komputer dan akses internet. Tapi persoalannya adalah ada isu kredibilitas. Ada isu akurasi, ada serangkaian etika dan kaidah jurnalistik ketika kita ingin mengajak masyarakat untuk ikut dalam kegiatan memproduksi karya jurnalistik.
Karena bagaimanapun ketika berita atau hasil karya itu dijadikan rujukan masyarkat banyak, ada isu akurasi yang harus kita pertanggung jawabkan itu. Nah apa semua masyarakat mengerti? Ini yang ingin disebarluaskan oleh orang-orang yang ingin mengembangkan participatory journalism ini. Namanya macam-macam. Ada yang menyebutnya grassroot journalism, ada yang menyebutnya netizen karena menggunakan internet sebagai tulang punggungnya. Banyak yang percaya bahwa setiap orang itu punya sudut pandang yang unik, dan keunikan ini adalah modal besar untuk menumbuhkan iklim demokrasi di masyarakat. Ketertarikan saya ikut di ohmynews misalnya adalah karena saya merasa kita bisa memunculkan perspektif yang berbeda terhadap satu hal yang berbeda dengan yang dimunculkan media mainstream.

Makanya dalam citizen journalism itu sendiri ada yang disebut "Extending The News". Jadi semua berita besar yang ada di mainstream media diambil oleh masyarakat dan diperluas jangkauannya. Contohnya ketika semua kawasan asia tengah dilanda krisis, ada pernyataan resmi pemerintah bahwa Korea sudah pulih dari krisis. Saat itu ada tulisan pendek dari seorang penjaga toko yang membaca tulisan utama itu di koran dan dia menuliskan pendapat pribadi dan mengaku belum merasakan bahwa ekonomi sudah pulih karena melihat toko di sekelilingnya masih sepi. Nah yang seperti ini tidak mungkin didapatkan di mainstream media. Nah, saya kira itu alasannya mengapa International Herald Tribune saling bertukar informasi dengan ohmynews. Ini menjelaskan banyak perspektif unik yang belum tentu bisa direkam dengan baik oleh wartawan.

Juga ada persoalan yang ingin selalu menguji coba apa yang disebut "Passion To Serve The Story". Jadi kalau misalnya Anda wartawan, Anda meliput sebuah kejadian. Itu belum tentu karena dorongan hati Anda tapi karena penugasan editor Anda di kantor. Citizen Journalist berbeda. Dia meliput karena dia memang suka atau merasa ingin terlibat disitu. Ada passion. Di beberapa kota di Amerika ada trend dimana masyarkat biasa ikut menghadiri debat terbuka di dewan kota. Kemudian mereka pulang ke rumah dan menulis pendapat dia tentang debat itu di blog atau mengirim tulisan ke salah satu portal citizen journalism di sana. Besok, ketika berita itu muncul di mainstream media kemudian di portal citizen juga muncul dengan angle yang berbeda, itu adalah kekayaan yang luar biasa bagi konsumen media sebenarnya.


:: Jadi passion semacam ini ini yang mendorong anda dan kawan-kawan mendirikan situs Panyingkul.com?

Secara garis besar sama. Saya ingin di Makassar ada media yang bisa memunculkan cerita orang biasa tapi ditulis dengan bagus, dengan kualitas karya jurnalistik yang juga bagus. Tapi selain itu kami juga ingin ada proyek-proyek pencerdasan, seterbatas apapun itu. Karena saya yakin siapapun harus berkontribusi pada proyek-proyek pencerdasan di tanah air. Secara pribadi, meskipun saya tidak di Indonesia, saya ingin terlibat secara langsung dengan apa yang bisa saya sumbangkan. Kebetulan saya wartawan, penulis dan juga aktif di ohmynews, jadi saya pikir model ini yang bisa saya terapkan. Ini juga sekalian untuk menjawab keresahan orang bahwa banyak media di Indonesia yang sangat didominasi oleh "statement news" karena sistem pers kita juga belum berkembang. Kita memang tidak bisa menyalahkan karena media kita memang menghadapi persaingan diantara mereka sendiri dengan sangat ketat. Juga kualitas wartawan dan sistem pelatihan dan reward terhadap wartawan belum semaju dan semapan apa yang ada di luar negeri. Jadi akhirnya dengan sejumlah teman kami membuat media ini. Kelebihannya kami tidak ada beban deadline dan sebagainya. Juga karena kita bermain di ranah online. Cuma karena ini barang baru, banyak orang bertanya: "Memangnya bisa orang biasa jadi wartawan?" Terus bagaimana dengan kartu pers? Ada juga yang bertanya mengapa cuma di Makassar? Kenapa tidak nasional? Saya terus terang ingin bereksperimen dengan apa yang disebut hyper lokal. Karena saya orang Makassar ya saya main di Makassar.


:: Dari cerita Anda itu, kelihatannya terlalu banyak hal teknis yang membuat mereka merasa banyak sekali batasan untuk terjun di citizen journalism. Pertanyaan soal kartu pers tadi misalnya, atau soal bisakah orang biasa jadi wartawan?

Ya jawaban saya adalah buatlah berita yang tidak memerlukan kartu pers. Kemudian banyak yang sadar bahwa "O iya, kartu pers itu diperlukan ketika kita masuk ke kantor gubernur ya.. " Kalau meliput ke pasar kan nggak perlu? Artinya di sini ada pola pikir bahwa yang bisa mewawancarai orang itu adalah wartawan. Di ohmynews sendiri dalam forum yang baru saya hadiri di Seoul, ada pertanyaan seperti itu juga. Kemudian ada teman yang memberikan banyak saran. Misalnya sebut saja nama media dan berikan nomor kontak bila kurang yakin. Di ohmynews sendiri misalnya diperlukan surat keterangan, tinggal download. Sistimnya pun tidak terbuka dan memungkinkan untuk tetap registrasi guna mengantisipasi hal-hal yang bisa kesulitan untuk tetap diverifikasi. Misalnya jati diri si pelapor. Kita juga terapkan hal itu. Jadi tidak semua orang bisa kirim berita.

Nah untuk melatih mereka, kita membuat kelas online lewat Yahoo Messenger. ternyata setelah dua tiga minggu, banyak email balik dan mengatakan ";Wah ternyata menyenangkan untuk turun ke jalan kemudian peduli terhadap apa yang terjadi". Nah kepedulian ini yang jadi persoalan. Jika kita ingin masyarakat yang aktif, kuncinya adalah membiasakan orang untuk perduli. Jadi orang merasa ada hal di sekeliling kita yang harus kita perdulikan. Misalnya ada yang menulis bahwa macet itu ada dua penyebabnya di Makassar. Pertama karena ada demonstrasi. Kedua kalau ada anak pejabat kawin. Ini kan tidak mungkin ada di koran?

Inilah yang akhirnya kami kembangkan. Saya masuk ke segmen anak-anak muda. Para blogger itu banyak yang ikut ke kelas ini. Karena kita tahu kondisi mereka, mahasiswa, belum bekerja, jadi kami menyiapkan beasiswa untuk menutup biaya transportasi. Beasiswa ini datang dari anak-anak Makassar yang sedang berada di luar negeri yang menyisihkan sebagian uang beasiswa mereka. Yang sudah kerja menyisihkan gajinya.


:: Pada akhirnya apakah ini terefleksi pada kualitas tulisan-tulisan mereka di blog?

Ya itu terserah mereka. Tapi pada akhirnya saya kira, kalau mereka terbiasa menulis dengan bagus, harusnya mereka akan lebih rileks untuk menulis dengan bagus di blog. Saya sendiri lebih melihat bahwa blog itu sangat mudah. Semua orang punya blog. Kemudian tiba-tiba sempat terpikirkan keinginan untuk kerjasama dalam bentuk open source, tapi layak dijadikan referensi. Bukankah itu yang menyemangati munculnya Wikipedia. Blogfam sendiri misalnya kemudian muncul dengan majalah onlinenya. Nah itu semua kan kerja kolaboratif? Di Panyingkul, kita lebih pada aspek pembelajarannya.


:: Oke, terakhir. Anda seorang wartawan yang juga aktif di bidang citizen journalism. Pada akhirnya anda menggunakan blog anda untuk apa? Apa juga untuk mereflesikan kegiatan kewartawanan anda atau untuk pribadi atau apa?

Sangat personal. Kemarin saya ketemu kawan-kawan dari Global Voice Online yang didirikan oleh orang-orang di Amerika yang kerjanya mentracking blog. Di Amerika blog kan secara umum sudah terbagi dua. Blog yang bersifat pribadi dan blog yang merefleksikan tanggapan mereka terhadap peristiwa aktual. Nah, saya sendiri bukan jenis blogger yang serius. Saya nggak pernah punya blog sampai tahun ini. Saya punya satu multiply. Namun saya mungkin termasuk tipe orang yang suka memulai, tapi kemudian merasa tidak nyaman ketika terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri.


:: Kenapa tidak menggunakannya untuk mereflesikan hal yang terkait dengan kegiatan kewartawanan anda atau untuk menyampaikan aspirasi?

Saya kira masalah waktu saja. Perlu waktu khusus untuk ngeblog. Sebagai wartawan Anda tentu mengerti bagaimana kita harus menjaga supaya tidak asal tulis saja, bukan? Dulunya saya mau blog itu menjadi semacam dokumentasi. Tapi saya termasuk orang yang tidak rajin. Satu lagi blog di blogspot sebenarnya bukan punya saya.
Anak saya lagi belajar menulis. Jadi dia belajar lewat itu. Kebetulan anak saya suka sekali main di komputer, jadi saya ajarin membuat blog dan dia menulis sendiri. Dulu waktu di Australia, dia ada kegiatan "show and tell" di sekolah setiap senin. Show and tell ini menceritakan apa yang dilakukan selama akhir pekan. Akhirnya dia terbiasa melakukan itu. Show and tell di rumah. Jadi waktu itu dia saya pangku dan saya menulis apa yang dia ceritakan. Tapi saya tidak paksakan..


:: Jadi blog anak Versi Anda itu bukan sekedar orang tua yang menulis tentang anaknya tapi apa yang ingin disampaikan oleh si anak yang ditulis disana?

Ya. Jadi lebih ke dia. Bukan dari saya. Saya sendiri cenderung cepat merasa tidak nyaman ketika harus menulis tentang diri sendiri dan akhirnya berhenti. Tapi ini bukan sesuatu yang baik untuk ditiru. Cuma saya kira karena kesibukan pekerjaan saja. Menjadi blogger itu pilihannya sangat luas. Ia bisa menjadi medium untuk merespons apa saja yang terjadi dan sekali lagi terserah di pemilik blog untuk menulis apa saja. Makanya saya selalu salut dengan orang selalu rajin mengupdate blognya, bahkan ada yang setiap hari melakukannya. Itu sebenarnya bagus buat teman-teman yang serius, sebagai sarana berekspresi mereka. Cuma mungkin disitu kekurangan saya.

(Pewawancara: JaF)

Posted on August 6, 2006 12:52 AM |
 Lainnya: