Artikel:

Negeri Punya Hajat, Pinang Pun Dipanjat

Eh, bulan Agustus sudah kita masuki, nih. Dulu, dulu sekali, ketika sekolah masih menggunakan celana pendek warna merah, bulan Agustus sangatlah istimewa. Seakan-akan sisi magisnya sangat kuat terpatri. Di samping sebagai bulan kemerdekaan Indonesia, bulan Agustus di Indonesia merupakan bulan event dan lomba. Dimana-mana, di semua lapisan dan wilayah masyarakat serentak merayakan dengan penuh semangat dan kemeriahan.

Setiap sore suasana kampung begitu meriah. Semua terlibat. Warna merah putih mendominasi dimana-mana. Dijamin tidak ada warna kuning atau merah yang mendominasi saat itu. :p

Dan kalau sudah bicara agenda Agustusan, tidak akan lepas dari yang namanya lomba panjat pinang. Lomba Agustusan kurang pas bila belum menyertakan agenda lomba panjat pinang sebagai salah satu acaranya. Bagai sayur tak bergaram lah.

Cara permainan panjat pinang seperti dikutip dari Wikipedia adalah dari sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon. Oleh karena batang pohon tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang pohon sering kali jatuh. Akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton.

Nah, karena licin dan jatuh bangunnya para peserta itulah yang seakan menjadi sihir bagi para penonton untuk tetap setia menanti dan mengikuti perlombaan itu sampai selesai. Sorak-sorai penonton menjadi semacam pemicu adrenalin bagi para peserta untuk tetap mencoba terus walaupun setiap kali usaha untuk naik, maka akan seketika itu juga mereka melorot turun lagi, lagi, dan lagi.

Maka, bisa dibayangkan betapa gegap gempitanya suasana ketika ada peserta yang berhasil mencapai puncak batang pinang itu. Senyum kemenangan mengiringi tangan peserta yang mencopoti hadiah yang bergelantungan. Mulai dari hadiah ember sampai peralatan elektronik.

Dan menarik juga ternyata, jika urusan panjat pinang dikait-kaitkan dengan kondisi di sekeliling kita. Seperti tulisan Komaruddin Hidayat, lomba panjat pinang bisa diibaratkan dengan kultur politik Indonesia yang sedang berlaku saat ini. Di lomba itu tidak ada pemenang sejati, karena konsep kemenangan hanyalah akibat kejatuhan pihak yang lain dan itu pun dengan cara menginjak sesama teman sendiri.

Tapi diluar pandangan negatif itu, muncul juga filosofi dalam lomba panjat pinang yang bagus sebagai bekal bagi kita, terutama bagi anak-anak yang selalu antusias menyaksikan lomba tersebut. Dari segi pendidikan mental, permainan itu cukup bagus untuk melatih apa yang disebut adversity quotient (AQ), yaitu daya juang untuk meraih sukses yang memiliki motto: how to make a challenge becomes opportunity.

So Mari memanjat!

(Rouf)

Posted on August 6, 2006 12:30 AM |
 Lainnya: