Ketika Blogger Menjadi 'Kompor' Lahirnya Sebuah Album Baru
Musisi dan blog sebenarnya bukan barang baru. Katon Bagaskara yang jadi tamu bz! kali ini misalnya punya blog untuk menampung puisi-puisinya yang berlum diterbitkan. Demikian juga dengan sekelompok anak muda asal Jogjakarta yang menyebut diri mereka Letto yang juga menggunakan sarana blog untuk memperkenalkan eksistensi mereka di dunia musik Indonesia.
Namun sampai sejauh mana blog bisa berperan bagi para musisi itu? Susah memang melihat ukurannya. Tapi dalam bz!Aktual kali ini kami punya sebuah cerita menarik tentang bagaimana para blogger ikut berperan dalam proses lahirnya sebuah album musik. Hal ini diakui sendiri oleh sang musisi yang merasa berkat suntikan semangat dari para blogger lah mereka bisa tetap bersemangat memproduksi album terbaru mereka yang sudah diluncurkan tahun lalu dan kini tengah dalam proses produksi ulang.
---
Nama Reda Gaudiamo (Reda) dan Tatyana Soebiyanto (Nana) bisa jadi sudah tidak asing lagi. Di kalangan penggemar sastra, kedua nama ini sudah dikenal karena buku-buku karya mereka seperti kumpulan cerpen Jakarta Kafe dan Single Mom's Day Out karya Nana atau Bisik-bisik karya Reda.
Tapi tak sedikit pula yang mengenal kedua ibu ini sebagai sosok-sosok yang berada di balik keberhasilan musikalisasi puisi karya penyair terkenal Sapardi Djoko Damono. Anda pernah dengar alunan lagu Aku Ingin? Sejak muncul dalam album musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni di tahun 1990 dan kemudian juga muncul dalam film Cinta Dalam Sepotong Roti di tahun berikutnya, tiba-tiba saja puisi Pak Sapardi yang diekspresikan dalam bentuk lagu itu menjadi terkenal. Saking terkenalnya sampai konon puisi itu dicetak dalam undangan perkawinan atau menjadi ‘lagu soundtrack’ bagi mereka yang tengah dimabuk cinta. Reda serta Nana yang ikut serta menyumbang vokal bening mereka dalam album Hujan Bulan Juni tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan album musikalisasi puisi yang kedua yang bertajuk Hujan Dalam Komposisi di tahun 1996.
Nah, kerinduan untuk juga menghasilkan album serupa, dan juga karena master kedua album itu sudah rusak, yang membuat keinginan itu menggebu-gebu pada diri mereka. Dari sinilah kisah tentang para blogger itu muncul.
“Masak sih masih ada orang yang senang dengan kita?” Pertanyaan ini selalu muncul di benak Reda dan Nana setiap kali mereka membicarakan album-album musikalisasi puisi mereka. Nana pun menyarankan untuk mencari jawaban itu di internet.
“Selain Kompas Online, terus ada Pikiran Rakyat dan segala macam itu, muncul pula blogspot. Sebetulnya blogspot iki opo toh? Setelah di-klik ternyata bentuknya sama seperti website-website pada umumnya,” kenang Reda dalam sebuah pembicaraan melalui telepon dengan bz!. Pada waktu itu mereka tidak bisa membedakan antara blogspot dan website. “Pokoknya disitu kita dibahas,” katanya.
Kedua Ibu ini kemudian menemukan bahwa yang membedakan blogspot dengan website lain adalah mereka bisa meninggalkan komentar. Maka Nana mencoba meninggalkan pesan di salah satu blog yang membahas tentang musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono ini dan terbukti ini membuka sebuah wawasan baru sekaligus juga lembaran baru dalam perjalanan hidup kedua ibu itu..
Peristiwa yang patut disebut bersejarah itu hingga kini masih tersimpan rapi di blog milik Neenoy yang beralamat dengan tajuk [Water Flow] Perahu Kertas. Dalam sebuah posting tertanggal 27 Januari 2003, Neenoy menyampaikan kabar baik mengenai rencana keluarnya album musikalisasi puisi Sapardi yang baru. Jelas ini kabar luar biasa baik bagi para penggemar musikalisasi puisi. Sebagai ‘jaminan’ kebenaran berita ini, dilampirkanlah email yang ditulis sebagai berasal dari Reda, Nana, Ari (salah seorang personil yang belakangan mengundurkan diri) serta Sapardi Djoko Damono sendiri. Ternyata posting ini kemudian beranak pinak bak multi level marketing di berbagai blog.
“Pertama kali Nana mengirimkan pesan pendek ke Neenoy. Kemudian dari situ ada lagi blog Salju Di Paris. Dari dua itu saja terus mengembang ke blog lain. Kami ketemu Dissy dan seterusnya. Dari situ setiap kali kita nanya apa tertarik kalau kita bikin album baru lagi, reaksinya selalu besar dari para blogger. Dari situ kami sadar betapa besarnya peran blog buat dua ibu,” cerita Reda bersemangat.
Berangkat dari keinginan lama yang terus menggebu-gebu, ditambah pula dengan kenyataan bahwa masih ada yang menyukai mereka, maka Reda dan Nana yang kini lebih terkenal dengan sebutan Dua Ibu mulai merintis pembuatan album yang telah lama mereka idam-idamkan itu. Namun ternyata jalan tidak semulus yang diharapkan. Berbagai masalah menghadang di tengah jalan, konflik, perbedaan pendapat bahkan menurut Reda yang paling menyakitkan adalah ketika Ari -salah seorang personil mereka- menyatakan mundur setelah sekian lama bersama-sama. Mereka pun mulai putus asa...
"Tapi ketika iseng-iseng kita cek di blog, eh nongol lagi...!" Ya, menurut cerita Reda, para blogger penggemar Musikalisasi Puisi itu agaknya sudah kadung diberi harapan sehingga mereka pun rajin menagih.Setiap kali kedua ibu ini menengok ke blog-blog yang sudah pernah menulis tentang mereka, mereka selalu tercengang mendapati posting itu sudah beranak pinak ke blog-blog lain. Menjelang bulan Juni 2004 misalnya sudah mulai banyak blog yang menagih kembali janji mereka. Justru karena itulah Reda mengakui betapa semangat mereka jadi terus terpacu.
"Na, kayaknya nggak mungkin kalau kita udah bilang di ruang publik mau buat terus nggak jadi. Payah nih kita kalau begini..." Reda mengenang pembicaraannya dengan Nana suatu ketika.
Maka Lahirlah Gadis Kecil
Bulan Juni bisa dibilang penuh arti bagi para penggemar Sapardi Djoko Damono seperti lirik puisi Hujan Bulan Juni: "Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu..". Kerinduan para penggemar musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono ditambah dengan ketabahan Dua Ibu untuk terus berusaha, berbuah dengan lahirnya album bertajuk Gadis Kecil. Entah kebetulan atau tidak, bulan Juni 2005 dijadikan momen untuk melahirkan lagu ini. Dan walaupun sejumlah pakar meteorologi pernah 'menertawakan' Sapardi karena menurut mereka Juni bukan musimnya untuk hujan, namun peluncuran Gadis Kecil di Warung Apresiasi-Bulungan pada tanggal 23 Juni 2005 diawali dengan hujan yang lumayan deras.
Para blogger pun sejenak mendapatkan sorotan ketika Dua Ibu mempersembahkan lagu klasik Aku Ingin sebagai bentuk rasa terimakasih. Lebih dari itu, di dalam album Gadis Kecil pun tertulis ucapan serupa yang ditujukan kepada para blogger.
"Kalau kami nggak menemukan mereka, kami rasa semangat kami sudah mati dari tahun 2003 itu," tutur Reda. Alumni Sastra UI ini mengakui sebelumnya tidak pernah tahu apa yang dimaksud dengan blog. Bahkan sepanjang wawancara telepon dengan bz! beberapa kali Reda tertukar menyebut istilah blog dengan blogspot yang tidak lain adalah salah satu bentuk layanan blog.
Menariknya, selama masa dua tahun lebih itu Reda dan Nana sama sekali tidak pernah bertemu dengan para blogger yang sudah mendukung mereka melalui posting-posting di blog masing-masing. "Kami nggak pernah ketemu blogger. Ketemu Neenoy juga di malam peluncuran. Mungkin Dissy pernah kenal sama Nana untuk keperluan wawancara bagi filmnya Pak Sapardi. Tapi kami nggak tahu kalau (nickname) Mermaid yang digunakan di blog itu adalah Dissy." Neenoy, Dissy dan beberapa blogger lainnya baru bertemu Dua Ibu dan juga Sapardi Djoko Damono saat peluncuran album Gadis Kecil.
Setahun lebih setelah peristiwa itu terjadi, ternyata posting blog tentang Dua Ibu dan musikalisasi Puisi Sapardi masih terus mengalir. Masih ada saja yang mencari album tersebut yang menurut Reda sudah habis karena hanya diproduksi sekitar seribu keping. Karena itulah mereka berencana untuk mencetak ulang Gadis Kecil guna memenuhi keinginan para penggemarnya. Asal tahu saja, semua proses pemasaran Gadis Kecil itu lebih banyak dilakukan melalui mulut ke mulut ketimbang masuk toko. Pemasaran itupun akhirnya dilakukan juga di berbagai blog yang saling membuat jaringan dan bertukar informasi soal album ini yang hingga kini masih terus berlangsung.
Tak tertarikkah Dua Ibu membuat blog sendiri? Ini cerita lain lagi. "Saya sudah buat. Tiba-tiba dasar kacau, masa saya nggak bisa balik lagi. Saya pernah buat sampai jam 2 pagi. Tapi mau buka lagi nggak bisa. Kayaknya saya lupa karena sempat passwordnya nggak bisa. Jadi lupa," ujar Reda menertawakan dirinya sendiri. Ada blogger yang mau bantu? Sejauh ini eksistensi Dua Ibu baru dapat dilihat melalui account Friendster di Friendster Dua Ibu.
Kalaupun Dua Ibu nanti akhirnya memiliki blog, mereka ingin memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang selama ini sudah mendukung. "Karena correct me if I’m wrong kayaknya kalau sudah punya blog itu nyambung kemana-mananya lebih gampang. Nggak seperti sekarang nih, harus buka satu-satu. Saya pikir punya blog itu lebih bisa dekat dengan teman-teman, lebih komunikatif, tahu segala rupa," kata Reda. Lebih dari itu mereka ingin mengajak teman-temannya untuk bicara tentang hal lain di luar musikalisasi puisi.
"Kami itu sebenarnya nggak cuma pengen ngomongin musikalisasi puisi saja tapi lebih pada urusan ibu-ibu bekerja kek apa kek. Pengen memanfaatkan background kami. Siapa tahu selama ini ada ibu-ibu yang merasa 'ya aku ini hanya ibu-ibu saja'. Tidak ada istilah itu! Kita ini ibu! Kita bisa bikin apa saja kalau mau.. We are mothers!" *** (JaF)
Posted on September 6, 2006 7:14 AM | Permalink
