Mendadak Dangdut
Bagaimana bila seorang penyanyi rock berpindah menjadi penyanyi dangdut? Sebuah perubahan yang sangat besar tentunya.
Patricia (Titi Kamal) dan kakaknya, Yulia (Kinaryosih), terpaksa harus menjalani kehidupan di masyarakat pinggiran yang menjadi komunitas pencinta dangdut, karena harus menghindar dari kejaran aparat kepolisian. Sebenernya mereka cuma korban dari perbuatan kekasih Yulia yang meletakkan heroin seberat 5 kg di mobil mereka, yang kebetulan terkena razia.
Dalam penyamarannya, mereka berkenalan dengan Rizal, seorang pemain organ tunggal yang baru saja ditinggal oleh penyanyi utamanya, Petty Manis Madu, karena honornya yang kecil. Yulia, melihat kesempatan itu sebagai sebuah peluang untuk tetap survive sambil menghindar dari kejaran polisi.
Pada awalnya, sulit bagi Patricia untuk bisa bernyanyi lagu dangdut. Apalagi dia sangat membenci jenis musik ini karena dianggap kampungan dan murahan. Tetapi karena tuntutan keadaan, ia terpaksa mempelajari dan yang pasti berusaha menikmatinya. Perlahan namun pasti, Patricia yang kemudian mendapat nama panggung Iis Maduma (Masuk, Duduk, Mabuk), mulai terkenal dan mulai tampil di berbagai panggung di daerah pinggiran.
Sementara Yulia, yang juga dari awal menjadi manajer Patricia, ternyata menyukai Rizal. Tapi, perasaan itu hanya dipendam saja. Yulia memang terlahir lugu dan polos dan cenderung untuk memendam apa yang dirasakan. Termasuk tentang “kelelahannya” dalam mengurus Patricia. Diceritakan bahwa Patricia dan Yulia memiliki perangai yang sangat berbeda. Patricia cenderung meledak-ledak, pintar, gaul dan suka bertindak seenaknya saja. Sementara Yulia, cenderung untuk introvert dan tertutup.
Sikap diam Yulia akhirnya meledak, ketika untuk kesekian kalinya Patricia menunjukkan sikapnya yang mau menang sendiri. Patricia menganggap bahwa dirinyalah yang membayar seluruh kebutuhan sehari-hari mereka, sampai cicilan rumah, sehingga ia bisa melakukan apapun. Yulia akhirnya marah dan mengungkapkan semua yang telah dipendamnya.
Cerita terus bergulir, sampai Ibu Rodiah, orangtua Mamat, anak yang membantu Rizal, yang bekerja sebagai TKW di Arab pulang ke rumah dengan badan penuh luka karena penganiayaan. Sebuah realita yang memang sampai saat ini masih terjadi. Harapan Ibu Rodiah untuk kembali menyekolahkan Mamat dan mengkhitannya pun kandas, karena uangnya hilang saat di bandara. Akhirnya Patricia alias Iis mengajukan usul untuk mengadakan amal pengumpulan dana. Hal ini disetujui oleh Rizal, dan acarapun dilangsungkan.
Di akhir cerita, polisi akhirnya bisa mencium keberadaan Patricia dan Yulia. Terjadi aksi kejar-kejaran sebelum akhirnya mereka berdua tertangkap. Di kantor polisi, masing-masing mengakui bahwa heroin itu adalah milik mereka. Tetapi, polisi pada akhirnya menjelaskan bahwa pacar Yulia telah tertangkap di Batam dan mengakui kepemilikan heroin itu, dan mereka berduapun bebas.
Dari ide cerita, film ini sangat ringan dan sederhana. Rudy Soedjarwo selaku sutradara memang sangat piawai untuk mengangkat sebuah realita yang ada di masyarakat. Paling tidak melalui film ini masyarakat bisa mengetahui, mengapa dangdut masih tetap disuka dari dulu hingga sekarang. Dalam salah satu adegan dikatakan bahwa dengan dangdut orang bisa melupakan segala macam kesulitan dalam hidup, dangdut membuat hidup mereka lebih mudah. Mungkin inilah alasan mengapa dangdut sangat diminati oleh orang banyak, dan sebagian besar adalah masyarakat “pinggiran”. Dangdut merupakan sebuah fenomena yang mampu tetap mempertahankan konsistensinya dalam hal penggemarnya.
Yang cukup menarik dari film ini adalah aksi Titi Kamal yang menyanyikan semua lagu dalam soundtrack. Cukup menarik. Dan juga akting Kinaryosih perlu diacungi jempol. Ia mampu menampilkan seseorang yang sabar, perhatian, dan cenderung tertutup, dengan teramat baik.
Tetapi, hal yang menjadi ganjalan adalah mengapa untuk orang yang kejar karena razia heroin seberat 5 kg, polisi tidak melaksanakan pencarian yang menyeluruh, apalagi secara lokasi, mereka hanya “kabur” ke daerah pinggiran Jakarta. Suatu hal yang aneh bukan, di saat kejahatan penyalahgunaan psikotropika sedang menjadi wacana yang hangat.
Sebuah film, apalagi tentang dangdut, tak akan lengkap tanpa adanya soundtrack. Lirik-lirik yang ringan dan segar tampak menjadi pilihan. Coba saja simak salah satunya.
Waktu tamasya ke Binaria
Pulang-pulang ku berbadan dua
Walaupun tanpa restu orang tua, sayang
Aku rela Abang bawa pulang
Engga kerasa udah setahun
Si Abang mulai berlagak pikun
Udah gak pernah pulang ke rumah, sayang
Kepincut janda di Pulo Gebang
Lai lai lai lai lai lai
Panggil aku si jablai
Abang jarang pulang, aku jarang dibelai.
*** (Mamat)
Posted on September 6, 2006 7:06 AM | Permalink
