Artikel:

Ramadhan di Negeri Orang

Bulan Ramadhan yang senantiasa ditunggu-tunggu umat Islam seluruh dunia sebagai bulan penuh keberkahan telah tiba. Ibadah Puasa yang dilaksanakan pun selalu membawa kenangan, suka-duka, serta romantika tersendiri terlebih bagi sejumlah blogger yang bermukim di negeri orang.

Coba simak pendapat Dian Marini, yang saat ini berdomisili di Belanda. "Waktu pertama kali puasa di negeri orang (belanda) kebetulan jatuhnya bulan November. Pada bulan November tahun itu, cuaca sudah dingin dan hari sudah semakin pendek (cepat jadi gelap). Rasa lapar, haus dan lelah yang biasanya didapati ketika menjalankan ibadah puasa, sama sekali tidak terasa waktu itu. Bayangkan imsak mulai dari jam 7.30 pagi, jam 16.30 sore sudah maghrib, plus didukung dengan cuaca yang mendung dan dingin, suhu berkisar antara 5 - 10 derajat. Tidak heran kalo saya masih terlihat segar bugar di penghujung hari, wong makanan dan minuman yang disantap waktu sahur masih bersisa di perut," tutur ibu Rumah tangga kelahiran Jakarta 20 Desember 1975 ini sambil berseloroh.

"Tapi sepertinya," lanjutnya lagi,"bulan madu Ramadhan seperti itu sudah hampir lewat, berhubung Ramadhan setiap tahunnya bergerak mendekati musim panas. Nah, kalo untuk yang ini saya belum bisa kasih komentar, karena belum pernah mengalaminya sendiri. Kebetulan tahun ini saya ambil cuti puasa karena sedang mengandung, untuk laporan puasa di musim panas tunggu tahun-tahun mendatang ya. :)

bz!Aktual Hal lain adalah saya banyak bertemu orang-orang muslim dari negara-negara lain yang kebetulan sama-sama menetap di negeri Belanda. Kami kadang suka mengadakan buka puasa bersama. Senang deh bisa melihat 'first hand' budaya Islam di negara-negara lain (tentunya dari cerita orang-orang tersebut).

"Nah kalo dukanya banyak nih," tambah calon ibu yang sudah mempersiapkan blog buat sang bayi di onesoul baby ini, "Yang paling berasa adalah, kangen sama keluarga di Jakarta. Rasanya ada yang hilang setiap kali menjalankan Ramadhan disini. Kangen ngabuburit sama adik-adik, teman-teman. Kangen bareng-bareng pergi ke mesjid buat taraweh dsb. Yang kedua adalah, kangen makanan-makanan khas Ramadhan. Pengen kolak, candil, dan segala macam jenis tajil, tapi sulit diperoleh disini. Paling-paling buat sendiri (males banget) atau kalo ada acara buka bersama dan kebetulan ada yang bikin baru deh bisa ngerasain buka puasa yang sebenernya (dalam bayangan saya buka puasa tanpa disertai kolak/candil/es buah, rasanya belum afdol gitu hehehe). Yang ketiga, karena di sini Islam sebagai minoritas, so life goes on as usual. Kegiatan/produktivitas tidak berhenti atau melambat di bulan Ramadhan. Memang seharusnya juga begitu sih, tetapi selama saya tinggal di Indonesia, kegiatan perkantoran/perkuliahan agak melambat lajunya jika memasuki bulan Ramadhan. Misalkan pulang kantor yang biasanya jam 5 sore, dimajukan jadi jam 4 sore. Para karyawan terlihat agak lesu karena kurang tidur, para bos biasa memaklumi. Kalau di sini jangan diharap bisa demikian. Jam masuk dan pulang kantor/kuliah tetap sama. Kebetulan waktu puasa tahun-tahun kemaren saya sedang kuliah. Banyak jadwal kuliah saya sampai jam 6 sore. Sebelumnya saya sudah cerita kan kalau buka puasa bisa-bisa jam 1/2 4-an, nah kalau waktu buka puasa tepat di jam perkuliahan, mau ga mau saya bawa bekal sedikit. Cuma air minum dan sedikit permen, untuk makan yang besarnya tunggu kuliah selesai jam 6 nanti. Kadang gelisah juga nunggu kuliah bubar, konsentrasi pecah, karena perut sudah mulai minta jatah. Yang keempat dan yang paling parah (menurut saya) adalah sikap sinis masyarakat sini. Banyak lho yang menggangap bahwa kegiatan puasa itu adalah kegiatan yang bodoh. Banyak yang menggangap puasa itu merusak badan sendiri. Nah karena kebiasaan orang-orang di sini, langsung mengutarakan apa yang di pikiran mereka, kita kadang suka tidak siap 'ditembak' dengan cara seperti itu".

bz!Aktual Komentar serupa diungkapkan Tri Retno Kawuri, seorang blogger yang saat ini berdomisili di Konjic, Boznia Herzegovina. Ia mengungkap suka duka berpuasa di negeri orang antara lain, bisa menikmati program-program ramadhan yang berbeda dengan program di Indonesia, menambah silaturahmi dengan muslim dari berbagai bangsa,
bisa menikmati hidangan makanan dari negeri setempat, menambah kecapakan dalam berbahasa lokal karena dituntut oleh pergaulan

Sementara Dukanya seperti: tidak bisa menikmati makanan Indonesia dengan mudah, karena tidak dijual di restoran, rindu mendengarkan ceramah dalam bahasa Indonesia, rindu kebersamaan dengan keluarga inti di Indonesia dan rindu dengan panggilan sahur.

"Pertama kali jelas kaget," kisah Momo-Chan seorang blogger yang bermukim di Jepang. "Selama ini kalo sahur tinggal bangun dan makan," imbuh wanita kelahiran Yogya 1978, "tapi sekarang harus masak sendiri, harus bangun sendiri. Selain itu... eksperimen di lab juga kan sampe malam. Jadi kalo tidur dulu, pasti sahur ga kebangun. Jadi ya akhirnya jadwal biologis jadi terganggu. Terus kalo pas buka puasa, pertama kali juga sedih banget. Karena dulu kan saya ama ibu selalu belanja makanan-makanan buat buka. Trus disini yah cuma makan biasa aja (ga ada makanan-makanan khusus untuk buka, secara saya ga doyan kurma, ga doyan santan kaleng, ga doyan santan bubuk hehehe). Tapi lama-lama juga EGP. Buka pake air putih doank juga santai aja. Kebetulan selama 3 kali puasa ini, selalu dijalani pas awal musim gugur. Jadi ya ga terlalu panas".

bz!Aktual"Sepertinya puasa saya di sini lebih khusyu' deh," ucap Agus Setiawan seorang blogger yang berdomisili di Hamburg, Jerman. "Saya lebih konsentrasi ke masalah ibadah gitu, tambahnya,"Nggak direpotin dan dibikin pusing sama urusan harga barang yang pada naik di bulan Ramadan padahal gaji saya sebagai PNS di sana pas-pasan. Pokoknya seperti tanpa beban gitu lho, beda jauh lah pokoknya :). Memang kadang-kadang kangen juga sama keluarga (orang tua) atau kerabat (kakak, adik dan keponakan) di tanah air, tapi ya bisa terobati lah dengan berbicara lewat telepon, toh biaya telepon pun tidak terlalu mahal :)".

"Puasa dinegeri orang memang terasa lebih berat karena saya merasa sendiri dan karena saat ini musim gugur maka jangka waktu siangnya agak lama," demikian ungkap Adinda Hana Mardiasari yang bermukim di Belanda.

Senada dengan Adinda, Rudy Saputra yang kini berada di Melbourne, Australia,"Sukanya adalah Hawa puasa saat ini lagi sejuk, sedang peralihan dari dari spring ke summer. Dukanya tidak ada suara adzan, kultum, beduq atau bunyi-bunyian lain khas ramadhan, jadi rasanya 'sepi banget'".


Rindu Kolak,dkk

bz!Aktual"Hidangan khas Ramadhan yang paling saya rindukan adalah makan kolak, bubur sumsum, minum es blewah. Untuk saat ini dalam hal makanan saya biasanya membikin sendiri kecuali es blewah saya ganti dengan es melon walaupun aroma berbeda paling tidak bisa mengobati rasa rindu," kata Adinda yang memiliki hobi membaca dan memasak ini. "Kegiatan rutin yang saya rindukan adalah detik-detik menunggu bedug sambil nonton acara kultum," tambahnya," Dalam hal ini di sini tidak ada yang bisa saya lakukan adalah men-download adzan dari internet saya masukan ke handphone untuk menjadi tones alarm dan setiap hari saya set untu menyala pada jam berbuka puasa. Sehingga di manapun saya berada saya tetap mendengar suara adzan walaupun tanpa kultum"

"Saya suka kolak untuk menu buka puasa, dan saya juga suka dengan kegiatan buka puasa bersama dan ceramah Ramadhan," ungkap Agus yang lahir di Kebasen 5 Agustus 1969 ini. Ia melanjutkan," Alhamdulillah, di Hamburg cukup banyak orang Indonesianya dan kita punya organisasi kemasyarakatan yang tercatat resmi di kota Hamburg bernama Indonesisches Islamisches Centrum e.V. (IIC e.V.). Setiap hari Jumat dan Sabtu selama bulan Ramadan kita mengadakan acara buka puasa, shalat Tarawih dan ceramah Ramadhan di aula KJRI Hamburg. Biasanya IIC e.V. mengundang secara khusus penceramah dari Indonesia untuk mengisi acara Ramadan yang kita adakan itu. Hidangan buka puasanya pun makanan khas Indonesia. Selain itu, beberapa keluarga juga suka mengadakan acara buka puasa bersama di rumah mereka dan mengundang para kenalan atau kerabat, tentunya dengan menu khas Indonesia yang sedap. Alhamdulillah, sebagai salah satu pengurus IIC e.V. saya selalu mendapat undangan untuk buka puasa di rumah mereka. Tentunya menu khas Indonesia yang mereka hidangkan dan hubungan kekeluargaan yang hangat mampu menghilangkan kerinduan saya akan suasana khas yang biasa kita temukan di Indonesia".

"Wah banyak banget... kolak, lumpia, gorengan, bakso, siomay, batagor, sup kaki kambing, lotek, lotis, rujak, gado-gado, jajan pasar, dawet, jenang, dll dll dll. Dulu soalnya di rumah kalo buka puasa selalu ganti-ganti makanannya. Cara melampiaskan ya nggak ada," ujar Momo-Chan mengenang makanan khas kegemarannya selama Ramadhan. Penggemar film silat ini kemudian menambahkan, "Kebetulan aku orangnya gampang menyesuaikan diri. Kalo orang indonesia lain kan pasti tetep masak masakan jawa, nyari bumbu indonesia. karena saya gampang menyesuaikan diri, jadi ya nggak pernah ngabis-ngabisin waktu buat search segala macam bumbu yang aneh-aneh itu. Malah bumbu-bumbu instan saya, biasanya juga habisnya karena saya kasih ke temen (kebetulan saya nggak pernah pake) dan saya juga santai-santai aja nggak makan makanan-makanan yang saya rindukan. Jadi gampangnya, untuk masalah kangen atau rindu, saya tahan kok. Dan tidak akan mau berusaha melampiaskan kalo pelampiasan itu harus butuh waktu".

bz!Aktual "Hidangan khas yang paling aku suka adalah kolak," ujar Rudy sumringah, "sayangnya disini pisang mahal banget. Ngakalinya buat kolak pake ubi (alias sweet potato) dan kacang hijau, yah nggak persis-persis amat sih rasanya, tetapi lumayan buat obat kangen. Kegiatan lain yang tidak bisa dilakukan disini adalah 'ngabuburit' alias jalan-jalan sore dikota, karena kalau jalan-jalan wah malah bisa jadi 'batal pahala'.

"Masalah makanan," ucap Tri Retno berbagi pengalaman,"saya biasa memasak makanan Indonesia jika masih ada bumbu tersedia. Jadi saya tidak terlalu merisaukan. Makanan Bosniapun mudah diadaptasi. Kalau kesibukan sangat tinggi, itu yang kadang membuat risau. Karena system perkuliahan atau di kantor, tidak mengenal perpendekan masa kerja dikarenakan ramadhan. Jadi berpacu dengan waktu. Tidak banyak orang menjual buka puasa di dekat masjid. Dan letak masjid agak jauh satu sama lain. Tidak ditemukan mushala baik di kantor atau di kampus."

"Hidangan khas? Ya aneka ta'jil itu..yang kalo buat sendiri males (karena paling sekali makan juga tidak banyak, dan kalo harus buat sendiri hasilnya bisa untuk berhari-hari, bosan juga kalau makan makanan yang sama tiap hari). Biasanya sih pengobat rindu adalah kumpul-kimpul bareng dengan rekan-rekan senegara lainnya, masing-masing bawa masakan baru deh kita bisa melampiaskan kerinduan kita terhadap makanan," tutur Dian saat ditanya mengenai makanan khas ramadhan kegemarannya.


Nangis Bareng

Sementara itu, Tri Retno bercerita bahwa ia sering berinteraksi dengan WNI yang kuliah atau bekerja serta menikah di Bosnia. "Muslim dan non muslim kadang juga berinteraksi dalam bentuk jamuan makan/ buka puasa. Kerinduan terobati dengan adanya makanan khas Indonesia dan berbincang dalam bahasa Indonesia. Kawan terasa menjadi saudara," ujar alumni S-1 akuntansi universitas Brawijaya Malang dan saat ini mengambil bachelor of Economy and Management, University of Sarajevo ini.

bz!AktualMengenai interaksi bersama kawan-kawan se-"nasib", Momo-Chan punya kisah sendiri. "Secara umum, katanya,"scholar indonesia (biasanya S2 dan S3) 'kan udah berumur. Yang muda-muda seperti saya itu kan golongan minoritas. Jadi... ya trus pasti langsung terbentuk 2 golongan berdasar umur. Memang ke 2 golongan ini bisa berkumpul bersama, tapi trus suasananya tentu beda bila kumpul dengan golongannya sendiri. Nah... di desa saya ini, yang muda cuma saya doang. 3 yg lain udah ga muda lagi. jadilah saya kesepian hehehe. kalo mau cari temen seumuran harus ke luar kota, yg mana brarti itu butuh duit transpor yg lumayan. Jadi untuk berinteraksi dng teman yg seumur, ya chatting ajah. misalnya pas malam lebaran, chatting sambil nangis bareng".

"Kita berbuka puasa bersama sambil makan es cendol. Kesan yang saya dapatkan dari berbuka bersama dari rekan senegara adalah saya merasa tidak sendiri," ujar Adinda yang lahir di Surabaya 10 April 1978 ini mengungkapkan interaksi bersama rekan-rekan se-"nasib" di negeri orang.

Dian, Rudy maupun Agus pun menyatakan sering melakukan interaksi bersama sesama warga WNI di negara mereka bermukim selama bulan ramadhan seperti melakukan buka atau sholat tarawih bersama.


Ngeblog sekaligus "Ngabuburit"

Tentang ngeblog selama puasa, sebagian besar responden bz!aktual ini menyatakan ngeblog bisa dijadikan sarana "ngabuburit"yang efektif dan bermanfaat.

"Saya mulai ngeblog dari tahun 2005, jadi baru sekali merasakan puasa sambil ngeblog. Manfaat ngeblog selama bulan puasa adalah pengganti ngabuburit :), lumayanlah sambil nunggu waktunya berbuka iseng-iseng mosting atau blogwalking. Manfaat selanjutnya, saling tukar pengalaman dengan para blogger lainnya. Dan yang terakhir, biasanya suka ada aja resep hidangan khas puasa yang simpel tapi enak yang didapat dari para blogger lain," kata Dinda.

"Blog bagi saya," kata Tri Retno,"adalah jalinan silaturahmi dan ajang menyampaikan pemikiran.Tidak hanya ramadhan untuk berinteraksi. Hari biasapun kami gunakan untuk berinteraksi dengan muslim dari berbagai Negara".

"Saya kadang baca blog yg postingannya tentang agama. Ya tentu saja ada manfaatnya. Salah satunya, pernah ada yg posting ttg menamatkan baca Al Qur'an dalam satu bulan. Tipsnya aku terapkan, semoga berhasil," demikian ungkap Momo-Chan.

*** (amril)

Posted on October 5, 2006 9:16 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: