Berdamai dengan Blog
oleh Pepih Nugraha
Sekali-kali, jalan-jalanlah ke warung internet yang menyediakan fasilitas selancar di dunia maya. Apa yang mereka lakukan? Selain melakukan chatting atau dolanan (games) bisa dipastikan mereka sedang ngeblog alias mengutak-atik blog sendiri atau blogwalking ke blog milik orang lain. Itulah gaya hidup para netter sekarang ini! Saat kehadirannya dulu, para pegiat jurnalistik di media massa arus utama (mainstream) mencibir blog. Selain isinya sekadar “sampah” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi dipercaya sebagai berita, blog hanyalah pelampiasan orang-orang narcistis, pelampiasan ibu-ibu rumah tangga yang kurang kerjaan, atau mereka yang suka memamerkan cerita hidupnya dalam sebuah catatan harian terbuka dimana semua orang bisa mengintipnya. Para blogger dianggap orang-orang yang “senang diintip!”
Itu cerita lama. Sekarang, kadang media massa arus utama juga bertekuk lutut atas kecepatan informasi para blogger. Ingat peristiwa Bom London yang sangat fenomenal. Televisi pun menayangkan peristiwa mencekam dari reruntuhan stasiun bawah tanah itu dari seorang blogger yang merekamnya lewat kamera handphone-nya. Hasil jepretan dalam bentuk video itu ia posting ke blog milknya. BBC segera menyiarkan berita dan gambar hasil karya seorang blogger ini dengan bangga. Mengapa?
Bangga, karena wartawannya sendiri masih belum mendapatkan apa-apa selain gambar puing-puing dan reruntuhan ledakan bom teroris itu, tidak ada dramatisasi di sana, hanya gambar-gambar mati yang sudah sepi. Sementara gambar hidup bagimana paniknya orang-orang di bawah tanah beberapa detik setelah ledakan sudah dapat disaksikan di televisi! Ingat juga, gambar yang paling “berbicara” dari bencana tsunami di Aceh adalah hasil bidikan warga biasa dengan kamera genggamnya.
Semua cerita tentang kiprah para blogger ini sudah saya uraikan dalam beberapa seri tulisan mengenai blog di Harian Kompas, institusi pers dimana saya bekerja sejak 1990. Tetapi saya juga mempostingnya di alamat blog saya, www.pepihnugraha.blogspot.com. Di blog saya itu, saya tidak melulu bercerita tentang diri saya, tetapi saya sengaja berbagi ilmu dan pengalaman menulis. Rekan-rekan yang berniat untuk sama-sama belajar menulis bisa bergabung. Di sana, ada pelatihan kecil-kecilan, tutorial interaktif, dan tak lupa menampilkan hasil karya blogger yang sama-sama belajar menulis tadi.
Sebagai jurnalis mainstream dari sebuah media massa mainstream, semula saya tidak percaya akan kekuatan blog. Saya semula juga sinis menghadapi kegandrungan orang ngeblog dan memperlihatkan catatan hariannya yang privat ke ruang publik. Seorang wartawan wajib skeptis, ragu. Maka saya ragu menarik kesimpulan saya sendiri bahwa blog tidak lebih dari “sampah” sebelum saya menerjuninya. Mula-mula saya mengintip blog orang lain, mempelajari isinya. Lalu saya cari lembaga yang membagi-bagikan blog gratis dan saya mencoba menjadi bagian darinya, bagian para blogger.
Bagi saya yang jurnalis dari dunia media massa mainstream, mau tidak mau harus berdamai dan berjabat tangan dengan blog, bukan malah memusuhinya, mencibirnya, apalagi menjauhinya. Mengapa? Sebab, tidak jarang ilham menulis dan mengembangkan berita muncul setelah membaca blog orang lain, setelah saya melakukan blogwalking. Bukankah saya menulis berser-seri mengenai keunggulan blog di Harian Kompas justru setelah menerjuni blog ini? Setelah saya tahu dan dalami apa itu blog.
Banyak manfaat daripada mudzarat bila kita menjadi bagian dari komunitas para blogger. Selain dapat saling bertutur-sapa, bersilaturahmi secara virtual, blog menyadarkan kita bahwa kita tidak hidup sendirian. Beribu-ribu sahabat siap menyambut dan menyapa jika kita berkunjung ke blog mereka. Ingat, Bunda Inong yang meninggal dunia setelah meninggalkan jejak tiga blognya, telah dilayat beribu-ribu orang. Bahkan sampai sekarang “rumahnya” (baca blog) yang kosong masih tetap dikunjungi ratusan pelayat.
Kisah Inong inipun sudah saya tulis di Harian Kompas, sebuah tulisan yang tidak mungkin ada kalau saya tidak berkenalan dengan dunia blog.
Blog adalah ruang publik. Tidak ada lagi ruang privat bagi pemilik blog jika ia berkhidmat dan berdamai dengan kenyataan, bahwa membuat blog adalah siap memasuki komunitas virtual global, yang tidak lagi tersekat-sekat oleh ras, agama, bangsa, maupun negara. Kita menjadi bagian dari dunia virtual tanpa batas, sehingga gaya hidup kita pun harus menyesuaikan diri dengan keadaan global. Beberapa dekade lalu McLuhan telah meramalkan adanya global village atau desa dunia ini. Blog mempercepat kenyataan ini.
Di ruang publik yang besar ini, bahkan sangat besar, kita bisa saling bertukar pikiran, berdiskusi untuk topik khusus, ngegerundel karena menyaksikan jalannya pemerintah yang lelet, atau sekadar mengumpat diri sendiri lewat puisi-puisi kita. Mengapa tidak? Mencari teman atau jodoh di dunia maya untuk dibawa ke dunia nyata, tidak mustahil dilakukan. Blog sudah sering membuktikannya. Istilah “kopdar” alias kopi darat, adalah upaya para blogger untuk saling kenal di dunia nyata
Bagi para netter, siap-siap saja dibilang “ketinggalan zaman” atau “kurang gaul” kalau belum punya blog sendiri. Bagi pelajar dan mahasiswa, blog digunakan untuk saling menanyakan pekerjaan rumah (PR) atau tugas-tugas kuliah. Bukankah seorang dosen juga bisa membuat blog sendiri dan membagi-bagikan tugas atau mengajar online di sana? Bukankah cara ini lebih praktis dimana mahasiswa dari berbagai tempat bisa langsung “berhadapan” dengan sang dosen? Kalau sudah begini, apa fungsi suatu tempat (ruang kuliah) kalau itu sudah diambil alih dunia maya, oleh dunia blog?
Blog adalah media komunikasi baru yang mencerahkan, yang tidak terbatas pada usia tertentu, tetapi ia bisa digunakan sebagai media pembelajaran bagi semua usia. Bagi saya yang jurnalis dari media massa mainstream, tidak ada jalan lain selain harus berdamai dengan blog. Bukan hanya sekadar membaca blog orang lain, tetapi juga membuat blog sendiri. Dengan blog, sekarang saya bisa lantang mengatakan: inilah saya!
Posted on November 6, 2006 11:14 AM | Permalink
