DTK - Dunia Tanpa Koma, Dunia Tanpa Jeda
Terus terang, saya sangat menantikan tayangan perdana sinetron (atau kalau boleh saya sebut mini seri) DTK, Dunia Tanpa Koma, di salah satu stasiun televisi swasta setiap hari minggu jam 21.00 WIB. Bagaimana tidak, promosi yang terus menerus di layar kaca sepertinya benar-benar ingin menjual cerita yang dibintangi sederet bintang berkualitas. Taruhlah Dian Sastro, Tora Sudiro, Fauzi Baadila, Surya Saputra, Adi Kurdi, bahkan Slamet Rahardjo dan Didi Petet. Mini seri dengan sutradara Maruli Ara ini seperti menjadi alternatif tayangan yang perlu disimak.
Cerita bergulir lambat dan sederhana, diceritakan Raya Maryadi (Dian Sastro) baru diterima di Harian Target. Tak ada yang istimewa memang, terkecuali Raya adalah lulusan jurusan Politik dan Pengkajian Feminisme dari New York University. Intrik dunia kerja bidang jurnalistik disajikan dengan sangat lugas dan sederhana.
Semua cerita memang berawal dari ruang Redaksi. Yang kemudian berkembang di lapangan dengan segala macam bentuk penyesuaian. Ada yang menarik mengenai hubungan antara Raya dan Bramantyo (Fauzi Baadila), yang merupakan kompetitor. Bram, menjadi "mentor" yang baik untuk Raya. Tetapi ternyata dalam hal ini berlaku ada udang di balik batu.
Secara keseluruhan mini seri ini mengangkat tema pembunuhan, pemerkosaan, dan juga narkoba. Tapi bumbu-bumbupun secara tepat disisipkan. Seperti keberhasilan Raya mewawancarai Mariana Renata, seorang mahasiswi dan juga model, yang menjadi cameo. Saya pribadi baru menyadari bahwa model bukan hanya bermodalkan tampang atau fisik, ada yang lebih esensi dari itu, yaitu kepribadian.
Dunia kerja jurnalistik benar-benar tersaji dengan gamblang, rapat yang terkondisi dengan demokratis, lembur dan tidur di kantor saat deadline, ritual-ritual khusus, dan semacamnya.
Mini seri ini terdiri dari 14 episode, tidak mengenal isitilah kejar tayang, sehingga kualitas cerita benar-benar terjaga. Selain itu ditampilkannya cameo, selain Mariana Renata, seperti Andy Rif dan bahkan Andi Mallarangeng, semakin memperkuat struktur cerita, yang berusaha mengkombinasikan antara dunia "khayalan" dengan realita.
Leila S. Chudori, penulis skenario mengatakan bahwa setiap episode dari mini seri ini memiliki judul yang berbeda, tetapi selalu ada benang merah yang dikaitkan dengan episode selanjutnya.
Yang pasti DTK memang menjadi tayangan yang penuh arti dan sarat akan makna, tidak hanya dari sisi jurnalistik, tetapi secara luas bagaimana memaknai hidup dengan memberi kontribusi yang sebaik-baiknya.
Satu hal yang sedikit mengganjal adalah Dian Sastro seperti belum bisa melepaskan image tokoh Cinta (dalam film 'Ada Apa dengan Cinta?'), yang terlalu "lembut". Agak kontras dengan perannya sebagai wartawan kriminal. *** Mamat
Posted on November 6, 2006 11:07 AM | Permalink

Komentar (1)
Film yang unik juga buat disimak
@ January 31, 2008 09:51