Kiprah Blog di Tengah Arus Main-Stream Media
Akuisisi Situs Berbagi Video You Tube awal bulan silam oleh Google, sebagaimana dikutip dari link ini, menyisakan fenomena menarik.
Saat rumor ini pertama kali digelindingkan oleh Michael Arrington di blog Techcrunch yang menyatakan nilai transaksi akuisisi tersebut senilai US$ 1,65 miliar atau sekitar Rp 15,2 triliun, serta merta menggegerkan blogosphere dan bergaung hingga newsroom media-media utama.
"Berdasarkan pengalaman, rumor ini 40% benar," demikian tulis Arrington pada postingnya. Dalam hitungan jam, dihari yang sama pula, situs surat kabar besar Wall Street Journal memberikan konfirmasi posting Arrington tersebut. 3 hari sesudahnya, tepatnya pada tanggal 9 Oktober 2006, rumor Arrington di Techcrunch dan konfirmasinya di situs WSJ benar-benar terjadi.
Google mengumumkan membeli YouTube dengan harga US$ 1,65 miliar dalam bentuk saham.
Situs yang menyediakan 100 juta video yang dilihat setiap hari dan dikunjungi oleh sekitar 72 juta orang setiap bulan ini, sejak didirikan Februari 2005 memang merupakan situs berbagi video paling populer serta memiliki pertumbuhan sangat pesat di internet. Proses akuisisinya memang sebuah fenomena, namun fenomena yang lebih menghentak lagi adalah bahwa betapa blog techcrunch--dalam pemberitaan akuisisi google tersebut-- mewartakan lebih cepat (bahkan akurat!) peristiwa menghebohkan itu. Sebuah bukti bahwa blog ternyata berhasil memberitakan
rumor sebuah transaksi besar dan ternyata terbukti adanya.
Blog dan Penyaluran Nafsu
Sejumlah pekerja media yang kebetulan ngeblog dan sempat "ditemui" oleh bz! via email mengungkapkan beragam komentar terutama pendapat mereka mengenai posisi blog di tengah main-stream media saat ini. Eben Ezer Siadari, Pemimpin Redaksi Majalah Franchise, MLM dan Entrepreneur: DUIT! mengungkapkan pengalaman awal dan motivasinya ngeblog.
"Agak lupa persisnya, tapi kira-kira sejak Oktober tahun 2005 saya mulai ngeblog. Sebelumnya saya sudah agak lama aktif di sebuah milis yang mengulas budaya dan mengirimkan tulisan-tulisan reflektif saya di sana. Menulis secara reflektif itu, yang kemudian saya sajikan lewat blog merupakan bagian dari cara saya untuk keluar dari rutinitas sebagai pekerja media. Lewat blog kita lebih bebas berekspresi. Juga lebih leluasa menyampaikan opini pribadi, ketimbang lewat media di mana kita bekerja. Sebagai pekerja media saya masih tetap merasa perlu menghormati fakta sebagai bagian paling penting dalam mengulas sesuatu. Agak berbeda dengan di blog. Opini kita bisa lebih kita kedepankan dengan catatan, kita mempertaruhkan reputasi pribadi dan tanggung jawab pribadi kita. Di pekerjaan sehari-hari, kita tidak bertanggungjawab sendirian melainkan kita juga ikut mempertaruhkan reputasi media tempat kita bekerja. Saya kira disana lah bedanya. Ada rambu yang lebih banyak ketika kita bekerja dalam pekerjaan kita ketimbang di saat ngeblog," kata lelaki kelahiran Sarimatondang, 27 Juli 1966 ini.
"Awalnya sih saya ngeblog karena penasaran aja. Pengen tahu seperti apa sih yang namanya blogger," ujar Wicaksono Sihirhujan Hidayat yang saat ini bekerja sebagai jurnalis di DetikINET.com. Lelaki kelahiran Depok 28 April ini menambahkan, "Posting pertama saya di Maret 2003. Tujuannya? Saya pengen punya media menampilkan karya-karya puisi dan fiksi saya di internet, kemudian berkembang jadi bikin jurnal pribadi juga. Yang pasti dalam ngeblog saya punya kebebasan yang lebih besar, karena saya bisa menulis apa saja yang saya mau."
Sementara itu, Irfan Salafudin Redaktur Jawa Pos Radar Solo berbagi pengalaman, "Pertama kali ngeblog Agustus 2005. Jadi baru setahun lebih saya ngeblog. Itu juga postingannya termasuk jarang-jarang... Hehehe. Soal motivasi, apa yak? Kalau awalnya sih iseng, tertarik ngeblog karena teman sekantor saya ngeblog. Dan kelihatannya asyik. Tapi setelah merasakan sendiri nikmatnya ngeblog, sekarang ngeblog jadi semacam kebutuhan, menjadi semacam "penyaluran nafsu". Nafsu untuk berbicara, mengeluarkan uneg-uneg yang sering tidak bisa saya ungkapkan lewat jalur biasa. Di blog kan bebas mau ngomong apa saja, karena tanggung jawabnya ada pada masing-masing blogger. Ngeblog juga jadi penyaluran keinginan terpendam saya untuk menulis tentang hal-hal yang tidak bisa saya tulis di media tempat saya bekerja. Atau kalau pun bisa porsinya kecil. Jadi ya itu, ngeblog jadi "penyaluran nafsu" hehehe... Soal Perbedaan dan kelebihan, ngeblog lebih bebas berbicara. Bebas. Dan semua yang diungkapkan lewat tulisan di blog, seperti tadi saya bilang, tanggung jawabnya kembali pada si blogger sebagai penulis. Dibandingkan dengan pekerjaan rutin sebagai pekerja media, menulis di blog lebih enak. Soalnya tidak ada editor atau redaktur yang meng-cut tulisan kita.. Hehehe... Jadi mau nulis panjang, mau nulis pendek, karena blogger selain sebagai penulis juga merangkap sebagai editor/redaktur, ya monggo-monggo saja. Mau pakai kata sekasar apa pun, juga monggo. Wong tidak ada pihak lain yang mengedit tulisan si blogger. Tapi sering juga menulis hasil reportase di media – maksudnya koran– lebih enak dibanding menulis di blog. Karena tidak semua tulisan yang disodorkan bisa dimuat, maka kalau tulisan kita dimuat, bisa lebih puas. Kalau di blog kan tidak ada sortir menyortir tulisan. Tulisan apa pun, sebagus atau sejelek apa pun, sudah pasti bisa masuk."
Sedangkan, Ibnu Rusydi yang lebih dikenal dengan panggilan Dodi ini menyatakan: "Ngeblog pertama kali taun 2003. Masih coba-coba untuk ngetes 'binatang bernama blog' ini. Heheh. Setelah menjadi buruh media, ngeblognya tetap berlanjut. Kenapa masih berlanjut? ya kenapa tidak!"
Blog Bukan Ancaman
Sebagai garda depan Citizen Journalism, blog, bagi Wicak bukanlah merupakan potensi ancaman bagi pekerja media. "Semua bentuk jurnalisme yang muncul," kata pria yang hobi memasak, menulis dan mengoprek ini, "dan yang akan muncul, akan memperkuat jurnalisme itu sendiri. Tak ada gunanya mempertentangkan blog sebagai media baru melawan media lama, itu hanya perdebatan yang tak produktif. Jiwa blog sebagai suara rakyat akan mewarnai perkembangan jurnalisme di kemudian hari. Blog dan media 'tradisional' tidak akan saling membunuh, justru saling menghidupkan/memberi nafas. Upaya mengkutub-kutubkan antara blog dan media lama saya khawatir hanya akan menjurus pada perdebatan yang sia-sia."
Senada dengan itu, Eben yang juga ikut berpartisipasi menulis dalam buku kerjasama blogfam dan penerbit Cinta "Ortu Kenapa Sih" ini berkomentar, "Bukan ancaman, menurut saya. Malah saya melihat fenomena ngeblog bisa menjadi pemacu media agar bekerja lebih baik. Baru-baru ini Kompas mengangkat tulisan tentang fenomena naik sepeda motor di Jakarta. Isu itu diangkat dengan mengambil cerita dari sebuah blog friendster. Ini salah satu contoh bagaimana media bisa memanfaatkan blog menjadi sumber informasi sehingga info yang disajikan lebih berwarna dan lebih mendekati apa yang terjadi di dunia nyata. Fenomena ngeblog sendiri menurut saya harus kita cermati ke dalam dua bagian penting. Pertama tren ngeblog sebagai euphoria dan ngeblog sebagai benar-benar cermin ekspressi diri. Sekarang ini sudah ribuan blogger di Indonesia dan saya kira ini akan membawa kita pada suatu tahap mabuk blogger. Mirip seperti mabuk infotainment sekarang ini, yang menyebabkan kita tak bisa lagi membedakan mana berita heboh mana yang tidak. Coba, sekarang kita nggak kaget-kaget lagi, kan, dengar artis yang cerai? Dlsb. Ini menurut saya karena kita sudah masuk ke tahap mabuk infotainment. Suatu saat (atau malah sudah sampai?) kita masuk ke mabuk blogger. Dan kita nggak bisa lagi bedakan mana blog yang perlu dikunjungi dan mana yang tidak. Tetapi dalam jangka panjang saya yakin akan tersaring mana blogger sejati. Dalam arti, mana blogger yang benar-benar menekuni blog karena ia menyenanginya, karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya lewat blognya dan mana blog yang sekadar ikut-ikutan. Nggak gampang lho memelihara dan meng-update blog. Bisa ribuan blog lahir, tapi yang bertahan beberapa tahun, saya kira tidak banyak. Saya tidak tahu berapa lama ini terjadi. Tapi blogger-blogger sejati itu saya kira akan muncul suatu saat. Apakah ia mengganti fungsi media yang sudah ada? Mungkin tidak. Melengkapi, ya."
Irfan pun berkomentar serupa. Lelaki kelahiran Wonosobo,2 Januari 1978 ini mengungkapkan, "Kalau saat ini, khususnya di Indonesia, rasanya kok blog menjadi ancaman bagi praktisi media masih belum. Lha orang yang melek blog aja, bisa dibilang belum massal. Bisa jadi dari jumlah populasi kota, yang melek blog baru lima persen, meski yang melek internet sudah 15 persen. Jujur saja, saya kemarin juga nggak kenal istilah citizen journalism. Baru pas ditanya soal ini oleh BZ, saya mencari tahu kesana kemari. Dan saya menemukan beberapa tulisan referensi. Dari salah satu referensi yang saya baca, di salah satu kota di AS, ada blog yang menjadi garda depan citizen journalism. Warga kota banyak yang mengutarakan pendapat, unek-unek dan memberi beragam informasi lewat blog itu. Tapi itu di salah satu kota di AS, yang penduduknya sebagian besar sudah melek internet dan melek blog. Dan itu pun belum tentu jadi ancaman bagi praktisi media, karena rasanya masih banyak orang yang butuh informasi dari media cetak atau elektronik, yang informasinya tidak mereka dapatkan dari blog yang mereka kunjungi. Lha, di Indonesia? Masih bejibun je, orang yang belum melek internet, apalagi kemudian melek blog. Ditambah lagi, biaya koneksi internet di republik ini lumayan mahal untuk ukuran kantong rata-rata penduduk. Memang, ada warnet. Tapi masih banyak orang yang mending memakai uangnya buat makan, daripada buat main internet, terus ngeblog."
"Jadi,"tambah lelaki yang berhobi membaca,belajar, kelayapan (traveling) dan mendengarkan musik serta berburu kaset loak khususnya rekaman musik blues ini, "kalau blog jadi ancaman buat praktisi media, rasanya belum atau semoga saja tidak … hehehehehehe. Saya malah berharap, kalau blog bisa menjadi tambahan informasi buat praktisi media untuk menyajikan informasi yang lebih detil, komplet dan akurat di media tempatnya bekerja. Ya, menjadi semacam referensi, daripada menjadi ancaman. Cuma, kebanyakan blog – termasuk blog saya – masih bercerita soal sisi pribadi si penulis/blogger. Meski ada juga selingan-selingan postingan yang informatif, yang bisa menjadi tambahan ilmu atau sekadar informasi berguna buat pembacanya. Saya masih belum menemukan blog yang merekam sisik melik kehidupan dan problematika kota, bersama keluhan-keluhan warganya, yang kemudian bisa disebut sebagai garda depan citizen journalism. Seperti yang saya baca di tulisan referensi soal citizen journalism. Mungkin pemerintah perlu ya membuat blog seperti ini. Setidaknya, biar pemerintah bisa menerima aspirasi langsung dari warganya, lewat blog. Tapi yang jadi pertanyaan,
pemerintah sudah melek blog belum, ya? Dan kalau pun blog seperti itu ada, rasanya blog ini tidak akan menjadi ancaman bagi praktisi media. Malah bisa jadi semacam referensi informasi, untuk kemudian informasi itu dikonfirmasikan ke pihak bersangkutan, sehingga didapat informasi yang berimbang, balance, tidak berat sebelah. Istilah kerennya cover both side. Jadi tidak hanya sekadar informasi dari satu sisi, dari para citizen, yang bisa jadi salah.
Lain lagi pendapat Dodi yang bekerja di PT Tempo Inti Media Tbk. "Citizen Journalism (CJ) di Indonesia tampaknya belum pesat-pesat amat. Mungkin karena internet baru menjangkau sedikit masyarakat. Bagi dunia jurnalisme Indonesia, masih banyak ancaman2 lain yang menduduki peringkat di atas CJ. Heheh.
Ngomongin CJ, dua blog yang saya ingat adalah milik Fahmi di mfahmia2705.blogspot.com, dan blog milik Pak Gombal (yang juga petinggi di sebuah media). Di antara tulisan-tulisan mereka, ada yang patut ditindaklanjuti pekerja media. Sebab saat ini, medialah yang punya saluran ke pembuat kebijakan."
Kemudian Pria kelahiran Juni 1981 yang hobi baca, nonton, menyenangi musik ini melanjutkan, "Setau saya, pemerintah belum (serius) mengamati blog. Mengapa CJ perlu dikaitkan dengan pemerintah? Sebab, kunci kebijakan ada di mereka.Di antara keluhan warga Jakarta di blog-blog mereka, misalnya, mana yang dipantau oleh Pemprov? Presiden? Halah, sekali-kalinya ada blog yang "dipantau", itu pun blog orang yang sempat dituduh menghina presiden (kasus Herman Saksono). Untungnya, "penyelesaian" kasus itu datang dari Enda Nasution, ketika dia menanyakan kasus itu ke SBY saat berkunjung ke Bangkok. :)"
Melancarkan Kemampuan Menulis
"Saya pernah mengutip sebuah tulisan kolom seseorang (saya lupa namanya, tapi nama blognya kira - kira dismal science) dari blognya yang mengulas perekonomian makro. Tentu setelah minta izin kepadaya. Saya kira ada banyak blog yang begitu, yang berisi tulisan bermutu, yang patut ditelisik oleh para redaktur untuk ditampilkan di medianya," kata Eben yang memang berhobi ngeblog mengungkapkan pengalaman menariknya selama ngeblog dikaitkan aktifitasnya sebagai pekerja media.
"Yang paling berkesan justru saat saya bertemu dengan komunitas Blogfam", ujar Wicak membagi pengalamannya. Lelaki yang kerap menyambangi situs www.lifehacker.com ini menambahkan, "Saya lihat blogfam adalah komunitas blog yang sehat, salah satunya karena tidak berkutat pada masalah media baru media lama atau membunuh musuh bersama. Blogfam dengan segala aktivitasnya nampak berupaya menghidupkan konten dari anggotanya dan senantiasa menjalin tali kekeluargaan/solidaritas. Blogfam benar-benar menjadi sebuah virtual family."
"Saya jadi punya teman-teman dari berbagai penjuru. Kalau kesan dan pengalaman berkaitan dengan pekerjaan, apa ya? Ya, minimal, nulis di blog bisa lebih melancarkan kemampuan menulis saya untuk koran tempat saya kerja. Ya, jadi media untuk latihan lah. Biar nggak stagnan juga, style penulisannya," kata Irfan yang saat ini berdomisili di Solo .
Sedangkan kesan bagi Dodi selama menjadi blogger, "Sejak menjadi buruh media, terus terang saya jadi kurang produktif dalam ngeblog. Selain karena waktu, kadang-kadang ada dilema dalam menulis blog: rasanya ga enak kalo isi blog adalah hasil-hasil peliputan. Heheh. Tapi kadang-kadang, saya menulis juga hal-hal yang saya temui di lapangan."
*** (Amril, Sa)
