Artikel:

Lebaran di Karet, di Karet. Kumpulan Cerpen Umar Kayam

Umar Kayam adalah salah satu penulis yang saya kagumi. Seorang penulis realis, saya menjulukinya. Karya pertamanya yang saya baca adalah Mangan Ora Mangan Kumpul, sebuah kumpulan tulisan pendeknya yang dipublikasikan melalui koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

bz!Bincang

Judul: Lebaran di Karet, di Karet
Pengarang: Umar Kayam
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta November 2002
Halaman: xxii + 102 halaman
ISBN: 979-709-047-7

Sebuah buku yang membuat saya melanjutkan ke ”Para Priyayi” dan ”Kunang-kunang di Manhattan”. Belum lagi episode selanjutnya dari Mangan Ora Mangan Kumpul.

Kumpulan cerpen kali ini terdiri dari 13 cerita pendek. Sebagian besar berkaitan dengan lebaran, mudik, dan pendatang. Buku ini diawali dengan Ke Solo, Ke Njati, yang berisi perjuangan seorang Ibu untuk membawa kedua anaknya pulang kampung, untuk sekedar melepaskan kerinduan. Perjuangan yang amat keras karena harus rebutan kendaraan yang akan mengangkut mereka. Suasana mudik tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini, dimana selalu terjadi ”kekerasan hidup” menjelang hari raya.

Dalam Ziarah Lebaran, Umar Kayam berusaha mengangkat kehidupan seorang suami yang ditinggal mati istrinya, yang terpaksa menitipkan anak semata wayangnya ke mertuanya di kampung. Dialog yang terjadi antara Yusuf, dan juga Yati, seorang perempuan yang diharapkan mau diperistri Yusuf tampak tersaji dengan sangat lugas.

Di Menjelang Lebaran, Lebaran Ini Saya Harus Pulang, Marti, Mbok Jah, Sardi dan Lebaran di Karet, di Karet, Umar Kayam mengupas tuntas suasana lebaran yang terjadi, mulai dari mudik hingga ziarah kubur di seputar lebaran. Kaum pendatang pada umumnya berkeinginan besar untuk mudik, pulang kampung, demi sekedar mewujudkan doktrin bahwa kalau orang bekerja di kota pasti sukses. Doktrin inilah yang membuat Sardi dalam Sardi menghalalkan segala cara untuk sekedar membagikan sangu ke sanak famili dan sekedar mendapatkan kebanggaan semu.

Umar Kayam adalah seorang yang sangat jeli dalam mengangkat tema-tema sosial. Korupsi dan kekuasaan disajikan dalam 4 kisah terakhir. Dalam Sphinx secara lugas Umar mengemukakan tokoh yang dulunya pendiam dan cenderung tidak bersosialisasi, pada akhirnya bisa menjadi seorang pejabat (yang tentunya tidak mengikuti ”track” yang seharusnya).

Umar Kayam, sekali lagi, adalah seorang penulis realis. Seorang penulis yang mampu memberi makna dan mengangkat tema dari kehidupan sehari-hari, untuk selanjutnya membuat pembaca menarik nafas dalam-dalam, dan tak bisa berkata-kata sejenak.

*** (Mamat)

Berikut kuis bz!bincang bulan ini:

1. Ada berapa cerpen yang dimuat di kumpulan cerpen "Lebaran di Karet, di Karet".
a. 11
b. 12
c. 13

2. Apakah kepanjangan dari DTK ?
a. Dunia Tanpa Koma
b. Dunia Tanpa Kita
c. Dunia Tanpa Kata


Kirim jawaban kuis ke redaksi@blogfam.com selambatnya 1 Desember 2006.
Tersedia 1 buah buku karya Umar Kayam untuk 2 orang pemenang.
Wilayah pengiriman hanya area Indonesia.

Posted on November 6, 2006 11:06 AM |

Komentar (1)

asriyati:

jawaban no satu adalah 13 cerpen atau c dan jawaban nomor 2 adalah dunia tanpa koma atau a

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: