Oleh-oleh dari Hong Kong
Dalam kesempatan pulang kampung kemarin, saya menjadwalkan acara mampir di Hong Kong selama 4 hari. Singkat saja, karena judulnya kan mampir. Tadinya saya pikir, 4 hari saja cukup untuk meng-eksplore mantan teritori Inggris ini. Ternyata Hong Kong begitu menarik, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan sehingga 4 hari itu berlalu dengan cepat.
Buat yang suka belanja (atau cuma window shopping), Hong Kong memang surganya. Sepertinya Hong Kong memang memanjakan para shopper. Pusat perbelanjaan buka sampai larut malam, dari yang supermoderen sampai yang tradisional. Terowongan-terowongan bawah tanahpun, dipenuhi dengan toko-toko dan kedai-kedai makan yang hampir selalu ramai. Mungkin daya tarik utama Hong Kong adalah sebagai tempat belanja. Tapi buat yang nggak suka belanja seperti saya, ada banyak sekali tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Hong Kong. Begitu mendarat di airport, ada banyak buku panduan jalan-jalan dari Hong Kong Tourism Board yang dilengkapi dengan rute transportasi umum, sehingga turis yang baru pertama kali ke Hong Kong pun, tidak akan kesulitan mencapai tempat2 wisata yang ingin dikunjungi.
The Peak
Ini adalah daerah wajib kunjung turis nomor satu (katanya, sih). Belum afdol ke Hong Kong kalau belum sempat naik ke The Peak. Sesuai dengan namanya, The Peak (yang artinya puncak) berlokasi di perbukitan di Hong Kong Island. Untuk sampai ke tempat ini, tersedia tram dengan rel bergigi yang mendaki bukit dengan kemiringan 45 derajat.
Dari The Peak, kita bisa sekaligus melihat pemandangan gedung-gedung bertingkat yang terhampar di bawah bukit, Victoria Harbour, dan Kowloon. Biasanya semua orang yang pernah berkunjung ke The Peak pulang membawa foto seperti ini:

Jadi siap-siaplah antri berfoto di spot ini, karena peminatnya lumayan banyak. Trus, kalau nggak bawa kamera, gimana? Jangan kuatir, karena ada kios-kios foto yang menawarkan foto langsung jadi.
Bentuk kiosnya sih sederhana, seperti kios kaki lima, tapi peralatannya lengkap; kamera digital SLR, laptop yang dilengkapi dengan Photoshop, dan photo printer. Si mas-mas yang jualan menawarkan foto langsung jadi lengkap dengan retouch lewat Photoshop. Pemandangan latar belakang berkabut bisa disulap jadi cerah, atau mau berfoto dengan pemandangan The Peak di waktu malam, padahal kita datang di siang hari? Semua bisa, dengan Photoshop. Canggih, kan? Semua selesai dalam 5 menit, lagi. Hebat, mas!
Giant Buddha

Patung Budha raksasa yang terbuat dari perunggu ini terletak di daerah pegunungan di Lantau Island. Ada bermacam cara menuju ke tempat ini dan sebagai turis tentu saja saya memilih pergi dengan cara A dan pulang dengan cara B. Pergi dengan menggunakan MTR (kereta bawah tanah) dilanjutkan cable car, pulang dengan bis dilanjutkan ferry ke Hong Kong Island. Untuk naik ke pelataran paling atas di tempat Giant Buddha, kita harus mendaki 220 anak tangga. Lumayan sebagai olah raga turis, tapi pemandangan dari atas memang menakjubkan. Di seberang lokasi Giant Buddha terdapat kuil dan biara Po Lin, yang dipenuhi oleh para peziarah dan turis, tentu saja. Di sini terdapat restoran vegetarian yang dikelola pihak biara, yang dijual sebagai karcis terusan untuk masuk museum di kaki Giant Buddha. Artinya, karcis makan berlaku juga sebagai karcis museum.
Symphony of Lights
Setiap malam tepat jam 8, kita bisa menyaksikan pertunjukan multimedia sinar laser, musik dan narasi selama sekitar 15 menit. Lokasinya di kedua sisi Victoria Harbour. Gedung-gedung pencakar langit di sisi Kowloon dan Hong Kong Island memancarkan sinar secara bergantian sesuai dengan musik dan narasi. Bagus memang, tapi monoton juga. Saya nonton 2 kali dari 2 sisi, ternyata kalau menurut pendapat pribadi, nonton dari sisi Hong Kong Island lebih menarik dan tidak terlalu hingar bingar seperti dari sisi Kowloon.
Yang Susah, Yang Gampang

Selain tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, Hong Kong masih menyimpan banyak daerah wisata lain yang tak kalah menarik. Selain itu, buat saya makanan di Hong Kong juga enak-enak. Sayangnya kadang saya mengalami kesulitan berkomunikasi karena tidak semua orang mengerti Bahasa Inggris. Kalau sudah begitu, bahasa tarzan lah yang dipakai alias tinggal tunjuk-tunjuk mana yang kita mau. Gampang juga, sebenarnya. Oh ya, untuk yang belum biasa memakai sumpit, harap siap sedia sendok garpu di tas, karena tidak semua rumah makan di Hong Kong menyediakan sendok garpu.
Di luar itu, menurut saya Hong Kong enak buat dijadikan tempat jalan-jalan mandiri. Karena semua sarana transportasi dan informasi mendukung. Bahkan sarana transportasi pun bisa dijadikan wisata yang asyik. Di hari terakhir, saya bertekad untuk naik bis dan tram apa saja sampai rute berakhir. Tinggal naik, duduk dan melihat pemandangan sampai disuruh turun oleh supir karena bis akan beristirahat di terminal.
Sampai di sini oleh-oleh cerita perjalanan dari Hong Kong. Kalau boleh, suatu hari saya pengen balik lagi ke sana untuk mengunjungi daerah-daerah yang belum sempat tercapai dalam 4 hari itu. Mau ikut? ** (Wendy)
