Sumanto Mampir di Trans TV
Pantry Lantai 3, Gedung Trans TV Jakarta. Selasa 31 Oktober 2006. Sore.
Hujan baru saja mengguyur Jakarta setelah beberapa hari hanya gerimis yang turun malu-malu. Di luar, genangan air tampak mengisi beberapa bagian lantai yang tak rata. Saya sedang duduk dekat pintu kaca pantry, menikmati sekotak nasi plus ikan bawal baker. Perut saya terasa lapar setelah seharian menemani editor mengerjakan satu shift editing visual di Lantai 2.
Di samping saya Yudha juga sedang menikmati sebungkus nasi padang dengan khusuknya. Yudha office boy yang lebih sering bertugas di Lantai 3, lantai bagian News.
Di gedung ini seluruhnya ada sembilan lantai. Di Lantai 1 ada lobi, ruang serba guna, dan 3 buah studio. Di lantai 2, selain ruangan editing visual, ada juga ruangan logistik dan MCR (Master Control Room) Studio 2. Dari MCR inilah semua kegiatan di studio 2 terkendali. Kalau sering nonton Trans, pasti tahu acara Dorce Show, Lepas Malam, dan Ngelenong Yuk. Nah, acara-acara itu adalah sebagian yang taping (proses rekaman) atau siaran langsungnya diadakan di Studio 2.
Lantai 3, seperti yang sudah disebutkan tadi, diperuntukkan untuk kegiatan Divisi News. Dari sini diproduksi program-program seperti Reportase, Kejamnya Dunia, Sisi Lain, Jelang Siang, Jelajah, Fenomena, Lacak, dan lain sebagainya. Belakangan, Fenomena dan Lacak pindah tayang ke TV7 yang baru saja bergabung dengan Trans TV dan kini menempati Lantai 5 dan 6 di gedung yang sama. Sebelumnya TV7 bermarkas di Wisma Dharmala di Jalan Sudirman.
Lantai 4 –ditulis 3A, tidak ada lantai 4 di sini—ditempati Divisi HRD. Sedang Divisi Produksi dan Facilities menghuni lantai 7 dan 8.
Para pembesar, tentu saja menempati Lantai 9, yang paling dekat dengan matahari.
...
“Abis dari Hero, beli anggur. Sumanto minta anggur,” kata Yudha menjelaskan tentang bekas titik-titik air yang membasahi pundak bajunya. Di depan kami sudah ada Pak Wit juga rupanya. Karena sibuk dengan tulang-tulang ikan bawal, saya tak menyimak: mungkin dia bertanya darimana Yudha berhujan-hujan. Pak Wit office boy senior di kantor ini, sudah ada jauh sebelum saya bergabung.
Mendengar nama Sumanto, sang pemakan mayat itu, saya berhenti menyuap nasi.
“Sumanto di sini?” tanya saya.
“Diumpetin di kamar tidur, tadi pagi abis diculik ama SCTV dari hotel.”
Saya melongo.
Tapi sebaiknya saya bercerita dari awal saja.
[][][]
Tahun baru 2003, Sumanto menggemparkan dunia setelah memakan mayat Mbok Rinah (81). Mayat warga desa Majatengah, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, Jawa Tengah itu digali dan dicuri Sumanto setelah 16 jam dikubur.
“Ada yang digoreng, ada yang...,” demikian dalam sebuah wawancara dengan Dewi Rahmayani, reporter acara Kupas Tuntas (waktu itu masih di Trans TV), Sumanto menceritakan bagaimana cara dia “mengolah” mayat Mbok Rinah sebelum disantap. Betul-betul sebuah ilmu kuliner yang pas-pasan Tulang dan sisa daging mayat Mbok Rinah kemudian dikubur Sumanto di depan rumahnya. Belakangan diketahui Sumanto telah memangsa dua orang lainnya.
Karena perbuatannya itu, meskipun terbukti mengalami gangguan kejiwaan, kanibal dari Purbalingga ini akhirnya diganjar hukuman 5 tahun penjara oleh pengadilan.
24 Oktober 2006, Sumanto kembali menjadi newsmaker. Bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1427 H, Sumanto dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto, Jawa Tengah. Sumanto tidak sampai penuh menjalani masa tahanannya. Setelah shalat Id, dia dibebaskan bersama 175 narapidana lainnya yang mendapatkan remisi.
Tanggal 27 Oktober 2006, Asri Rasma, seorang jurnalis TV7, ditugaskan membawa Sumanto ke Jakarta untuk diwawancarai dalam acara Kupas Tuntas di TV7. Seperti Kupas Tuntas, Asri juga bermukim di Trans TV sebelum dipindahkan ke TV7 pasca penggabungan stasiun.
Setelah dibebaskan, Sumanto memang langsung dibawa ke Panti Rehabilitasi Mental Yayasan An-Nur di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Jawa Tengah, karena tetangganya di Desa Plumutan enggan menerimannya kembali. Di pesantren milik H. Supono inilah Asri akan menjemput Sumanto.
30 Oktober 2006, setelah melalui negosiasi yang panjang dengan pejabat setempat, Asri akhirnya memperoleh izin untuk membawa Sumanto ke Jakarta. Sebuah perjuangan yang berat, karena untuk itu Asri harus menjaminkan dirinya sendiri.
Dan terbanglah mereka dengan pesawat Lion Air dari bandara Ahmad Yani, Semarang. Sumanto ditemani H. Supono dan Ahmad Sugimin, paramedis panti.
Sesuai perjanjian dengan pihak maskapai, mereka berempat diberi tempat duduk paling belakang dan baru akan naik ke pesawat setelah semua penumpang duduk. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, Sumanto diberi obat penenang. Manjur. Selama penerbangan ke Jakarta, Sumanto tidak bertingkah aneh, malah sempat ngobrol dengan pramugari.
Tiba di Jakarta, Sumanto langsung diistirahatkan di Hotel Santika, Slipi. Di hotel ini Sumanto diberi pelayanan sekuriti maksimum lengkap dengan CCTV untuk berjaga-jaga agar jangan sampai dia mengganggu penghuni hotel lain. Malamnya, Sumanto segera diboyong ke studio TV7 yang baru di gedung Trans TV di Jalan Tendean, untuk siaran wawancara live dengan Teguh Usis, presenter acara Kupas Tuntas.
Ketika ditanya apakah dia masih akan mengulangi perbuatannya, Sumanto menjawab bisa saja kalau ada perintah dari ratu. Entah ratu dari mana.
Sumanto memang masih menunjukkan tanda-tanda tidak normal. Bicaranya ngawur dan ngelantur. Sepanjang perjalanan dari Semarang, dia asyik dengan radio transistor dua baterai merk National yang senantiasa digantungkan di lehernya.
“Menunggu siaran dari Afrika,” katanya dalam logat Banyumasan yang kental.
Radio itu hadiah dari kawan-kawan untuk merayakan kebebasannya.
Sehabis siaran Kupas Tuntas, Sumanto dibawa kembali ke Hotel Santika. Rencananya keesokan harinya Sumanto akan kembali taping untuk acara Good Morning yang dibawakan oleh Ferdy Hasan dan Rieke Diah Pitaloka.
Peristiwa mengejutkan terjadi pada pagi hari tanggal 31 Oktober itu. Tahu-tahu Sumanto muncul di acara live Liputan 6 yang dipandu Bayu Setiono. Mendengar itu, Asri tentu marah besar.
Asri menyebut tim SCTV yang “menculik” Sumanto dari Hotel Santika itu sebagai tak beretika. Kepada H. Supono mereka bilang telah berkordinasi dengan tim Kupas Tuntas TV7 sehingga H. Supono bersedia dibawa ke studio SCTV.
“Keterlaluan! Mereka memanfaatkan keluguan Haji Supono,” kata Asri.
Asri sendiri baru tahu Sumanto habis “dipinjam” oleh tim SCTV setelah dikembalikan lagi diam-diam ke Hotel Santika.
“Lu bayangin aja, gue udah ngejaminin diri gue ama orang sana. Sumanto tuh selama di Jakarta tanggung jawab gue. Mereka seenaknya aja ngambil!” kata Asri meradang.
Saya beberapa kali tugas liputan dengan Asri, dan dalam beberapa kondisi saya menilai Asri agak temperamental. Tapi dalam kasus ini, menurut saya, dia memang pantas mendidih.
“Sumanto bukan narasumber biasa. Kalo ada apa-apa dengan dia selama di Jakarta, gue yang kena!”
Waba’du, untuk mengamankan taping acara Good Morning hari itu juga, Sumanto akhirnya diboyong ke kantor Trans TV. Sumanto diberi sebuah kamar khusus dekat studio 5, tempat taping dilaksanakan. Semua keinginannya pun dipenuhi, termasuk buah anggur yang dibelikan Yudha itu. Namanya tamu khusus, Sumanto bebas melakukan apa saja, termasuk merokok di ruang ber-AC, yang kalau kami-kami yang melakukannya sudah pasti kena SP!
[][][]
Selayaknya sebuah stasiun televisi, di gedung ini tiap hari ada saja selebriti yang seliweran. Tapi bagi penghuni Lantai 3 News, hampir tak ada yang sebegitu menggodanya untuk dimintai foto bareng. Biasanya mereka dibiarkan saja sebagaimana orang biasa. Ketemu di lift pun cuek saja. Sumanto adalah pengecualian.
Sejak siang, kawan-kawan saya sudah banyak yang berseliweran di depan kamar tempat Sumanto disembunyikan. Menunggu dia keluar untuk dimintai foto bareng.
Cahyo Wibowo, seorang asisten produser yang dikenal penuh wibawa dan jaim, malah sudah beberapa kali mondar-mandir dekat ruangan itu dan bersiap-siap dengan kamera pinjamannya.
Hanya beberapa saat setelah saya mendengar dari Yudha kalau Sumanto ada di gedung ini, seperti kawan saya Cahyo, saya pun sejatinya berniat ingin berfoto bersama Sumanto. Yah lumayanlah buat kenang-kenangan. Suatu hari mungkin saya akan cerita ke anak-anak saya, “Ini nih, ayah foto dengan orang yang pernah makan orang!”
Dan menjelang sore, Sumanto akhirnya keluar kamar ditemani H. Supono. Sumanto pakai kaos warna coklat muda bertuliskan Snowear, dan celana panjang hitam yang masih ada labelnya. “Baru dikasih,” katanya.
Saya tidak ngerti Bahasa Jawa-nya Sumanto, hanya beberapa kata saja seperti “bojo”, “kimia”, dan “minyak tanah”, tapi kawan saya Bowo yang orang Jawa juga bilang kalau dia pun tak terlalu paham omongan Sumanto.
Kata koran, teman-teman Sumanto di Lapas Purwokerto banyak yang merasa kehilangan ketika Sumanto dibebaskan. Omongan Sumanto yang ngelantur dan mengundang tawa sudah terlanjur menjadi hiburan tersendiri bagi mereka selama dalam penjara. Mereka pun merasa ada yang hilang ketika Sumanto pergi.
Meskipun agak menakutkan, Sumanto memang lucu. Seperti ketika di tengah-tengah obrolan yang ngawur ke sana kemari, tiba-tiba dia nyelutuk; “Lho, lho, lho, ini kok resleting celana saya melorot! Pasti ada yang pakai remote!”
Dan kami semua pun tergelak. Ah Sumanto, lucu deh kamu! ***
Penulis: Fauzan Mukrim a.k.a Ochan
jurnalis news trans tv jakarta
nge-blog di http://halamanrawa.blogspot.com
email: halamanrawa@yahoo.com
caption foto:
Foto 1: Gedung TransTV di Jalan Tendean, Jak Sel. (Foto: Hidayat S. Gautama)
Foto 2: Lobi Gedung Trans TV (Foto: Hidayat S. Gautama)
Foto 3: Berfoto bersama Sumanto. Dari kiri ke kanan searah jarum jam: H. Supono- pakai baju hijau, Bowo, saya, Abe, Sumanto, dan Muhar. (Foto: Agung Heppi)
Posted on November 6, 2006 11:01 AM | Permalink

Komentar (1)
sebenarnya sih, nyari berita tentang editor video trans tv, tapi yg muncul ini, gpp, drpada ga da, karna saya juga Video editor ingin sekali bergabung dengan TV2 swasta sebesar transtv dan tv7, gimana mau jadi video editor Trans TV ya...??
@ May 28, 2007 20:59