Artikel:

Memiliki Blogfam

oleh: Isman H. Suryaman

“…a man that doesn't spend time with his family, can never be a real man.”
--Vito Corleone, “The Godfather”

The Godfather selalu menjadi acuan bagaimana keluarga bisa menjadi dua hal yang sama sekali berbeda. Bagi Vito Corleone, keluarga adalah akar yang membentuk dirinya. Sementara bagi anaknya, Michael Corleone, keluarga adalah justifikasi (atau alat) untuk memenuhi ambisi pribadi. Pada akhirnya, semua kembali kepada pilihan pribadi.

Ini pun berlaku bagi keluarga kedua. Atau ketiga, keempat, dan seterusnya. Keluarga yang bisa kita pilih. Bagi sebagian besar warga internet, keluarga kedua mereka adalah komunitas maya. Bahkan ada yang merasa hubungan kilobit lebih kental daripada darah. Dari keluarga seperti inilah mereka mencari informasi, bersosialisasi, dan beraktivitas bersama. Dalam skala yang lebih kecil, hubungan ini serupa dengan Vito maupun Michael Corleone. Minus praktik permafiaan. Dan pertumpahan darah hanya terjadi saat orang yang jarang pegang pisau dapur seperti saya mencoba resep dari dapur Blogfam.

Dalam pergaulan maya, saya seperti Vito: berfokus kepada hubungan dan orang. Kedekatan kepada orang akan lebih penting daripada diskusi. Saya lebih tertarik kepada proses interaksinya dibandingkan informasi maupun pengetahuan teknis. Namun, banyak juga orang seperti Michael, berfokus kepada minat. Diskusi dan aktivitas bersama akan lebih penting. Sebuah komunitas maya yang baik akan dapat memenuhi kebutuhan kedua tipe tersebut.

Blogfam adalah satu contoh. Jumlah anggota yang mencapai 2644 menjadi bukti tersendiri. Namun, penting untuk menyelami lebih dari angka. Apa yang membuat komunitas ini menjadi keluarga bagi ribuan orang? Dan apa yang perlu diperhatikan agar Blogfam tidak seperti keluarga Corleone; berhenti hanya dalam dua generasi?

Bisa jadi, jawaban untuk dua pertanyaan itu berbeda-beda bagi tiap orang. Saya sendiri hanya bisa berbagi apa yang saya alami.


Dimulai dari Perkenalan

Tak ada yang bisa membuat seorang merasa langsung diterima selain sambutan yang tulus dan hangat. Saya mengikuti beberapa komunitas di mana anggota baru yang memperkenalkan diri tidak mendapatkan jawaban. Hingga beberapa minggu. Dan kini komunitas-komunitas tersebut stagnan.

Sebaliknya, sambutan warga Blogfam luar biasa ramah. Dalam sebuah pengenalan diri, sambutan dari para anggota bisa mencapai puluhan. Saking ramahnya, saya sempat berpikir jangan-jangan kalaupun dulu saya mengenalkan diri sebagai pembunuh berseri, saya akan tetap mendapatkan sambutan hangat.

Posted: Mon Oct 23, 2004 2:25 am Post subject: salam kenal
“Salam kenal, semua. Saya isman, seorang kuli kantor di siang hari, malam hari menyambi jadi pembunuh berseri. Biasanya ngincer cewek. Senang bergabung di sini.”
Posted: Mon Oct 23, 2004 5:34 am Post subject: Re: salam kenal
“Hai, isman! Selamat bergabung. Cewek seperti apa yang biasanya kamu incar? Semoga betah.”


Berlanjut kepada Minat

Sambutan seramah apa pun akan sulit menahan orang yang bosan. Sebagian orang datang khusus untuk mencari diskusi maupun aktivitas. Tanpa kedua itu, mereka akan tetap menjadi pengamat abadi; sekadar penambah statistik keanggotaan tanpa kontribusi nyata.

Dalam kategori ini pun, Blogfam tidak mengecewakan. Sesibuk apa pun, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Galeri Kreasi, ruang khusus penulisan. Ada juga Ruang Keluarga, yang mengakomodir kebutuhan mereka yang ingin berbagi tentang perkeluargaan. Kadang saya merasa seperti dalam sebuah Oprah Show amatiran di mana semua orang bisa menjadi narasumber, tamu, penonton, atau bahkan Oprah sendiri. Ada masalah, solusi, dan proses berbagi.

Hal terakhirlah yang meyakinkan saya bahwa forum ini bukan digawangi oleh cowok. Kalau testosteron yang dominan, forum hanya akan berisi tiga hal: masalah, solusi, dan saling mengejek.

Lantas, jika saya jadi juri untuk kontes “Forum Paling Berbahaya untuk Dikunjungi saat Bulan Puasa”, Ruang Dapur Blogfam akan menang mutlak.


Berujung di Aktivitas Nyata

Lomba-lomba, penerbitan buku, pengadaan acara-acara pertemuan. Blogfam telah melakukannya. E-zine ini pun merupakan salah satunya.

Namun, yang lebih penting bagi saya adalah hal-hal kecil. Misalnya: maniak banner. Saat teman-teman Blogfam Bandung berkopi darat, kehebohannya menyebar kembali ke forum. Seseorang membuatkan banner “Kopi Darat Terheboh” dan teman-teman yang terlibat menyematkannya di blog mereka dengan bangga. Ibarat medali kehormatan. Hal-hal kecil seperti ini yang membentuk semangat korps. Kebersamaan yang membentuk keluarga.

Apakah semua ini cukup untuk membuat Blogfam abadi? Sebagai anggotanya, saya merasa ada dua hal yang perlu diperhatikan.


Budaya yang Mempersatukan

Dalam ”Around the Corporate Campfire”, Evelyn Clark menyampaikan bahwa yang membedakan antara organisasi/komunitas yang bertahan dan yang tidak adalah satu hal: budaya yang kuat.

Budaya yang kuat membuat komunitas tetap memiliki visi dan memegang nilai-nilai yang serupa. Pendapat dan praktik boleh berbeda. Namun, ada nilai-nilai universal yang menyatukan para anggotanya. Pada akhirnya, ini membawa ke rasa kepemilikan. Suatu organisasi/komunitas akan bertahan saat para anggotanya merasa memiliki organisasi/ komunitas tersebut. Sehingga saat regenerasi, anggota yang baru mewarisi nilai-nilai dari para pendahulunya.


Pewarisan Nilai

Diskusi suatu komunitas tidak hanya menyangkut informasi. Namun juga nilai-nilai; etiket, akal sehat, kepedulian sosial dan lainnya. Saat ini, kesamaan nilai-nilai inilah yang mengikat Blogfam menjadi keluarga. Tanpa peduli tempat maupun perbedaan budaya sekitar. Seorang anggota bisa tinggal di Kanada, sementara yang lain di Bandung. Namun, begitu berinteraksi di komunitas maya, mereka seakan sedang duduk bersama sambil tertawa dan saling menepuk punggung.

Sebagaimana dikatakan Judy Wicks, pendiri dan Presiden White Dog Café Philadelphia, ”Orang-orang memiliki kebutuhan untuk berbagi nilai-nilai mereka, untuk menikmati rasa [kebersamaan] komunitas, dan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.”

Dalam dua hal ini, saya merasa Blogfam masih mencari bentuk. Kebersamaan sudah terbentuk di dunia maya maupun nyata melalui berbagai contoh di atas. Sayangnya, budaya masih menjadi beban usungan para pendiri dan tokoh utama. Kesamaan nilai-nilai telah mengikat para anggota menjadi keluarga. Namun, bagaimana nanti saat regenerasi? Pewarisan nilai memang sudah terjadi, tapi terbatasi oleh bentuk forum.


Keterbatasan Teknologi

Diskusi dalam forum Blogfam tidak lepas dari redundansi. Ada saja orang yang menanyakan sesuatu yang sudah dibahas tuntas sebelumnya. Dan ini mengarah kepada saturasi. Karena topik yang sama dibahas berulang kali, kualitas jawaban makin berkurang. Orang yang sudah menjawab dahulu akan semakin enggan mengulang jawabannya.

Untuk menciptakan pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai ini, para anggota lama harus dapat menemukan arsip terdahulu dengan lebih mudah. Saya sering melihat satu topik diskusi yang penting dan merasa sayang. Kalau saja diskusi-diskusi seperti ini diarsipkan dalam bentuk Wiki, manfaatnya akan lebih luas dan tahan lama. Tantangannya, selain usaha dan waktu, adalah standar yang ketat dan konsisten.

Diskusi apa yang paling sesuai mewariskan nilai-nilai Blogfam? Atau merupakan praktik terbaik? Atau memuat informasi yang relevan dengan derau minimal? Bagaimana mengategorisasikannya? Standar tersebut harus dapat menjawab semuanya.

Sayangnya, itu pun belum menjamin para anggota akan menggunakannya. Kecuali kalau antarmuka Wiki tersebut sudah dapat diintegrasikan dengan forum. Sehingga pindah di antara keduanya begitu mudah. Dalam hal ini, batasannya adalah fitur teknologi.

Intinya, pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai akan membentuk budaya yang kuat. Dan budaya kuat ini juga yang mempertahankan komunitas saat regenerasi. Hingga akhirnya, yang diwariskan bukan hanya informasi tanpa emosi. Melainkan juga semangat kebersamaan. Dan perasaan memiliki Blogfam.

Saat itu terjadi, apakah saya akan tetap ragu tentang keabadian Blogfam? Fuhgeddabouit.

Posted on December 6, 2006 12:18 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: