Artikel:

Selamat Natal: 33 Renungan tentang Natal

Bagi umat Kristen, arti Natal bukan sekedar kelahiran. Mengapa? Karena perayaan natal yang dilakukan oleh umat Kristen itu dalam rangka mengingat kembali sosok sentral dalam kekristenan, Yesus Kristus. Natal juga bukan berarti hanya memperingati hari kelahiran. Tapi ada sesuatu yang ingin dikenang, sesuatu yang harus dipelajari, sesuatu yang harus diteladani.

bz!Bincang Penerbit: BPK Gunung Mulia
Penulis: Pdt. Dr. Ismail Andar
Format: 14 X 21 cm, 120 gr
Tebal: 110 halaman
Harga: Rp. 22,000.00



Peristiwa natal yang dirayakan oleh umat Kristen menjadi banyak arti/maknanya. Banyak hal seputar Natal yang juga dapat kita pelajari. Apa sajakah itu? Buku Selamat Natal 33 Renungan tentang Natal, yang ditulis oleh Andar Ismail ini mengupas hal ihwal tentang Natal.

Natal identik dengar kesibukan, di rumah atau di gedung gereja, untuk mempersiapkan ini dan itu. Gaun, sepatu, dekorasi, makanan, minuman dan sebagainya. Dalam prolognya Andar mengingatkan kita supaya berhati-hati merayakan Natal karena seringkali "..kita mudah terperosok ke dalam komersialisasi natal. Tanpa kita sadari Natal telah kita jadikan sumber rupa rupa bisnis dan rejeki. Natal seolah olah sudah tidak terpisahkan dari pohon terang, keranjang Natal, kartu Natal, kue Natal, tour Natal dan sejumlah komoditas atau barang dagangan lain" (hlm. IX).

Jika kita lihat isinya, maka buku ini dapat kita bagi menjadi lima kelompok. Kelompok pertama tentang hubungan Allah dengan Natal. Natal ada karena Allah yang menginginkan. Supaya manusia dapat melihat dengan nyata betapa kasih Allah terhadap mereka. Kelompok kedua menceritakan tentang diri Yesus sendiri, sebagai sosok sentral dalam peristiwa Natal. Sebenarnya jika kita tidak tahu kelanjutan kisah hidup Yesus, maka peristiwa natal akan menjadi peristiwa yang biasa biasa saja.. "Hampir setiap budaya tradisional mempunyai dongeng tentang Allah atau dewa yang menjelma menjadi manusia. Ada cerita tentang dewa yang menjelma sebagai pertapa lanjut usia ... seorang murid putri yang cantik jelita ... sebagai seorang bayi mungil tersimpang dalam sebuah semangka." (hlm. 1)

Dalam bab satu ini pengarang mengajak kita melihat kisah Yesus dari belakang supaya kita lebih menghargai Natal. "Oleh karena karya hidup Yesus itulah, sekarang kita tahu mengapa kita merayakan natal. Kita merayakan lahirnya seseorang yang 33 tahun kemudian memberi pegangan hidup, bahkan makna hidup, kepada umat manusia." (hlm 34).

Bagian lainnya, yaitu bab 14 mungkin sedikit mengejutkan para pembaca yang sampai saat ini begitu yakin bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus. Sebenarnya tidak ada sumber yang memastikan, bahwa 25 Desember adalah benar benar hari kelahiran Yesus. Bahkan sejarah mencatat Natal pernah dirayakan pada 20 Mei dan 6 Januari. "Gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke 4, dan tanggal yang dipilihnya adalah 25 Desember. Tanggal tersebut dipilih untuk memberi isi yang baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Tidak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember itupun diambil alih oleh gereja-gereja di tempat lain."(hlm.44)

Walaupun demikian toh itu seharusnya tidak 'mengguncangkan' iman kita kepada Yesus. "...Alkitab sendiri tidak memberi keterangan yang pasti bilamana, Yesus dilahirkan. Yang dikatakan Alkitab hanyalah bahwa Yesus dilahirkan di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes. Alkitab hendak mengatakan bahwa kelahiran Yesus bukan terjadi seperti dongeng abstrak tentang dewa yang sewaktu waktu menampakkan diri, melainkan sebagai kenyataan konkrit yang terjadi di tengah sejarah dunia, pada tempat dan zaman tertentu."(hlm.43) Paling tidak bab ini membuat pembaca mengkritisi lagi apa yang menjadi keyakinannya. Yang mungkin saja keyakinannya itu bukan pada Yesus-nya sendiri melainkan pada hal hal lain. Dan tidak jarang keyakinan pada hal hal lain itu justru lebih besar dibandingkan keyakinannya pada Yesus.

Kelompok ketiga mengulas seputar lagu lagu Natal. Bagaimana saudara menghadirkan suasana Natal di rumah? Ya, biasanya dengan menyanyikan atau memutar lagu lagu Natal. Dalam bab bab tertentu Andar menyuguhkan kisah dibalik lagu lagu tersebut atau membahas makna dibalik lagu itu. Misalkan dalam bab tiga, kita diminta untuk melihat ajakan dalam lagu "Hai Mari Berhimpun". Lagu ini begitu akrab di telinga kita. Nyaris semua buku acara perayaan Natal memuat lagu ini. Namun sayang pemilihan ayat sering kali mengaburkan maksud dari pengarang lagu ini. "Sebenarnya lagu "Hai Mari Berhimpun" ini terdiri dari empat bait. Keempat bait ini terdiri dari ernpat ajakan yang berurutan dari pengarangnya."(hlm.9) Jika saudara ingin mengetahui apa sajakah ajakan pengarang itu, buka, baca atau nyanyikanlah dari simak lirik lagu itu sebagaimana yang terdapat di Kidung Jemaat 109:1, 2, 7, 9.

Lagu lain yang dikupas antara lain everlasting song, lagu abadi "Malam Kudus, Dengan gaya bahasanya yang khas, singkat dan jelas, Andar mengisahkan bagaimana lagu itu dapat kita dengar sampai sekarang. Lagu "Malam Kudus" itu tidak akan berkumandang lagi di gereja Oberdorf apalagi di seluruh dunia, kalau tidak datang seorang tukang reparasi organ... Tukang reparasi itulah yang sebenarnya mempopulerkan lagu "Malam Kudus." (him.45)

Kelompok keempat menyoroti tokoh tokoh yang ada dalam peristiwa Natal. Seperti Yohanes Pembaptis, yang dikenal sebagai tokoh yang tanpa pamrih berseru seru di padang gurun " Persiapkanlah jalan untuk Tuhan. Luruskanlah jalan bagi Nya..," (Lukas 3:4). Andar menuliskan bahwa Mengapa Yesus menyebut Yohanes Pembaptis orang yang paling besar ? Yang pasti bukan karena membuat mujizat, sebab satupun tidak ada mujizat yang ia buat(Yoh. 10:41). Agaknya kebesarannya terletak dalam jiwa kepeloporannya tadi" (himself)

Tokoh lain yang dilihat diantaranya Herodes. la adalah tokoh yang selalu ketakutan kehilangan kekuasaan. Karena itu ketika orang majus bertanya "Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu ?" la terkejut bukan kepalang. Ketakutan menguasai dirinya, sehingga melahirkan perbuatan kejam yaitu membunuh setiap anak kecil di bawah usia dua tahun. la yang nekad menyuruh orang membunuh isterinya, tiga anaknya, ibu mertuanya, pamannya, iparnya dan puluhan lawan politiknya, mudah saja mengeluarkan perintah seperti yang tertulis di Matius 2:16" (hlm.101)

Kelompok kelima lebih berupa pesan Natal untuk gereja. Dengan pengalamannya sebagai pendeta jemaat di salah satu gereja di Jakarta, Andar tentu sudah hafal betul bagaimana gereja mendadak 'hidup' pada saat Natal. Lalu dengan gaya yang khas Andar menyentil gereja yang selalu disibukkan hanya setiap menjelang Natal. Sibuk mempersiapkan ini itu, sibuk menghadiri undangan. Natal yang seharusnya menjadi bel alarm yang mengejutkan umat supaya meneruskan syalom/damai. Tapi pengikut Kristus terlelap diayun lagu tenang, sunyi senyap, dunia terlelap. Tahun ini pun Natal. Cuma peringatan zaman dulu, Cuma upacara ibadah, Cuma urusan rohani" (hlm.55).

Di akhir buku ini, pengarang menyanyikan sebuah epilog berjudul "Berita Susulan". Isi epilog itu mengingatkan kita. pada realita yang ada bahwa tidak semua orang dapat merayakan Natal dengan suasana yang meriah, makanan yang wah, serba gegap gempita. Namun justru suasana yang sebaliknya, dikarenakan kemiskinan, ditinggal orang yang terkasih, terlalu sibuk, dikuasai kebencian dan pikiran yang gelap. Kepada mereka semua pengarang menyampaikan sebuah berita susulan, “Meskipun Natal selesailah sudah, namun pintu kandang masih bisa dibuka dan lentera di dalamnya masih menyala dan bayi itu masih ada” (hlm 107). *** (Rara)

Posted on December 6, 2006 12:08 AM |
 Lainnya: