Komunitas Maya Menghasilkan Karya
Rubrik tamu edisi Januari 2007 akan menghadirkan profil komunitas maya yang (kami anggap) sudah menghasilkan karya nyata. Peluncuran buku blogfam di bulan Desember 2006, telah mengetuk keinginan untuk juga melihat dan mengajak pembaca mengunjungi komunitas maya lainnya. Dari banyaknya komunitas maya, akan kami hadirkan kali ini 4 profil komunitas maya yang tergambar dari jawaban atas pertanyaan yang kami ajukan.
We R Mommies: Wadah Interaktif Bagi Ibu-ibu yang Aktif

*** wawancara dengan Shrie Amriza, Karyawati swasta di Bidang Shipping, tinggal di Depok.***
Latar belakang kelahiran dan tujuan utama
We R Mommies lahir dari interaksi dan antusiasme para mommies melalui sebuah milis parenting yang namanya sama. Kemudian antusiasme itu berbuah menjadi virtually real community melalui situs yang dipelihara secara bersama oleh para mommies.
WRM awalnya bertujuan menjadi wadah interaktif bagi para ibu dan yang ingin memiliki pengetahuan parenting dan juga wadah para ibu yang telah memiliki pengetahuan tersebut untuk membaginya. Hasilnya tentu saja ibu yang baik bagi anak-anaknya. Namun saat ini interaksi antara mommies di WRM berkembang tidak hanya sebatas masalah seputar anak, tetapi juga hal-hal lainnya. Jadi WRM telah menjadi wadah interaktif bagi ibu-ibu yang aktif.
Kalau mau tahu lebih detail mengenai komunitas WRM silahkan klik www.wrm-indonesia.org banyak info berguna yang bisa didapat dari situs itu .
Rencana konkrit di masa depan
Menginjak di usia yang ketiga di tahun 2007, WRM tentunya sudah mulai memiliki beberapa rencana-rencana yang rutin diadakan setiap tahun seperti seminar online, kopdar dan tentu saja pengembangan dan pemeliharaan situs WRM sendiri. Tahun 2007 ini, WRM ingin memantapkan program baru yang telah dimulai tahun lalu, Mommies Asuh, dan menggiatkan kontribusi mommies untuk konten WRM dan juga variasi isinya. Yang spesial tahun ini adalah lanching buku dari hasil seminar-seminar online dan buku resep alm. Mommies Inong bekerja sama dengan Dapur Bunda. Do’a kan lancar ya.
Komunitas maya di Indonesia
Indonesia memiliki komunitas maya yang kaya ragam dan banyak di antara memiliki anggota-anggota yang juga merupakan bagian komunitas maya lainnya. Sangat banyak komunitas maya yang memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi komunitasnya sendiri maupun masyarakat. Sebagai contoh tentu saja WRM dan Blogfam. Agar semakin solid dan semakin memberikan nilai positif bagi masyarakat, virtual ataupun real, suatu komunitas maya harus terus membuat dan memelihara kegiatan-kegiatan yang meningkatkan kualitas individu anggota-anggotanya dan semakin mengakrabkan komunitasnya. Dan tidak lupa untuk semakin erat menjalin komunikasi antara komunitas-komunitas maya lainnya.
Bundainbiz: Suara Hati Kaum Bapak Masih Diperlukan

*** wawancara dengan Nadia M. Yuniardo, work at home mom, tinggal di Bintaro Jaya-Jakarta.***
Latar belakang kelahiran dan tujuan utama
Bundainbiz sendiri "didirikan" tahun 2005, tanggal 5 Mei, sebagai kado ultah dari suami - tepatnya dibeliin nama domain bundainbiz.com -- Nama yang saya pakai untuk blog saya. Seperti banyak blog ibu-ibu lainnya, Blog BIB adalah sarana saya curhat tentang kegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, jaga anak, masak, nyuci dan sebagainya. Sekaligus tentang hal yang kebetulan sudah saya kerjakan sejak tahun 2000 yaitu bekerja dan berbisnis dari rumah.
Bulan November tahun yang sama, saya mulai membuat Newsletter Bundainbiz yang waktu itu masih menggunakan fasilitas YGroups sebagai sarana pengirimannya (satu atau dua minggu sekali). Kira-kira dua bulan setelah itu, banyak subscriber Newsletter yang memberikan usul agar grup YG nya dibuat menjadi diskusi dua arah. Setelah mengumpulkan teman-teman yang saya tau punya minat yang sama tentang topik bekerja dari rumah dan membangun bisnis, dan mereka setuju membantu saya sebagai Mods, barulah teman-teman yang ada di Newsletter tadi satu persatu kami ajak bergabung menjadi anggota Milis (Newsletternya sendiri masih eksis Alhamdulillah dan kini telah menggunakan fasilitas Autoreponder). Itu kira-kira bulan April 2006.
Jadi tujuan utama didiirikannya Milis BIB adalah untuk jadi sarana diskusi banyak teman-teman
yang ternyata punya mimpi yang sama seperti saya, yaitu bekerja dan belajar bisnis disesuaikan dengan sikon sebagai seorang ibu dan istri (khususnya) atau, persiapan sebagai ibu dan istri. Para ayah pun banyak menjadi anggota Milis walopun kebanyakan pasif, tapi buat kami para Mods, tidak perlu Milis BIB eksklusif "punya" perempuan karena suara hati kaum Bapak perlu menjadi masukan-masukan para Ibu khususnya dalam menjalankan tugas kedua ini.
Modal
Modal utama adalah kemauan. Karena sangat tidak mudah menjalankan peran sebagai istri dan ibu, sembari berusaha menjalankan tugas lain. Sama halnya seperti teman-teman yang bekerja kantoran. Tidak ada istilah full time mom atau or not. Buat kami, yang ada adalah work at home mom atau working mom. Tantangannya pun beragam. Misalnya, menghadapi seorang anak yang kesal karena mamanya berada di rumah tapi tidak bisa menemaninya main adalah salah satunya.
Modal kedua adalah dukungan suami. Tanpa itu, seorang perempuan yang telah menjadi istri akan sulit untuk "maju". Keikhlasan seorang suami menerima pekerjaan kedua sang istri yang saya rasa amat membantu kita yang sedang berusaha mencapai cita-cita ini itu. Itu juga yang saya lihat dari teman-teman yang Alhamulillah berhasil membangun bisnis. Ridho suami kan ridho dari Yang Atas juga.
Modal lain, sudah pasti uang. Apapun bentuk bisnisnya, baik memulai bisnis produksi sendiri, bisnis MLM, bisnis online, atau reseller produk orang lain, pasti ada uang yang harus kita persiapkan. Kecil ataupun besar tergantung jenis bisnis yang mau kita kerjakan. Ini juga gunanya kita selalu berkoordinasi dengan suami, agar penempatan modal awal atau mungkin modal bulanan dalam membangun bisnis masuk dalam pos-pos keuangan rumah tangga.
Rencana konkrit
InsyaAllah ingin membuat aneka pelatihan atau kursus-kursus singkat yang berhubungan dengan Jasa atau Bisnis yang bisa dilakukan dari rumah. Potensi anggota BIB sendiri mudah-mudahan akan bisa membantu para Mods merealisasikan mimpi ini karena ternyata, kami punya banyak anggota dari berbagai bidang seperti accounting, perpajakan, copywriter, bisnis perias, aneka ketrampilan dsbnya. Kami juga ingin merilis buku-buku yang berhubungan dengan topik ini. InsyaAllah Januari akhir ini buku pertama BIB akan diterbitkan oleh GPU sementara buku kedua dan ketiganya masih underconstruction ;-)
Kimunitas maya di Indonesia
Komunitas maya hanya tinggal namanya saja. Sama sekali tidak menjadi maya, karena terbukti konkrit ada dan banyak menghasilkan. Jangan-jangan lebih banyak karyanya yaa.
Komunitas maya saat ini banyak sekali, dan topiknya pun beragam. Biasanya bila telah ada yang berhasil membuat sebuah komunitas yang solid dengan topik A misalnya, akan timbul komunitas lainnya dengan topik yang sama. Sebetulnya agak sayang, karena harusnya Komunitas pertama bisa lebih solid bila anggota komunitas A yang kedua tetap ikut membangun memajukan Komunitas pertama tadi.
Mengelola komunitas maya yang “serius” adalah seperti mengelola organisasi. Sebaiknya ada pengambil keputusan, lalu ada pembagian kepengurusan aneka tugas bidang-bidang yang berhubungan dengan topik komunitas tersebut, dan harapannya, ada reward yang adil bila kemudian ada nilai komersil dari setiap pekerjaan yang dilakukan.
Tips untuk sukses menjalankan bisnis sendiri
Banyak teman-teman yang sebelum memulai sudah merasa “pasti akan gagal” atau sekedar “tapi aku ga bisa ini”, “aku ga akan bisa itu”. Belum mulai, sudah merasa punya banyak keterbatasan sebagi ibu rumah tangga atau sebagai ibu yang bekerja kantoran. Alias, sudah merasa “pasti saya tidak bisa nih memulai bisnis ini itu”. Sayang sekali. Karena we are we think. Possitive attitude adalah awal dari segalanya. Apa yang kita ucapkan adalah seperti sebuah doa. Padahal Yang Atas juga sukanya kalau kita selalu berbaik sangka. Saat kita punya mimpi, sekecil atau sebesar apapun, carilah jalan untuk mencapainya. Susun strategi untuk memulai dan menjalankannya. Telusuri setiap kemungkinan kendala yang akan dihadapi.
Biasanya ini yang jadi "alasan-alasan tidak bisa" yang selalu dikemukakan saat kita belum memulai. Beranikan diri untuk menghadapi alasan-alasan tadi. Kemudian, ambil step pertama untuk memulai.
Kalau boleh cerita sedikit, saya dan suami adalah penggemar kaset-kaset motivational business. Salah satunya favorit kami adalah kaset James Gwee yg berbicara ttg buku Nya Stephen R. Covey's "Seven Habits of Highly Effective People". Setelah mendengarkan James Gwee selama berjam-jam sampe suara si James di kaset mulai terseok-seok hehe. Saya setuju bahwa step pertama adalah..."Beritahukan pada orang lain bila Anda mempunyai sebuah mimpi!" Alasannya? Supaya mau ga mau, kita harus mulai mengejar mimpi tersebut dengan sebuah action yang nyata. Kalo tidak kan, akan malu sendiri.
Anak Indie Film Komunitas: Kebersamaan adalah Sebuah Karya

*** wawancara dengan Surty Pramesti Sanggi, Ibu Rumah tangga, tinggal Waanrode, Belgia.***
Latar belakang dan tujuan utama
Aifk singkatan dari anak indie film komunitas. Berawal dari kata "anak indie" yang kami artikan seseorang yang sadar akan freedom & being independent. Kami tidak pernah berniat untuk membuat suatu komunitas karena semuanya berawal dan berjalan spontan, dan lebih pentingnya kami semua ini bebas dan tidak mengikat satu sama lain. Jadi kami ini bukan organisasi atau asosiasi. Wadah memang perlu tapi internal integrasi lebih penting lagi. Siapa saja boleh bergabung, pintu selalu terbuka untuk siapapun.
Yang jelas kami semua ibu rumah tangga sekaligus perantau yang berdomisili di Belgia dan Belanda. Silahturahmi sesama wanita indonesia di luar tanah air tidak selalu mudah,apalagi menyatukan aspirasi dan visi, sangat complex mengingat latar belakang individu yang sangat heterogenic. Beberapa di antara kami memang sudah terjalin proses persamaan parameter untuk mengartikan kata "kebersamaan" lebih dalam lagi,dan ini semua membutuhkan waktu cukup panjang.
Lewat perjalanan waktu setelah beberapa tahun, proses perkenalan faham & latar belakang cara berpikir satu sama lain, saling menghargai sikap seseorang, trust, meminimalis conflict dan memaksimalis sense of belonging, terutama persamaan niat dan interest untuk menikmati kebersamaan sebagai fondasi awal. Akhirnya Proses pendewasaan ini membuahkan persamaan parameter bahwa, kebersamaan adalah: sebuah karya. Apapun wujudnya, pengorbanannya, yang jelas ketika kami bersama itulah, karya. Dan kami berusaha untuk tidak melewatkan keindahan silahturahmi ini. Caranya? Salah satunya ya dengan mem-visualisasi-kan "kebersamaan" ini lewat suatu media kerja, kita coba, film?
Jadi Tujuan utama kami masih secara spontan, ingin mengembangkan cara berkomunikasi sesama ibu di luar tanah air lewat sebuah karya. Bebas, tidak mengikat satu sama lain dan independent!
Proses awal dan kendala
Indie = Independent. Sampai sekarang masih dibilang proses awal, karena para ibu masih terus memotivasi diri untuk terus commit dalam pembuatan karya. Semuanya berjalan spontan, tentunya diiringi commitment para ibu untuk terus berjuang dan melahirkan karya independent. Spirit independent inilah yang membuat para ibu yang walaupun sibuk dengan urusan rumah tangga, masih menyisihkan energi apapun bentuk dan nilainya, free dan bebas tanpa tuntutan besar. Karena result akhir bukan selalu tujuan utama, tetapi process' doing' yang akhirnya mendewasakan kami lewat trial & error process.
Bermula dari hanya membuat event-event thematis. Terlihat biasa memang, tapi untuk teman-teman conceptor di situ bisa terlihat siapa-siapa saja yang benar-benar dari hati yang paling dalam ingin berekpresi menikmati kreativitas bersama.Tanpa perhitungan untung rugi,jelek, repot dan segala kendala yang buat modern society udah bikin susah dan tidak ada manfaatnya. Dan akhirnya memang mereka jugalah yang menjadi inspirasi pembuatan karya film. Dari satu judul ke judul yang lain.Tidak ngoyo tapi cukup intense lah.Dan mereka semua para ibu berjiwa kuat. Film indie kami masih jauh dari kesempurnaan dan sangat sesuai dengan kapasitas para ibu tapi kami sudah mencoba dan kami masih disitu sampai saat ini.
Kendala? Wah 90 persen kendala.Tapi arti kata kendala sudah dihapus menjadi "tantangan". Jadi apapun masalahnya kita pelajari dan cari solusinya.Terimakasih kepada beberapa indie musician di eropa yang support kita juga.Ini semua juga tidak pernah direncanakan. Tapi kalo memang sudah jodoh, ya semuanya sudah ada jalannya. Realistis saja, sepertinya kami ini tidak pernah bebas kendala. Justru kreativitas kami hidup lewat kendala.
Rencana konkrit
Seperti yang dijelaskan dari awal, kita ini tidak pernah memiliki target apa-apa. Belajar dari pengalaman kami selama bertahun-tahun, bersahabat dengan para conceptor, teman-teman yang penuh inspirasi dan kreatif. Kebersamaan berjalan lancar saja sudah kami syukuri, dan ini sudah suatu pengorbanan & commitment besar.Valuenya tinggi sekali. Mungkin karena kita hidup di eropa yang masyarakatnya individualist, jadi penghargaan lebih ke arah sana, dan penghargaan ini dinikmati. Kalau sudah dirasakan kenikmatannya, kita jaga dan lestarikan. Itu konkrit ke depan.
Potensi para ibu memang ditantang langsung di lapangan kerja.Tidak ada waktu banyak buat kami para ibu yang tinggal sangat berjauhan. Semua itu balik kepada para ibu lagi, maju tanpa penyesalan! Di mana kebebasan ekpresi tersimpan? Keluarkan tanpa ragu-ragu,siapapun anda! Dan mengesampingkan kata 'aku' /personal ego.Yang bergabung ya yang paham akan arti kebebasan dan mampu menikmati karya bersama. Jadi masing-masing individu harus bisa menganalisa kapasitas masing-masing, tidak ada guru atau suhu. Independent dan bertanggung jawab atas performence masing-masing. Ingin lebih baik? Ya harus sadar sendiri.
Kesadaran bahwa karya ini memang dari kita untuk kita, yang memacu para ibu untuk berakting, organize crew, sampai proses editing. Motivasi terakhir: lewat karya ini kita bisa mengumpulkan sesuatu untuk saudara-saudara kita di ground zero lokasi bencana, ataupun mereka yang tersingkirkan di Indonesia.
Komunitas maya di Indonesia
Jujur, saya belum memiliki kesempatan untuk memantau komunitas maya di Indonesia.Jadi saya tidak bisa berbicara. Mungkin suatu saat lah. Kasus kami sendiri, belajar dari pengalaman kami jatuh bangun untuk menciptakan integrasi yang solid ya dengan proses pendewasaan bersama. Membangun mutual parameter sebagai tolak ukur proses pengembangan visi dan motivasi. Percaya tidak percaya memang ada seleksi alam untuk menghasilkan tim kuat. Dan kami memang tidak terlalu interest untuk berbicara wadah. Karena kita semua independent dan menjalankan semuanya dari hari ke hari, periode demi periode.Tanpa tuntutan atau target.
Karya Konkrit? Untuk kasus kami, karya konkrit lahir setelah kita lulus menciptakan fondasi awal tentunya. Dan itu semua lahir seiring dengan perjuangan dan pengorbanan Tidak cukup pengorbanan ya tidak ada karya. Begitu saja. Balik lagi kami ini ibu rumah tangga entah bekerja di rumah atau karyawan.Hidup di Eropa tidak mudah untuk bisa menyisihkan waktu senggang. Jadi semuanya balik kepada para ibu sendiri. Kami bukan orang film jadi bukan bukan kaum profesional di sektor ini. Jadi film yang kami buat punya message lain,dan lewat independent culture message itu bisa dipahami.
Saya tidak bisa memberi saran karena saya hanya memiliki referensi berdasarkan pengalaman kami sendiri. Komunitas yang ada di dunia maya pasti sangat beragam dan masing-masing memiliki karakter dan tidak bisa dipukul rata dalam hal pemberian saran. Ini penting dan harus hati-hati sekali.Yang jelas kami hanya berusaha untuk mengangkat value apapun yang telah kami lakukan. In contemporary sosiety people might end up with losing sight of joy, and forgetting the meaning of life, in a society pervaded by pain reduction mechanisms and filled with pleasure. Dan kita saling mengingatkanlah. Intinya bergaul sambil berkarya sekaligus meningkatkan level of self consciousness, kenapa tidak ?
BuMa: Keinginan yang kuat akan membuka banyak jalan

*** wawancara dengan Gratiagusti Chananya Rompas, pengajar dan penulis lepas, tinggal di Jakarta.***
Latar belakang kelahiran dan tujuan utama
Walaupun puisi pertama saya ditulis dalam bahasa Indonesia, selanjutnya saya selalu menulis dalam bahasa Inggris. Berkali-kali saya mencoba menulis puisi berbahasa Indonesia dan selalu hasilnya jauh dari memuaskan. Mungkin karena saya tumbuh dengan membaca lebih banyak bacaan berbahasa Inggris, saya jadi lebih nyaman berekspresi dengan bahasa tersebut. Saya akhirnya cenderung menganggap bahasa Indonesia 'tidak enak'. Ini berubah waktu saya masuk bangku kuliah. Teman saya, Danar Pramesti, memiliki sejumlah puisi berbahasa Indonesia yang menurut saya sangat menarik. Membaca puisi-puisi Danar, saya seperti diingatkan bahwa yang salah memang bukan bahasanya, tapi orangnya.
Namun, kebanyakan orang yang saya kenal melihat puisi itu sebagai sesuatu yang berat dan tidak mengasyikkan. Banyak dari mereka yang juga berpandangan bahwa seorang penyair itu 'aneh' dan kelewat melankolis. Walaupun saya mungkin tergolong 'aneh' dan melankolis dalam cara saya sendiri, saya pikir pandangan umum itu perlu sedikit dikoreksi. Saya membutuhkan sebuah wadah yang kondusif untuk mengembangkan kemampuan serta berbagi dengan orang-orang yang mempunyai kegemaran sama; sementara itu, pandangan tadi sepertinya menghalangi saya untuk berbuat demikian. Lagipula, saya pikir perkembangan puisi di Indonesia tidak boleh kalah dengan yang di luar negeri, terutama puisi berbahasa Inggris. Di dalam sebuah buku 'wajib' tentang puisi berjudul Sound and Sense, saya menemukan begitu banyak bentuk puisi, dari yang serius sampai yang terkesan main-main, tanpa harus kehilangan keindahannya. Ini adalah bukti bahwa puisi itu tidak perlu berat untuk menjadi sebuah karya yang berhasil.
Oleh karena itu, saya membuat milis BungaMatahari (BuMa) 19 April 2000 (tentu saja dengan mengajak Danar) sebagai ruang alternatif, di mana puisi itu tidak hanya yang 'berat' dan serius, tetapi juga yang 'ringan' dan cenderung nyeleneh; tidak hanya boleh ditulis oleh penyair papan atas, tetapi juga oleh pemula yang masih hijau dalam merangkai kata. Seniman, pekerja kantoran, murid sekolah, mahasiswa, pengangguran—semua bisa berpuisi. Semboyan "semua bisa berpuisi" ini memang merangkum tujuan BuMa untuk terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga menstimuli keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan. Dengan kata lain, BuMa ingin memasyarakatkan puisi, membuktikan bahwa puisi sesungguhnya begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, menunjukkan bahwa ia pun hip. Kemudian, lewat puisi, BuMa juga ingin ikut melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Indonesia.
Proses awal menghasilkan karya dan kendala
Rencana menerbitkan sebuah antologi sebenarnya sudah ada dari awal berdirinya BuMa. Panitia kecil bahkan sampai dibentuk. Tapi, karena sebagian besar penggiat saat itu masih sibuk kuliah, rencana tersebut terus tertunda sampai dibangunkan kembali oleh Yosevlin Indrawati, seorang anggota yang pada waktu itu baru saja bergabung tetapi sudah 'lancang' berkomentar, menjelang akhir tahun 2003. Panitia baru segera dibentuk dan diketuai oleh, tentunya, Yosevlin.
Proses persiapan memang cukup lama karena kami perlu menyaring sekitar seratus puisi dari lima ribu pesan pertama yang ada di milis. Penyaringan dilakukan dalam beberapa tahap oleh empat tim editor yang masing-masing beranggotakan tiga orang. Setelah manuskrip terbentuk, kami sempat bimbang apakah kami akan menerbitkan sendiri atau mencari penerbit. Namun keberuntungan rupanya berada di pihak kami karena Avatar, sebuah penerbitan yang mempunyai semangat sama dengan kami, bersedia membantu. "Antologi BungaMatahari" akhirnya diluncurkan Januari 2006.
Walaupun beberapa kali terjadi beda pendapat dan semangat kadang surut, kami hampir tidak menemukan kendala yang berarti. Kami rela berkumpul dan menghabiskan malam karena didasari semangat untuk bersenang-senang. Sepertinya kami percaya bahwa bicara puisi di akhir minggu sambil minum kopi dan tertawa-tawa adalah hiburan yang luar biasa. Melihat ke belakang, saya pikir ini ternyata kunci keberhasilan kami. Kami bisa heboh beradu argumentasi sampai larut malam (saya bahkan pernah dibuat menangis—sebuah peristiwa yang sering diceritakan kembali oleh teman-teman, hehe...), tapi karena kami sadar kami ingin mencapai kesenangan secara bersama-sama atas nama BuMa dan bukannya untuk kepentingan pribadi, kami selalu bisa mencari solusi yang terbaik. Selain itu, ketika beradu pendapat, kami sadar bahwa komentar maupun kritik yang terlontar bukan ditujukan pada seseorang secara personal, tetapi lebih pada ide yang yang sedang dibahas. Ini sangat penting untuk menciptakan suasana diskusi yang kaya dan sehat. Hubungan pertemanan terjaga, kerja pun beres. Setelah itu bisa tertawa lagi.
Rencana konkrit
Kami akan terus menjalankan KebunKata, sebuah acara pembacaan dan pertunjukan puisi yang terbuka untuk umum. Selain itu, kami baru saja memperkenalkan sebuah acara bertajuk Rumah Kata, di mana kolaborasi antara puisi, genre sastra lain juga bentuk kesenian lain, seperti film dan musik, ditampilkan. Belakangan ini, BuMa juga banyak bekerjasama dengan komunitas maupun lembaga lain, misalnya Tunas Cendekia, ruangrupa, UNICEF, Komunitas Utan Kayu, dan banyak lagi. Pada umumnya, kegiatan-kegiatan BuMa memang merupakan eksplorasi dari semboyan "semua bisa berpuisi", di mana puisi pada akhirnya tidak hanya berdiri sendiri tetapi melekat pada begitu banyak unsur, termasuk yang ada di luar BuMa.
Yang harus diketahui, BuMa adalah komunitas yang sangat menjunjung tinggi semangat do-it-yourself. Jadi, para penggiat BuMa akan senang sekali kalau ada anggota yang mau mengusulkan bahkan bersama-sama melaksanakan sebuah bentuk kegiatan. Tentu dengan catatan: kegiatan tersebut sesuai untuk BuMa.
Komunitas maya di Indonesia
Saya bukan pengamat komunitas maya tetapi saya lihat komunitas maya di Indonesia sedang menggeliat. Makin banyak orang Indonesia kini sadar bahwa internet mempunyai kekuatan luar biasa dan berdampak besar pada kehidupan sehari-hari kita. Ini sangat menarik dan saya tak sabar melihat perkembangannya di kemudian hari. Mudah-mudahan makin banyak hal positif yang akan muncul.
Nah, kalau ingin membentuk perkumpulan yang solid, saya pikir komunitas apa pun perlu menentukan ciri dan kepribadian yang membedakannya dari komunitas lain di bidang yang sama. Hal ini bagus tidak hanya untuk komunitas itu sendiri, tapi juga untuk bidang yang digelutinya secara umum. Kalau dipikir, milis dan komunitas puisi kan banyak sekali—ada yang tanpa moderasi dan selalu berusaha membuka jalur baru seperti BuMa, ada yang beroperasi dengan menggunakan editor, ada yang khusus membahas topik politik, ada yang cuma menerima puisi cinta, dan lain sebagainya. Kalau posisi yang dipilih itu jelas, tentu lebih mudah bagi penggiatnya untuk menentukan arah perkembangan komunitas atau milis tersebut. Sementara itu, akan lebih mudah pula bagi calon anggota untuk memilih milis atau komunitas mana yang sesuai untuk dirinya. Keragaman seperti ini juga otomatis memperkaya dunia puisi itu sendiri, baik di internet maupun bukan. Coba bayangkan kalau komunitas-komunitas yang berbeda itu suatu saat berkolaborasi, tentu hasilnya akan sangat menarik.
Yang jelas, kalau memang ingin berkarya, do it! Keinginan yang kuat akan membuka banyak jalan.
*Kunjungi www.bungamatahari.org untuk keterangan lebih lanjut tentang Komunitas Puisi BungaMatahari (BuMa) dan cara bergabung ke milisnya.*
*** (Yaya, Amril, Sa)
Posted on January 9, 2007 11:00 AM | Permalink

Komentar (1)
saya sangat setuju sekali, dimana jika kita memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu, maka pasti disitu ada jalan. saat ini saya ingin sekali membuka sekolah taman kanak-kanak, semua sudah sya persiapkan. saya kesulitan untuk penyediaan sarana yang berbentuk fisik, apakah ada yang mau bekerjasama akan saya terima dengan senang hati...
@ February 27, 2008 09:06