Artikel:

Modal Sosial Komunitas Maya

oleh B. Dwiagus S

Sebenarnya apa sih yang meyebabkan sebuah komunitas bertahan dan bahkan meghasilkan sesuatu yang tidak hanya dinikmati oleh para anggota komunitas itu tapi juga oleh semua orang? Pertanyaan yang sebenarnya susah-susah mudah. Mudah karena kita bisa segera merasakan apa itu, tapi cukup sulit juga untuk mengungkapkannya.

Untuk mempermudahnya, mari kita longok sebuah istilah di dunia sosiologi dan antropologi, bahkan juga di dunia politik dan ilmu masyarakat, yang kita kenal dengan “modal sosial“. Diasumsikan oleh Portes (1998) dan Rajab (2005), modal sosial ini lah yang membantu sebuah komunitas untuk bertahan, stabil, berlanjut, dan bahkan sukses.

Portes mendefinisikannya sebagai sebuah keuntungan yang tercipta dari posisi seseorang dalam sebuah jejaring hubungan. Lebih jauh lagi, Caira Nakasone, salah seorang pakar di bidang ini, menambahkan bahwa idealnya, modal sosial itu merujuk pada sifatnya yang informal, adanya proses pembentukan jejaring-jejaring sosial, dan pengakomodasian bagi terciptanya resiprokasi atau keinteraktifan.

Di dalam dunia yang penuh hingar bingar internet dan teknologi komunikasi yang terus berkembang, garis yang membatasi antara komunitas riil dan komunitas maya memang agak samar. Sehingga pengertian “komunitas” yang dibahas dalam diskusi soal modal sosial meleburkan pedikotomian komunitas riil dan maya. Keduanya tetap membutuhkan modal sosial yang cukup untuk sekedar bertahan dan berlanjut dan membutuhkan modal sosial yang lebih untuk sukses menghasilkan sesuatu.

Mencermati pengertian “modal sosial” dan “komunitas” pada pada dua paragraph di atas, BLOGFAM, sebagai sebuah komunitas maya bagi para blogger Indonesia yang tersebar di seluruh belahan dunia, terbukti mempunyai modal sosial yang cukup mumpuni. Tak hanya cukup untuk membuat BLOGFAM bertahan selama 3 tahun dan berlanjut untuk tahun-tahun ke depannya, tapi juga cukup untuk meghasilkan karya-karya dari, oleh dan untuk para anggota komunitas (lebih tepatnya “anggota keluarga”), yang pada akhirnya juga untuk masyarakat secara luas. BLOGFAM telah memiliki modal sosial yang persis seperti yang digambarkan oleh Caria Nakasone. Terbukti, BLOGFAM telah selama 3 tahun menjadi sebuah komunitas informal yang sanggup menjalin jejaring-jejaring sosial yang rumit namun indah dan berguna bagi para anggotanya di mana tercipta keterinteraktifan yang saling memberi dan menerima.

Meminjam istilah dari Putnam (2000), modal sosial yang dimiliki BLOGFAM ini tidak hanya mampu mengikat (bonding social capital) tapi juga menjembatani (bridging social capital). Ia mampu mengikat mereka-mereka yang mempunyai kesamaan minat, nilai dan latar belakang (usia,status,pekeraan,pendidikan dan lain lain), sekaligus menjembatani perbedaan antar minat, antar nilai dan antar latar belakang tersebut. Lebih jauh lagi, modal sosial yang dimiliki BLOGFAM tidak hanya tercipta dengan dasar-dasar kesamaan, tapi juga dengan tembok-tembok mosaik perbedaan.

Modal sosial ini memang bukan seperti sebuah duren yang jatuh ketika kita berjalan-jalan iseng di sebuah kebun kosong. It’s not taken for granted. Tapi dibangun dalam sebuah kebun yang selalu dijaga supaya dapat mempertahankan tanahnya yang lembut dan gembur. Harus sabar, teliti tapi juga berani. Untuk memahami secara pasti bagaimana proses ini terjadi, tidak ada cara lain selain masuk bergeliat di dalam jejaring ini.

Yang jelas, pada akhirnya, dengan modal sosialnya ini BLOGFAM telah menjadi sebuah media bagi anggotanya sebagai tempat berinteraksi dan berbagi. Dan dengan modal sosialnya itu pula lah, BLOGFAM menjadi tempat membangun percaya diri dan afirmasi untuk berkreasi. Jadi jangan gumun atau terheran-heran kenapa BLOGFAM bisa menghasilkan sebuah karya kolaborasi, seperti: “Teen World: Ortu Kenapa Sih?”, “Flash!Flash!Flash! Kumpulan Cerita Sekilas”, dan “Biarkan Aku Mencitaimu dalam Sunyi: Kumpulan Cerpen Blogfam”.

Ilustrasi para pelari yang mengikuti sebuah perlombaan yang diberikan Isman H. Suryaman dalam kata pengantar FFF:Kumpulan Cerita Sekilas, cukup untuk menggambarkan betapa gegap gempita dan sukacita para anggota komunitas BLOGFAM ketika mampu bersama-sama terjun dalam perlombaan tanpa peduli apakah mereka akan memenangkan piala atau tidak, karena mereka sendiri seyata-nyatanya sudah menjadi pemenang, paling tidak pemenang bagi mereka sendiri. Termasuk saya sendiri, yang merasa takjub pada keberanian dan kepercayaan diri sendiri ketika bergabung dalam kolaborasi itu, layaknya seorang pelari kelas kampung yang berani-beraninya ikut lari di Bali 10K namun pada akhirnya merasakan nikmatnya berlari bersama teman-teman sehati.

Karya-karya dalam bentuk nyata, seperti penerbitan buku-buku karya BLOGFAM adalah sebuah anak tangga yang tipis, yang hampir tak berjarak dengan anak tangga sebelumnya. Karena pada dasarnya, para anggota blogfam telah berkreasi secara maya, dalam bentuk gumpalan-gumpalan informasi yang terbagi dan terkompilasi, guratan-guratan pemikiran, kontemplasi perasaan, dan coret-coretan bermain kata dan arti. Semuanya ada di semua forum-forum diskusi dan terlebih di galeri kreasi.

Kadang, yang dibutuhkan untuk menapaki anak tangga kolaborasi adalah bukan keaktifan para aktifis, bukan keteraturan seorang pengatur, dan bukan pula keoptimisan seorang perfeksionis. Tapi, tak lain tak bukan adalah rasa terjaring dalam jejaring yang empuk, nyaman dan mengasyikkan, yang pada akhirnya menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri. BLOGFAM telah nyata-nyata membangun jejaring tersebut. Dan siapaun akan berani terjun ke dalam jejaring tersebut tanpa khawatir ada laba-laba hitam besar yang akan menerkam, menyiksa dan memangsanya. Yang ada adalah sebuah laba-laba berumur 3 tahun yang berwarna kembang-kembang oranye dan biru, mengawasi dari jauh, sambil memfasilitasi mengalirnya dan lahirnya inspirasi di tengah-tengah mereka yang sudah “terjebak” dalam jejaring tersebut untuk memberikan karya jejaring yang menyenangkan. Buat saya sendiri, yang baru saja melekat dalam jejaring milik laba-laba belang biru oranye ini, saya ingin selalu mencoba menikmati lengketnya jejaring ini.

Untuk menjawab pertanyaan “Apakah mungkin BLOGFAM mampu bertahan dan tetap mengeluarkan karya-karyanya ke masyarakat luas?”, dengan apa yang sudah dibangun dan dipunya oleh BLOGFAM, tak akan pernah ada sesuatu yang mustahil buat BLOGFAM.

Posted on January 9, 2007 1:00 PM |

Komentar (1)

nUr:

apPa cich arti dari hubungan komunitas ?!

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: