Artikel:

Blogger dan Kritik

Oleh: Yunisri

Kebanyakan orang tidak suka dikritik. Seorang blogger pernah berkata, "Saya lebih senang dikomentari atau diberi saran daripada dikritik," ujarnya. Makanya ia dengan sedikit kesal menghapus reply-reply yang bernada tajam dan memojokkan dirinya itu dari blognya. Ia takut reputasinya merosot dimata 'fans-fansnya'.

Budaya kritik memang tidak sepopuler tayangan infotainment di negara Pancasila ini. Bahkan kepala negara kita yang sempat dibilang cuma 'tebar pesona' itu, jadi 'gerah' dan merasa perlu mengritik balik. Begitu mengerikankah hakekat sebuah kritik itu? Lantas, bagaimana aplikasinya di dunia maya khususnya di arena per-blog-an?

Aktivitas ruang siber, meski bersifat virtual tetap berdampak sama seperti di kehidupan nyata. Rasa sakit hati, marah, kecewa, kesal, uring-uringan bisa dirasakan secara nyata oleh blogger atau masyarakat virtual akibat interaksinya dengan pergaulan maya.

Komunitas blogger yang berisi kumpulan karakter-karakter dalam lapisan yang berbeda juga tidak luput dari upaya kritik-mengritik ini. Kritik yang disampaikan seorang blogger kepada blogger lain bisa dimaknai berbeda dari maksud yang sebenarnya tergantung dari tingkat kecerdasan dan kepribadian si penerimanya. Ada yang menganggap itu sebagai kecaman, ada juga yang menafsirkannya sebagai 'input' atau ada pula yang mengartikannya sekedar guyonan.

Tidak ada hukum yang mengatur tentang kritik mengritik ini sehingga ia bisa dipersepsikan secara bebas oleh masyarakat. Batasannya mungkin hanya terkait dengan etika dan moral saja. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana hanya mengatur tentang 'penghinaan' kepada kepala negara, itupun jika dibuktikan dilakukan secara sengaja dengan tujuan mengganggu ketertiban umum serta keamanan negara.


Kontrol Sosial

Kritik cenderung bebas nilai. Ia bisa dibalut eufimisme atau bahkan sarkasme. Oleh karena itu satu-satunya cara agar kita gembira menyambutnya adalah dengan bersikap lapang dada. Kecuali bila secara etika dan moral, isi kritik itu sudah melampui batas, seperti disangkutkan dengan pornografi yang sangat vulgar, misalnya. Dalam kasus ini kita bisa mengambil tindakan, baik menghapus kata-kata itu atau 'somasi'.

Berkaitan dengan komunitas blogger yang biasanya ada pemimpinnya, maka sebagai seorang pemimpin ia harus ibarat laut. Ia mesti luas. Luas dalam kelapangan hati maupun pandangannya serta sanggup menyikapi kritik dengan legowo. Sebab tanpa kehadiran kritik, suatu komunitas akan berdiri stagnan. Kritik yang konstruktif wajib diperlukan demi perbaikan kualitas komunitas itu sendiri.

Jadi, pihak oposisi sebenarnya sangat dibutuhkan di sini karena mereka melihat dari sudut yang berlawanan dan tak berpihak. Hanya dengan demikian eksistensi suatu komunitas dapat dinilai secara transparan dan jujur.

Mungkin kritik pada awalnya terasa pahit bagi suatu komunitas maupun blogger itu sendiri. Tapi ia dapat dijadikan semacam kontrol sosial yang efektif agar kita tidak kehilangan keseimbangan sekaligus kesadaran bahwa sebagai manusia kita tak sempurna...

Sejatinya sebuah kritik yang beritikad baik adalah bentuk atensi terselubung yang seyogianya dihargai secara positif demi perkembangan dan kemajuan peradaban modern pada umumnya dan dunia virtual khususnya.

Posted on March 6, 2007 12:00 PM |

Komentar (3)

donatz:

bahasamu ga enak di baca! terasa sok pintar!

Terima-kasih. Saya sendiri pas baca ulang disini kok gimana getoh...apalagi itu tanda-tanda baca kok jadi bikin 'keriting' penampilan, hehehe..

Makasih Donatz !

d2:

nah itu baru kritikan....
tapi saya kurang setuju dengan kritikannya!
kritik itu bagus tapi kadang orang salah mengartikan dari kritikan nya, sehingga terlihat seperti menghina bukan mengkritik, antara kritik dan menghina jelas beda artinya...
contoh : dalam acara "newsdot dot com republik mimpi" itu baru kritikan dan disalah artikan oleh menteri2 sebagai penghinaan, sehingga mereka hampir memboikot acara itu...

"maju terus yunisri ;)"

 Lainnya: