Upaya Mengusung Penyadaran Lingkungan Lewat Informasi Blog
BENCANA alam di Indonesia yang datang bertubi-tubi, sungguh sangat memilukan hati. Mulai dari musibah Tsunami di Aceh, Tanah Longsor, Gempa Bumi, Bencana Lumpur Panas di Sidoarjo,dan lain-lain menerbitkan keprihatinan kita semua. Pada edisi bz! kali ini kami menghubungi sejumlah blogger yang begitu concernmembahas sejumlah fenomena alam yang terjadi dengan tinjauan kritis dan ilmiah.
"Sebenarnya saya tidak khusus pada salah satu fenomena alam saja. Bagi saya lingkungan hidup merupakan semua aspek yang melingkupi kehidupan di alam ini, termasuk kehidupan manusia," demikian ungkap Djuni Pristiyanto, pemilik dan pengasuh sejumlah blog mengenai lingkungan seperti blog berita lingkungan, bencana Jember dan Peduli Banjir Jakarta selain blog pribadinya sendiri. Selanjutnya, pria berusia 40 tahun, yang oleh kawan-kawannya dipanggil Djuni Lethek ini menambahkan, "Manusia adalah salah satu bagian dari alam dari begitu banyak bagian yang saling berkaitan dengan erat dan tidak terpisahkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan kepedulian saya kepada lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak dan mutu hidup yang semakin rendah. Jadi, tindakan nyata yang dapat saya lakukan adalah melakukan penyebarluasan berita dan informasi lingkungan hidup kepada publik seluas-luasnya. Ini adalah tindakan kecil, tapi seribu mil perjalanan dimulai dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan terus menerus. Melek lingkungan dimulai dari kesadaran individu; dan kesadaran individu dimulai ketika ada informasi yang dicerna di dalam intelek dan batin sang individu tersebut. Bagi saya, satu individu yang sadar dan melek lingkungan lebih berharga daripada sejuta individu yang tidur."
"Tulisan saya banyak terkait dengan Geografi, penyitraan satelit (Remote Sensing), Sistem Informasi Geografis (SIG atau Geographic Information Systems, GIS) dan pemrosesannya (ini mungkin dikelompokkan pada tulisan teknis). Sedangkan non teknis tentang keluarga, fotografi, astronomi dan cerita keluyuran ngalor-ngidul selama ini," demikian ungkap Hartanto Sanjaya mengenai isi blognya. Lelaki kelahiran Tanjung Karang, 21 Juni 1969 dan berprofesi sebagai Staf peneliti pada Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (tisda.bppt.go.id), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (www.bppt.go.id) menambahkan, "Bahasan RS dan GIS adalah catatan ringan yang diperoleh dari hasil pemrosesan sendiri, dan biasanya banyak hal yang tidak ada dalam buku manual atau pelajaran sekolah. Pengalaman ngoprek inilah yang saya harapkan bisa berguna bagi siapapun yang mengalami masalah yang sama. Saya bukanlah ahlinya dalam dunia RS/GIS, cuma ingin berbagi pengalaman sederhana saja."
Hampir sama dengan jawaban Hartanto, Trias Aditya K.M mengungkapkan pendapat serupa terutama target utamanya dalam menulis blog, "Target saya dua, melatih diri saya sendiri untuk lebih efektif bercerita tentang topik yang saya tahu dan target lainnya berbagi info pentingnya sadar lokasi dan pentingnya peta untuk penyelesaian masalah," kata Dosen Teknik Geodesi UGM Yogyakarta ini.
"Halangan terbesar hanyalah kesediaan waktu khusus untuk posting. Karena posting bukan sekedar menempatkan tulisan tetapi juga melengkapi dengan tautan (link) dan juga gambar yang sesuai. Dan ini memakan waktu," kata Hartanto yang menyelesaikan pendidikan terakhirnya sebagai Professional Master pada Natural Resources Management, di ITC, Belanda. Ia kemudian melanjutkan, "Untuk itu bahan posting (terutama gambar) biasanya dikumpulkan dulu (tidak secara khusus, santai aja...), baru kemudian diletakkan bersama tulisan. Kalau membuat tulisan/menulis bisa kapan pun, selama ada ide melintas langsung tulis."
Sementara itu Trias yang memiliki hobi corat-coret grafik mengungkapkan, "Tantangan terbesar saat ini adalah meluangkan waktu ngeblog di sela kesibukan riset saya. Kebetulan ini tahun terakhir saya. Siasatnya: saya selesaikan dulu lah studi saya ini yang tinggal dikit ini, dan nantinya semoga bisa lebih lancar dan rutin ngeblog".
Pada kesempatan lain Djuni, yang juga adalah Owner Milis Berita Lingkungan , Owner Milis WGCoP, Moderator MIlis Lingkungan dan Moderator Milis Suara Korban Bencana menyatakan, "Aktivitas yang saya kerjakan ini adalah secara swadaya dan sukarela. Tantangan terbesar adalah membagi waktu dan perhatian antara bekerja mencari duit dan nge-blog. Selain itu faktor akses internet (saya lebih banyak kerja di rumah dengan fasilitas dial up shg tagihan ISP dan telpon sering membengkak dan membebani biaya rumah tangga) dan peralatan (komputer desktop yg di rumah dg listrik sering anjlok atau memakai laptop punya istri he.he..he) sangat terbatas. Ada cara tertentu yang saya lakukan sehingga saya dapat efektif dan efisien dalam browsing yakni mengumpulkan berita-berita lingkungan dari media online dan sumber-sumber lainnya dari internet. Akan tetapi untuk upload blog dan manajemen site tetap mesti dilakukan secara online."
Saya belum menemui kesan yang mendalam, karena tujuan dari awal hanya berbagi saja, bukan bergosip atau beropini apalagi berpolitik melalui blog," ujar Hartanto mengungkapkan kesan-kesannya selama ngeblog."Yang juga menarik adalah interaksi antara pembaca dan penulis, selain melalui fasilitas komentar pada masing-masing tulisan ada juga yang via
email. Interaksi ini menandakan 'ada juga to' yang membaca coretan saya... dan semoga berguna...," katanya sembari berseloroh.
"Jadi lebih tahu, ternyata kemampuan bercerita dan menulis perlu dan semestinya dilatih sejak masa kanak-kanak," kata Trias bercerita tentang kesan-kesannya ngeblog."Seneng saja," lanjutnya, "kalau misalnya ada yang memanfaatkan apa yang saya tulis dalam bentuk aksi.
"Dulu untuk penyebaran berita-berita lingkungan saya lakukan langsung via milis (ini sebelum saya kenal blog, dan untuk bikin website saya tidak ada kemampuan dan dana).Dalam sekali kirim bisa 30 - 50 email yg berisi berita-berita lingkungan," kenang Djuni yang memiliki hobi baca buku dan jalan-jalan digunung ini saat ditanyakan hal yang sama. "Tentu saja," katanya lagi, "ada banyak anggota milis yang komplain karena email-email saya itu dianggap spam dan membebani mereka. Selain itu juga kena BAN oleh pengelola Yahoogroups (saya lebih banyak menggunakan milis di Yahoogroups.com). Setelah kenal blog, maka saya bikin blog yang bertopikkan lingkungan dan bencana. Akan tetapi, penyebaran berita-berita lingkungan via milis tetap saya lakukan walau jumlah email per sekali kirim tidak banyak (antara 5 - 10). Dengan ngeblog wawasan dan pengalaman jadi semakin bertambah luas."
Hartanto mengungkapkan pendapatnya tentang perkembangan dunia blog saat ini. "Setiap hari selalu ada blog baru. Ini menurut pengamatan media yang pernah saya baca. Dan blogger ternyata bukan hanya dari kota-kota besar saja, rekan-rekan saya yang hidup di pulau kecil nun jauh di sana pun sudah mempunyai blog (dan mereka rajin menyambangi blog lainnya), kata blogger yang kerap mengunjungi blog istri dan anak dan blog yang ada dalam blogroll-nya ini. "Blog adalah suatu sumberdaya informasi yang luar biasa, di mana kita bisa berkomunikasi (searah dan atau dua arah) secara bebas pada duniakita masing-masing. Antar blogger mempunyai relasi one-to-many kan..? Dari satu web-blog kita bisa mendapatkan info berbagai hal, selain dari isi blog itu sendiri juga dari Blogroll yang ada.Selama masing-masing blogger menjaga norma komunikasi, tentunya perkembangan kedepan akan sangat berguna terutama bagi penikmat info via media internet," imbuhnya.
"Saya belajar blog baru sekitar dua tahun ini," aku Djuni yang lahir di Madiun 9 Juni 1967. "Pertama kali saya baca-baca cara ngeblog dari Blog Enda Nasutiondan artikel-artikel lain yang saya dapatkan lewat google. Sekarang ini blog berkembang sangat pesat. Banyak komunitas blog yang saling mendukung. Saya berharap blog dan komunitasnya dapat menyumbangkan sesuatu bagi advokasi lingkungan hidup di Indonesia," tambah lelaki yang tinggal bersama keluarganya di daerah Mampang, Jakarta Selatan ini.
"Politisi, artis, elit atas, rakyat bawah nulis blog. Sebuah perkembangan yang bagus untuk mencerdaskan bangsa, saya pikir. Artinya," tutur Trias senang melakukan jalan-jalan virtual ke pelosok dunia seperti ke Google Maps, dan Google Earth serta Google Sightseeing ini, "masyarakat kita semakin punya motivasi untuk mengekspresikan gagasan dan ide dalam bahasa tulis (dibanding sebelum maraknya gejala nge-blog). Ini sangat penting sebagai sarana berbagi pengetahuan & berbagi pengalaman (tentang apa saja). Efek lainnya, masyarakat kita semestinya mulai belajar mengekspresikan ide dan gagasan secara terstruktur, singkat, padat, tepat pada sasaran. Satu lagi tentunya: selain struktur, kontribusi dari tulisan yang kita buat juga harus jelas. "So what?" atau "terus apa poin-nya?" pantaslah selalu kita tanyakan kepada diri kita sendiri di saat kita menulis ide dan gagasan.
*** (Amril)
