Artikel:

Yo: Puisi Bisa Menjadi Cermin

Ruang Galeri Kreasi Forum Blogfam pada 8 Maret 2007 terposting sebuah puisi berisi untaian kata-kata yang dalam, penuh kedukaan;


Air Mata Tanah

kata-kata berjatuhan
menghujam tanah
jadi air mata

patung-patung
bergeletakan murung
tanpa wajah
tanpa nama

sayap tergeletak
gagahnya tercampak
puing menghitam
jeritan diam

airmata tanah
asap duka
di wajah kita

priok, maret 07


Hmm, apa makna sebenarnya dan karya siapa puisi itu?

"Air Mata Tanah bercerita tentang kepedihan dan simpati bagi para penumpang Garuda yang mengalami musibah beberapa waktu lalu di Yogyakarta. Bagaimana tubuh-tubuh terbakar tanpa ada pertolongan, bagaimana wajah-wajah kebingungan saat berhasil lolos, bagaimana mereka yang berdasi sempoyongan di persawahan," jelas 'blue4gie' sang pembuat puisi 'Air Mata Tanah'.

Sejak bergabung dengan Blogfam 22 Februari 2007 hingga 25 April 2007 lalu, blue4gie atau bernama lengkap Johannes Sugianto, telah memamerkan 16 karya puisinya di ruang Galeri Kreasi. Cukup bombastis. Karyanya bertema tentang segala hal. Tuhan, Cinta juga tentang seseorang atau peristiwa seperti 'Air Mata Tanah' itu.

Pada puisinya yang diposting perdana (22 Feb 2007), berjudul 'Kamulah Puisi', Yo, panggilan akrab Johannes menuturkan kalau puisi itu bercerita tentang pujaan dari seorang laki-laki kepada kekasihnya, yang dianggapnya begitu berarti sekali sehingga dia mengandaikan dirinya sebagai penyair, yang menempatkan kekasihnya sebagai nyawa dari puisi-puisinya. Wuih!


Kamulah Puisi
jejak Yo: berbisik dalam puisi

kamu ada dan selalu terasa
bukan sekedar dieja
senyum jadi kata
sentuhan menjelma kalimat
yang terus berlompatan
sepanjang perjalanan

rasa ini enggan menjauh..


Puisi Bisa Menjadi Cermin

Yo, yang pernah menjadi wartawan di media cetak selama 7 tahun ini mengaku sangat mencinta puisi. Sejak SMP, Yo sudah suka membaca karya-karya para penyair. Tapi, keinginan kuat menulis puisi baru mulai dilakukannya pada 2006 lalu.

"Begitu mengenal, mengakrabi dan lalu jatuh cinta, puisi menjadi bagian tak terpisahkan. Dalam puisi, saya menemukan banyak hal. Bukan sekedar karya tercipta. Namun pada puisi, saya menemukan diri sendiri. Puisi bisa menjadi cermin, tempat kita berkaca pada bayangan masa lalu dan kini," kata bapak tiga putri ini.

Menulis puisi juga memiliki tantangan tersendiri bagi Yo, dibanding dengan menulis esai, fiksi atau lainnya. Menurutnya, tantangan menulis puisi adalah menuliskan sesuatu (rasa, kenangan dan sebagainya) dengan kalimat yang pendek, dengan metafora dan diksi yang tetap. "Semua itu masih terus saya gali hingga kini dan nanti," kata Yo.

Dalam puisinya yang berjudul 'Pemalu' (Galeri Kreasi Forum Blogfam, posting 6 Maret 2007), Yo menciptanya hanya terdiri dari 6 kata.


bukan palingkan muka
tapi sodorkan luka


Puisi yang termasuk karyanya yang paling pendek ini bercerita tentang seorang lelaki yang pemalu. "Namun pengertian pemalu di sini bukanlah sosok yang menyembunyikan wajah atau mukanya ketika bertemu orang lain, tapi justeru menunjukkan luka-luka yang dideritanya. Luka-luka itu ada di mukanya," jelas Yo.


Bukti Cinta

Banyak pengalaman menarik yang Yo dapatkan selama berpuisi. Mulai dari diminta membuatkan puisi untuk perkawinan yang kemudian menjadi 'buku cinta' dalam kartu undangan dan compact disc, juga seorang ibu guru yang minta dibuatkan puisi untuk dibacakan saat upacara di sekolah saat peringatan hari ibu.

"Ini hal-hal yang mengesankan dan membuat terharu,karena menunjukkan kecintaan terhadap puisi makin meluas," tutur Yo.

Semua puisi yang dihasilkannya mengalami proses penciptaan yang hampir sama. Jika ada hal yang menggelitik, menghentak jiwa, otomatis saja tangan Yo menuliskannya. "Kebanyakan puisi saya tulis di hp lalu saya salin untuk dimuat di situs pribadi baru ke milis-milis atau ke media cetak," tambahnya.

Ya, begitu cintanya Yo terhadap puisi, dia membuat web khusus, yakni www.blue4gie.com yang mendokumentasikan hasil-hasil karya puisinya dan catatan-catatan publikasi puisinya tersebut baik yang pernah dimuat media cetak, milis bahkan terbit dalam bentuk buku dengan judul 'Di Lengkung Alis Matamu' (25 November 2006).


Mari Belajar Bersama

Alasan bergabung dengan Blogfam, selain juga menambah teman, Yo ingin belajar menambah pengetahuan. "Sederhana saja, ranah sastra begitu dalam dan luas. Meski saya disebut penyair, dan menelorkan buku puisi, tapi saya masih merasa belum berbuat banyak untuk dunia puisi sendiri. Kemampuan juga masih banyak yang perlu dipoles. Karena itu, saya belajar dari karya teman-teman di Blogfam."

Dan bagi Yo, Galeri Kreasi Forum Blogfam merupakan wadah yang bagus, karena di situ semua anggota bebas memajang karyanya. Jika dalam bentuk puisi, bebas saja apakah bernilai sastra atau tidak.

Inputnya untuk Galeri Kreasi, Yo mengatakan suatu karya yang diposting di Galeri Kreasi, sebaiknya tidak hanya diapresiasi dengan 'oh bagus, sedih, manis' dan sebagainya. Menurutnya, perlu juga dibuat semacam ulasan oleh redaktur atau penanggungjawab rubrik itu. Bisa juga jika repot, mengajak penyair yang menjadi anggota Blogfam, misalnya sebagai redaktur tamu.

"Namun, tentang bagaimana karya-karya puisi lainnya di Geleri Kreasi, maaf saya tidak berani menilai, karena saya masih dalam tahapan belajar. Lebih enak saya katakana, mari belajar bersama," kata Yo merendah.***(YNa)

Posted on May 6, 2007 2:00 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: