Filippo Inzaghi, "Unlikely Footballer"
Di tengah hingar-bingar sanjungan untuk gelandang AC Milan asal Brasil, Kaka, Filippo Inzaghi mencuat ke permukaan. Sepasang gol-nya membawa Milan mengungguli Liverpool dalam final Liga Champions 2006/2007 yang diselenggarakan di Stadion Olimpiade, Athena, 23 Mei lalu. Selang seminggu lebih, 2 Juni 2007, Pippo - sapaan inzaghi - kembali memborong dua gol yang memenangkan juara dunia Tim Nasional Italia dalam kualifikasi Piala Eropa 2008. Kali ini gawang Kepulauan Faroe yang dibobolnya, sekaligus mematenkan skor 2-1 untuk keunggulan Italia. Krusial bagi sang juara dunia untuk terus bersaing merebut tiket ke gelaran Euro 2008 nanti bersama Perancis, Skotlandia dan Ukraina. Dalam waktu dua pekan, Inzaghi mencetak empat gol penting untuk klub dan negaranya.
Inzaghi adalah "unlikely hero" bagi sebuah tim sepakbola. Dirinya bukan pemain dengan talenta tinggi layaknya Kaka, atau penuh determinasi fisik semacam Genarro Gattuso, dua rekannya di AC Milan. Johan Cruyff pernah berujar jika Filippo Inzaghi sama sekali tidak memiliki bekal untuk bermain bola. Pendapat Cruyff mungkin ada benarnya ketika salah satu staf pelatih di Tim Nasional Italia berujar bahwa dirinya terkejut ketika melihat Inzaghi berlatih bersama timnas. Bekal teknik Inzaghi jauh dari standar. Anehnya, dengan segudang pendapat tentang kualitas Inzaghi, Pippo masih sanggup berkibar di kancah elit sepakbola Eropa, dengan memperkuat dua tim besar asal Italia, Juventus dan AC Milan. Koleksi gol-nya bahkan membanggakan. Jika tidak terkena cedera, bukan tidak mungkin Pippo mencetak gol double-digit seperti musim-musim sebelumnya. Dengan kondisinya yang baru prima di akhir musim, Pippo mecetak sejumlah gol penting bagi Milan dan Italia.
Mungkin, "gol penting" itulah yang perlu dibawahi dalam aksi-aksi Pippo yang tidak dikaruniai dengan teknik sempurna, serta fisik sempurna. Dirinya selalu bisa menjadi "the right man in the right place". Sekedar penyegar, tahun lalu dua gol Pippo hadir di saat Milan membutuhkan kemenangan melawan Lyon di perempat final Liga Champions. Atau ketika dirinya memastikan langkah Italia di Piala Dunia lalu ketika melawan Republik Ceko, dengan mencetak gol kedua Italia. Gol-gol Pippo tidak indah, tapi krusial. Dan dalam format sepakbola modern yang menghamba tinggi ke hasil, bukannya proses, Inzaghi adalah figur yang sangat penting. Tidak perlu bermain indah, tetapi menjawab dengan gol yang sah. Inzaghi adalah maskot bagi keberuntungan sebuah tim.
Posisi Inzaghi sebagai striker memang jauh dari kriteria ideal seorang pemain depan. Bagi sepakbola klasik ala Amerika Latin, seorang penyerang adalah mereka yang mempunyai skill dan teknik terbaik. Muncullah nama-nama Leonidas, Alfredo Di Stefano, Pele sampai era Ronaldo atau Lionel Messi saat ini. Sebaliknya, bagi kamus sepakbola ortodoks di Inggris dan Jerman, seorang penyerang adalah tipikal bomber seperti Gerd Muller, sang asal muasal nama "bomber", atau bahkan Duncan Ferguson. Tinggi, kuat, sadis dan oportunis di kotak pinalti lawan. Inzaghi bukan keduanya. Bomber kelahiran Piacenza, 9 Agustus 1973 tersebut "hanya" mempunyai tinggi badan 181 cm ditunjang postur kerempeng. Lari sprint-nya juga tidak cepat, dan bukan rahasia umum bila kondisi fisik Super Pippo - julukannya - tidak mampu bertahan dengan stabil selama 90 menit. Pendek kata, Pippo jauh dari kriteria ideal bagi seorang striker skillful atau model bomber.
Seorang juara adalah mereka yang mengubah kekurangan menjadi keberuntungan. Tanpa bakat dan fisik yang mendukung - bekal utama pemain sepakbola - Pippo mengembangkan sendiri sepakbolanya, yaitu sepakbola psikologis. Kakak pesepkabola Simone Inzaghi terebut akan mengembangkan perlawanan terhadap lawannya secara psikologis. Ketika berebut bola udara, misalnya, alih-alih beradu lompatan, Pippo akan mencoba memanfaatkan celah jika si pemain lawan salah dalam mengantisipasi. Hal itu akan memberikan tekanan bagi pemain lawan untuk selalu sempurna dan tidak mengijinkan adanya kesalahan sekecil mungkin, ketika Inzaghi di sekitarnya. Atau trademark Pippo yang selalu bermain-main dengan posisi offside, tentu akan membuat lawan dan penjaga garis mati-matian fokus untuk memperhatikan dirinya. Hal itu kadang menimbulkan kelelahan psikis bagi lawan (dan juga penjaga garis), ketika menit demi menit beradu. Akibatnya, entah itu lawan akan membuka ruang bagi rekan setim Inzaghi atau malah kecolongan oleh Pippo sendiri. Dan hal itu akan fatal. Gol kedua di final Liga Champions lalu membuktikan. Jamie Carragher, bek Liverpool yang dihadapi Inzaghi di final lalu berujar bahwa dirinya lelah karena harus mengamati pergerakan Inzaghi, hingga pada akhirnya tidak sempurna memasang jebakan offside yang berujung ke gol kedua.
Gaya Pippo tersebut melahirkan sejumlah "kecaman" dari pesepakbola lawan. Rata-rata "musuh" Pippo berposisi sebagai bek. Jaap Stam, yang notabene mantan rekan Inzaghi juga mengaku sebal terhadap gaya Pippo ketika pertandingan Manchester United (eks klub Stam) melawan Juventus beberapa tahun lalu. Stam terprovokasi secara psikologis untuk sangat berhati-hati dengan Pippo di seputar kotak penalti sehingga sulit baginya menyatu dengan permainan. "Musuh" lain dari Inzaghi adalah hakim garis dan wasit. Biasanya seorang hakim garis akan lebih waspada ketika permainan melibatkan Pippo. Tetapi Inzaghi juga pantang menyerah. Mungkin Pippo tidak akan ragu untuk menempuh 30 kali percobaan offside, demi lolos sekali yang sudah cukup untuknya mencetak gol!
Mereka yang sinis akan selalu berpedoman bahwa Pippo sangat mengandalkan keberuntungan. Tetapi secara positif, Inzaghi memang melatih dirinya untuk membuat keberuntungan itu datang kepadanya. Hal itu menjadi penting ketika menghadapi situasi dimana sejumlah pertandingan akan ditentukan oleh gol yang tercetak. Dirinya sadar tidak memiliki bakat sebesar Kaka, dan tidak berbekal kondisi fisik yang mendukungnya untuk bersaing dengan para raksasa model Jaap Stam. Inzaghi melatih kecerdikan dan kegesitan yang diperlukan untuk menyiasati offside. Dirinya juga mengembangkan naluri dan intuisi untuk mengetahui arah jatuh bola atau bola mental. Bahkan dirinya juga berlatih bersama rekan setimnya untuk sekedar menjadi pembelok arah bola, seperti pada gol pertamanya di final Liga Champions lalu. Media mengklaim itu keberuntungan, tetapi Pippo menyangkalnya. Menurutnya, itu adalah hasil latihan yang dikembangkan bersama Andrea Pirlo, si penembak bola.
Golnya ke gawang Liverpool di akhir babak pertama final Liga Champions 2007, yang diklaim sebagai keberuntungan oleh media Inggris, bisa saja tidak akan terjadi jika pemain Liverpool melihat jejak rekam Inzaghi sebelumnya, yang banyak beredar di situs semacam You Tube. Termasuk di pertandingan melawan Empoli dan Inter Milan musim sebelumnya. Kejadiannya persis. Tendangan bebas yang diarahkan ke tiang jauh, kemudian dibelokkan ke tiang dekat yang mengecoh kiper. Pelakunya? Sama! Andrea Pirlo menendang, Inzaghi memantulkan.
Kini, Filippo Inzaghi berusia 33 tahun. Setelah mengembangkan karirnya dari Piacenza, Parma dan Atalanta, rasanya hampir mustahil baginya untuk hanya mengandalkan keberuntungan selama rentang 10 tahun karirnya di dua klub besar Italia, Juventus dan Milan. Selama total15 tahun karir sebagai pebola, Inzaghi menghasilkan lebih dari 150 gol, beberapa diantaranya adalah gol penting yang menentukan kemenangan. Dan sebagian besar juga dicetak dengan cara "biasa" seperti bola pantul, gawang kosong, dan gol-gol semodel dua golnya di final Liga Champions lalu. Sulit dipercaya rasanya jika dirinya hanya mengandalkan keberuntungan untuk melewati tahun demi tahun dalam profesinya sebagai pesepakbola.
Petuah kuno berkata: keberuntungan tidak akan datang tiga kali dengan cara yang sama. Beberapa orang mungkin memang sengaja memancing agar keberuntungan itu datang kepadanya. Sama seperti pemain poker yang terus melatih trik-trik psikologis untuk memenangkan perang mental dengan lawannya. Poker adalah permainan kartu yang sangat mengandalkan keberuntungan. Tapi para juara poker terus melatih apa yang mereka bisa agar keberuntungan bisa mendekat mereka. Sama halnya dengan sepakbola. Pepatah bahwa bola itu bulat turut menegaskan besarnya faktor "luck" dalam permainan terpopuler sejagad ini. Apabila kita mau memandang positif, Filippo Inzaghi sebetulnya hanya memandang sepakbola dari kacamata yang berbeda dengan kebanyakan. Dan orang istimewa adalah orang yang bisa melihat apa yang orang lain tidak mampu melihat.
Jangan pernah memandang remeh Inzaghi.
*** (Hilman Taofani)
Sumber gambar: abc.net.au
Posted on June 6, 2007 3:00 AM | Permalink

Komentar (14)
Memang hampir semua orang yang suka mengikuti liga itali komentar kalo Pippo itu pemain spesialis diving dan off side... Bahkan suami saya aja bisa bilang setiap gol Pippo itu suatu kebetulan belaka... Tapi menurut saya seandainya, kebetulan, masa sih bisa selama itu? dan masih dipake sama Carlo Ancelotti dan masuk timnas...
@ June 20, 2007 18:50
Ya, jadi berubah deh kesan saya kepada Pippo. Anda benar dan berhasil mengubah persepsi saya tentang dia. Selama ini jika ada yang main bola dan suka offside, kami selalu bilang, Inzaghi juga orang itu... Cuman bikin gondok dan kelihatan (maaf) agak bodoh!. Thanks.
@ June 28, 2007 20:09
SETUJU BANGET!!!!!!!
walau banyak yang mengkritik n mencemooh, tp dari dulu ampe skr aq suka ma pippo. Bisa dibilang justru karna dialah aq suka bola. Justru insting kuat th posisi bola itulah modal pippo bertahan di sepakbola internasional.
@ August 24, 2007 09:58
Bener banget,mereka slalu komentar kalo Pipo itu golnya hanya keberuntungan, padahal kalo keberuntungan masa terus-menerus. jadi bwat smua jangan anggap remeh Super Pipo. maju terus Pipo
@ September 6, 2007 19:56
Anda benar sekali, Inzaghi adalah jelmaan dari Paolo Rossi modern. Less in skill & talent, but absolutely marvelous in instinct. Saya termasuk orang yg selalu menunggu Milan memainkan Inzaghi di setiap pertandingan.
@ December 18, 2007 07:38
PIPPO INZAGHI, ieri oggi e sempre !!!
@ December 27, 2007 16:48
pemain idola masa kecil
jadi spendapat ama komentarna
tapi artikel d atas lebi detil
Inzaghi bikin kita sadar kalo sepak bola bukan memprioritaskan fisik
tapi kerja keras dan sedikit kberuntungan yang bikin kita bs sukses
@ January 17, 2008 10:21
Jika hanya karena keberuntungan, tak mungkin Pippo bisa bertahan sampai sekarang. Pippo hebat, bahkan sampai di usia sekarang, dia masih diandalkan. Keyakinan, optimisme, mungkin itulah faktor yg membuat Pippo bertahan hingga sekarang.
@ January 21, 2008 08:20
Wahhhhhhhhhh aku seneng banget baca ulasan diatas
Betul banget tuh, mang kadang2 banyak yang menganggap pippo tuh cuma bisa diving ma offside, ga bisa maen bola.....
Tapi mereka lupa bahwa semua orang punya kelemahan dan kelebihan,dan salah satu kelebihan pippo adalah dia selalu bisa menganggap bahwa semua komentar miring tentang dirinya adalah suatu cambuk yang bisa membuatnya lebih baik lagi.........
Cayo pippo, Lo 'L amo
@ January 22, 2008 11:47
Filippo Inzaghi adalah pemain yang mempunyai magnet. Pemain lain mengejar dan mencari bola, tetapi tidak halnya dengan Inzaghi. selain mencari bola dia juga malah sebaliknya dicari oleh bolanya. Seperti contohnya gol pertama Milan vs Liverpool pada final Liga Champion silam. Inzaghi yang berlari menghindar agar tidak terkena bola tendangan bebas Pirlo malah dikejar dan terkena bola hasil tendangan tsb dan hasilnya terjadilah gol.Kejadian tsb merupakan peristiwa yang unik dan mungkin tidak bisa dinalar.Tapi itulah gol.Dan dlm sepakbola hasil akhirlah yang terpenting.Sebagus apa tim bermain kalau tidak bisa menang sama juga bohong.
@ February 19, 2008 17:15
inzaghi,sy sangat senang ketika Piipo dimainkan dalam setiap pertandigan....naluri "gol" Pippo sangat baik,jangan pandang sebelah mata seorang Pippo Inzaghi
@ February 21, 2008 17:43
saya sangat suka melihat permainan pippo sejak dia jdi to[ skorer liga itali dan kemudian bergabung ke juventus. sampai sekarang saya masih sangat mengidolakan dia. jangan menganggap remeh pippo inzaghi, krna dia adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak eropa. permainan pippo mungkin tak sebagus pele atau maradona, tapi pippo mempunai kelebihan dari mereka yaitu insting, memposisikan diri di kotak penalti, diving, lolos dri offsite, tau arah bola memantul dan jatuh ketika temannya memberi umpan. so, bravo pippo inzaghi.
@ April 29, 2008 00:09
mmm...inzaghi
ya salut sama inzaghi,selalu bikin gol saat2 krusial.saya bisa senang dengan sepak bola karena dari inzaghi.maju terus super pippo inzagol.
@ May 5, 2008 14:14
dahulu ak paling benci klo liat inzaghi main tpi belakangan ini kebalikan ak selalu menunggu maennya sisuper pipo itu, the best striker in italy
@ May 23, 2008 19:09