Menerbitkan Buku itu Gampang?
Media blog adalah salah satu media yang berhubungan sangat dekat dengan dunia tulis menulis. Karena itu tidak dipungkiri kalau banyak sekali blogger yang semakin terpincut dengan dunia ini. Mungkin karena telah terbiasa untuk menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan, menulis akhirnya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan lagi. Tidak sedikit dari para blogger ini yang akhirnya terjun sebagai penulis. Bagaimana tidak, dari Blogfam sendiri telah lahir para penulis baru yang menurut mereka karena unsur yang tidak disengaja. Hmmm … itulah nasib.
Tanpa melebih-lebihkan komunitas blogger ini, tapi Blogfam memang sudah membuka peluang ini dengan mengadakan beberapa kali proyek penerbitan buku keroyokan. Setiap anggota diberikan kesempatan untuk mengirimkan karya terbaiknya agar dapat lolos dalam seleksi yang dilaksanakan. Kalau akhirnya seorang blogger memiliki karya yang bisa dibukukan dalam sebuah buku antologi/keroyokan, tidak dapat disalahkan kalau semangat untuk memiliki buku sendiri akan semakin meluap. Kesempatan sudah terbuka!
Yang menjadi masalah, apakah menerbitkan sebuah buku itu gampang? Sebagai penulis baru yang ingin terus menghasilkan karya, blogger akhirnya mencari tahu seperti apa sih proses penerbitan buku itu? Di forum Dunia Buku, Musik, Film, seni dan budaya, perbincangan ini seringkali dibicarakan. Berikut adalah beberapa cuplikan obrolan para anggota Blogfam.
Gatorz melontarkan obrolan pembuka dengan pertanyaannya: “Kayanya di sini dah banyak yg pengalaman bikin buku deh, tapi belum ada yang bahas how to, step by step bikin buku dari mulai scripting, nyari publisher, editing, naek cetak sampe ke toko buku. ceritain donk?”
Donna Tenshi dan Amriltgobel ternyata langsung merujuk kepada sumber yang sama: blognya thefool! Donna dan Amril sama-sama teringat pada sebuah postingan thefool mengenai tahapan-tahapan penerbitan sebuah buku. Tentu saja merujuk kepada pengalaman thefool pada saat menerbitkan bukunya yang berjudul ‘Bertanya atau Mati’. Thefool menuliskannya secara terperinci nih. Asyik banget. Kalau pada pengen tahu, bisa klik di sini.
Sebuah jawaban simple datang dari Masoema: “Kalau aku sih simply bikin tulisan sesuai keinginan, lengkap sampai jadi kira-kira satu buku. Di print, dikirim ke penerbit, selanjutnya tinggal tunggu approval dari penerbit aja. Very simple, isn't it?” Yup. Itu memang langkah yang sangat sederhana. Tapi sepertinya usaha akan lebih maksimal kalau langkah yang diambil tidak seserdahana itu ya?
“Milih penerbitnya gimana? Kalo yang awam banget gimana mulainya?” pertanyaan susulan datang dari Deesiey. Pastinya sih Deesiey ada niat nerbitin karyanya nih. Pertanyaan ini langsung dijawab Donna. Dengan pengalamannya menerbitkan beberapa novel, Donna pastinya sudah mengenal seluk-beluk penerbitan ini.
“Cara milih penerbit? Lihat dulu naskahmu seperti apa. Fiksi? Nonfiksi? Sastra? Sastra populer? Coba lihat-lihat di toko buku. Cari buku yang rada-rada mirip penuturan dan temanya dengan hasil karyamu. Biasanya penerbit tersebut mencari naskah yang serupa. Bisa dicoba dari sana. Semoga berhasil!” Asyik nih, satu tips sudah diperoleh dari Donna.
“Hiks-hiks novelku berulang kali ditolak penerbit. Gimana cara ngerayu mereka yah?” keluhan ini disampaikan oleh Amru. Hmmm … apakah penerbit bisa dirayu? Sepertinya sih tidak, karena penerbit akan mempertaruhkan modal yang tidak sedikit dan nama baiknya untuk menerbitkan suatu buku atau novel. Tips Donna untuk memilih penerbit yang cocok sepertinya sih lebih tepat tuh, Mru. Ayo, jangan menyerah! Kali aja penerbit yang kamu tuju bukan penerbit yang pas kan?
Masalah lokasi penulis yang jauh dari kantor penerbit dan juga keamanan naskah menjadi perhatian Wku. “Ikutan nanya nih. Saya kan tinggal di pelosok ndeso dan belum punya nama (besar sebagai penulis, red.). Kalo menawarkan naskah ke penerbit di Jakarta, misalnya, kan biasanya dikirim via pos tuh. Apakah cara ini bisa masuk hitungan untuk sekedar dilirik? Apakah pengiriman via pos ini lebih beresiko daripada setor muka langsung ke kantor penerbit? Gimana cara menjaga 'keamanan' naskah kita ini?”
Sepertinya menjadi kekhawatiran banyak penulis baru nih. Ah, untung ada Donna kembali yang mau berbagi pengalaman-pengalamannya. “Mas Widi, aku juga pertama kali nawarin naskah via pos kok (TIKI tepatnya). Untungnya ketemuan langsung dengan editor, kita tau kalo mau nanya naskah ke siapa (ada contact person-nya). Tapi nggak menjamin udah kenal gitu naskah kita akan didahulukan bacanya. Editor di mana-mana lebih senang naskah yang "rapi". Jadi pastikan sebisa mungkin naskahmu terjilid dan tercetak rapi, ejaannya minim kesalahan, dan lain-lain. Menjaga 'keamanan' maksudnya supaya nggak hilang di jalan atau apa? Pake pos tercatat/kilat khusus atau TIKI yang ada resinya aja, biar bisa dilacak kalo hilang di tengah jalan. Setahuku tiap penerbit bonafid kalau ada naskah yang nggak diterima, akan dibalikin atau malah dihancurkan pake shredder. Jadi kemungkinan dibajak atau apa insya Allah, minim sekali.”
Sip deh, penjelasannya lengkap banget kan? Masalah keamanan memang dapat diminimalisir dengan menggunakan kurir yang dipercaya, dan menggunakan resi tanda bukti pengiriman yang jelas. Kalau tiba-tiba nyasar, atau nggak sampai ke tujuan kan bisa dilacak tuh kemana nyasarnya? Kalau masalah kita tinggal di desa atau di kota, kayaknya nggak jadi masalah deh. Kalau naskah kita bagus, kenapa enggak?
Jadi, menerbitkan buku itu gampang nih? Sepertinya sih gampang aja ya? Hehehe … yang sulit itu adalah menyusun naskah yang bagus, dan mengirimkannya ke penerbit yang tepat! Setelah kedua poin itu dipenuhi, urusan penerbitan sepertinya akan lancar-lancar saja, dan buku kamu bisa segera mejeng di seluruh toko buku di Indonesia. Good luck, guys! *** (Iwok)
Posted on June 6, 2007 11:00 AM | Permalink

Komentar (4)
Fitta pgn bgt nerbitin buku yg isinya puisi-puisi Fitta. Tapi krn sadar Fitta belum terkenal jadi gimana ya ? Bingung
@ June 8, 2007 18:11
Q pengen nanya, klo semua naskah dah di susun.. lalu kita ngirim ke penerbitnya apa aja? biar diterima? pasti gak semua naskah di kasih kan?dalam bentuk apa?soft data? apa hasil printnannya? bls y ...
@ June 16, 2007 02:46
ingin menanggapi Fitta. Fit, kadang penulis puisi yang terkenal pun kesulitan melemparkan bukunya untuk diterbitkan oleh penerbit. alasannya klasik : buku puisi kurang menguntungkan dari aspek bisnis.
maka yang banyak terjadi, dan ini dilakukan oleh para penyair (baik pemula seperti saya sendiri, juga beberapa yang sudah punya nama seperti I Wayan Sunarta yang saat ini sedang persiapkan bukunya) adalah dengan modal sendiri.
modal sendiri di sini, termasuk juga bagaimana memperkenalkan diri dan karya sendiri kepada publik. istilahnya 'personal brand'.
jika bisa berbagi pengalaman bagaimana menerbitkan buku sendiri, dengan senang hati saya akan sharing.
salam,
Yo
@ June 26, 2007 12:16
Kompilasi tips yang sangat berguna, Mas Iwok. Trims.
@ July 5, 2007 10:42