Artikel:

Naga Bonar Jadi 2: Kamu Sudah Bikin Aku Mati, Bonar!

Kalau Anda orang Indonesia, tonton film ini!

Andai mampu, saya bakal bayari Anda dan anak-anak anda, sanak famili, tetangga sekampung, khusus untuk bersama-sama meresapi kisah film ini. Saya ingin anda melihatnya, dan apapun impresi yang anda dapatkan dari film ini, semoga kita semua dapat saling belajar darinya.

Terlepas dari fakta bahwa Nagabonar sendiri tampak begitu mirip dengan bapak saya, harus diakui bahwa Deddy Mizwar tampil luar biasa impresif di film ini. Dalam hati saya berharap agar Deddy Mizwar awet muda dan makin kaya, sehingga beliau dapat membuat lebih banyak lagi film semacam ini. Tentu saya sekaligus juga berharap agar film-film setan segera menguap dari peredaran, tergantikan oleh produk-produk semutu Nagabonar.

Saya tidak ingin berbicara tentang kisah film ini. Oh, sesungguhnya hati ini menggebu-gebu ingin membahas segala hal yang saya lihat dan resapi darinya. Namun Anda harus melihatnya sendiri, sungguh. Kata-kata saya tidak akan memadai. Lebih baik saya membicarakan reaksi penonton yang kebetulan satu sesi pemutaran dengan saya.

Banyak dari penonton yang tertawa. Saya juga, awalnya. Satu hal yang sangat khas saya tangkap dari film ini adalah bahwa pada momen-momen paling dramatis dan cenderung tragis, justru saat itu pula muncul lelucon pahit, namun memang lucu. Dan di sinilah para penonton terbagi dua.

Ada yang terdiam, tersentuh, bahkan menangis, saat adegan mulai menanjak. Namun ketika pada klimaksnya muncul lelucon yang tak terduga, tawa pun merebak memenuhi ruangan.

Namun di antara tawa itu, ada pula yang melanjutkan tangisnya. Bisa tebak sendiri saya berada di pihak yang mana.

Film ini sangat, sangat kuat. Begitu kuat hingga saya merasa mati di dalam. Saya terperangah dengan betapa dungu dan dinginnya nurani saya selama ini. Saya jadi terpikir-pikir lama. Sangat lama. Bonar dengan elegan mengingatkan saya tentang pahlawan. Dan, ah, betapa kata itu telah begitu luntur maknanya di hati kita.

Sadarkah Anda bahwa sepetak tanah tempat Anda membuang puntung rokok sembarangan, bisa jadi adalah juga sepetak tanah yang sama yang dulu untuk merebutnya harus dibayar dengan darah dan nyawa oleh entah berapa banyak rakyat Indonesia yang ringkih dan kelaparan? Dengan nyawa, demi Tuhan! Kamu bisa menyumbangkan 30-an biliun USD pada bangsamu (kalau kamu Bill Gates), tapi itu pun belum sebanding dengan pengorbanan nyawa!

Nagabonar membuat saya menangisi entah berapa banyak pengorbanan yang tak pernah sadari. Saya jadi merinding membayangkan apa saja yang harus dibayar oleh rakyat Indonesia, dulu, hingga sekarang saya bisa bergelap-gelap ria di Matos 21 nonton Nagabonar.

Ah, ironi! Kamu sudah bikin aku mati, Bonar. Lihat aku sebentar lagi hidup kembali, satu tangis denganmu, dengan cinta dan detak jantung yang sama denganmu.

PS: Tidak. Film ini tidak sempurna. Potongan adegan di diskotik buat saya terasa terlalu klise dan tasteless. Atau barangkali saya yang terlalu membenci dunia gemerlap. Namun masih ada terlalu banyak bagian yang patut disyukuri di film ini, sehingga mudah untuk saya melupakan bagian yang tidak sedap bagi saya ini. ***( Hafiz )

Posted on June 6, 2007 6:00 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: