Artikel:

Sepak Bola Rusuh

aktual Saat ini sepakbola telah lahir menjadi sebuah budaya. Olahraga yang sejarah penemuannya diperebutkan oleh Asia dan Eropa ini telah lahir menjadi sebuah industri yang memungkinkah berputarnya uang dalam angka yang membuat mata terbelalak. Orang Inggris mengklaim bahwa merekalah penemu sepakbola modern. Yang menjadi pijakan mereka adalah lahirnya Football Association di Inggris pada 26 Oktober 1863. Maka, pada Piala Eropa 1996 di Inggris, mereka mengusung Jargon: “Sepakbola kembali ke tanah leluhurnya”.

Namun catatan tertua tentang sepak bola ditemukan di Cina dari masa Dinasti Tsin (255-206 sebelum Masehi). Pada zaman Tsin, permainan yang dinamai tsu chu ini awalnya dipakai untuk melatih fisik para prajurit kerajaan. Tsu chu yang berarti “menendang bola” lahir dari kepercayaan Cina kuno.

Perdebatan yang sengit tentang siapa penemu sepakbola sesungguhnya merupakan salah satu bukti betapa olahraga sepakbola ini sangat dicintai oleh masyarakat dunia. Animo serta antusiasme terhadap sepakbola melahirkan pendukung-pendukung fanatis bagi masing-masing kesebelasan. Pendukung bagi sebuah tim adalah nyawa. Mereka disinyalir bisa menjadi orang ke 12 di lapangan yang bisa menentukan hasil akhir sebuah pertandingan. Fanatisme buta yang berlebihan melahirkan energi negative yang memicu lahirnya tindakan kekerasan yang ujung-ujungnya memakan korban jiwa. Yang paling sahih adalah tewasnya seorang polisi Italia berusia 38 tahun, Filippo Raciti, yang terkena lemparan bom Molotov pada kerusuhan pertandingan derby Sisilia antara Palermo dan Catania di Liga Seri A Italia sana.

Sejarah juga telah mencatat lembaran paling kelam dalam perkembangan sepakbola dunia. Kita tak bisa lupa akan tragedi Heysel yang terjadi pada tanggal 29 mei 1985. Kala itu dua tim hebat Eropa Liverpool dan Juventus bertemu di final piala champions (sekarang berganti nama menjadi liga champions). Stadion Heysel di Brussel Belgia menjadi saksi bisu tragedy paling memilukan serta memalukan persepakbolaan dunia itu. Pertandingan final yang dimenangkan dengan skor 1-0 oleh Si Nyonya Besar” (julukan-Juventus) itu mesti dibayar mahal dengan melayangnya nyawa 39 orang sebagai korban bentrokan para pendukung kedua tim.

Kejadian yang tidak juga menjadi pelajaran berharga bagi Liperpudlian – julukan bagi para pendukung setia ‘The Reds” Liverpool. Pada pertandingan final Liga Champion 2007 mereka bertemu dengan wakil Italia AC Milan. Ini merupakan ulangan final dua tahun sebelumnya di Istambul Turki. Sayangnya hasil akhir pertandingan kali ini tidak semanis kemenangan layaknya tahun 2005. Kala itu mereka berhasil menekuk Milan melalui drama adu tendangan penalti. Kali ini pendukung Liverpool mesti meratapi nasib karena tim kesayangannya dikalahkan Milan dengan skor 1-2. Sikap tidak simpatik para pendukung Liverpool yang melampiaskan kekesalannya dengan melempar kaleng minuman ke arah pendukung Milan memicu kericuhan. Beruntung dalam insiden kali ini tidak jatuh korban jiwa. Namun, akibat ulahnya ini UEFA (Assosiasi Sepakbola Eropa) menobatkan pendukung Liperpool sebagai pendukung terburuk di benua biru itu.


Bagaimana di Indonesia?

Kita berbahagia ketika hingar-bingarnya kompetisi Liga Indonesia diikuti dengan menjamurnya kelompok-kelompok pendukung setia masing-masing tim dengan segala atribut serta warna-warninya. Tentunya hal ini menambah khazanah persepakbolaan nasional dan sedikit memberikan harapan bahwa persepakbolaan kita belum mati. Kita mengenal Aremania (Pendukung Arema Malang), Macsman(Pendukung PSM Makassar), Jakmania (Pendukung Persija), Viking (Bobotoh setia Persib Bandung) dan lain sebagainya. Kehadiran berbagai kelompok ini diharapkan memberikan warna positif bagi perkembangan sepakbola nasional. Karena tanpa dukungan penonton tentunya sebuah pertandingan akan terasa hambar dan kehilangan greget. Menjamurnya kelompok pendukung ini sebenarnya diharapkan berimbas kepada terbentuknya sikap santun para pendukung dalam mendukung tim kesayangannya.

Tapi rasa-rasanya kehadiran para kelompok pendukung ini juga belum memberikan kontribusi yang maksimal dalam terbentuknya sikap santun para pendukung. Bentrokan antara pendukung Persija dan pendukung Persita di Tanggerang, Rabu 14 Maret 2007 menjadi buktinya. Para pendukung ini sepertinya tak pernah jera padahal seminggu sebelumnya juga terjadi aksi brutal penonton juga mewarnai bentrokan antara pendukung Persija dan pendukung Persikabo di Bogor. Di Bandung rusuh bobotoh Persib yang tak mempunyai tiket memaksa masuk stadion agar bisa menyaksikan menyaksikan Persib vs Persema Malang. Walhasil, prestasi "rusuh" dalam setiap berputarnya Liga Indonesia nampaknya menjadi hal yang sangat menonjol ketimbang prestasi dari sepak bola itu sendiri.

Kondisi semacam ini diperparah dengan lemahnya upaya aparat pengamanan dalam mengawal suatu pertandingan. Kalau kita menyaksikan pertandingan Liga Primer Inggris, kita akan melihat pasukan kemanan yang menghadap kea rah penonton selama pertandingan berlangsung untuk memantau kondisi penonton dan meminimalkan terjadinya kerusuhan. Kalau di sini aparat keamanan malah ikut menonton pertandingan. Ya repot, deh!!

Hukuman dari PSSI dari mulai menjatuhkan hukuman denda sampai hukuman bertanding tanpa penonton kepada tim yang pendukungnya berbuat ulah pun masih tetap kurang joss untuk meminimalisir kerusuhan. Sungguh ini sebuah pekerjaan rumah besar buat pengurus PSSI periode 2007-2011 yang patut dicarikan jalan keluarnya.

Ah, kapan ya kita bisa menonton tim kesayangan dengan hadir di stadion bersama anak-anak atau istri kita tanpa harus was-was akan terjadi kerusuhan? Tentunya kala itu terjadi, sepakbola akan terasa lebih indah.

Bersorak dan bersuka cita ketika tim kesayangan berjaya, tapi masih bisa memberi applause kepada tim kesayangan kala mereka menderita kekalahan walau mesti sambil menitikan air mata. Rasa-rasanya sikap pendukung yang seperti itulah yang layak digelari pendukung sejati.

Tanpa kekerasan, sepakbola akan lebih maju dan tentunya lebih indah!

*** (ifoeng)

Gambar diambil dari: http://www.theage.com.au

Posted on June 6, 2007 4:00 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: