Artikel:

Cerfetnak: Sssttt ... Ada Apa di Atas Bukit?

Setelah sukses membawa 'The Messenger' ke pintu penerbitan dan kemudian beredar luas di seluruh Indonesia, penulisan Cerfet (Cerita Estafet) di Blogfam menjadi suatu hal yang banyak dilakukan. Tentu saja karena penulisan sebuah cerita oleh beberapa orang penulis ini sungguh mengasyikan. Alur kisah yang tidak bisa ditebak (bahkan oleh para penulisnya pun) seringkali menjadi daya tarik. Cerfet pun adalah ajang kreasi penulis yang dituntut harus bisa bekerjasama dan tidak boleh egois dalam menyusun sebuah cerita. Alur cerita yang ada di pikiran beberapa orang penulis harus bisa bersatu dan menghasilkan suatu karya yang bisa diterima oleh pembaca.

Iwok, Dedew, Ririn, Indahjuli, Ryu, dan Ichenzr adalah enam orang penulis yang kali ini bergabung dan bersepakat untuk menyusun sebuah cerita estafet untuk anak-anak (Cerfetnak). Dibandingkan genre sebelumnya, cerfetnak ini adalah yang pertama kali dilaksanakan di Blogfam. Hasilnya? Sebuah cerita berjudul "Ssstt ... Ada Apa di Atas Bukit" sudah menghiasi forum Galeri Kreasi beberapa bulan ini. Saat ini, sudah 10 bab yang ditampilkan, dan masih akan berlanjut terus sampai bab 18 nanti. Seru atau tidak? Hanya yang membacalah yang bisa memutuskannya.

Berikut adalah petikan dua buah bab awal yang diambil dari forum Galeri Kreasi.

-----

Part I : PINDAH!
Oleh: Iwok

Bintang menatap rumah yang ada di depannya tanpa ekspresi. Rumah yang sangat sederhana, seperti khasnya rumah-rumah di desa. Halaman di depan rumah terlihat cukup luas, dengan berbagai tanaman dan bunga menghiasinya. Bukan bunga-bunga mewah dan mahal seperti yang ada di rumahnya dulu di Jakarta, tapi bunga-bunga yang banyak tersebar di mana-mana. Di ujung sebelah kiri sebatang pohon jambu air malah sedang berbuah dengan lebatnya. Terlihat merah-merah, dan tentu manis rasanya. Oya, rumah itu bercat putih.

"Kok malah bengong? Inilah rumahmu sekarang, Bintang. Kita akan tinggal di sini," suara Mama terdengar mengejutkannya.

Bintang menoleh sekilas ke arah Mama yang ternyata memperhatikannya dari teras rumah. Mereka baru sampai dari perjalanan jauh. Dari Jakarta ke sebuah desa di pinggiran kota Bandung. Mama memang sudah tidak merasa asing dengan rumah ini karena sudah beberapa kali mengunjungi Papa di sini. Tapi buat Bintang, ini adalah kali pertamanya dia datang ke sini, dan untuk seterusnya.

Ah … kenapa sih harus pindah?

"Papa dapat promosi, Ma. Jadi kepala cabang! Bukankah itu adalah suatu kabar gembira?" cerita Papa dengan nada yang sangat gembira di suatu sore, dua bulan yang lalu.

Setelah itu terdengat jeritan kegembiraan Mama. Karena prestasi Pak Yahya, ayah Bintang, yang dianggap sangat baik, beliau dipromosikan untuk menjadi kepala di salah satu cabang Bank pemerintah tempat pak Yahya bekerja. Awalnya Bintang ikut bergembira melihat kesuksesan ayahnya tersebut. Tapi kegembiraannya itu hilang ketika Papa bilang mereka akan segera pindah ke... Bandung!

Bandung. Di pinggiran kota inilah Bintang berdiri sekarang. Meski Papa sudah pindah ke sini dua bulan yang lalu, tapi Bintang baru bisa menyusul hari ini. Dua bulan lalu Bintang masih harus menyelesaikan ujian kenaikan kelas dulu, sehingga hanya Papa saja yang pindah saat itu. Bintang dan Mama baru bisa datang menyusul kali ini.

"Hey! Kamu mau masuk nggak?" teriakan Mama kembali mengagetkan lamunan Bintang.

"Bintang, apa kamu tidak mau melihat kamar kamu sekarang?" tanya Papa yang baru keluar dari pintu samping, setelah selesai membawa barang-barang dari bagasi mobil ke dalam rumah. Suara Papa terdengar pelan, pasti karena mengerti Bintang masih enggan untuk pindah ke rumahnya yang baru ini, sehingga harus dibujuk perlahan-lahan.

Bintang beranjak dengan rasa malas. Sedari tadi dia hanya mematung di pintu pagar, menyaksikan dengan tidak percaya bahwa dia sudah ada di sini, di rumah barunya yang jauh dari harapannya. Bandung memang kota besar, dan Bintang berharap dia tidak akan kehilangan suasana perkotaan seperti yang ada di Jakarta. Tapi ketika menyadari bahwa Papa dipindahkan ke sebuah desa, di pinggiran kota Bandung, Bintang menjadi lesu dan kecewa. Apa yang bisa diperolehnya di sini?

Kaki Bintang melangkah memasuki rumah. Inilah rumahku sekarang, bisik hatinya. Mama sepertinya sudah mengatur perabotan sedemikian rupa sehingga bagian dalam rumah tampak asri dan nyaman. Mama memang hebat, bahkan penataan kamarnya terlihat hampir sama dengan kamarnya yang ada di Jakarta. Hanya saja kamarnya sekarang lebih kecil.

"Bagaimana, kamarmu masih terlihat sama kan?" tanya Mama yang mengiringi Bintang memasuki kamarnya.

Bintang mengganguk pelan. "Lebih sempit," keluhnya perlahan. "Ma, Bintang tinggal sama nenek aja lah di Jakarta!"

"Eh, enggak ah. Apa kamu nggak kasihan sama Nenek?" jawab Mama seperti kaget. "Nenek kan sudah tua, Bintang. Kasihan kalau Nenek harus kewalahan ngurusin kamu yang nggak pernah mau diam!" goda Mama sambil tertawa.

Bintang tertawa kecil sambil membayangkan kecerewetan Nenek akan semakin bertambah melihat kelakuannya sehari-hari. Pasti Nenek nggak akan bisa berhenti ngomel melihat buku yang bertebaran di mana-mana. Tas sekolah, sepatu, kaos kaki, dan seragam sekolah yang main lempar kemana saja begitu Bintang pulang sekolah. Belum lagi sepeda atau mainan yang tergeletak begitu saja selesai dipakai. Biasanya Mama saja cerewetnya minta ampun, apalagi Nenek. Hiiiii... Bintang mengendikkan bahunya sendiri membayangnya reaksi Nenek atas kelakuannya.

"Tapi di sini Bintang nggak ada teman Ma," protes Bintang.

"Lho, kamu kan baru saja sampai di sini. Besok kamu akan sekolah di sini, dan pastinya kamu akan ketemu teman-teman baru. Ayolah, masa anak yang besok akan masuk kelas 6 SD masih merajuk seperti itu sih?" Mama tersenyum melihat kegelisahan Bintang.

"Di sini juga sepi. Nggak ada hiburan seperti di Jakarta!" Bintang cemberut. Matanya menatap keluar jendela. Pepohonan terlihat tumbuh dengan lebatnya di samping rumah, membatasi jarak dengan tetangga sebelah rumahnya.

"Kita bisa ke kota kalau hari libur! Kota Bandung kan nggak jauh dari sini. Cuma satu jam naik mobil," bujuk Mama.

Kalau libur? Satu jam perjalanan? Kening Bintang berkerut. Berarti kalau nggak libur di rumah aja seharian? Wajah Bintang langsung ditekuk lagi. Nggak seru nih. Bintang menghambur ke tempat tidurnya. Marah, ngambek dan kecewa.

***

Bintang menghambur keluar. Bosen juga seharian di kamar seperti ini. Hari Minggu nggak asyik dihabisin seharian di kamar. Diraihnya sepeda mininya yang ada di garasi. Dia bermaksud untuk berkeliling daerah ini. Besok dia harus sekolah, sementara sekolahnya aja di mana Bintang belum tahu. Papa cuma bilang sekolahnya nanti ada di pinggir lapangan sepakbola, di ujung jalan belok kiri.

"Mau kemana, Bintang?" tanya Mama yang kaget melihat Bintang lari keluar.

"Jalan-jalan sore!" Bintang masih sempet memberikan cengirannya ke arah Mama sebelum mengayuh sepedanya cepat-cepat, keluar dari pagar rumah.

"Jangan jauh-jauh, nanti nyasar!" masih terdengar teriakan Mama ketika Bintang sudah melesat dengan sepedanya.

Selanjutnya Bintang mengayuh sepedanya lambat-lambat. Matanya menatap satu demi satu rumah yang dilewatinya. Kebun-kebun milik warga, dan kebun bambu yang cukup lebat. Waaah ... suasana yang tidak pernah ditemuinya di Jakarta. Angin semilir terasa menghembus tubuhnya. Hmmm.. segar. Bintang menghirup udara dalam-dalam. Tinggal di desa mungkin asyik, tapi tidak perlu lama-lama. Kalau sekedar menghabiskan waktu liburan sih mungkin nggak masalah, tapi kalau harus tinggal selamanya disini? Bintang belum bisa membayangkannya.

Sepeda yang dikayuh Bintang melewati sebuah lapangan sepakbola yang cukup luas. Waahh.. pastinya sih seru banget kalau bermain sepakbola di sini. Apalagi kalau main bolanya sambil hujan-hujanan. Bintang teringat setiap sore sering bermain dengan teman-temannya di sebuah lapangan bola voli yang ada di komplek perumahannya. Coba Alex, Randy, Derry, dan Sahrul ada di sini, tentu mereka akan merasa senang bermain bola di lapangan yang cukup luas seperti ini.

Di ujung lapangan dua buah bangunan berdiri tegak. Bangunan itu berdiri memanjang dan dikelilingi oleh pesawahan. Dari cat bangunan dan informasi dari Papa saja Bintang sudah menduga bangunan apa itu.

Itu sekolahku? Bintang menautkan kedua alisnya.



---

Part 2 : TEMAN BARU
Oleh: Dewi Rieka K.

Tidak salah tuh, itu sekolahnya?

Tidak usah dibandingkan dengan sekolahnya di Jakarta deh. Jauuuh. Tak usah mencari kolam renang, lapangan basket saja kelihatannya tak ada. Bintang terduduk lesu di bawah pohon. Dibiarkannya saja sepeda mini mengkilapnya terkena tanah. Sekolah? Kelihatan seperti gudang di mata Bintang. Papa benar-benar tega! Membuang kami ke pedalaman seperti ini!

Sedang sibuk berkeluh kesah, beberapa anak lewat sambil bersenda gurau. Baju mereka lusuh dan basah karena keringat. Mereka bertelanjang kaki. Anak yang paling besar membawa bola berlumuran tanah. Pasti habis main sepak bola! Bintang mengernyitkan hidung melihat anak-anak itu. Kampungan sekali.

Ah, dia jadi ingat Alex dan teman-temannya di Jakarta. Walaupun hanya main di lapangan voli, penampilan selalu nomer satu. Teman-temannya sering saling memamerkan sepatu bola merk terkenal atau kaus bola asli tim asing oleh-oleh dari Amrik. Tentu saja, anak lain tak mau kalah dan ikut beli. Tak heran, penampilan mereka keren semua.

Suasana hatinya tambah jelek, ia malas bertegur sapa dengan siapapun di desa terpencil ini. Bintang menunduk pura-pura sibuk mengutak-atik sepedanya. Ayo, cepat lewat..anak-anak kampungan, bisiknya.

"Eh, siapa nih?"

"Sepedanya bagus sekali!"

Bintang merengut. Dia tak suka barangnya dipegang-pegang seenaknya.

"Hai, Kamu anak baru ya?" sapa anak yang berambut kribo senyum.

Bintang mengangguk.

"Rumahmu dimana?" tanya yang berbadan paling besar.

"Dekat jalan besar yang halamannya luas," jawabnya.

"Oh, bekas rumahnya Pak Karta ya? Wah, asyik ya rumah besar itu sudah ada penghuninya. Kami jadi tambah teman!" kata anak kurus berseri-seri. "Selamat datang di desa kami ya!" Mereka berebutan menyalami Bintang yang termenung. "Kamu pasti betah tinggal di sini! Percaya sama aku!" kata si besar.

Deg! Betah?

Bintang semakin bete mendengar kata-kata anak itu. Mana mungkin dia betah tinggal di kampung seperti ini! Dikibaskannya tangannya kasar dan cepat-cepat dikendarainya sepeda mininya. Ia ingin menghilang dari situ secepatnya.

"Anak baru, mau ke mana?" teriak si kribo.

Bintang hanya melambaikan tangan dan memacu sepedanya kencang.

"Mungkin dia ingin buang air besar kali, Tok. Kamu tidak lihat mukanya dari tadi seperti berusaha menahan BAB?" kata si besar disambut tawa teman-temannya.

"Aku kira dia takut sama rambutmu, Tok!" ledek anak berkacamata. Anak kribo yang dipanggil Tok memeletkan lidahnya. "Enak saja!"

"Sudah.. sudah! Nanti saja kita datang ke rumah anak baru untuk kenalan! Badanku sudah gatal nih! Ayo pulang!" ajak yang bertubuh kurus. Mereka berjalan lagi sambil bersenandung lagu yang asing di telinga. Apakah itu lagu terbaru?

Bintang membuang sepedanya di halaman. Ia berlari masuk rumah dengan napas tersengal. Mama sedang sibuk membongkar kardus dibantu mbak Siti, asisten mama. "Kenapa lari-lari, Bintang?"

"Tidak apa-apa, Ma. Tadi ketemu anak-anak desa sini habis main bola."

"Terus, mereka mengganggumu?"

Bintang menggeleng. "Ih, aku jijik sama mereka. Kotor dan bau sekali, Ma. Maklum anak kampung," katanya sambil menuang segelas air putih. Sayang, kulkasnya belum dipasang. Tapi, udara sesejuk ini sih tak perlu kulkas deh kayaknya. Airnya sudah segar.

"Eh..kok Bintang begitu? Anak kampung dengan anak kota apa bedanya? Memangnya, kalau habis main bola wangi anak kota seperti parfum mama?" goda mama. "Mama saja harus menahan napas kalau Bintang pulang main dan memeluk mama!"

Bintang merengut. Orang marah malah diajak bercanda. "Habisnya, anak-anak itu dengan pede bilang kalau aku pasti betah tinggal di sini! Ma, bujuk papa dong biar kita pindah saja!" gerutunya. "Di sini membosankan!"

"Eh, Bintang tahu tidak kalau tinggal di desa sudah jadi cita-cita kami dari dulu?" Bintang menggeleng. "Papa dan Mama memang aneh! Di saat orang ingin ke kota eh orangtua Bintang malah ingin tinggal di desa!"

"Itu karena kami ingin masa kecil Bintang bahagia. Bisa menikmati alam bebas sepuasnya, main di sungai, main bola di lapang yang luas dengan banyak teman, naik sepeda..asyik kan!" kata mama tersenyum.

Bintang makin geregetan. "Bintang lebih bahagia tinggal di kota, Ma! Di mana ada teman-teman Bintang, jalan-jalan ke mal yang megah dan makan di resto burger kesukaan Bintang!" jerit Bintang berlari masuk kamar. Mama dan Mbak Siti berpandangan. "Ibu yakin, sebentar lagi Bintang betah disini, Ti."

"Semoga saja ya, Bu."

Sore harinya, Bintang sudah mandi dan ia asyik main PS di kamar. Ia sedang konsentrasi penuh memainkan game bola ketika didengarnya suara ribut-ribut di luar. "Bintaaang.. sini nak, ada teman-teman barumu!"

Hah? Untuk apa mereka ke sini? Bintang buru-buru mematikan PS dan naik ke tempat tidur. Ia memejamkan matanya dengan jantung berdebar. Langkah kaki Mama mendekat.

"Bintang, temui.. lho tidur lagi? Bukannya tadi baru bangun?" kata Mama mendekati tempat tidur. "Duh, anak ganteng..tidurnya nyenyak sekali.. Mama jadi pengen kelitikan ahh...!" goda mama siap-siap menyerang pinggang Bintang.

"Ampuun.. ma.. ampuun!" teriak Bintang cepat-cepat bangun sebelum Mama menggelitikinya hingga nyaris pipis celana. Gelitikan Mama dahsyat!

"Kamu kenapa sih tak mau menemui mereka?" Mama duduk di pinggiran tempat tidur. "Mama kan tak pernah mengajarkan anak Mama untuk sombong dan pilih-pilih teman!"

"Bintang malas.. Bintang ingin pindah saja.."

"Jangan begitu ah. Coba sekarang temui mereka. Kasihan kan mereka lumutan karena lama menunggu!"

Bintang mengintip mereka dari balik pintu. Keempat anak itu sedang bercanda sambil mengunyah kue coklat dan sirup jeruk bikinan Mbak Siti. "Es jeruknya segar ya!" celetuk si kribo. Yang berbadan besar mengangguk-angguk mengunyah kuenya. Dasar anak udik, dikasih begitu saja senang sekali ya! Apa mereka tidak pernah makan kue seperti itu?

"Ayo sana, kenalan!" Mama mendorong Bintang pelan.

Malas-malasan Bintang menemui mereka. "Hai, kalian datang juga. Namaku Bintang," katanya mengulurkan tangan.

Si besar mengelap tangannya di baju dan menyalami Bintang. "Aku Nursalam," katanya.

Yang lain berebutan menyalaminya. "Aku Totok," kata si kribo bersemangat. Bintang geli melihat anak kribo ini, wajahnya selalu tersenyum ramah membuat Bintang tak tahan ingin senyum juga.

"Yang kurus kecil ini namanya Andik, dan yang kacamata pantat botol ini namanya Bagus," jelas si besar eh..Nursalam memperkenalkan teman-temannya.

"Eh, Bintang.. kecil-kecil begini, lariku cepat lho! Mau adu lari?" Andik menepuk dada bangga. Yang lain geleng-geleng. "Jago lari tapi sayangnya suka pamer, Bin! Ssaja diajak adu lari oleh dia," jelas Totok.

"Nah, kalau si pantat botol ini bisa dibilang ensikopedia berjalan. Dia tahu banyak karena suka numpang baca koran di kelurahan. Kamu suka baca tidak, Bin?" tanya Nursalam.

Bintang tersipu. "Aku suka pusing kalau baca buku tebal tapi aku suka baca komik."

Bagus terbelalak. "Komik? Kamu punya banyak komik ya, Bin? Kapan-kapan aku pinjam ya!" ia melompat kegirangan.

Nursalam dan Andik kompak menyenggol pinggangnya. "Malu-maluin kamu, Gus!"

Bagus garuk-garuk kepala. "Habisnya, aku sering melihat iklan komik di koran tapi belum pernah baca. Katanya seru ya, Bin, jadi penasaran aku!"

Bintang mengangguk geli. Ia terhibur dengan tingkah laku anak-anak itu. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia bisa tersenyum. "Nanti aku pinjamkan, Gus! Tenang saja!"

"Kamu tinggal di Jakarta, Bin? Kata orang-orang sumpek dan banyak copet ya?"

Bintang langsung manyun. "Biarpun ramai dan macet tapi di sana semua tersedia. Ada mal, tempat wisata, taman bermain, sekolah mewah.. seru deh! Daripada tinggal disini, membosankan! Pasti tak ada kejadian seru!" cemooh Bintang.

Anak-anak itu berpandangan sambil tersenyum misterius. "Wah, Bintang belum tahu sih.. misteri di atas bukit," bisik Totok menyeringai.

"Sst.. jangan buka rahasia dong, Totok bawel nih!"

"Memangnya, ada apa di atas bukit?" tanya Bintang penasaran.

"Nah itu dia! Kamu harus bergabung dulu dengan grup detektif kami untuk menyelidikinya!"

"Haaah.. grup detektif?"

... (bersambung)


Kelanjutan ceritanya bisa dibaca di sini

Posted on July 6, 2007 2:00 AM |

Komentar (1)

Ichen ZR:

wahhhh....masuk bz neee :P

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: