Artikel:

Kita Butuh TV?

TV memang bukan lagi barang baru. Zaman sekarang TV sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Kalau dihitung-hitung, waktu untuk menonton TV lebih banyak dan lebih lama dari kegiatan manapun yang kita lakukan seharian.

Bandingkan saja, bagi mereka yang masih sekolah, dari jam 07.00 pagi hingga jam 12.00 siang jadwal untuk nonton TV, bisa dimulai dari sepulang sekolah hingga waktu tidur malam. Atau mungkin jika ada acara favorite yang diputar tengah malam pun, kita akan rela melek semalaman hingga pagi demi acara tersebut. *Jangan nyengir aja kalo ngerasa!*

Yups! TV seolah sudah menyihir kita untuk tetap menontonnya. Program TV memang sudah menyediakan menu-menu yang komplit banget, mulai dari berita hingga telenovela. Acara TV sekarang lebih mementingkan trend dibandingkan dengan mutu yang menghibur. Lihat saja, sinetron-sinetron atau dama-drama hasil jiplakan dari film-film luar negeri, telah banyak lalu-lalang di dunia pertelevisian kita. Terlebih sekarang, sinetron bertema religi yang sebenarnya tidak semuanya 'religi', sedang marak-maraknya diputar hingga mereka tidak mengindahkan 'apakah baik pengaruhnya ke masyarakat ataukah sebaliknya?'. Bagi mereka yang penting adalah tetap memproduksi. Tidak penting, apakah film-nya bermutu atau tidak untuk dikonsumsi masyarakat.

kreasi Kita sebagai penonton, tentu nggak bisa dibodohi begitu saja. Kita akan lebih memilih dan memilah film mana yang baik mutunya untuk ditonton. Apalagi isi sinetron-sinetron sekarang tidak peduli apakah layak untuk ditonton anak-anak atau tidak. Sangat jelas terlihat dari maraknya adegan-adegan pegang sana-pegang sini, peluk, terlebih adegan ciuman di sinetron remaja. Seolah hal-hal seperti itu adalah biasa adanya. Sebenarnya, tayangan-tayangan tersebut sangatlah bertolak belakang dengan adat dan budaya kita sebagai orang Timur. Yang kita semua tau, bahwa adegan-adegan seperti itu adalah hasil dari adaptasi film-film luar negeri.

Bukan budaya kita, kenapa masih Saja diproduksi?

Apakah para sineas kita sudah kehabisan ide?Tentu saja tidak. Alasan utama kenapa sinteron tersebut masih diproduksi adalah bahwa kenyataannya film-film seperti itu yang justru sangat diminati oleh masyarakat, terlebih para remajanya. Dan sudah terbukti, sinetron tersebut sangatlah laris dipasaran. Kenapa demikian? Seperti kita tahu, remaja sekarang telah banyak terkontaminasi oleh budaya luar, dalam hal ini adalah negara Barat. Maka jangan salahkan, jika orang-orang bilang ‘Indonesia lebih Barat dari negara Barat itu sendiri.’ Jadi tidaklah mengherankan jika adegan-adegan peluk, cium dan pegang-pegang adalah hal-hal yang lumrah dan wajar untuk ditampilkan. Seolah hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari sebuah film adalah hal yang sangat perlu dikesampingkan.

Sangat jarang sekali kita temui, sinetron atau film-film yang benar-benar bermutu bagus. Artinya, sinetron tersebut dapat mengajarkan kebaikan, sehingga setelah menonton diharapkan dapat bercermin dari apa yang telah diperagakan oleh sinetron sebelumnya. Mungkin sinetron atau film seperti itu dapat dihitung dengan jari kita. Seperti itulah gambaran moral dari kebanyakan kita, para penonton yang mengkonsumsinya. Jika kita senang melihat atau menonton yang metal atau urakan, otomatis perilaku kita lama-kelamaan akan mengikutinya. Entah berubah mulai dari penampilan, hingga sampai ke perilaku.

Bisa dibilang, TV ibarat guru kita yang mengajarkan segala sesuatu tentang kehidupan. Mulai dari perilaku bagaimana bersikap di masyarakat hingga berbagai ilmu pengetahuan. Semua bisa didapat dari TV.

TV adalah Virus yang Mematikan

Ternyata ada yang lebih mematikan dari virus HIV/AIDS atau SARS atau malah yang sedang marak sekarang, flu burung. TV juga bisa jadi salah satu virus yang mematikan, jika kita tidak pintar-pintar menyaring tontonan.
Bayangkan berapa pekerjaan bermanfaat yang sia-sia kita lewatkan, hanya karena waktunya kita pergunakan untuk menonton TV. Belajar misalnya. Betapa ruginya jika waktu belajar tercuri hanya karena mata kita nggak bisa berkedip dari acara TV dan badan kita juga nggak mau beranjak dari tempat duduk. Sudah tentu prestasi di sekolah akan menurun drastis. Mau kayak gitu? Udah pasti nggak kan?

Hanya terkadang kita sebagai manusia, tidak sadar akan pengaruh TV yang sangat besar itu. Kita terlena dibuai oleh mimpi-mimpi keindahan yang dijejalkan oleh TV. Jika kita mengamati lebih jauh, TV lebih menonjolkan mimpi dunia ketimbang realita kehidupan. Kita bisa melihat dari banyaknya sinetron-sinetron yang menampilkan orang-orang dengan kekayaan yang melimpah atau kita sering menyebutnya kaum borjuis. Jarang ada acara yang mengetengahkan realita kehidupan bangsa Indonesia yang sebenarnya. Semua adalah untuk orang berada. Orang-orang yang miskin harus rela disingkirkan dan menjadi terbelakang.

Sungguh. Padahal, kebanyakan masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan dan papa. Hanya segelintir orang yang dapat merasakan rumah mewah dan barang-barang mewah. Ini kan udah menjadi bukti, bahwa kita telah dibohongi.

Kita Butuh TV?

Kata orang, dari TV kita bisa tahu seluk beluk negeri kita sendiri hingga ke ujung dunia. Dari TV juga banyak hal mulai dari pengetahuan tentang atom hingga dongeng raksasa sekalipun, bisa kita ketahui. Dari TV juga, kita bisa mengenal orang-orang di mancanegara yang belum kita jumpai sebelumnya, hingga alien di luar angkasa. Canggih nggak tuh TV?

Zaman sekarang, di mana teknologi canggih sudah sampai ke bulan, kita emang harus mengikutinya. Cuma, kan nggak harus melototin TV sampai seharian. Kita juga bisa belajar dari lingkungan sekitar. Dari alam dan orang-orang yang kita temui. Asal mau berusaha. Jadi, masih bilang kita butuh TV? Eits....ntar dulu! Nggak juga kok. TV bukanlah segalanya. Banyak sumber-sumber yang bisa dijadikan alternatif. Buku, misalnya, dengan banyak membaca dan menganalisis, kita bisa kok menjelajah dunia. Apalagi tontonan sekarang kan kebanyakan sinetronnya daripada berita atau ilmu pengetahuannya.
Hayo ngaku, kalo pas sinetron kesayangan mulai tayang, pasti soft drink plus cemilan kecil sudah siap di depan mata kan? Mungkin kalo pas lagi acara berita atau science, pasti deh, buru-buru ganti channel atau langsung dimatiin tuh TV. Iya kan?

Bolehlah sesekali nonton acara favorite kita di TV, asal jangan kebanyakan dan kelamaan. Sayang kan kalo waktu yang berharga itu kita habiskan di depan TV aja. Lebih baik baca atau mempelajari sesuatu. Siapa tau kita bisa jadi penemu!!!!hahaha....!

Jadi, Gimana Donk!

Intinya tuh cuma satu, kalo mau nonton TV, tontonlah acara yang berkualitas. Kita mesti pintar-pintar dalam memilih program acara. Walau nggak semuanya kok program acara TV nggak bermutu!
Siapa bilang acara TV berpengaruh jelek? Nggak juga kok. Hanya saja kita harus bisa memilih program acara TV yang dapat kita ambil hikmahnya. Acara berita, misalnya. Walau nggak banyak dari kita yang lebih memilih acara ini, karena kata mereka, boring! Atau discovery channel dan sejenisnya. Atau kalo mau nonton sinetron, pilih sinetron yang nggak hanya menampilkan gemerlap borjuis metropolitan saja. Pilih yang nggak hanya mengupas tema cinta-cintaan. Dan terutama kalo mau memilih sinetron, yang pemainnya cakep-cakep hehehe...! *Yang terakhir ini, ngaco banget yah!*

So...masih inget kan dengan drama Korea Princess Hours, Kartun Doraemon atau film-film India-nya SRK (Sahrukh Khan)? Nggak salah lagi, kita udah bisa dipanggil TV Junky alias udah kecanduan TV! Sama halnya dengan drugs, TV bisa bikin orang kecanduan untuk terus nonton. Kalo sehari aja nggak ketemu TV, bisa kejang-kejang kali hehehe...

Makanya, sebelum addicted sama TV, coba deh kita rem sejenak waktu-waktu yang dipakai untuk nonton TV. Dan gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat lainnya. Misalnya, main PS!Waaa...itu mah sama aja ya...!*Gak deh!*

*** (arien)

image is taken from Teachpol.tnj.edu

Posted on August 6, 2007 2:00 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: