Artikel:

Film Cintapuccino: Saat Nimo Kembali

Cintapuccino.jpg

Kamu pernah terobsesi sama seseorang gak? Sebegitu obsesinya sampai kamu hapal semuanya tentang orang itu. Dari nama lengkapnya, alamat rumahnya, tanggal lahirnya, sampai seberapa sering dia ganti pacar?

Saya yakin semuanya pernah mengalami fase itu, termasuk saya. Termasuk Rahmi yang sampai mengalami Nymonimous Kronis saking terobsesinya dia sama Nimo, gebetannya sewaktu SMA.

"Cintapuccino" is about finding YOUR Nimo, YOUR obsession, dan tentang betapa banyak ketakutan dan pergolakan konflik pribadi yang harus kita hadapi ketika
obsesi itu tiba-tiba muncul menjadi kenyataan dan mulai mengacaukan 'rencana
sempurna' kita. (Quote dari buku Cintapuccino)


Minggu lalu saya mendapat kesempatan nonton Premierenya Cintapuccino, film yang diadaptasi dari Best Selling Chicklitnya Icha Rahmanti di Plaza Senayan.

Film Cintapuccino dibuka dengan adegan keluarga Rahmi (yang diperankan oleh Sissy Priscilla) lagi bermain kartu monyet. Di sinilah penonton dibawa mengenal Raka (Aditya Herpavi), pacarnya Rahmi dan Alin (Nadia Saphira) yang menjadi sahabatnya Rahmi.

Di film ini Sissy Priscilla berhasil memerankan seorang Rahmi yang masih terbayang-bayang oleh Nimonya karena pertemuan yang tak sengaja setelah mereka selama bertahun-tahun tidak ketemu. Sissy juga pas sekali memainkan karakter malu-malunya saat ketemu pertama kali dengan Nimo saat di SMA, apalagi pas adegan November Rain.

Sayangnya, Nimo yang diperankan oleh Miller tidak begitu berhasil membawakan karakter seorang Nimo. Sebenarnya bukan karena aktingnya dia yang tidak bagus tapi lebih karena aksen Malaysianya yang kagok setiap kali menyebutkan "Loe" dan "Gue". Tapi Miller bisa dapet kok sikap coolnya seorang Nimo.

Film garapan Rudi Soedjarwo ini seperti juga di novelnya, menyajikan tentang masalah yang mungkin "gue banget" untuk banyak orang, yaitu tentang mempunyai seorang "Nimo" yang menjadi obsesi dalam hidup kita. Walaupun filmnya tidak sepenuhnya menghidupkan setiap peristiwa yang di buku, di sini saya pribadi jadi tahu kenapa Rahmi memang tidak berjodoh dengan Raka (yang diperankan oleh Aditya Herpavi). Tapi saya kecewa nih kenapa adegan di Melia saat Rahmi marah-marah sama Nimo tidak diperlihatkan di film ya? Kesannya film ini begitu terburu-buru dibuatnya sehingga produser melupakan small things yang sebenarnya merupakan part of the big things dari film ini.

Satu hal yang saya suka sekali di film produksi Sinemart Picturesini adalah sound tracknya yang ngena banget, seperti lagu Selamanya Cinta yang dinyanyikan oleh D'Cinnamons.


Andaikan kudapat mengungkapkan
perasaanku hingga membuat kau percaya

Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku

selamanya..

Hmm, penasaran kaan pengen tahu kayak gimana ya film Cintapuccino itu? Dijamin setelah nonton film ini, langsung pada nyari diari lama juga ;)

*** (Yaya Marzuki)


Posted on September 6, 2007 6:00 AM |

Komentar (4)

pooh:

Aku percaya film yang dibuat dari buku/novel pasti lebih bagus bukunya. Seperti Harry Potter, asli bagus bukunya, jadi Cintapuccino juga pasti bagus bukunya, tapi aku tetep penasaran ama filmnya juga sih. Sissy jadi Rahmi, cocok; Aditya Herpavi jadi mas Raka, cocok; Miller jadi Nimo, kurang cocok kareno cengkok melayunya itu lho bikin g' keren, asli. Sorry ya Miller. Kenapa g' pake aktor lokal aja sih yang cool-keren-bener2 Nimo, misalnya: Vino G. Bastian atau siapa kek, kenapa harus Miller???

enon:

gw baca novelnya dan nonton filmya. wlopun filmnya ga sedetail novelnya tp tetep interesting koq, fun and fresh. emang sih some part missing tp ga ngurangin nilai krn byk humor yg diselipin. terutama si nimo itu, cara ngomongnya dia yang kaku bikin tambah ngakak disetiap sceen2 romantic..hahaha...but over all tetep Oks deh.

artistha:

saya sudah membaca sampai habis tentang novel Cintapuccino...dan itu adalah SAYA BANGET...waktu saya TK sampai kuliah,,,film itu selalu terngiang-ngiang di pikiran saya...kapan kisahku dapat difilmkan...ceileee,,,emang cuma saya ajah????heehehehehehehehehe

dyan:

Gw suka film ini walau agak beda dkt dng novelnya critanya ringan n agak mirip dng yg gw alami saat ini, syg gw kyanya gak seberuntung rahmi yg berhasil dptin "Nimo"nya.

Gw ga tau apa nanti gw bakalan dpt in "Nimo" gw or tdk,gw harap crita gw bisa berakhir spt rahmi.Jujur crita ini sngt menginspirasi gw bikin gw terharu baik pas liat filmnya or baca novelnya meski dah berkali-kali liat.Para pemainnya berhasil meranin karakter ini dng baik syg nimo nya agak lebih lembut ketimbang di novel tp Miler ckp pas kok jd nimo.Sukses terus utk Icha!

 Lainnya: