Artikel:

Podcast dan Budaya Lisan Orang Indonesia

"Hallo di sini Avianto dalam siaran podcast pertama mengenai apa saja.." Suara serak-serak basah dari file mp3 yang didownload melalui situs apasajapodcast.blogspot.com itu bisa jadi merupakan program podcast berbahasa Indonesia pertama yang pernah di upload di alam maya sana.

Boy Avianto sang pemilik suara pertama kali mengudarakan podcastnya itu pada awal April 2005 semasa menuntut ilmu di Jerman setelah jatuh hati pada media audio yang didengarnya melalui sejumlah podcast.

aktual "Pertama kali nyoba bingung mau pakai apa. Kebetulan saya punya PDA yang bisa merekam audio. Jadi setiap ada ide saya bisa ngerekam dan kemudian diedit dengan software gratisan seperti audacity. Sesimple itu sih.." katanya ketika diwawancarai beberapa waktu silam untuk program IT di Radio Singapura Internasional.

Apa Saja Podcast sempat secara rutin muncul dengan beragam topik, seperti namanya: apa saja. Namun ketika sang podcaster pulang ke tanah air, ia berhenti mengupload podcastnya karena keterbatasan bandwith yang menghambatnya untuk melakukan itu. Namun jejak Boy Avianto kemudian diikuti dengan kemunculan beragam podcast asli Indonesia yang meskipun masih bisa dihitung dengan jari, perlahan tapi pasti satu demi satu bermunculan.

Tunggu dulu. Mari kita mundur sedikit sebelum bicara lebih jauh. Podcast? Mahluk apa gerangan? Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering diajukan banyak orang ketika mendengar istilah podcast. Sebenarnya dengan bantuan google, kita bisa menemukan banyak definisi tentang podcast. Tapi secara mudahnya saja, podcast bisa diartikan sebagai sebuah file suara/audi atau juga video yang bisa didownload di internet untuk didengarkan sebagaimana layaknya sebuah acara radio.

Hanya saja, ada satu unsur lagi yang membedakan podcast dari sekedar proses mengupload sebuah file audio (biasanya mp3) ke internet untuk kemudian bisa didownload oleh siapapun, yakni teknologi sindikasi yang dikenal dengan RSS (Really Simple Syndication). Dengan meng copy-paste kode RSS ke RSS Reader seperti iTunes, iPodder atau bahkan yang online seperti Google Reader, maka kita bisa 'berlangganan' file audio tersebut. Setiap ada episode baru, maka otomatis RSS Reader akan memberitahu bahkan mendownloadnya untuk kita.

aktual Karena itulah Asep Setiawan, seorang jurnalis di Radio BBC Inggris menyebut podcast sebagai sebuah trend dalam penyampaian audio. "Dengan banyaknya orang memiliki iPod dan telepon seluler dilengkapi mp3 player, maka model podcast merupakan langkah efektif menyebarkan fikrah Islami," jawab Kang Asep dalam sebuah wawancara tertulis via email dengan bz! Jawaban ini terkait dengan apa yang ia dan rekannya Muhammad Susilo lakukan dengan mendirikan situs suarahikmah.com yang menyediakan kumpulan podcast bertemakan dakwah Islami. Salah satu 'produk' mereka yang cukup menarik adalah rangkaian podcast yang mengupas soal kandungan syahadat serta beberapa taujih online.


Podcast-Podcast Asal Indonesia

Asep Setiawan dan Muhammad Susilo tidak sendiri dengan suara hikmahnya. Bicara nuansa agama, ada juga podcast bernuansakan Kristiani bertajuk Hening Kasih Kekal yang nyaris selalu muncul dalam setiap pencarian podcast di internet dan kalau dilihat dari episode-episode awal mereka, nampaknya muncul pada tahun 2005.

aktual Selain itu ada pula podcast asal Indonesia yang cukup punya jasa memperkenalkan musik Indonesia ke luar negeri dan nampak digarap dengan sangat serius bak sebuah radio siaran yakni New Music From Indonesia yang digarap oleh Equinox DMD dan disponsori oleh salah satu produsen rokok terkenal di Indonesia. New Music From Indonesia adalah podcast mingguan yang menghadirkan dialog dalam Bahasa Inggris dengan beragam musisi Indonesia. Ahmad Dhani, Dewi Lestari, Sudjiwo Tedjo dan Aksan Sjuman hanyalah beberapa diantara musisi Indonesia yang pernah hadir di podcast mereka.

Masih ada juga layanan podcast yang, di antaranya Death Rock Star serta beberapa podcast yang disediakan oleh stasiun radio siaran mulai dari radio seperti Prambors sampai ke sejumlah radio siaran internasional berbahasa Indonesia seperti BBC, VOA dan Radio Singapura Internasional.

Patut pula dicatat bahwa kelompok musik Mocca juga sempat menampilkan dua atau tiga episode podcast di situs mereka yang berisikan perbincangan santai para personilnya yang membahas tentang musik dan keseharian mereka. Sayang sekali mereka tidak meneruskannya walaupun mereka kabarnya juga akan membuat video podcast.

aktual Satu lagi upaya bagus juga sebenarnya telah di mulai oleh Pak Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang juga memiliki podcast di situs beliau. Namun agaknya podcast ini bernasib sama dengan Mocca yakni berhenti di tengah jalan. Hanya ada dua episode podcast yang hadir.

Tapi toh masih ada harapan dari para peminat podcast lainnya yang semoga akan memunculkan karyanya dalam waktu dekat. Blogger kondang yang tengah bertugas di misi PBB di Liberia, Luigi Pralangga agaknya juga mulai melirik podcast sebagai sebuah media penyampaian. Di situs pralangga.org ia sudah menyertakan link ke podcast bahkan sudah ada beberapa episode, termasuk wawancaranya dengan beberapa media dan juga satu podcast yang sangat kocak ketika ia merekam suara rekannya orang bule yang membacakan resep-resep masakan ala Indonesia.


Podcast dan Masa Depannya di Indonesia

Ada sebuah diskusi menarik yang dipicu oleh Adinda Praditya di milis teknologia. Diskusi ini dipicu oleh sebuah survei yang digelar oleh yang bersangkutan untuk mencari jawab mengapa podcast tidak terlalu popular di Indonesia.

Menarik karena diskusi di milis itu kemudian memancing tanggapan dari sosok-sosok yang bisa dibilang sudah punya nama di jagad internet Indonesia, seperti Made Wiryana yang terlibat di pengembangan situs Presiden SBY, blogger Ikhlasul Amal yang juga pernah mengulas soal podcast di situs asiablogging.com, dan tak ketinggalan pula Boy Avianto yang hingga kini rasanya masih belum tergeser statusnya dari gelar podcaster pertama Indonesia.

Dari diskusi itu beberapa hal menarik mengemuka yang rasanya menjadi masukan penting bagi perkembangan podcast di Indonesia. Salah satunya adalah mengenai peran penting RSS yang memang merupakan salah satu bagian penting dari podcast. RSS seperti sudah disinggung di atas memungkinkan siapapun berlangganan podcast. Boy Avianto merangkumnya dalam sebuah ilustrasi menarik yang diposting dalam salah satu diskusi di milis tersebut:

"Pagi hari bung Adinda datang ke kantor. Buka iTunes (atau aplikasi lainnya utk update RSS podcast) dan otomatis mengunduh file-file podcast terbaru di latar belakang. Sore harinya iPod (atau alat pendengar mp3 lainnya) di'sync' dengan iTunes. Pulang kantor sambil mendengarkan podcast-podcast hasil unduhan seharian..."

Patut dicatat bahwa Boy Avianto dalam ilustrasinya di atas menulis: ... iPod (atau alat pendengar mp3 lainnya).. karena meski namanya Podcast tapi tidak harus orang menggunakan iPod untuk mendengarkan podcast. Kebingungan ini dicatat oleh I Made Wiryana dalam diskusi di milis tersebut yang membagi pengalamannya mengelola podcast di situs Presiden SBY. Salah satu buktinya, tulis Pakar IT ini adalah ketika banyak orang memilih streaming ketimbang mendownload podcast, karena belum paham apa itu podcast.

Masalah lain. Memang tidak semua orang suka mendengarkan orang ngomong dan lebih suka memilih musik kalau sudah berkaitan dengan unsur audio. Ini diakui oleh Ikhlasul Amal yang kemudian dituangkannya juga dalam tulisan di asiablogging beberapa waktu lalu On Less Popular Podcasting. Faktor navigasi pada file audio yang lebih sulit dibandingkan dengan file teks misalnya juga bisa jadi penghambat. Demikian juga dengan fungsi komentar sebagai mana layaknya fasilitas commenting system di blog.

Masalah keterbatasan bandwith juga merupakan salah satu faktor penghambat proses upload dan download podcast di Indonesia. Namun hal ini agaknya terjawab di kesempatan lain oleh Asep Setiawan ketika diwawancara untuk rubrik bz!Edisi ini. Ia antara lain menulis:
Masalah ini sebenarnya sudah diselesaikan dengan semakin besarnya pipa akses kedalam internet terutama di kota-kota besar Indonesia. Dengan pengguna internet mungkin mencapai lima juta, maka kecepatan dan media penyimpanan tidak masalah lagi.


Ya, kalau bicara podcast dari segi infrastruktur akses internet, memang harusnya Indonesia patut optimis. Dengan apa misalnya para pencinta musik bisa meng unggah ratusan, mungkin ribuan lagu mp3 di situs-situs multiply asal Indonesia kalau bukan dengan akses internet yang mumpuni?

Mungkin tantangannya kini tinggal terletak pada kreativitas untuk menciptakan isi podcast yang menarik agar orang mau mengunduh dan mendengarkannya. Tapi rasanya ini juga bukan masalah. Bukankah konon budaya orang Indonesia itu dari dulu adalah budaya lisan? Budaya bercerita dan mendengar? Kenapa tidak mengemasnya dalam podcast?

(Disarikan dari berbagai sumber oleh Rane 'JaF' Hafied)


Posted on September 6, 2007 12:00 PM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: