Artikel:

Nuansa Teknologi dan Informasi di Blogosphere

"Emang citra diri saya di dunia maya adalah 'programmer' ya?" begitu tulis salah seorang responden bz! ketika dihubungi lewat email yang meminta kesediaan waktunya menjawab beberapa pertanyaan. Memasuki bulan Oktober, bz! ingin mengajak pembaca mengikuti obrolan dari blogger yang sehari-harinya (setidaknya, pernah) terlibat dalam dunia Teknologi dan Informasi.


"Saya mulai ngeblog mulai pertengahan 2005, di blogspot tentu saja. Kenal blog juga pada tahun 2005, saat membaca blog teman kuliah saya di breakofdays.blogspot.com (inaktif) dan mimimama.blogspot.com. Dari blogspot, saya sewa hosting. Berpindah dari banyak blog engine sampai akhirnya lama di Wordpress, lalu Textpattern dan sekarang Mephisto. Saya suka meng-evaluasi blog engine. Merdeka.or.id itu pada awalnya juga eksperimen teknis, yang lalu di-backup dengan beberapa visi misi," ungkap Andry Syahfaturahman Huzain membuka perbincangan.

"Saya bikin blog kira-kira pertengahan tahun 2006, beberapa bulan setelah saya lulus kuliah.Cerita khusus.. nggak yakin juga yah. Kayaknya cuma gara-gara ketularan demam narcissistic aja huehehe. Asalnya emang cuma tempat buat nampilin CV ato portfolio, kan zaman-zaman segitu lagi gencar-gencarnya cari kerja tuh. Biasa kan sarjana abis lulus bukannya cari duit, tapi cari kerja dulu. Daripada pusing-pusing nyari CV ato bawa-bawa pake flashdisk ato map coklat, ditaruhlah itu CV di web. Yach, berhubung taunya WordPress, bikin blog sekalian," yang satu ini ungkapan cerianya Hendy Irawan.

"Bener-bener punya blog dan menulis content pertama kali itu tepatnya 3 tahun lalu pas 6 hari dari sekarang, tanggal 8 Oct 2004. At least, itu tanggal dari posting pertama saya.Sebelum itu sudah sering kepikir untuk ngeblog, soalnya ya memang lebih enak aja untuk menuangkan tulisan dalam alurnya yang seperti jurnal (time-based). Saya dari dulu sering kepikir untuk menulis ini itu. Tapi saya orangnya cenderung sering procrastinating. Makanya punya blog aja sampe ketunda-tunda lama. Padahal udah sering diajakin ama temen-tem, terutama si Priyadi sih waktu itu. Jadi akhirnya saya pasang blog dan saya mulai. Tapi emang dasar procrastinator, yah lama kelamaan juga banyak tulisan yang tersimpan di drafts (sekarang ada 10 posts kali di draft), yang gak pernah bener-bener dikerjain tulis sampe selesai. Saya kalo menulis satu post yang serius bisa berjam-jam. Sekarang waktunya sudah hampir gak ada kalo menulis sepanjang itu. Padahal banyak ide-ide yang pengen ditulis," Ronny Haryanto mengungkapkan awal mulanya ngeblog.


aktual Kemudian, bagaimana sih isi blognya orang IT? "Campur sari. Tapi saya memang suka menyelipkan istilah-istilah 'geek' untuk post-post umum, demikian juga sebaliknya; menyelipkan bahasa-bahasa membumi saat menulis post yang bersifat teknis,” jawab Andryyang kelahiran 22 Mei 1978 dan lulusan S1 Informatika ITS Surabaya ini ketika ditanya mengenai isi blognya. “Saya kurang suka ngeblog hal-hal teknis. Menurut saya kalau misalnya saya ingin belajar CSS, misalnya, saya ya nggak akan baca blog. Tapi baca buku. Buat saya aspek blog terpenting adalah berbagi pengalaman pribadi (sharing experiences). Bukan berbagi ilmu (sharing knowledge). Meski keduanya, experiences dan knowledge, itu dua sisi koin, bagi saya tulisan di blog mestinya lebih cenderung ke aspek experiences. Sama deh seperti baca buku. Baca buku saja kita dapat knowledge. Untuk belajar pengalaman yang lain, baru kita mendengar orang lain bercerita. Dalam kasus kita, untuk belajar dari pengalaman yang lain, ya baca blog. Blog saya sendiri mengusung tema Human vs Machine. Ada aspek-aspek manusiawi dalam programming dan IT pada umumnya. Misalnya saat presentasi ke client kita nggak bisa donk memakai istilah-istilah geek. Begitu juga sebaliknya. Adalah sebuah seni bagaimana menerjemahkan keinginan client (manusia) kedalam bahasa mesin (programming). Jadi ada aspek manusia di dalam mesin. Ada pula aspek mesin dari kita sebagai manusia. Seperti budaya Timur atau Barat. Logika atau Perasaan.Akal atau Cinta.Otak atau hati.
Berlin atau Mekkah.Saya melihat IT secara umum, kira-kira seperti itu," tambah Andry dengan panjang lebar.

"Kalo di Indonesia berdasarkan observasi saya yang subjektif dan tidak akurat hehe, masih lebih dominan yang bertema teknologi (tidak harus programming) dan yang kedua adalah internet marketing... whuaa.. Dan yang ketiga adalah personal blog yang for fun. Kalo dibandingkan dengan kecenderungan blog di 'luaran', isi blog berbaru IT dan sharing informasi di sana memang lebih banyak. Belum lagi sebagian blogger Indonesia kadang-kadang suka nulis pake bahasa Inggris juga. Ato mungkin diistilahkan Inglish maupun Engdonesa. Isi blog yang berkisar internet marketing, Indonesia bisa berbangga karena dengan berbagai hambatan yang dihadapi (sulitnya mendapatkan kepercayaan dari pihak luar, karenanya banyaknya fraud) ternyata berbagai blog dan situs Indonesia makin berkembang. Sayangnya dari sekian internet marketer di Indonesia yang jujur, ada sebagian (mungkin jumlahnya lebih banyak) yang memilih curang, terutama untuk layanan Google AdSense. Imbasnya adalah situs-situs Indonesia, secara umum, cenderung tidak dipercaya. Kasihan blogger-bloger yang jujur, kena getahnya juga. (mis. pengalaman Isnaini). Kemudahan membuat blog dengan gratis semakin memperkaya kuantitas blog Indonesia, mulai yang dihosting di WordPress.com, Blogger, maupun di situs-situs social networking seperti Friendster dan MySpace. Blog yang di social network kayanya cukup jarang yach yang membahas IT.Sebagian blogger sudah rajin membagi ilmunya, khususnya di bidang IT. Sayangnya saya pikir masih terbatas pada kalangan 'blog celeb' dan mereka merasa mempunyai kepercayaan diri yang cukup. Sebagian lainnya mungkin merasa minder. Ada juga yang merasa 'tidak diperhatikan' karena tidak satupun postingannya yang dapet komentar (akhirnya murtad, heheh...) Yah itu kira-kira saya aja sih," Hendy, pria kelahiran Kediri, 14 Desember 1983 dan lulusan S1 Teknik Informatika, STT Telkom Bandung ini juga ikut panjang lebar menjelaskan isi blognya.

Lain lagi balasan Ronny. "Berarti Anda belom baca blog saya ya? Hehehe.. Tulisan saya mostly tentang technology, dan sebagian besar seputar IT dan programming. Tujuannya yang jelas sih bukan untuk ngajarin, tapi lebih ke catatan/jurnal buat saya sendiri, dan karena sudah ditulis di website anyway jadi ya sekalian lah di-sharing, siapa tau ada yang berminat. Apa yang ditulis hampir semuanya berdasarkan pengalaman pribadi," Pria kelahiran Malang ini menjawab dengan singkat dan padat.

"Programmers program because they love to solve problems." or
"Programmers program because they love bugs." or
"If you give a programmer a job that does not involve solving something they will become unhappy."
What do you think about these sentences?

"Sebagai blogger kita mestinya senang kalo tulisan kita laku dibaca. Syukur-syukur bermanfaat atau mungkin malah mendobrak paradigma yang lain *cieh*. Laris komen atau nggak, yah anggap saja itu efek samping. Sebagai programmer, saat melihat software saya bermanfaat buat orang lain (baca: client), dan mereka senang karena terbantu, maka disana kenikmatan sebenarnya dari programming. Bugs atau solving problem cuma dekorasi saja. Dan kalau memang laris duitnya, yah anggap saja itu efek samping juga," jawab Andry yang saat ini bekerja sebagai System Analyst di Sisindokom Lintas Buana dan bulan depan akan pindah ke Agrakom (a.k.a Detik.com) sebagai Product & Service Development Leader.

aktual "I have mixed feelings, if not opinions, about these statements. One thing is because the 'why' of a programmer's work is highly an individual nature. Money is of course the most common motivation, but it doesn't always have to be. Another thing is because myself, personally, has a different view of what constitutes a "programmer". (I wrote about this once: Everybody is A Programmer). I'm not very good about philosophical stuff so I'll try to be as concise as possible, but I know that I've failed this many times. But to put it simply, a programmer is indeed a problem solver, but when you say a 'problem' it doesn't mean that it's something 'bad'. For an illustration: Google's founders (Larry and Sergey) tried to solve the problem that people wanted to find information that they need quickly. It probably wasn't such a big of a problem, because there were already other search engines at that time, that they had difficulties simply trying to prove that Google is a better search engine. Even 'worse', they didn't know (yet) how to make an income out of it. In a way, any status quo condition can be thought as a 'problem', where a way to achieve a better condition can be thought as a 'solution'. I would agree that most programmers would love challenges, especially the ones that fit their passion, just as artists and passionate workers do. I don't think programmers get turned out by thinking about the words 'problems' and 'bugs' though, but maybe that's just me," sebuah jawaban dari seorang Hendy yang Web developer. "Pertanyaan Indo saya jawab Indo, yang Inggris saya jawab Inggris juga," tambahnya dengan penuh senyum.

"Programmers program because they are lazy. Maksudnya kalo mereka melihat sesuatu bisa di-improve (terutama untuk make their own life better) ya mereka pasti senang," another simple answer from Ronny.

And what can you tell about Open Source:

"Saya bukan mau membesar-besarkan, tapi buat saya open-source itu 'way of life'. Saya memulai karir dari 0 memakai perkakas Microsoft centric. 3 tahun lebih saya berkubang sampai suatu saat mereka memutuskan dukungan ke tool yang lama dan memaksa kami pindah ke tool yang baru. Di situ saya mulai risih. Nggak enak kan diatur-atur. Lagipula tugas saya adalah menentukan apa yang terbaik buat client. Dengan batasan dari vendor yang seperti itu, proses kreatif mencari solusi jadi subyektif ke produk vendor tertentu (vendor lock-in). Lalu 2 tahun lalu saya berganti 'ideologi' ke open-source. Dan sejauh ini, dengan kebebasan yang ditawarkan komunitas open source, proses mencari solusi itu bisa lebih obyektif. Solusi yang saya tawarkan jadi lebih baik, lebih banyak pilihan/variasi, dan lebih simple/efektif. Ambil ekstrimnya begini: Kalau Windows itu gratis dan Linux itu berbayar, saya tetap memilih Linux karena memang Linux lebih baik. Itu Open Source dari perspektif saya sebagai profesional. Kalo solusi Open Source dan kaitannya dengan isue sweeping warnet dan razia Windows, wah saya gak tau deh. Maksud saya, meskipun pake Linux tapi mental tetap 'Microsoft' (baca: nggak mau sharing ilmu, serakah, dan nggak rasional) ya sama juga bohong.

"Open source movement can be informally defined as the act of collaborating on a software project whose source code is available publicly, using an open source license. Open source software are getting more significant lately because not only there are more open source software available, and their activity is increasing, but also the tools that can be used to aid development of open source software is also getting better and more accessible. There are sites like Sourceforge, Rubyforge, Assembla, Google Code Hosting, Googlegroups, Swik.net and literally hundreds more that allow people to collaborate on a project easily, and freely. Some companies, like JetBrains with its flagship IntelliJ IDEA product, even offers a free license for open source developers. Some organizations also provide bounties and awards for accomplishments in open source software, for example in Google Summer of Code projects and Ubuntu bounties. There are implications of this to commercial companies. But generally it is very good for regular users, we have more choices! For example, you can write an office document using OpenOffice or Microsoft Office. They have different prices, and it's up to you which one you want to choose. Some people are not aware yet that most programs they regularly use are copyrighted, requires a license fee to use, and that they were using these software illegally. It terrifies them that they have to pay enormous amounts of money just to pay for these. With open source and freely available software, they have an alternative," ucap Hendy yang juga pemilik Adaruby.com, yang berisi bahasa pemrograman Ruby.

aktual "Open source mengubah secara fundamental cara kita berpikir dan memandang teknologi. Open di sini memberi kesan yang dalam buat saya. Saya melihatnya sebagai terbukanya pintu kesempatan-kesempatan dan potensi-potensi untuk perkembangan teknologi ke arah yang lebih baik. Keterbukaan akan meng-encourage kerjasama dan komunikasi. Secara tidak langsung open source pun juga ikut mengubah cara orang bekerja sama dan berkomunikasi (jaman dulu mana ada collaboration lewat cvs/subversion/trac lewat internet?) untuk membangun satu hal yg sama. Dengan kerja sama dan komunikasi biasanya great minds bersatu untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.Tentunya ini idealistic. Realitanya banyak hambatan dan halangannya.
Tidak semulus itu. Tapi semua hambatan dan halangan ini adalah ujian aja buat open source. Karena bisa dibilang masih muda. Semakin lama bertahan menghadapi ujian maka seharusnya menjadi makin matang dan mulai bisa pelan-pelan berjalan menuju ke ara idealnya," ungkap Ronny mengakhiri perbincangan lewat email.

*** (sa)

Posted on October 6, 2007 11:00 AM |
 Lainnya: