Blog hanya Bentuk Lain dalam Berbicara
oleh Lita Mariana
Menjadi bagian dari penyelenggaraan Pesta Blogger 2007 adalah satu pelajaran besar bagi saya. Selain mendapat pengalaman yang berkaitan dengan hal teknis, pengalaman yang lebih berharga justru saya dapatkan di luar teknis penyelenggaraan. Saya belajar menjadi lebih dewasa.
Satu slogan sangat terkenal yang dipopulerkan (kembali) oleh satu produk rokok adalah: menjadi tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Kita tidak menjadi dewasa dengan sendirinya. Kita dapat menjadi lebih dewasa atas usaha yang kita pilih dan upayakan sendiri. Dan dalam usaha menjadi lebih dewasa, tak sedikit keluh yang terucap akibat terpeleset selama perjalanan.
Melalui Pesta Blogger, saya belajar lebih banyak untuk mendengar. Menerima dalam artian 'telan saja, gak usah pake nanya'. Tak semua kritik harus ditanggapi dengan semangat dan penjelasan berpanjang-panjang. Menerima tak harus sepakat, dan balasan atas pemberian tersebut adalah ucapan 'terimakasih'. Untuk saya yang terbiasa 'reasoning' di blog, mengerem untuk berkata-kata adalah pekerjaan sulit.
Dari Pesta Blogger juga, saya mengenali lebih banyak dan beragam lagi blogger di luar yang telah saya kenal. Karena blog dimiliki oleh manusia, cara blogger dalam bersosialisasi pun tak ubahnya manusia biasa (biasa dalam artian sama seperti di dunia non-digital). Saya yang terbiasa blogging dengan cenderung dingin dan menanggapi hanya yang tertulis, dipaksa untuk mengantisipasi yang tak tertulis. Ini juga pekerjaan sulit, yang konon adalah masalah terbesar kaum laki-laki dalam menghadapi kaum perempuan.
Saat media briefing Pesta Blogger digelar, sharing dari rekan-rekan panitia adalah waktu kursus gratis yang berharga untuk saya dalam memahami dunia blog lebih baik. Priyadi mengingatkan bahwa untuk memanfaatkan blog sebagai sumber informasi, dibutuhkan pembaca yang aktif.
Blog hadir sebagai media yang secara alami bersifat subyektif dan memihak, setidaknya untuk blog personal (bukan korporat) dan dikelola oleh satu orang. Digawangi beberapa orang sekaligus juga tetap dapat membawa sifat subyektif dan memihak, jika mereka memiliki banyak kemiripan dalam pola pikir.
Karena itu, ketimbang meminta (atau mengritik) empu blog yang kurang obyektif untuk melihat dari dua sisi, pro dan kontra, pembacalah yang seharusnya berinisiatif untuk mencari sendiri pendapat yang pro dan kontra dari berbagai blog. Jika pembaca mencari pendapat lain, carilah blog yang lain.
Ini satu perbedaan menyolok antara blog dengan media informasi lainnya. Ketika pers dan jurnalis wajib menyajikan informasi yang akurat dan berimbang dalam penyorotan pro dan kontra, maka blog hadir sebagai suara pribadi dengan kekurangakuratan isi dan subyektifitas serta keberpihakan. Jangan salah, tidak seakurat media biasa tidak berarti tidak detil atau tidak dapat diandalkan, lho.
Budiputra juga memiliki pesan yang konsisten soal blogging: isi adalah raja. Anda boleh (bahkan dianjurkan) memiliki tampilan yang menarik. Tapi dunia blog adalah tentang isi, yaitu suara Anda. Desain dan penataan yang menarik serta navigasi yang ramah pembaca tentu akan sangat membantu pembaca agar betah. Namun isi mempunyai urgensi yang tak kalah kasta daripada desain.
Dari pendapat Priyadi dan Budiputra lagi-lagi saya belajar dewasa. Dewasa dalam bersikap dan dewasa dalam menilai. Sudah bukan jamannya saya yang menuntut orang untuk mengikuti kemauan saya (lagipula sejak kapan ada jaman yang seperti ini, kecuali saya raja?).
'Tugas' blogger adalah memberi suguhan, berupa tulisan yang dikemas dalam desain. Sedangkan penyortiran dan pengolahan data menjadi informasi adalah tugas pembaca. Di sinilah perbedaan besar antara blog dan media mainstream. Yang menentukan arah opini bagi pembaca adalah dirinya sendiri, bukan pemilik media.
Dari jabaran tugas ini saya memahami bagaimana blogger dapat melakukan sesuatu untuk negeri ini. Simply by blogging. Blog bisa menjadi tempat curhat dan berbagi perasaan dengan kalangan teman, bisa pula menjadi sumber informasi atau bahkan referensi yang diandalkan.
Kegunaan suatu blog ditentukan oleh pembaca yang memiliki kepentingan masing-masing. Blog curhat tentu tak akan menjadi pilihan utama bagi mereka yang haus informasi dan membutuhkan informasi detil yang khusus. Kebutuhan ini biasanya dipenuhi oleh blog yang memiliki topik. Sedangkan pembaca yang mencari hiburan lewat membaca blog, biasanya tak suka membaca tulisan serius-serius cenderung teknis dan disertai detil referensi. Kebutuhan ini biasanya dipenuhi oleh blog personal.
Mana yang disuka, jalani saja. Tak ada yang benar atau salah dalam mengisi konten blog. Yang jangan blogger lupakan, mereka bertanggung jawab atas tulisan mereka. Mau isinya hanya curhat atau kritik pedas terhadap pemerintah (atau siapapun), atau bahkan bualan belaka, sama saja: yang benar ya benar, bohong ya bohong. Blog bukanlah dunia barbar tanpa etika dan sopan santun. Blog hanya bentuk lain dalam berbicara.
Blog dapat muncul setara dengan situs resmi pemerintah dalam hasil pencarian search engine. Jika blog Anda dapat muncul di halaman depan saat orang membutuhkan suatu informasi, anda memiliki kemungkinan besar untuk berperan dan menjadi berguna bagi kehidupan orang lain.
Blog memang bukan barang baru. Namun pemanfaatan blog yang menjadi sumber informasi alternatif, itulah yang baru. Suara (yang disampaikan dalam bentuk) baru (oleh rakyat) Indonesia.
Posted on November 6, 2007 2:00 PM | Permalink
