Artikel:

Blog Saya Milik Siapa?

Sepertinya pertanyaan tersebut hanya bersifat retoris belaka, karena semua pasti akan menjawab: milik si empunya blog, dong! Kita telah bersusah payah membuat blog, menciptakan design dan layout yang menarik, menempelkan beberapa asesoris dan juga banner komunitas yang diikuti, dan terutama, mengisi blog itu dengan postingan kita sendiri. Jadi, apa dasarnya kalau kepemilikan blog itu masih harus dipertanyakan milik siapa?

Blog adalah ajang suka-suka kita untuk menuliskan apa yang kita mau, memasang foto yang kita inginkan, atau mengisinya dengan berbagai hal yang bisa saja berbeda dengan isi blog lain. Yang kadang tidak kita sadari adalah, blog adalah media yang dengan mudahnya diakses oleh orang lain. Setiap orang datang berkunjung, membaca, dan akhirnya berkomentar tentang apa yang ada dalam blog kita. Apakah reaksi mereka terhadap isi blog kita bagus? Atau malah sebaliknya? Togap membahas topik ini di forum Blogosphere dengan judul thread "Blog saya milik saya atau milik pembacanya?"

"Di blog saya, terkadang saya menulis opini yang mengundang berbagai komentar dari pembacanya. Komentar-komentar tersebut terkadang cukup halus, tapi lebih sering keras. Dan terus terang juga, memang terkadang yang ditulis di komentar ada benarnya. Tapi jadinya saya bertanya - tanya pada diri sendiri: apakah blog saya sebenernya adalah milik saya atau milik pembaca? Etis nggak kalau saya menghapus komentar yang, walau isinya mungkin benar, tapi dituliskan dengan keras. Kan ini blog saya sendiri. Tapi kadang rasanya kok jadi semena-mena kalau saya menghapus komentar-komentar yang nyeleneh. Gimana menurut pendapat rekan-rekan?"

"Itu semua hak mas," komentar Ilhamsaibi. “My blog is mine, itu kalo menurutku. Lha yang buat blog itu kita sendiri, jadi apapun yang ada di blog itu juga milik kita, kita punya kemerdekaan penuh atas itu."
Teksuno juga mengatakan hal yang sama: "Blog kamu adalah milik kamu sendiri. Kamu memang bebas melakukan apapun pada blogmu. Tapi jangan lupa, orang lain pun bebas untuk membuka dan membaca blog kamu."

Komentar senada datang dari Sa, salah satu admin Blogfam. "Katanya: 'your blog is your domain.' Ya terserah aja sih mau diapakan. Cuma, ya jadi pertanyaan aja, kok dihapus sih? :) Tapi katanya lagi nih, kalo nyeleneh dan keras tapi benar, artinya sih si pemberi komen benar-benar aware dengan apa yang kamu tulis. Dan itu apresiasi terhadap tulisan kita loh. Cuma, bentuknya aja yang beda. Juga, menyempatkan waktu untuk membaca dan menulisnya adalah sebuah apresiasi." Bener juga ya? Setidaknya si pemberi komentar sudah tertarik dan ikut membaca tulisan kita. Bukankah itu artinya tulisan kita cukup menarik untuk disimak?

Tapi komentar pedes itu membuat pemilik blog menjadi bete dan nggak nyaman? Banyak blogger yang mengalaminya. Seperti Pushandaka: "Tapi emang iya, kadang-kadang komentar pedes yang masuk, bikin mental ngedrop. Saya pernah kaya gitu. Komentar-komentar yang nyenengin itu datengnya cuma dari anggota Blogfam. Entah tulus atau nggak komentar itu, saya nggak tau, yang pasti selalu nyenengin”
Atau Gitablu yang juga mengatakan: "Komentar pedes? Terkadang saya memang dapet, bahkan ada komentar yang 'mengatur' saya dalam penulisan blog. Hus... ini kan blog pribadi saya. Suka-suka dong mau nulis apa. Asalkan masih dalam batas norma-norma." Hehehe.

Menghapus komentar-komentar yang kurang pantas sepertinya sah-sah aja, asal jelas alasan penghapusannya. Setidaknya begitu menurut Tenshi: "Menurutku terserah yang punya blog untuk menghapus komen yang dirasa kurang pantas. Tapi untuk lebih enaknya, dituliskan juga di blog, kalau komentar yang dirasa benar-benar 'mengganggu' akan dihapus. Ya susah juga sih .. biarpun blog milik kita, tapi yang membaca juga berhak punya penilaian sendiri. Tergantung sang empunya deh, gimana menyikapinya."
Seperti halnya Mariskova yang juga berpendapat serupa: "Daripada dihapus, lebih baik ditanggapi. Maksudnya supaya kita sama-sama belajar tentang arti berdiskusi yang baik. Kecuali kalau kata-kata yang dipakai orang itu kotor, nah, itu baru deh halal buat dihapus, menurut saya. Kalau sekedar keras, bisa lah disindir aja."

Si pemberi komentar pedas bisa dijadikan teman diskusi? Kenapa tidak? Coba tanya Mwilson yang mengajak pemberi komentar di blognya sebagai rekan diskusi. "Komen-komen yang masuk dalam blog kita sebaiknya jangan dihapus, seberapa pedas pun komen itu. Memberikan link untuk diberikan komen memiliki konsekuensi kita harus menerima komen dari pengunjung blog. Namanya blog, ya isinya pasti opini kita sendiri. Dan opini orang lain, pasti ada yang berbeda. Dan mereka yang berbeda ini, kalau diberikan kesempatan untuk memberikan opini, pasti akan juga menyatakan pendapat mereka yang berseberangan. Aku punya blog (bukan yang primer), dan salah satu artikelnya menulis tentang bajakan. Gak disangka, ternyata ada salah satu pengunjung yang meng-counter tulisanku. Gak masalah, kita berdiskusi aja. Kalau ada kata-kata yang kurang berkenan dari pengunjung, jangan ikutan terjebak jadi debat kusir. Tunjukkan ke eleganan kita dalam menggunakan kata-kata. Pada akhirnya, kalau kita berhasil mengatasi emosi, mereka adalah 'guru' kita yang mengasah kita menjadi pribadi yang dewasa."
Nah, ternyata ada manfaatnya juga, toh? Selama kita bisa menanggapinya dengan baik, sepertinya apa yang disampaikan Wilson bisa kita dapatkan juga.

Noertika dan Tetsuno lebih membidik tujuan dari pembuatan blog itu sendiri. "Tergantung peruntukan blog itu dibuat. Kalo emang ditujukan untuk dikomentari ya harus siap menerima yang terburuk. Kalo emang hanya untuk bacaan pribadi tanpa perlu mengundang interaksi pembaca, ya kolom comment-nya di matikan. So simple!" kata Noertika. Sementara Tetsuno menambahkan: "Kalau kamu tidak ingin orang lain terlibat pada blogmu, kamu bisa juga untuk tidak mengijinkan komentar pada blog kamu. Tapi kalaupun kamu tidak menampilkan semua komentar yang masuk pun sah-sah saja. Itu hak kamu." Memang sangat simpel kalau memang kita tidak ingin ada masalah yang akan timbul.

Tapi apakah sebuah postingan blog akan menjadi menarik tanpa komentar pembaca? "Kalo menurut gw sih, komen yang agak pedas itu adalah bumbu kehidupan di blogosphere. Hehehe.." kata Morishige. Nah, masakan aja bakalan kurang nikmat kalau kurang bumbu kan?

Blog memang media personal si pemiliknya. Apapun bisa saja tertulis atau tercantum di sana. Siapapun tidak bisa menjamin bahwa tulisannya tidak akan menyinggung perasaan pembaca blog, karena setiap orang pasti memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda-beda tentang suatu hal. Adalah suatu hal yang bijak apabila kita lebih berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu, sehingga pengunjung blog kita tidak dihadapkan pada suatu hal yang dapat menjadikan pertentangan.

Anyway, semua menjadi pilihan Anda. Tapi ada baiknya kita melihat dan membaca kutipan salah satu postingan Priyadi Iman Nurcahyo, salah seorang blogger senior Indonesia (www.priyadi.net), tentang Disclaimer Blog, seperti disampaikan oleh Noertika dalam thread ini : "ada kutipan menarik dari kang Priyadi untuk Disclaimer blog:
DISCLAIMER
Blog ini adalah blog pribadi saya dan tidak ada jaminan bahwa tulisan di blog ini akan adil, tidak bias dan seimbang. Bersikaplah dewasa dan jika anda membutuhkan opini dari pihak lain atau pihak yang berseberangan pendapat, anda dapat mencarinya dari sumber lain. Informasi yang disediakan oleh blog ini bersifat apa adanya, tanpa jaminan dengan kepercayaan penuh pada kedewasaan para pembacanya.
"

Postingan lengkap Priyadi tentang disclaimer blog ini bisa dibacat di sini.

Mudah-mudahan bisa memberikan sedikit pencerahan. Oke?

*** (iwok)

Posted on November 6, 2007 11:00 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: